-->

Tokoh Toggle

Iman Suligi, Berkarya dengan Tumpukan Buku

IMAN SULIGIBuku adalah jendela dunia. Pepatah ini sudah dikenal sejak lama. Bahkan, sering ditulis dan dipasang di lembaga pendidikan dan perpustakaan. Sayangnya, meski sudah lama dikenal, pepatah ini tidak lantas membuat orang banyak membaca. Bahkan, di Indonesia minat membaca masih sangat rendah. kondisi itu yang membuat Iman Suligi, seorang guru, dosen, pecinta seni rupa dan buku memilih untuk berkarya dengan tumpukan buku. yang dia wujudkan dengan mendirikan kampung baca dan sebuah perpustakaan.

Buku. Di mana-mana ada buku. bertebaran di lantai, tertumpuk di sudut-sudut ruangan, atau tertata rapi diatas rak-rak. di dalam rumah yang tidak terlalu luas itu memang berfungsi ganda. tidak hanya sebagai perpustakaan tapi juga sebagai rumah tempat tinggal Iman Suligi dan istrinya, Gigih Rachwartini. Namun, ke depan dia akan menjadikan rumah itu sebagai perpustakaan yang sesungguhnya.

Sedangkan dia dan istrinya akan tinggal di rumah yang lebih kecil, yang terletak satu halaman dengan perpustakaannya itu. “Saat ini masih dalam proses pembangunan,” terangnya. Perpustakaan itu memang sangat nyaman. berlantai keramik, berdinding batu bata, dan beratap genting. Begitu nyaman dan menyenangkan. tidak hanya sebagai tempat membaca buku, tapi juga sebagai tempat berdiskusi.

Suligi yang menjadi dosen di Unmuh Jember, juga kerap mengajak mahasiswanya untuk kuliah di perpustakaan yang diberinya nama Penabur Hikmah itu. Seolah ingin menegaskan bahwa perpustakaan itu diharapkan bisa menaburkan banyak hikmah dan manfaat bagi siapa saja yang berkunjung ke sana.

Usaha Suligi membangun Penabur Hikmah tidak dilakukan dengan mudah. Dia benar-benar berupaya semaksimal mungkin untuk mewujudkan impian masa kecilnya itu. Apalagi, di awal usahanya, dia sempat mendapat cemoohan dari banyak pihak. karena keputusannya untuk membangun perpustakaan.

Memang, bagi kebanyakan orang keinginan Suligi bukan hal biasa. Mendirikan perpustakaan biasanya dilakukan oleh pemerintah atau lembaga pendidikan. Yang biasanya didirikan oleh perseorangan adalah warung, toko, atau restoran. Mendengar banyak pihak meragukan niatnya, Suligi jalan terus. Dia tidak mau ambil pusing. yang penting perpustakaan itu bisa memenuhi kebutuhan para pecinta buku, dan penghobi baca.
Untuk mengawalinya, dia lebih dulu mendirikan Kampung Baca di RW V Kelurahan Jemberlor, Patrang, Jember. Sebuah harapan untuk menumbuhkan minat baca masyarakat di lingkungan rumahnya. Pada tahun 2009 itu, dia masih menggunakan rumah lamanya, yang kini dihuni salah seorang anaknya. Di rumah itu, dia tidak hanya menyediakan buku bagi pecinta buku, tapi juga mengajari anak-anak seni melipat kertas dari Jepang, atau oorigami. Selain itu dia juga mengajari anak-anak seni rupa lainnya.

Setahun kemudian, dia ingin memperluas perpustakaannya. Maka, sebidang tanah yang terletak di belakang rumah lamanya, dia jadikan lahan untuk perpustakaan. Sebuah rumah dengan desain natural dia pilih untuk menampung buku, dan pecinta buku. Di sekelilingnya, dia tanam bunga, tanaman hias, dan pepohonan. Tidak perlu mesin pendingin untuk membuat udara di dalam rumah menjadi sejuk. Sangat nyaman untuk membaca dan berdiskusi.
Mendirikan perpustakaan bagi Suligi, yang dilahirkan di Klakah pada tahun 1950 bukan hanya sekadar cita-cita. Namun menjadi sebuah obsesi. Dibesarkan di lingkungan yang penuh dengan buku, karena ayahnya adalah seorang agen koran dan majalah, membuat Suligi tak bisa lepas dengan yang namanya buku. “Saya dulu baca semua koran dan majalah. tapi, saya paling senang baca si Kuncung,” katanya.

Kesenangan itu membuat dia kecanduan. Sehingga ketika semua koran dan majalah dia baca, dia pergi ke perpustakaan yang terletak di Kantor Kecamatan. Perpustakaan itu kecil, koleksi buku hanya sedikit. Setidaknya bisa memenuhi kecanduannya dalam membaca. “Sampai suatu ketika, buku di situ sudah saya baca semua,” katanya.
Dari kebiasaan ini, pria yang mengambil pendidikan bahasa inggris di Unmuh Jember itu, akhirnya terbiasa untuk membaca dan membeli buku. Dari jaman sekolah hingga sekarang, koleksi buku sudah begitu banyak. Menjadi sebuah timbunan, yang sayang jika tidak dimanfaatkan. Timbunan buku itu semakin memacu semangatnya untuk mewujudkan mimpi mendirikan perpustakaan.

Hanya saja, dia tidak ingin mengandalkan koleksinya. Berbagai upaya telah dia lakukan untuk memperbanyak koleksi buku di perpustakaannya. Sehingga, perpustakaan itu tidak hanya berguna bagi orang dewasa tapi juga bagi anak-anak.
Selain sibuk membaca dan mengisi waktu dengan belajar, Suligi kecil tetaplah anak-anak. dia masih senang bermain, meski tergolong pendiam dan pemalu.

Semua itu terjadi karena ayahnya, Branta, selalu meminta dia dan tujuh orang adiknya untuk tidur siang, setiap pukul 14.00. “Ayah pasti akan memanggil kami satu-satu, dan menyuruh tidur siang,” katanya. Anak-anak tetaplah anak-anak. Ketika batang hidung sang ayah tak nampak, Suligi beranjak dari tempat tidurnya. membuka pintu, dan melambai pada kereta api yang lewat. Hanya itu yang dilakukannya. Hal sederhana yang bisa membuat dirinya bahagia. “Tapi, kalau ketahuan ayah, langsung kena marah,” sambungnya lantas tertawa.

Pengalaman lucu lainnya juga pernah dia alami, ketika bermain ke danau bersama teman-temannya. Sikap pendiam dan pemalu Suligi membuatnya menjadi sasaran empuk olok-olok temannya. Ketika akan pulang, dia yang tidak tahu jalan, memilih mengikuti teman-temannya. Dasar apes, teman-temannya memilih jalan yang berbeda dari saat berangkat. “Jalan ini sebenarnya adalah pipa. Awalnya tidak masalah, karena sejajar dengan tanah. Lama-lama terpisah dari tanah hingga setinggi pohon kelapa,” katanya.

Terkejut itu pasti, namun dia gengsi kalau harus kembali. Sementara dia takut untuk berjalan terus. Akhirnya, dia memilih melewati pipa itu dengan duduk. “Ya seperti ngesot gitu. Perlahan-lahan sampai tiba di ujung seberang,” katanya lantas tertawa. padahal, teman sebayanya dengan santai berjalan di atas pipa itu tanpa rasa takut jatuh dan terluka.

Pengalaman bermain dan dekat dengan alam itu, juga menjadi salah satu hal yang membuat Suligi bebas berkreativitas. Alasan yang sama yang membuat dia ingin mengajak guru dan orangtua untuk membebaskan anaknya bermain. Terutama permainan tradisional. Di era digital ini, sungguh sangat memprihatinkan jika anak-anak tidak mengenal permainan tradisional, akar budaya mereka. “Mereka hanya mengenal play station. Padahal, itu tidak terlalu bagus bagi imajinasi anak,” pungkasnya

*) Jawapos, Radar Jember 4 Juli 2010

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan