-->

Kronik Toggle

Kertas Leces Berhenti Produksi

PROBOLINGGO – Sudah satu bulan lebih, PT Kertas Leces (PT KL) di Desa/Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo, tidak beroperasi karena pasokan gasnya terputus. Perusahaan Gas Negara (PGN) terpaksa memutus pasokan gas alam ke PT KL karena pabrik kertas milik negara itu menunggak pembayaran gas sekitar Rp 41 miliar.

Penyebab tidak beroperasinya pabrik kertas Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu terungkap ketika anggota Komisi VI DPR RI, Drs KH Unais Al Hisyam, mengunjungi PT KL, Minggu (11/7).

Politisi PKB dari daerah pemilihan (Dapil) Madura itu langsung disambati jajaran manajer PTKL dan pengurus sejumlah serikat pekerja

“Terus terang kami sedang ada masalah. Pasokan gas ke PT KL distop oleh PGN, Jumat (9/7) lalu. Kami sudah melakukan negosiasi, tetapi deadlock,” ujar Direktur Produksi dan Pengembangan PT KL, Ir Syarif Hidayat, didampingi Direktur Pemasaran PT KL, Ir Zainal Arifin, dalam pertemuan dengan Gus Unais –panggilan akrab Drs KH Unais Al Hisyam– di Ruang Pertemuan II PT KL.

Pertemuan yang diprakarsai Serikat Karyawan (Sekar) PT KL juga dihadiri tiga serikat pekerja lainnya, yakni Serikat Pekerja Kertas Leces (SPKL), Serikat Pekerja Sejahtera Kertas Leces (SPS KL), dan Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) PT KL. Juga hadir Humas PT Boma Bisma Indra (BBI) Pasuruan, Tantowi. BBI adalah BUMN yang memproduksi alat-alat berat, yang kini kondisinya juga kembang kempis.

Ir Zainal mengakui, PT KL memang mempunyai tunggakan utang ke PGN. “Rupanya PGN tidak bisa menoleransi lagi utang PT KL sehingga menghentikan pasokan gas,” ujarnya. Zainal mengatakan, PT KL sekarang sedang menghadapi masa sulit luar biasa dan saat ini sedang menerapkan restrukturisasi sumber daya manusia (SDM) dan finansial, serta berupaya melakukan konversi energi dari gas menuju batubara sebagai bahan baku alternatif untuk efisiensi.

Bahasa yang tepat, kata Zainal, PT KL sedang membangun boiler berbahan batubara. Tujuannya untuk menambah pasokan energi yang tidak bisa dicukupi hanya dari mesin berbahan baku gas. Zainal juga berterus terang, kurva (grafik) bahan baku PT KL sedang buruk sepanjang sejarah. “Harga bahan baku kertas (pulp) sangat mahal, 900 (dollar AS) per metrik ton,” ujarnya.

Zainal tidak menyebutkan berapa tunggakan utang PT KL ke PGN sehingga mengakibatkan pasokan gasnya diputus, namun Gus Unais menyebutkan PT KL ke PGN sekitar Rp 41 miliar. “Ada dua hal inti yang dihadapi PT KL. Pertama, pasokan gas diputus oleh PGN karena PT KL nunggak Rp 41 miliar. Kedua, masalah material atau bahan baku kertas,” ujar Gus Unais.

Dikatakan Gus Unais, utang PT KL ini muncul ke permukaan karena BPK dalam auditnya menyemprit PGN terkait piutang Rp 41 miliar pada PT KL. PGN pun akhirnya bertindak keras dengan menutup keran pipa gas menuju PT KL. isa

*) Surabayapost, 12 Juli 2010

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan