-->

Kronik Toggle

Unitomo Surabaya Luncurkan Novel

SURABAYA–Universitas dr Soetomo (Unitomo) Surabaya meluncurkan novel bertajuk “Asmara Berselimut Kabut” karya Guru Besar Fakultas Ilmu Komunikasi setempat Prof Dr Sam Abede Pareno dalam rangkaian menyemarakkan Dies Natalis ke-29 kampus itu.

“Novel itu menceritakan kisah cinta Sonya yang gadis Ambon dan beragama Kristen dengan Hasan asal Jawa yang anak seorang Kiai. Keduanya bertemu di Surabaya,” kata Sam Abede Pareno dalam pengantar bedah buku novel itu di kampus setempat, Kamis.

Guru besar etika pers itu menyatakan novel yang diterbitkan PT Masmedia Buana Utama, Sidoarjo pada Juli 2010 merupakan sumbangannya kepada Indonesia agar menjadikan pluralisme sebagai “merek” kebangsaan.

“Saya juga ingin memberikan sumbangan pada dies natalis Unitomo,” katanya dalam acara yang menampilkan Prof Dr Samuel Hatane (guru besar Universitas Kristen Petra Surabaya dan pemerhati sosial budaya), Siti Marwiyah SH MH (Dekan Fakultas Hukum Unitomo), dan Abuya Gus Luthfi Muhammad Al Mutawakkil (budayawan/pemimpin Ma’had Tebee).

Menurut pemerhati sosial budaya dan guru besar Universitas Kristen (UK) Petra Surabaya Prof Dr Samuel Hatane, ada banyak kontradiksi sosial dan budaya dalam buku itu yakni Ambon-Jawa dan Islam-Kristen.

“Ambon itu memiliki budaya bahwa pernikahan itu tidak ditentukan orang tua, melainkan om atau tante, sedangkan orang tua sangat berperan dalam pernikahan orang Jawa. Selain itu, pernikahan beda agama itu sulit diterima kultur sosial di Indonesia,” katanya.

Namun, penulisnya tidak berusaha memenangkan salah satu dari kontradiksi yang ada, tapi diserahkan kepada realita atau kembali kepada pemahaman pembaca yakni Hasan berbisnis di Malaysia dan Sonya sering sakit.

“Sonya dan Hasan akhirnya menikah di Malaysia setelah orang tua Hasan meninggal dunia dan orang tua Sonya pun mau menerimanya sebagai takdir setelah diyakinkan kakak Sonya. Agaknya, agama tidak menjadi persoalan dalam pernikahan di Malaysia,” katanya.

Sementara itu, budayawan dan pemimpin Ma’had Tebee, Abuya Gus Luthfi Muhammad Al Mutawakkil, menilai agama memang merupakan masalah “privacy” (pribadi) yang tak bisa didekati secara politik.

“Masalah privacy hanya bisa didekati dengan rasa humanis, kasih sayang, dan saling memahami. Saya kira pak Sam Abede Pareno mampu menyelesaikan masalah sensitif dengan cara yang arif melalui rasa humanis dan kasih sayang,” katanya.

Hal itu juga diakui Dekan Fakultas Hukum Unitomo Surabaya, Siti Marwiyah SH MH. “Pernikahan beda agama itu merupakan realitas umum dan bukan hanya realitas kalangan selebritis,” katanya.

Secara hukum, katanya, Indonesia memang hanya mengakui pernikahan seagama, karena itu mereka yang berbeda agama akan sulit melakukan pernikahan di Indonesia, kecuali salah seorang di antaranya berpindah agama.

“Pernikahan beda agama akan mengalami kendala administrasi karena Kantor Urusan Agama (KUA) akan menolak bila agama yang tertera dalam KTP itu berbeda, kemudian bila diajukan ke Catatan Sipil juga akan sama,” katanya.

Ia menambahkan penolakan secara yuridis itu karena Kompilasi Hukum Islam Indonesia (KHII) mendasarkan pada Al Quran surah Al Baqarah ayat 221 yang melarang laki-laki Muslim menikah dengan wanita non-muslim, bahkan ulama menghukumi zina bila pernikahan itu terjadi.

*) Oase Kompas, 23 Juli 2010

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan