-->

Kronik Toggle

Buku Pembela Kaum Perokok Dibedah

Makassar -Buku karya Wanda Himilton berjudul “Nicotine War : Perang Nikotin dan Pedagang Obat”, dianggap mampu menjadi buku pegangan kuat bagi kaum perokok. Sebab hasil risetnya mengurai bagaimana kepentingan bisnis perusahaaan farmasi terhadap perdagangan produk tembakau.

“Ada kepentingan ekonomi politik antara perusahaan rokok di Amerika dibalik karya Himilton. Buku itu bisa jadi menjadi pegangan bagi perokok. Tapi perokok harus bersifat kritis dengan candu itu, ” kata Yahya Kadir Antropolog dari Universitas Hasanuddin Makassar dalam acara bedah buku perang nicotin di gedung Pusat Kegiatan Penelitian Universitas Hasanuddin, siang tadi.

Yahya sempat mempertanyakan mengapa hanya nikotin yang terkandung dalam rokok dianggap zat berbahaya. Padahal, menurutnya, ada banyak zat yang dikonsumsi manusia, berbahaya bagi tubuh dan kesehatan. “Seperti garam, yang juga sangat berbahaya dan dapat menyebabkan kematian,” katanya.

Dua pembicara lain, budayawan Nirman Ahmad Arisuka dan Wahyu Basjir peneliti sosial politik, berpendapat lain. “Sebenarnya buku ini bukan anti rokok, tapi buku ekonomi politik korporasi farmasi di Amerika Serikat, ” kata Basjir, saat timbul perdebatan dari forum yang anti tembakau.

Menurut Basjir, hasil penelitian Himilton mengurai jika para korporasi farmasi berhasil memenangkan perang karena kesuksesannya menyebarkan kampanye anti tembakau secara global. Juga mendapat dukungan dari badan internasional kesehatan dunia atau WHO.

Didalam buku “pro-smokers” itu, menyebutkan perusahaan farmasi Pharmacia dan Upjoo, Novaratis dan Glaxo Wellcome adalah perusahaan yang menjadi donator terbesar untuk kampanye anti tembakau di seluruh dunia. “Tiga perusahaan itu juga ada di Indonesia, ” sebut Basjir.

Hingga saat ini, ada beberapa spekulasi tentang bahaya rokok seakan-akan itu benar dengan banyaknya penjelasan ilmiah yang belum terlalu dipahami orang awan sehingga rokok dianggap waham. “Diasumsikan ada perokok aktif dan pasif. Dimana perokok pasif dispekulasi sebagai berbahaya, ” kata Nirman.

Dengan membaca karya Himilton, Nirman yang juga perokok mengajak agar masyarakat kritis karena ada banyak cara kampaye. Menurutya mesti ditanamkan sikap kritis untuk melihat bagaimana dampaknya. Seperti petani akan menganggur dan pedagang kecil akan gulung tikar. “Setiap produk tidak lepas dari kepentingan dan ideologi,” tambahnya.

ABD AZIS

*) Tempointeraktif, 26 Juni 2010

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan