-->

Tokoh Toggle

Alberthiene Endah, Penulis Memoar Paling Moncer Saat Ini

Alberthiene Endah | Tempo

Alberthiene Endah | Tempo

Tiga tahun lalu, penyanyi legendaris Chrisye, meninggal dunia karena kanker paru-paru. Dia tidak kuasa menahan penyakitnya yang telah mamasuki stadium empat. Menjelang akhir hayatnya Chrisye menerima seorang jurnalis, Alberthiene Endah. Ia meminta AE – sapan Alberthiene – menuliskan perasaannya sebagai manusai yang divonis bakal meninggal. AE tak menyia-nyiakan kesempatan emas itu.

Bagi AE perjuangan Chrisye bertahan dari sakitnya layak diceritakan kepada mereka yang sedang mendampingi salah satu keluarganya yang sakit parah. “Satu yang diharapkan (orang yang sakit parah) jangan dikasihani, jangan dijauhi. Tapi posisikan diri kita ada seperti dia. Jadi dia merasa ada teman yang mengerti,” kata AE.

AE kembali meluncurkan buku tentang Chrisye  Jumat pekan lalu, “The Last Words of Chrisye.” Buku ini berisi curahan hati, kebencian, rasa sedih sang maestro itu. Rupanya, AE tak cuma menjadi spesialis penulis biografi para artis.  Beberapa hari sebelumnya, buku pengusaha Probosutedjo, “Saya dan Mas Harto” juga diluncurkan. Penulisnya ternyata AE juga.

Bagaimana AE bisa dipercaya para artis dan Probosutedjo untuk menuliskan riwayat hidup mereka dalam mengupas rahasia-rahasia hidup narasumbernya. Berikut petikan perbincangan Tempo dengan AE melalui telepon, kemarin.

Awal menulis sejak kapan?
Dulu pernah bekerja di Majalah Femina, 11 tahun. Waktu itu saya sering kebagian tugas wawancara tokoh seperti Xanana Gusmao yang masih di penjara. Dari sekian banyak jenis liputan, aku paling favorit kalau disuruh wawancara orang. Enggak tahu kenapa, selalu saja aku ingin menggali dalam. Ternyata jatah halaman yang cuma empat halaman per artikel menjadi kurang banget buat aku.

Pada 2004 aku keluar dari majalah ini. Tiba-tiba aku dapat tawaran dari Krisdayanti. “Mbak AE aku ingin membuat buku tentang hidupku dong.” Buku pertamaku ya Krisdayanti itu. Ini menjadi peluang, menjadi pintu gerbang buat aku untuk mengenal apa yang disebut dengan biografi.

Bagaimana anda mengeruk rahasia narasumber?
Aku yakin setiap orang itu kepengen terbuka, siapapun. Semua orang lebih seneng menceritakan apa yang ngganjel  di hatinya, apa yang dirahasiakan, atau apa yang selama ini dia tutupi. Cuma tidak semua media atau cara itu tepat. Tidak semua orang punya kesempatan untuk terbuka. Saya itu tidak tahu kenapa memiliki, ini yang saya rasakan ada satu kekuatan di diri saya yang bisa membuat orang lain itu cerita.

Even Krisdayanti yang harus jaga image, atau Ram Punjabi yang hidupnya dengan bisnis, Chrisye yang kena kanker sampai stadium empat, Bu Ani (Ani Yudhoyono), Probosutedjo, semua bisa cerita lepas sama aku. Aku sendiri tidak tahu kekuatanku itu dimana yang jelas ini berkah Tuhan bahwa setiap kali membuat buku biografi aku bisa menggali begitu banyak cerita yang sebetulnya itu adalah cerita yang belum pernah terungkap.

Apalagi saat bukunya Krisdayanti My Life My Secret, aku berhasil membuat dia mengaku kena narkoba. Itu luar biasa. Chrisye juga bagi saya luar biasa karena dalam keadaan kanker stadium empat, dengan sifat dia yang tertutup dan pendiam, introvert banget, saya berhasil membuat dia menceritakan tentang perasaan dia. Bahwa dia orang cina tulen cerita pertama kali ke saya. Selama ini ditutupin, karena waktu kecil pernah ditimpuk kepalanya hingga berdarah hanya karena dia Cina. Jadi pernah dikatain “Cina Cina Cina.” Jadi dia menutupi itu karena takut anak-anaknya mengalami hal yang sama. Tapi kepada saya dia bercerita. Dia juga menceritakan apa yang ditakutkan dalam hidupnya. Di buku The Last Words of Chrisye inilah saya tulis.

Apa informasi yang baru dari Chrisye?
Dia mengakui selama ini pendam sendiri seperti percecokannya dengan Yockie Suryo Prayogo dan Eros Jarot. Mereka dan Chrisye beberapa dekade lalu adalah trio yang hebat. Mereka pernah mengeluarkan album “Badai Pasti Berlalu” sampai dunia pop Indonesia guncang. Namun beberapa tahun setelah itu mereka tercerai berai. Chrisye tiba-tiba lari ke pop kreatif yang dinamis, sedangkan Yockie dan Eros berada di kubu yang lain. Pertentangan ketiganya itu tertutup rapat. Intinya mereka udah tidak teguran lagi.

Berapa lama tidak teguran?
Sampai dibuat bukunya. Buku biogarfi Chrisye saya buat 2006. Saya yang kemudian mempertemukan Yockie, Eros dengan Chrisye. Mereka akhirnya baikan. Nah, di buku “The Last Words of Chrisye” saya ceritakan kenapa Chrisye betah mempertahankan perseturan itu sampai berpuluh-puluh tahun. Itu karena gengsi.  Lalu perasaan-perasaan orang yang takut mati. Sebenarnya premis terbesar di buku Chrisye adalah ketika kita di-”beri tahu” oleh Tuhan bahwa umur kita tinggal setahun lagi apa yang akan kita lakukan. Nah itu yang ada di buku ini.

Chrisye mengalami metamorfosa mulai dari marah kepada Tuhan ketika di tahu (mengidap) kanker, sampai akhirnya dia berpikir positif. “Gue dikasih penghormatan oleh Tuhan, dikasih tahu kapan matinya, jadi gue harus cepet-cepet bikin pembenahan. Mungkin kalau orang lain tidak dikasih tahu.” Dia justru bisa mengambil sisi positifnya. Sampai akhirnya dia pasrah dan meninggal.

Menjelang meninggal Chrisye mengurangi dan menghapus perseteruan-perseteruan itu?
Ya, seperti juga diungkapkan isterinya, buku ini tidak cuma penting bagi penggemar Chrisye. Ini luas artinya. Buku ini juga saya tujukan untuk orang-orang yang sedang menunggui keluarganya yang sakit parah. Karena orang-orang yang berada dalam ancaman sakaratul maut itu gelisah. Pikiran dia perlu (ada) orang yang mendengar.

Buku biografi selalu berisi sesuatu yang menginspirasi. Anda masih ikut dalam genre ini?
Saya lebih suka menyebut buku-buku saya memoar bukan biografi. Kalau biografi udah ada pakemnya dari lahir sampai apalah. Kebanyakan buku saya, memang ada yang biografi sifatnya, tapi kalau My Life My Secret-nya KD sifatnya memoar banget. Itu hanya cerita 5 kejadian penting dalam hidupnya. Sementara Chrisye yang baru ini juga memoar banget karena bercerita setahun terakhir dalam hidupnya. Jadi harus diluruskan (antara biogarfi dan memoar) karena banyak orang yang salah kaprah. Cerita orang langsung dianggap biogarfi, padahal belum tentu. Bisa juga itu cerita soal, misalnya, hal-hal terindah dalam hidupnya. Di Barat sana banyak banget yang menulis buku tentang perasaan-perasaan yang disebutnya memoar.

Biografi yang anda tulis?
Saya fifty-fifty. Ada yang biografi murni sepert Titiek Puspa, Raam Punjabi, Ibu Ani (Ani Yudhoyono), dan Probosutedjo itu biografi murni. Di luar itu masih banyak seperti tokoh-tokoh politik yang tidak diterbitkan secara umum.

Yang akan diterbitkan?
Ibu Ani (Ani Yudhoyono) sebentar lagi, bulan depan mungkin. Proyek lain yang sangat menggugah saya kali ini, saya tidak membicarakan orang. Bulan Juni ini saya berada di Bali mendapatkan proyek buat buku eksklusif tentang sejarah (Bandara) Ngurah Rai. Bagaimana Ngurai Rai itu menjadi pintu gerbang dunia.

Siapa menawarkan proyek ini?
Direktur Angkasa Pura Bali. Buku itu termasuk yang cukup besar karena juga pakai liputan segala macam. Harus diakui Bali itu awalnya lebih dikenal dibanding Indonesia dan dia menjadi pintu gerbang.

Apa nilai-nilai yang anda dapatkan dari tokoh-tokoh yang Anda tulis?
Banyak. Saya sendiri kalau sudah menulis orang lain selalu geleng-geleng sendiri. Saya juga membuat biografi Siti Aminah, pemilik penerbit Tiga Serangkai. Itu perempuan hebat dari Solo. Hampir semua buku yang saya tulis itu menawarkan satu pesan yakni bagaimana membuat keadaan yang nol itu menjadi sesuatu. Dari nothing menjadi something. Saya ingin ajarkan ke orang tentang semangat untuk membangun diri. Bahwa hidup itu tidak akan stag kalau kita bergerak, berjuang. Semua buku saya nilai itu ada. Orang-orang yang saya tulis adalah orang-orang yang berhasil bangkit dari titik nol. Kedua bagaimana mencermati hikmah kehidupan bahwa tidak semuanya sempurna. Tapi Tuhan pasti kasih jalan keluar kalau kita mau berpikir jernih. Seperti KD, kan, nggak sempurna banget. Bahkan jauh dari sempurna. Bagaimana dia operasi plastik berkali-kali karena minder.

Anda pilih-pilih orang untuk ditulis?
Ya, jelas. Yang saya akan lihat, ya, itu tadi. Apakah buku yang saya buat akan memberi nilai buat orang lain. Kalau tidak saya akan berpikir-pikir. Apakah dia cukup pantas untuk dibuat bukunya. Itu juga pertanyaan yang saya pertimbangkan. Bukan karena saya arogan tapi dia cukup inspiratif nggak di mata orang, Dia memiliki contoh-contah atau teladan yang baik nggak. Kalau dikasih tahu ke publik orang bisa mendapatkan nilainya. Dan jangan salah, patokannya bukan kaya dan tenar. Bisa juga seorang Ibu yang berhasil mendampingi anaknya sembuh dari kanker. Meski nggak terkenal, bisa saya tulis. Karena apa yang dia ceritakan bisa menjadi sesuatu yang besar.

Dengan siapa dan pertimbangan apa?
Saya sendiri dan pakai naluri. Saya pernah meeting dengan orang berkali-kali dan di tengah-tengah jalan saya bilang, “Sory saya tidak bisa terus.” Karena memang merasa tidak mendapatkan soul lagi. Tapi yang lucu dari pengalaman saya. Saya tidak pernah tidak berantem dengan narasumber saya. Selalu berantem. Tapi itu baik. Saya sengaja ciptakan suasana supaya dia keluar marahnya karena membuat biogarfi itu kita harus menggali ekspresi paling jujur. Kalau kita basa-basi saya masih ganjel. Kalau orang yang saya tulis sudah bisa ngomelin saya, berarti saya udah dapet.

Pernah diomelin Chrisye dong?
Pernah, dia ngomel di-sms, masih saya simpan.

Boleh tahu?
Dia menulis, “Jangan terlambat mulu dong. Kalau saya ingin bercerita ingin bercerita langsung.” Itu saya tulis di buku. Tapi berantemnya lebih ke cekcok kecil ya. Tapi saya senang karena kalau saya bisa ngelawan dia, dia ngomel ke saya, tapi habis itu kita akrab lagi berati hubungan kita sudah sangat baik. Kalau dia takut sama saya, misalkan saya takut tersinggung, itu susah. Karena biogarfi itu kan puluhan kali wawancara. Kita bicara interaksi batin yang tidak main-main. Kita bicara kedalaman. Mungkin bisa dibilang hubungan kita lebih dari orang pacaran.

Ketika saya wawancara Titiek Puspa saya memposisikan diri seperti cucu dia. Waktu saya wawancara Raam, saya menganakkan diri. Harus begitu. Prosesnya tidak bisa seperti wawancara untuk artikel seperti kita bekerja di majalah. Kita harus berbicara batin. Dalam wawancara, tape rekaman kita hanya berguna 30 persen saja. Merekam dia lahir dimana, dia berpestasi dimana saja itu 30 persen saja. 70% yang penting adalah bagaimana batin kita membaca hati dia. Kalau kita sudah tahu bagaimana ketakutan dia terhadap hidup, kita gampang nulisnya.

Dengan Chrisye Anda memposisikan sebagai apa?
Sebagai sahabat, Saya ingin dia tahu bahwa saya ingin merasakan sakitnya dia. Karena orang-orang yang dirundung sakit berat itu sebenarnya cuma satu yang diharapkan jangan dikasihani jangan dijauhi, tapi posisikan bahwa diri kita itu ada seperti dia. Jadi dia merasa ada teman yang mengerti.

Duitnya pasti lebih gede dibandingkan wartawan ya?
Ya jelaslah hahaha. Terutama kalau buku itu laku, ya, lumayan banget dan kita dapat honor dari orang (narasumber). Tanpa saya bilang itu berapa, jelas jauh lebih besar dibandingkan wartawan. Tapi saya rasa wartawan itu menjadi sekolah yang baik yaitu kesabaran.

Buku-Buku Karya Alberthiene Endah

1. Krisdayanti, ‘1001 KD’
2. Dwi Ria Latifa SH, ‘Berpolitik Dengan Nurani’
3. Venna Melinda, ‘Guide To Good Living’
4. Raam Punjabi, ‘Panggung Hidup Raam Punjabi’
5. Chrisye, ‘Sebuah Memoar Musikal’
6. Titiek Puspa, ‘A Legendary Diva’
7. Anne Avantie, ‘Aku, Anugerah dan Kebaya’
8. Krisdayati, ‘My Life My Secret’
9. Siti Aminah, ‘Membangun Tiga Serangkai’
10. 1001 Masalah Transportasi Indonesia-Bambang Susantono Phd.
11. ANI SBY, ‘Kepak Sayap Puteri Prajurit’ (segera terbit)
12. PROBOSUTEDJO “Saya dan Mas Harto”
13.The Last Words of Chrisye

Akbar Tri Kurniawan

Sumber: TEMPOINTERAKTIF.COM, 11 Mei 2010, “Alberthiene Endah: Selalu Berantem Dengan Nara Sumber”

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan