-->

Resensi Toggle

Aku Ingin Jadi Peluru | Wiji Thukul (1999)

AWAL: Untuk memperingati hari kelahiran Wiji Thukul pada 26 Agustus dan penghormatan atas tubuh yang dihilangkan kekuasaan, redaksi menurunkan lagi review salah satu karya Thukul yang cukup terkenal. Karya ini dipilih oleh Tim Sastra Indonesia Buku sebagai salah satu dari seratus buku sastra utama yang pernah diterbitkan di Indonesia. Selamat membaca. (Red)

80. Aku Ingin Jadi Peluru karya Wiji Thukul (1999)

Wiji ThukulHanya Satu Kata: Lawan!

seumpama bunga

kami adalah bunga yang

dirontokkan di bumi kami sendiri

Sastra tidak pernah lepas dari kehidupan manusia. Ia menyuarakan peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitar manusia dengan tenang, sedikit menggelegar, bahkan garang. Tentunya, dari sekian metode penyampaian sebuah karya sastra kepada khalayak, segala risiko sudah siap menghadang.

Jika dicermati, salah satu dari beberapa persoalan yang kerap menjadi pemantik lahirnya karya sastra adalah persoalan politik. Politik dengan mudah dapat mengubah perasaan seorang rakyat jelata seperti raja. Ia juga dapat menyulap ajaran-ajaran agama yang luhur menjadi tak ubahnya barang dagangan. Bahkan, kita mungkin sudah tidak asing lagi dengan adagium “politik itu kotor.”

Dalam perjalanan politik bangsa ini, Orde Baru telah menerakan kenangan sejarah yang hitam putih di segala lini kehidupan. Dengan alasan menjaga “stabilitas keamanan nasional”, tangan besi Orde Baru terlalu berlebihan membungkam mulut rakyat. Pada kondisi semacam inilah biasanya suara hati nurani seseorang sulit untuk berbohong. Apalagi jika yang tampak di matanya adalah keberingasan penguasa yang ditumpahkan sewenang-wenang kepada rakyat jelata.

Wiji Thukul adalah salah seorang dari sekian ratus juta warga Indonesia yang memiliki kepekaan sosial yang sangat tinggi. Hati nuraninya terketuk ketika melihat kesewenang-wenangan sistem politik Orde Baru. Rakyat dan segala kekayaan sumber daya alam Indonesia bagi orde ini tak lebih dari sapi perah. Parahnya, para penguasa itu tidak hanya mengeksploitasi, tetapi juga berupaya melakukan pembodohan-pembodohan publik melalui jalur-jalur pendidikan, ekonomi, budaya, dan lain-lain. Maka, yang tampak adalah rakyat makin sengsara, sebagaimana digambarkan dalam puisi di bawah ini:

(“Bunga dan Tembok”)

………….

seumpama bunga

kami adalah bunga yang

dirontokkan di bumi kami sendiri

Bunga adalah lambang keceriaan. Bunga juga dapat diartikan sebagai harapan. Tentu sangat ironis apabila keceriaan atau harapan harus pupus bukan karena seleksi alam, melainkan karena ada unsur paksaan manusia.

Sosok dan pemikiran Wiji Thukul pada waktu itu mungkin terlalu berani. Kita dapat menyimak dari gagasan-gagasannya, misalnya, sebagaimana tertuang dalam kumpulan puisi Aku Ingin Jadi Peluru ini. Lewat sastra, Wiji Thukul “menyerang” berbagai penyelewengan yang dilakukan oleh pemerintah Orde Baru beserta aparaturnya. Dia juga membakar semangat rakyat marjinal agar memperjuangkan hak-hak mereka. Tentu saja, suara-suara Wiji Thukul membuat merah telinga penguasa dan oleh karena itulah dia harus membayar mahal atas keteguhannya memegang prinsip.

Meski demikian, rupanya gagasan-gagasan Wiji Thukul masih tetap menarik untuk direnungkan. Beberapa sajaknya menyiratkan optimisme yang kuat.

(“Sajak”)

sajakku adalah kata-kata

yang mula-mula menyumpal di tenggorokan

lalu dilahirkan ketika kuucapkan

sajakku adalah kata-kata

yang mula-mula bergulung-gulung

dalam perasaan

lalu lahirlah ketika kuucapkan

sajakku

adalah kebisuan

yang sudah kuhancurkan

sehingga aku bisa mengucapkan

dan engkau mendengarkan

sajakku melawan kebisuan

Dalam sajak di atas, ada gagasan dari Wiji Thukul yang bisa dibedah, yaitu bahwa sebelum seseorang melakukan perlawanan terhadap orang lain atau situasi di luar dirinya, maka ia haruslah melawan dirinya sendiri. Kalimat sajakku/adalah kebisuan/yang sudah kuhancurkan/ adalah perwujudan dari tindakan mengeliminasi kelemahan diri agar tidak mengalahkan sifat optimis.

Aspek lain yang mendominasi puisi-puisi Wiji Thukul adalah semangat memberontak penindasan terhadap sesama. Sebab, manusia hakikatnya memiliki hak dan kewajiban yang setara. Selanjutnya kembali kepada orang itu sendiri apakah ia akan bertanggung jawab atau justru menjadi pecundang. Negara hanya berfungsi sebagai fasilitator, pelayan, atau pembantu bagi terciptanya keadilan dan kemakmuran.

Ironisnya, yang menimpa Indonesia pada masa Orde Baru adalah merajalelanya KKN dan tindakan-tindakan represif.  Maka, tak heran kalau kemudian Wiji Thukul menulis puisinya berjudul “Riwayat.”

(“Riwayat”)

……..

berkali-kali

kuhancurkan

kubentuk lagi

kuhancurkan

kubentuk lagi

patungku tak jadi-jadi

aku ingin sempurna

patungku tak jadi-jadi

Dari penggalan puisi tersebut, Wiji Thukul menampilkan gagalnya citra sebuah negara yang sudah seharusnya berperan sebagai fasilitator, pelayan, atau pembantu bagi terciptanya keadilan dan kemakmuran. Dia seolah mengiyakan bahwa para penguasa Orde Baru adalah patung-patung yang sangat keras kepala, meskipun sudah kuhancurkan dan kubentuk lagi. Penguasa memang tak ubahnya (patung) yang gagal memperoleh kesempurnaan estetika. Mereka adalah batu yang tak ada nilainya di mata rakyat.

Kritik Wiji Thukul terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah Orde Baru juga terasa cukup mengena. Dia mengibaratkan negara seperti sebuah bangunan rumah yang seharusnya dapat menjadi tempat berteduh dari sengatan terik maupun guyuran air hujan. Namun, bagaimana mungkin pemilik rumah itu dapat mempercantik interiornya jika rumah itu sendiri masih dalam angan-angan?

(“Suara dari Rumah-Rumah Miring)

………

kami bermimpi punya rumah untuk anak-anak

tapi bersama hari-hari pengap yang

menggelinding

kami harus angkat kaki

karena kami adalah gelandangan

Tampaknya ada alasan kuat bagi Wiji Thukul untuk mengibaratkan negara seperti rumah. Keduanya memiliki tugas yang sama, memberikan perlindungan kepada orang yang bermukim di dalamnya. Hanya saja, “negara” sifatnya abstrak. Sementara “rumah” sifatnya konkret. Namun, keduanya akan mengalami seleksi alam yakni bakal diwariskan kepada generasi-generasi selanjutnya.

Semangat nasionalisme Wiji Thukul semakin terasa menggigit pada bait akhir salah satu puisinya yang lain:

(“Sajak Kepada Bung Dadi”)

………

ini tanah airmu

di sini kita bukan turis

Tanah air mencakup pengertian yang luas, meliputi hasil bumi dan laut. Dari puisi ini, Wiji Thukul seolah ingin mengajak (tepatnya, menyindir) masyarakat agar memupuk rasa cinta tanah air. Sebab, dengan tertanamnya rasa cinta akan tumbuh rasa memiliki. Hal inilah yang tidak dimiliki oleh seorang turis.

(“Ceritakanlah Ini Kepada Siapa Pun”)

…………..

walau senjata ditodongkan kepadamu

walau sepatu di atas kepalamu

di atas kepalaku

di atas kepala kita

ceritakanlah ini kepada siapa pun

sebab itu cerita belum tamat

Tentunya pesan yang mudah ditangkap dari puisi di atas adalah bahwa sejarah bangsa ini hendaknya jangan ditutup-tutupi. Biarkan generasi selanjutnya menyimak jejak-jejak orang tua mereka.

Beberapa persoalan masyarakat kita yang tidak lepas dari bidikan Wiji Thukul adalah persoalan kesenian. Hakikat kesenian adalah keindahan. Di dalamnya, seorang seniman menyampaikan gagasan-gagasan tentang berbagai peristiwa faktual yang terjadi di sekeliling kita. Bagi Wiji Thukul, seorang seniman yang menggantungkan hidupnya dari tangan kesenian sejatinya kurang tepat. Kesenian bukanlah alat untuk bertahan hidup, melainkan sebagai alat untuk menyebarkan semangat humanisme universal. Kesenian adalah pendidikan bagi masyarakat.

Wiji Thukul sangat memegang teguh idealisme bahwa berkesenian adalah bukan untuk bertahan hidup. Oleh karenanya, dia sendiri harus bekerja untuk menghidupi anak dan istrinya. Maka, tak heran jika dia pun melontarkan pertanyaan:

(“Catatan Hari Ini”)

…………….

jam setengah tujuh malam

aku berangkat latihan teater

apakah seni bisa memperbaiki hidup?

Puisinya yang lain tampil lebih tegas daripada puisi di atas. Dalam puisi berikut ini, posisi “puisi” adalah otonom dan independen. Ia tidak boleh dimanfaatkan sebagai alat untuk mencari-cari kebenaran atas sebuah tindakan kejahatan. Puisi hendaknya dibiarkan mencari dan menyampaikan kebenarannya sendiri.

Sebaliknya, seorang penyair juga hendaknya bisa menjaga dirinya sendiri. Dengan kata lain, ketika seorang penyair melempar karyanya ke publik, maka ia harus bertanggung jawab dengan puisinya tersebut. Pada tataran ini, Wiji Thukul telah melampauinya.

(“Para Penyair Adalah Pertapa Agung”)

……………….

keadilan adalah duniawi

bukan tanah ladang puisi

korupsi jangan terusik oleh puisi

puisi cuma mencari jatidiri

jangan dibuka mata batin bagi kemiskinan

dan penindasan

puisi jangan menuntut yang bukan-bukan

Selain sebagai penyair dan aktivis yang terbiasa hidup menantang buasnya penguasa, ternyata ada sisi lain dari puisi-puisi Wiji Thukul yang cukup menarik. Dia tidak garang, tetapi mampu juga menyampaikan gagasannya dengan lembut.

(“Catatan Malam”)

…………….

aku ini penyair miskin

tapi kekasihku cinta

cinta menuntun kami ke masa depan

Cinta telah menjadi bagian dari tubuh puisi-puisi Wiji Thukul. Dalam setiap cinta terdapat keindahan, kedamaian, dan ketenteraman jiwa. Puisi yang baik adalah puisi yang bisa memberikan pencerahan kepada manusia. Pencerahan itulah yang akan menyemaikan bibit-bibit cinta di antara sesama. Kita bisa menanam cinta itu dalam diri kita sendiri, keluarga, bahkan negara.

Dengan cinta, eksistensi manusia akan kokoh. Ia tidak akan mudah terombang-ambing oleh gelombang tipu daya yang akan menjerumuskannya. Begitu juga dengan Wiji Thukul, kecintaannya terhadap dunia tulis menulis sebagai alat memperjuangkan hak-hak kaum marjinal tampaknya tidak akan membuatnya goyah sekalipun banyak bahaya yang siap menghadang langkahnya. Inilah jiwa sejati seorang penulis, di mana dia bersungguh-sungguh ingin menulis karena dia adalah penulis yang akan terus menulis untuk memperjuangkan keadilan.

(“Puisi di Kamar”)

………

tak menyerah aku pada tipudaya bahasamu

yang keruh dan penuh dengan genangan darah

aku menulis aku penulis terus menulis

sekalipun teror mengepung

Puisi-puisi Wiji Thuku yang terkumpul dalam antologi Aku Ingin Jadi Peluru bisa dikatakan sebagai potret carut marutnya kondisi sosial, ekonomi, budaya, dan sebagainya pada masa kekuasaan Orde Baru. Rezim yang berada di bawah kepemimpinan Soeharto diduga telah menyelewengkan kekuasaan di seluruh lini kehidupan. Namun, setidaknya ada dua hal yang cukup terasa waktu itu: pertama, rakyat tidak diberi kebebasan berekspresi secara utuh. Kedua, keadilan tak ubahnya barang dagangan yang hanya dikuasai oleh orang-orang berduit.

Wiji Thukul adalah salah seorang dari beberapa gelintir orang yang berani menerima resiko karena dianggap melawan kebijakan-kebijakan pemerintah. Puisi-puisinya lebih banyak membuat merah telinga pemerintah beserta aparaturnya.

Namun, dari antologi ini setidaknya bisa dibedah gagasan-gagasan Wiji Thukul yang sesungguhnya, antara lain:

  1. Pemberontakan terhadap kesewenang-wenangan pemerintah Orde Baru, yang tidak berpihak pada rakyat kecil.
  2. Masalah kesenian bagi masyarakat.
  3. Hubungan puisi dengan kondisi sosial.
  4. Masalah cinta, antara manusia dengan Tuhan dan manusia dengan sesamanya.

Dalam menulis puisi, Wiji Thukul berangkat dari apa yang dilihat dan dirasakan di sekelilingnya, terutama yang berkaitan dengan nasib rakyat, buruh, atau orang-orang yang dipinggirkan oleh bobroknya sistem pemerintahan. Pilihan diksi yang dipakai juga jelas dan lugas, sehingga karya-karyanya mudah dipahami oleh masyarakat yang datang dari berbagai elemen.

Pada akhirnya, sastra memang harus dikembalikan pada hakikatnya, yakni sebagai wadah pendidikan dan pencerahan kepada masyarakat. Di mana ada kebobrokan, di situ sastra akan melakukan perlawanan. Hal ini terbaca dengan jelas pada salah satu larik dari sajak “Peringatan” karya Wiji Thukul yang telah menjadi “bacaan wajib” dan legendaris itu: Hanya ada satu kata: Lawan!

Biografi Penyair

Wiji Thukul, yang bernama asli Wiji Widodo, lahir pada 26 Agustus 1963 di kampung Sorogenen, Solo, Jawa Tengah. Wiji lahir dan dibesarkan dari keluarga tukang becak. Dia adalah anak sulung dari tiga bersaudara, menamatkan pendidikan SMP (1979), kemudian melanjutkan sekolah di SMKI (Sekolah Menengah Karawitan Indonesia) jurusan tari, namun tidak sampai tamat (1982).

Selanjutnya, Wiji Thukul menjalani hari-harinya antara lain dengan berjualan koran dan tak lama kemudian dia bekerja di sebuah perusahaan meubel antik atas ajakan tetangganya. Di perusahaan itu Wiji bekerja sebagai tukang pelitur. Saat itulah Wiji mulai dikenal sebagai penyair pelo (cedal) karena dia sering mendeklamasikan beberapa puisinya di depan teman-temannya.

Wiji Thukul mulai menulis puisi sejak duduk di bangku SD. Ketika dia masuk SMP, dia pun berkenalan dengan dunia teater dan pernah bergabung dengan kelompok teater JAGAT (Jagalan Tengah). Bersama teman-teman teaternya itu Wiji Thukul sering keluar masuk kampung-kampung untuk ngamen puisi dengan iringan berbagai instrumen musik.

Wiji Thukul tidak hanya ngamen di Solo, melainkan dia dan teman-temannya sudah merambah sampai Yogyakarta, Klaten, bahkan sampai ke Surabaya.

Pada tahun 1988, Wiji Thukul pernah bekerja sebagai wartawan MASA KINI, meski hanya bertahan tiga bulan. Puisi-puisinya pernah diterbitkan oleh berbagai media cetak, baik dalam maupun luar negeri, seperti Suara Pembaruan, Bernas, Suara Merdeka, Surabaya Post, Merdeka, Inside Indonesia (Australia), Tanah Air (Belanda), dan juga di penerbitan-penerbitan mahasiswa, seperti: Politik (UNAS), Imbas (UKSW), Pijar (UGM), Keadilan (UII), serta di berbagai buletin LSM-LSM. Selain menulis puisi, Wiji Thukul juga menulis cerpen, esai, dan resensi puisi.

Wiji Thukul menikah dengan Dyah Sujirah (Sipon) dam dikaruniai dua anak, Fitri Nganti Wani dan Fajar Merah. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, semasa masih berada di sisi keluarganya, di samping membantu istrinya yang membuka usaha jahitan, Wiji Thukul juga menerima pesanan kaos, tas, dan lain-lain. Dia pernah menyelenggarakan kegiatan teater dan melukis untuk anak-anak. Pengalamannya yang lain adalah pernah menjadi fasilitator workshop teater untuk para buruh perkebunan di Sukabumi, Bandung, Jakarta, dan kampung-kampung.

Dua kumpulan puisinya Puisi Pelo dan Darman dan Lain-Lain telah diterbitkan oleh Taman Budaya Surakarta (TBS). Tahun 1989 dia diundang membaca puisi oleh Goethe Institut di aula Kedutaan Besar Jerman di Jakarta. Tahun 1991 Wiji Thukul tampil di Pasar Malam Puisi yang diselenggarakan Erasmus Huis, di pusat kebudayaan Belanda di Jakarta. Masih di tahun yang sama, dia menerima WERTHEIM ENCOURGE AWARD yang diberikan oleh Wertheim Stichting di negeri Belanda, dia dan W.S. Rendra adalah orang pertama yang mendapatkan penghargaan itu sejak yayasan tersebut didirikan untuk menghormati sosiolog dan ilmuwan Belanda, WE Wertheim.

Tahun 1992, sebagai penduduk Jagalan-Pucangsawit, Wiji Thukul bergabung bersama masyarakat sekampungnya di sekitar pabrik tekstil PT Sariwarna Asli untuk ikut memprotes pencemaran lingkungan yang diakibatkan oleh pembuangan limbah pabrik tersebut. Dia juga pernah bergabung dengan aksi perjuangan petani di Ngawi (1994), memimpin pemogokan buruh di PT Sritex (1995). Selain itu, dia pernah terlibat aksi memperjuangkan kebebasan sipil bersama mahasiswa dan beberapa elemen masyarakat.

Sayangnya, peristiwa 27 Juli 1996 telah menjadikan Wiji Thukul sebagai salah satu korban “asap” politik Orde Baru dan keberadaannya hingga kini tidak pernah diketahui oleh publik.

Meski dinyatakan hilang sejak tahun 1996, pada tahun 2002 Wiji Thukul memperoleh YAP THIAM HIEN AWARD ke-10 atas jasa-jasanya dalam pemajuan dan perlindungan hak asasi manusia. (Moh. Fahmi Amrulloh)

Sumber: Seratus Buku Sastra Indonesia Yang Harus Dibaca Sebelum Dikuburkan (An Ismanto [ed.], IBOEKOE, 2009), halaman 782-791

2 Comments

Faradina Izdhihary - 27. Agu, 2010 -

Gemetar aku membaca ulasan antologinya Wiji Tukul ini. Aku sudah pernah membaca buku2nya. Semoga dia mendapat tempat yg tenang di sisi-Nya.
Thx telah berbagi

rendi patria - 27. Apr, 2013 -

ada yang jual buku antologinya nggak?

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan