-->

Kronik Toggle

Bedah Buku, Akivis Lintas Agama Diintimidasi Aparat

Jombang – Acara bedah buku dengan judul ‘Bencana Industri: Relasi Negara, Perusahaan, dan Masyarakat Sipil’ yang akan digelar di GKJW (Gereja Kristen Jawi Wetan) Jombang oleh sejumlah aktivis lintas agama mendapatkan intimidasi dari aparat. Padahal sedianya bedah buku tersebut dilakukan pagi ini, Selasa (10/8/2010).

Elemen yang terlibat dalam bedah buku itu adalah LiNK (Lingkar Indonesia untuk Keadilan), PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia), ISNU (Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama), serta Prasasti (Persaudaraan Lintas Agama & Etnis) Jombang. “Semalam kami mendapatkan intimidasi dari aparat. Intinya agar acara pagi ini tidak dilanjutkan,” kata Aan Anshori, penanggung jawab acara tersebut, Selasa (10/8/2010).

Aktivis berkaca mata minus ini menceritakan bentuk intimidasi yang dilakukan aparat. Usai menggelar rapat koordinasi Senin kemarin, Pendeta Edi yang juga ikut dalam kepanitiaan mendatangi kantor LiNK. Ia mengaku dilapori anak buahnya bahwa ada dua orang petugas intel Polres Jombang mendatangi GKJW untuk menayakan surat izin kegiatan. “Akhirnya dengan terpaksa saya buatkan surat izin kegiatan dan saya antarkan langsung ke Polres. Sementara polisi mengizinkan,” kata Aan menjelaskan.

Ganjalan tidak sampai disitu, sore harinya,  panitia kembali mendapatkan intimidasi. Kali ini datang dari Kepala Bakesbanglinmas melalui telepon kepada salah satu panitia yang bernama Soleh. Dalam pembicaraan singkat itu pada prinsipnya Bakesbanglinmas meminta agar GKJW menggagalkan acara bedah buku tersebut dengan alasan kondusivitas.

Menurut Soleh, Kesbanglinmas menagku sudah berkordinasi dengan BKSG mengenai hal tersebut. Ia menambahkan bahwa sebelum adanya telpon tersebut, ada 2 orang intel Bakesbanglinmas yang mendatangi rumahnya. Mereka menanyakan izin acara dan meminta agar acara bedah buku batal digelar. Keduanya mengaku sudah berkordinasi dengan Polres dan Kodim.  Dua institusi itu diklaim tidak sepakat dengan acara tersebut dan meminta agar tidak usah diselenggarakan.

“Saya meprotes upaya intimidasi ini. Bahkan saya juga sudah menelpon Kepala Bakesbanglinmas terkait alasan pelarangan acara bedah buku. Namun belum sempat menjawab, telpon tiba-tiba dimatikan. Meski terus diintimidasi acara tetap kami gelar. Kita lihat saja,” kata Aan dengan nada tinggi.

Intimidasi acara bedah buku tersebut merupakan kedua kalinya di Jombang. Sebelumnya, pada 3 Agustus 2010, hal serupa juga dialami Komunitas Lembah Pring (KLP) yang menggelar bedah buku eks seniman Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) yang bertempat di Dusun Mojokuripan, Desa Jogoloyo, Kecamatan Sumobito. Sejumlah aparat dari kepolisian mendatangi acara serta menayakan masalah izin. [suf/kun]

*) Dikronik dari beritajatim.com, 10 Agustus 2010

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan