-->

Lainnya Toggle

Mengapa Dosen-dosenku Malas Menulis?

Oleh mohammad afifuddin*

”Mengapa dosen-dosenku malas menulis?” Apakah mereka benar-benar tidak bisa menulis? Sepertinya mustahil mereka tidak bisa menulis. Mereka jelas punya kemampuan menulis. Buktinya, mereka berpengalaman menulis skripsi, tesis, bahkan disertasi. Juga ada puluhan buku yang ditulis para dosen tersebut. Tapi, mengapa mereka malas menulis di media massa?

Salah seorang dosen senior pernah memberikan alasan. Katanya, kebanyakan para dosen tidak biasa dengan bahasa ilmiah populer seperti yang digunakan di media massa. Mereka telanjur terstandardisasi menulis dengan gaya penulisan ilmiah ala kampus. Dengan begitu, model tulisannya tidak sesuai dengan style media massa.

Argumen tersebut jelas apologi belaka, jika kita bandingkan dengan kiprah Prof Kacung Marijan (Unair), Prof Hikmahanto Juwana, Prof Tamrin Amal Tamagola (UI), atau Prof Ikrar Nusa Bakti (Peneliti LIPI). Nama-nama tersebut sekadar contoh para pakar yang ahli melakukan riset-riset berkualitas, menulis di jurnal-jurnal ilmiah berkelas, sekaligus lihai menulis di media massa. Artinya, seharusnya tidak boleh dibedakan keahlian menulis untuk forum-forum ilmiah yang memang sering menggunakan bahasa ilmiah yang kaku dengan menulis di media massa.

Kemudian, seorang dosen muda memberikan argumen lain. Katanya, sebenarnya dia ingin aktif menulis di media massa. Tapi, untuk memulainya, dia terkendala waktu mengajar yang padat. Rasionalitas itu juga tak lebih dari sebuah apologi. Bukankah para mahasiswa juga disibukkan dengan jadwal kuliah yang padat? Tapi, toh banyak di antara mahasiswa yang mampu menulis di media massa dengan baik. Para mahasiswa itu bisa menyeimbangkan kesibukannya menulis makalah untuk tugas kuliah dengan menulis opini untuk media massa.

Berbeda dari dua koleganya, seorang dosen lain memberikan alasan yang cukup jujur. Katanya, pilihan menjadi kolumnis di media massa tidak menjadi opsi yang populis. Sebab, level ”keilmiahan” opini-opini di media massa tidak cukup untuk dijadikan sarana meraih predikat kepakaran. Tapi, kondisinya berbeda, jika para dosen menulis di jurnal-jurnal bergengsi. Derajat pujian dari sesama kolega akan tinggi, sehingga secara metodis jenjang untuk meraih predikat pakar (mungkin sekaligus pangkat) akan lebih cepat teraih.

Bagi saya, argumen itu menyisakan rasionalitas yang ”cacat”. Memang benar, secara formal predikat akademis yang berkaitan dengan level keahlian (kepakaran) akan ditentukan dengan prosedur yang berjenjang. Namun, kualitas kepakaran seorang intelektual sejatinya harus diuji secara langsung oleh publik. Dalam hal ini, pilihan menjadi kolumnis yang produktif dan progresif di media massa adalah opsi yang paling rasional untuk menguji kualitas intelektualitas di depan publik. Ambil contoh, bagaimana seorang dosen sebagai figur intelektual (pakar) bisa memaparkan kontroversi skandal Century dengan sederhana dan ringkas kepada mahkamah pembaca. Bahkan, untuk pembaca paling awam sekalipun, yang biasa membaca koran sambil cangkrukan di warung kopi. Jika seorang dosen berhasil melakukannya, maka di situlah esensi seorang intelektual sejati menemukan relevansinya. Mirip dengan konsep intelektual organisnya Gramsci yang anti dengan elitisitas intelektual-intelektual di ”menara gading”.

***

Terus terang, alasan tiga dosen yang saya tanyai itu tidak memuaskan sama sekali. Oleh karena itu, jika ditanyakan kembali ”mengapa dosen-dosenku malas menulis?” argumen paling logis bisa dikutipkan dari tulisan M. Mushthafa Plagiarisme dan Komunitas Akademik yang Sekarat (Ruang Putih JP, 9 Mei 2010). ”Dalam komunitas akademik yang sekarat, sebagian orang berkarya cenderung tidak didorong semangat belajar, hasrat untuk menggali, dan maksud untuk berbagi. Mereka relatif hanya digerakkan dorongan periferal, seperti untuk kenaikan pangkat dan jabatan, prestise, materi, dan semacamnya.”

Secara riil memang itulah yang terjadi selama ini. Kredit poin/cum (yang digunakan sebagai syarat pengajuan kenaikan kepangkatan dosen PNS) untuk sebuah opini yang dimuat media massa hanyalah satu poin (versi lain mengatakan dua poin). Bandingkan dengan poin yang didapat jika tulisan itu dimuat di jurnal, penulisnya akan mengantongi sepuluh poin. Begitu juga jika bisa menghasilkan banyak buku dan rajin melakukan (proyek-proyek) penelitian. Poin yang didapat selalu dua digit (di atas 10 poin). Hal itu belum ditambahkan dengan keuntungan material yang didapatkan. Tentu tidak sebanding dengan honor menjadi kolumnis di media massa. (*)

*) Mohammad Afifuddin, sarjana sosiologi FISIP Universitas Jember

**)Jawapos, 18 Juli 2010

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan