-->

Lainnya Toggle

Menulis di Media Sosial

Oleh: Wicaksono

Popularitas media sosial terus menanjak di Indonesia. Angka pengguna situs-situs layanan media sosial, seperti blog, forum, Twitter, Facebook, dan sebagainya, terus bertambah. Pengguna Facebook, misalnya, mencapai 26,2 juta menurut situs Check Facebook. Twitter di Indonesia memiliki lebih dari 5,7 juta pengguna. Jumlah blog sekitar 4,5 juta.

Meski penggunanya terus melejit, belum semuanya paham benar bagaimana mengisi media sosial. Saya bahkan sering mendapat pertanyaan tentang bagaimana membuat tulisan di media sosial. “Apakah kiatnya sama dengan menulis di koran?” tanya seorang teman.

Sebuah studi menunjukkan bahwa konsumen media sosial tak begitu menghiraukan berita-berita yang tengah populer di media tradisional (koran, majalah, televisi). Yang mereka cari bukan “jurnalisme omong-omong”, berita yang ditulis berdasarkan pernyataan tokoh, pejabat, pesohor, tentang suatu hal, seperti yang biasa diturunkan koran-koran.

Sebaliknya, audiens media sosial justru tertarik kepada hal-hal yang tak ada atau minimal jarang muncul di media tradisional. Mereka, misalnya, gampang terpancing perhatiannya oleh berita-berita misteri, konspirasi, keajaiban alam, atau hal-hal yang remeh-temeh, misalnya gaun terbaru Paris Hilton.

Apa arti fenomena itu bagi penulisan di media sosial? Tabiat seperti itu membantu kita memahami apa yang dicari dan digemari para pengakses media sosial. Konsumen media sosial mencari tulisan-tulisan yang menghibur. Mereka juga terbuka pada hal-hal baru, yang jarang muncul di media tradisional. Mereka menyukai isu-isu urban dan budaya pop. Berita tentang fenomena hujan meteor Lynx, misalnya, pernah menjadi berita terpopuler di situs Tempo Interaktif.

Bagi kalangan humas dan pemasar, fenomena itu juga memberikan pemahaman baru bahwa konsumen sudah berubah. Mereka bukan lagi sasaran komunikasi satu arah. Zaman sekarang, khalayak harus diberi peluang sebesar-besarnya untuk bersuara, menyatakan opininya sendiri. Publik harus terlibat dalam percakapan, komunikasi dua arah. Konsumen yang dibiarkan ikut berpartisipasi dan memberikan komentar akan dengan suka rela berbagi pandangan, sikap, dan gagasan.

Untuk konsumen di era media sosial seperti sekarang, para penulis harus bekerja lebih keras. Tulisan-tulisan untuk konsumen tak boleh lagi yang biasa-biasa saja, melainkan harus unik dan khas. Topik tulisan yang sudah muncul di media tradisional bakal kehilangan gereget lagi bagi pembaca media sosial.

Kalangan humas pun tak bisa lagi menulis pesan perusahaannya dengan cara biasa, memakai bahasa berbunga-bunga seperti yang biasa ditemukan dalam siaran pers atau advertorial. Pembaca media sosial sudah jenuh membaca tulisan seperti itu di media tradisional. Mereka ingin mendapatkan tulisan yang lebih segar di media sosial.

Khalayak media sosial rata-rata ingin memperoleh tulisan yang personal, cermin dari pendapat atau gagasan penulisnya. Sebab, di media sosial, mereka memiliki semacam dorongan untuk memberi komentar, menyanggah, mengkritik, dan sebagainya. Pembaca ingin ikut terlibat dalam komunikasi dua arah di sebuah tulisan. Maka jadilah penulis yang seolah-olah ada di depan pembaca dan siap diajak diskusi.

Tulisan yang berbau iklan juga dihindari pembaca media sosial. Maka usahakan agar tulisan di media sosial itu benar-benar pendapat pribadi tentang suatu hal, bukan pesanan merek tertentu. Kalaupun terpaksa menulis berdasarkan pesanan, karena misalnya Anda blogger bayaran, samarkan sehalus mungkin sehingga kesan iklannya tak terlalu kuat.

Lebih baik lagi bila tulisan di media sosial mengandung data langka yang tak ditemukan di media tradisional sehingga bisa menjadi rujukan pembaca. Anda bisa membuatnya, bukan?

Sumber: BLOG.TEMPOINTERAKTIF.COM, 26 Juli 2010

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan