-->

Tokoh Toggle

Ajip Rosidi, Mengalir Bersama Sandal Jepit

The Jakarta Post

The Jakarta Post

Dua puisi Taufiq Ismail terasa begitu menggetarkan hati. Para hadirin terkurung suasana senyap saat puisi berjudul ‘Mengejar Umur, Dikejar Umur’ dan ‘Cerita Yatim Piatu’ itu dibacakan di Aula Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung, Kamis (31 Januari 2008). Hari itu, gelaran yang khidmat dilangsungkan untuk memperingati 70 tahun tokoh sastra dan budaya Sunda, Ajip Rosidi.

Bersamaan dengan peringatan ini, Ajip juga meluncurkan otobiografinya yang berjudul Hidup tanpa Ijazah. Orang-orang ternama seperti mantan menlu Mochtar Kusumaatmadja, tokoh film Slamet Rahardjo, penyair Rendra, mantan menteri perhubungan Agum Gumelar, serta tokoh lain ikut menghadiri acara tersebut.

Tak hanya biografi, sebanyak 16 buku yang lain karya Ajip juga diluncurkan dalam kesempatan itu. Di antara judul buku yang diluncurkan adalah Badak Pamalang, Sangkuriang Kesiangan, Mundinglaya Di Kusumah, Ciung Wanara, Jalan ke Surga atawa Si Kabayan. Sebagian besar buku yang diluncurkan itu merupakan edisi cetak ulang.

Ajip memang telah menulis lebih dari 100 judul buku. Maklum, sejak berusia 17 tahun, dia telah menulis buku. Buku pertamanya yang terbit tahun 1955 itu berjudul Tahun-tahun Kematian yang merupakan kumpulan cerita pendek.

Sebelum melahirkan sebuah buku, putra kelahiran Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat, 31 Januari 1938, ini telah aktif menulis sejak berusia 15 tahun. Berbagai cerita pendek, sajak, juga roman karyanya telah dimuat di berbagai majalah yang terbit di tahun 1950-an, seperti Mimbar Indonesia, Zenith, Gelanggang, Konfrontasi, Indonesia.

Pergulatannya yang akrab dengan dunia menulis juga telah mengantarkannya untuk menjadi pengelola berbagai penerbitan. Di tahun 1953 hingga 1955 misalnya, dia menjadi redaktur sekaligus pemimpin majalah Suluh Pelajar. Kemudian di tahun 1965-1967 dia mendirikan dan sekaligus menjadi pemimpin redaksi Mingguan Sunda (kemudian berubah menjadi Madjalah Sunda) yang terbit di Bandung.

Tak hanya di dunia majalah, Ajip juga sangat dekat dengan dunia buku. Bersama sastrawan Ramadhan KH, Obon Harris, dan Tatang Suryaatmadja, pada tahun 1962 dia mendirikan Penerbit Kiwari. Kemudian pada periode 1964-1969 dia merintis Penerbit Tjupumanik di kampung kelahirannya. Setelah itu, yakni pada tahun 1971 dia memimpin Badan Penerbit Pustaka Jaya (Yayasan Jaya Raya).

Karena begitu dekatnya dengan dinamika penerbitan buku, Kongres Ikapi tahun 1973 pun memilihnya sebagai ketua umum lembaga tersebut. Di tahun 1976, dia terpilih kembali untuk memimpin Ikapi hingga tahun 1979. Di akhir jabatannya sebagai ketua umum Ikapi pada 1979, dia menolak dipilih kembali karena menerima beasiswa dari The Japan Foundation untuk mukim di Jepang.

Tulis-menulis hanyalah salah satu saluran yang dia manfaatkan untuk mengekspresikan diri. Ayah tujuh anak dari pernikahannya dengan Fatimah Wirjadibrata ini juga aktif dalam berbagai organisasi. Dewan Kesenian Jakarta adalah salah satu organisasi yang lahir dari cetusan idenya.

Di tahun 1968 dia mengusulkan kepada gubernur DKI Jakarta waktu itu, Ali Sadikin, untuk membentuk Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Begitu DKJ terbentuk, Ajip terpilih untuk menjadi ketuanya selama tiga periode secara berturut-turut (1972-1981).

Akar Sunda yang sangat kental dalam kehidupannya mendorong Ajip terus berupaya secara serius melestarikan sastra dan budaya Sunda. Di tahun 1983 dia membangun Yayasan Rancage, dan sejak 1989 yayasan ini secara periodik memberikan penghargaan kepada setiap karya sastra Sunda dan tokoh yang berperan besar dalam pelestarian budaya Sunda. Kini penghargaaan Rancage diperuntukkan pula bagi karya sastra berbahasa Jawa, Bali, dan Lampung.

Semangatnya untuk menghidupkan budaya Sunda terus terjaga hingga sekarang. Dia terus mendorong upaya penelitian naskah-naskah Sunda kuno. Dia pun mengaku prihatin dengan rendahnya perhatian terhadap pendalaman isi naskah-naskah sunda kuno. Menurut dia, dari sekitar 200 naskah Sunda kuno yang telah ditemukan, baru sekitar 23 naskah yang bisa dibaca isinya.

Besarnya peran Ajip dalam dunia sastra membuatnya dilirik beberapa kampus di Jepang. Sejak 1981 dia menjadi profesor tamu di beberapa kampus di Jepang. Barulah pada 2003 dia pensiun dan kembali ke Tanah Air. Ajip kemudian tinggal di Pabelan, Magelang, Jawa Tengah, sampai sekarang. Sejak 2004 dia menjadi pemimpin umum majalah bulanan berbahasa Sunda, Cupumanik.

Aktivitas yang terus dijalankannya penuh pengabdian telah mengantarkannya sebagai tokoh sastra yang sangat berpengaruh. Tak hanya di Tatar Sunda atau di Indonesia, pengaruh karya-karya Ajip ini juga dirasakan di berbagai negara. ”Waktu saya sekolah dulu, murid nggak lulus kalau nggak kenal Ajip Rosidi,” tutur tokoh film Slamet Rahardjo.

Keberadaan Ajip, buat Slamet memang memiliki arti tersendiri. ”Dia adalah orang yang mengantarkan saya saat remaja untuk mulai mengenal karya-karya sastra,” ungkap dia. Slamet pun meyakini bahwa dalam dunia modern saat ini yang sudah sangat kental dengan pengaruh Barat, pemikiran-pemikiran Ajip menjadi sangat diperlukan.

Seperti Slamet, Taufiq Ismail pun punya kesan tersendiri terhadap Ajip. Dia mengaku telah puluhan tahun bersahabat dengan Ajip. ”Dan dalam persahabatan yang sudah cukup panjang ini, saya kira Ajip belum pernah pakai sepatu,” ungkap Taufik. Ucapan Taufik ini memang terbukti. Saat menghadiri acara ’70 Tahun Ajip Rosidi’ tersebut, Ajip memang hanya mengenakan sandal jepit kulit.

Barangkali, sandal jepit itu menjadi wakil kehidupannya yang memang apa adanya. Bahkan untuk menjadi fenomena penting dalam dunia sastra, Ajip pun mengaku tidak pernah merancangnya secara khusus. ”Semuanya mengalir begitu saja,” tutur Ajip saat menyampaikan renungan perjalanan hidupnya dalam helatan tersebut.

Sumber: Harian Republika, 3 Februari 2008

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan