-->

Tokoh Toggle

Usman, "Ensiklopedi" Botani

UsmanOleh Mahdi Muhammad

Ketika Usman Senanda melihat pepohonan di sekitar rumahnya, di Ketambe, Aceh Tenggara, dibabat habis oleh pengusaha pemilik izin hak pengusahaan hutan, hatinya miris. Dia berpikir, Tuhan menciptakan makhluk hidup pasti dengan fungsi masing-masing, baik bagi diri sendiri maupun untuk makhluk sesamanya.

Dia tidak bisa mengerti ketika manusia justru menghancurkan hutan dan pepohonan. Terlintas di pikiran Usman, pastilah makhluk-makhluk yang bergantung pada hutan dan pepohonan itu akan menangis.

Sejak itulah pikiran tersebut begitu terpatri dalam kehidupan sehari-hari Usman. Padahal sebelumnya, dia bisa dikatakan tidak peduli pada kondisi di sekeliling kampungnya.

Usman memilih pergi berkelana dari satu kota ke kota lain. Sehari-hari dia bekerja sebagai kernet mobil angkutan. Namun, hal itu berubah sekembalinya dia ke kampung halaman pada pertengahan 1980-an.

Apalagi, menjelang akhir tahun 1985-an, manajemen Stasiun Penelitian Ketambe (ketika itu masih dikelola swasta) mencari para pemuda lokal untuk dididik agar bisa membantu para peneliti yang banyak berdatangan ke stasiun tersebut.

Saat itu, cerita Usman, pihak manajemen Stasiun Penelitian Ketambe memilih para pemuda lokal karena mereka dianggap dekat dengan alam dan lingkungan di sekitar stasiun penelitian.

Usman ingat, mentornya ketika itu adalah Bugam Aman Butet. Lelaki asal Gayo Lues itu bertugas mendidik lima orang calon asisten peneliti dan dia melakukannya dengan sungguh-sungguh. Bugam, yang juga bertugas sebagai operator rakit penyeberangan di stasiun tersebut, mendapat penghargaan Kalpataru dari Menteri Negara Lingkungan Hidup Emil Salim pada 1987.

Cara Bugam mendidik para pemuda itu sederhana saja. Usman menuturkan, setiap hari mereka setidaknya harus berjalan sekitar satu kilometer dari barak pangkalan (base camp) stasiun ke dalam kawasan hutan. Dalam perjalanan itulah Bugam menjelaskan kepada mereka secara mendetail tentang jenis-jenis pohon yang mereka lihat.

Agar tidak lupa, setiap anak didik diminta membawa pulang 10 contoh daun. Contoh daun itu kemudian mereka pelajari bersama-sama di barak pangkalan.

”Bentuk daun itu juga kami gambarkan. Kalau kami lupa, nama pohonnya ditulis di atas daun. Ini biar mudah mengingatnya,” ujar Usman sambil tertawa.

Empat yang penting

Usman masih sangat jelas mengingat pesan sang guru. Untuk mempelajari pepohonan atau tanaman, hanya perlu mengingat empat hal penting, yaitu warna, bentuk batang, bentuk cabang, dan bentuk daun. Bila anak didik sudah hafal, sang guru akan menjelaskan fungsi dari setiap pohon bagi kehidupan satwa.

Lebih dari 270 spesies pohon yang informasinya ”ditransfer” dari sang guru kepada Usman dan kawan-kawan. Usman menambahkan, dia membutuhkan waktu sekitar lima tahun untuk bisa mengingat seluruh nama spesies tanaman yang ada di kawasan stasiun penelitian.

Sebelum membantu para peneliti yang datang, Bugam masih mewajibkan mereka mempelajari perkembangan bunga dan buah dari setiap pohon. Selain sebagai sarana konservasi, pemantauan seperti itu juga berguna untuk mengetahui posisi satwa liar yang menjadi obyek penelitian.

Menurut Usman, tidak semua tumbuhan itu memiliki siklus berbunga dan berbuah tahunan seperti buah-buahan pada umumnya. Tak jarang, siklus berbunga dan berbuah berlangsung lebih dari tiga tahun. Contohnya, buah ara atau rambung (Ficus sp).

Dari mengamati perkembangan bunga dan buah itulah Usman bisa memperkirakan arah pergerakan satwa liar, terutama orangutan sumatera (Pongo abelii) saat mencari makan.

Puluhan peneliti datang dan pergi dari stasiun penelitian itu. Hutan yang sebagian besar belum terjamah dan tingginya populasi satwa liar, terutama orangutan, monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) dan kedih (Presbytis thomasi), itu membuat lokasi ini menjadi salah satu stasiun penelitian rujukan bagi ilmuwan, terutama yang memilih primata sebagai obyek penelitiannya.

Usman tak bisa mengingat berapa jumlah peneliti, baik lokal maupun asing, yang telah menjadikan dia sebagai asisten mereka. Meskipun manajemen stasiun itu mengkhususkan Usman sebagai asisten peneliti botani, tak jarang dia juga membantu peneliti primata.

”Mereka sering bertanya, di mana orangutan atau monyet ekor panjang berada karena keberadaan hewan itu bergantung pada ada atau tidaknya suplai makanan,” kata Usman.

Tersisa anakannya

Bertugas sebagai asisten peneliti membuat Usman tahu persis perkembangan setiap tanaman. Dia juga bertindak sebagai petugas konservasi, terutama untuk mengajak warga setempat agar tak merambah hutan, apalagi kawasan di stasiun itu. Salah satu akibatnya adalah semakin berkurangnya populasi kayu alim (Justicia gendarusa).

Usman mengatakan, yang tersisa kini hanyalah anakan kayu alim. Padahal, kayu alim banyak dicari orang karena getahnya merupakan salah satu bahan dasar pembuatan parfum. Harga getah kayu ini di pasaran mencapai jutaan rupiah per kilogram. Jenis pohon inilah yang dilihat Usman paling menurun drastis jumlahnya.

”Sebenarnya, ada satu batang (kayu alim) di dekat tempat rakit penyeberangan. Pohon itu sudah dilirik orang, tetapi tak ada yang berani karena tempatnya terbuka dan bisa dilihat dari stasiun,” ujarnya.

Usman lalu bercerita tentang dua keinginannya yang belum tercapai, yaitu menulis buku tentang semua tanaman di stasiun itu dan mendapatkan calon penerusnya.

Dia mengatakan, manajemen tak mempunyai buku tentang tanaman yang ada di kawasan hutan milik stasiun. Akibatnya, sering kali dia berdebat dengan para peneliti mengenai nama berbagai jenis tanaman tersebut. Meskipun ada peneliti yang punya cukup referensi mengenai berbagai jenis tanaman di kawasan itu, stasiun tak pernah memilikinya.

”Buku itu sedang saya kerjakan bersama Pak Isa (M Isa, Kepala Stasiun Penelitian Ketambe),” kata Usman, yang menamai satu spesies tanaman bergang batu, termasuk genus Baccaurea.

Namun, tentang keinginan dia mencari penerusnya, Usman yang tidak sempat mengenyam pendidikan SLTP ini masih harus berupaya keras. Memang tidak mudah mendapatkan sosok anak muda yang mau melakoni apa yang selama ini dia jalani.

*) Kompas, 23 Juni 2010

Usman Senanda
Lahir: Ketambe, Aceh Tenggara, 17 Agustus 1966
Pendidikan: SD Lawe Aunan, lulus 1980
Pekerjaan: Staf bidang Botani, Stasiun Penelitian Ketambe, Badan Pengelola Kawasan Ekosistem Leuser
Istri: Siti Maryam
Anak:
– Evi Tami
– Pajar Satria
– Yudi Anan
– Kasma Niar
– Anta Wana
– Kareina Usti

1 Comment

Ahmad Yunus - 28. Jul, 2010 -

semoga bumi Indonesia akan kembali hijau seperti dulu

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan