-->

Kronik Toggle

Tim Anas Urbaningrum Bagi Buku "Revolusi Sunyi"

Bandung – Arena Kongres Partai Demokrat II  di Bandung yang saat ini sedang berlangsung adalah sebuah pesta bagi rakyat, utamanya bagi kader-kader Demokrat. Laiknya sebuah pesta, aneka kemeriahan, hiburan dan kenyamanan juga ditawarkan kepada para peserta kongres. Namun ada satu hal esensial yang nampaknya terlupakan.

Sebagai sebuah “Pesta” bagi kader dan rakyat, Kongres II Partai Demokrat sepantasnya menjadi sebuah ajang pendidikan, pembelajaran kepada rakyat, bahwa sebuah proses demokratisasi tidak dimulai dengan kemeriahan fisik yang ditandai dengan tenda berpendingin udara dan baliho raksasa. Namun menjadi sebuah kemeriahan ide, gagasan dan substansi, yang menandai kematangan dialektika berpikir kader-kader Demokrat.

Partai Demokrat adalah partai yang modern. Pragmatisme diarahkan oleh kesadaran atas gagasan dan substansi untuk membesarkan partai dilandasi moral untuk tidak sekedar mengejar kenikmatan. Setiap kader harus tahu apa yang dilakukan untuk menggerakkan rakyat, sebaliknya rakyat juga menyambutnya dengan dukungan dan tindakan bersama.

Media sebagai pilar kelima dalam demokrasi, adalah kanal untuk membagikan ide dan gagasan itu. Membangun kesadaran dan mengajak media berdialektika secara sehat, akan mendorong tegaknya pilar itu.

Atas dasar itulah, tim pemenangan Anas Urbaningrum mendirikan Pusat Informasi Anas Urbaningrum di sebuah ruko sederhana di lokasi Kongres, Kota Baru Parahyangan. “Dalam kesederhanaan, kami ingin berbagi gagasan, bukan berbagi kemewahan. Untuk itulah kami membagikan buku “Revolusi Sunyi” dan naskah pidato “Membangun Budaya Demokrasi” kepada rekan-rekan media,” ujar anggota tim pemenangan Anas Urbaningrum, Saan Mustafa, di Bandung, hari ini.

Ia menambahkan, para “*founding father*” membangun Indonesia dengan kemeriahan dialektika, dan gagasan untuk mewujudkan mimpi Indonesia. “Di dalam penjara maupun di pengasingan, mereka berkarya dan bertindak demi Indonesia. Sudah sepatutnya semangat yang sama juga dimiliki oleh rakyat Indonesia,” lanjut Saan.

Namun demikian, Saan menyerahkan kepada para peserta kongres maupun media untuk memilih, apakah hendak berbagi dalam gagasan atau menikmati pijatan. “Menegakkan pilar demokrasi mungkin terasa melelahkan, namun akan terpuaskan saat gagasan tersebut terealisasi,” tutp Saan. (adv/adv)

*) Detiknews.com 22 Mei 2010

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan