Day: May 24, 2010

15 Penulis Muda Indonesia Diundang ke Ubud Writers 2010

Para penulis muda itu adalah Kurnia Effendi (Jakarta), Medy Lukito (Jakarta), Nusya Kuswatin (Yogyakarta), Arif Riski (Padang), Zelfeni Wimra (Padang), Wa Ode Wulan Ratna (Jakarta), Andha S (Padang), Imam Muhtarom (Blitar), Wendoko (Semarang), Yudhi Heribowo (Solo), W. Hariyanto (Surabaya), Benny Arnas (Sumatera Selatan), Magriza Novita Syahti (Padang), Harry B. Koriun (Riau), dan Hermawan Aksan (Bandung). “Mereka telah dipilih setelah melalui seleksi ketat,” kata anggota Dewan Kurator Triyanto Triwikromo.

Selengkapnya >>

The 99, Komik yang Menolak Retorika Stereotipe

Naif Al-Mutawa, pencipta seri komik The 99, kini masuk dalam jajaran 500 Muslim Paling Berpengaruh versi Royal Islamic Strategic Studies Center, Yordania. Komiknya telah sukses diterbitkan dalam delapan bahasa dan akan segera tayang di layar kaca di seluruh Amerika Serikat.

Selengkapnya >>

Entrok (OM):Pandangan Anggota Sidang

“Takdir” novel ini barangkali akan dikenang lewat jdulnya yang khas dan sangat kuat, bukan pada nama-nama tokohnya. Entrok, entrok, entrok… itu bagus banget. Pilihan pada Entrok sudah sangat kuat. Saya tak bisa membayangkan judul yang lebih baik dari Entrok untuk cerita ini, bahkan kendati benda bernama “entrok” sebenarnya sudah terkubur sejak halaman 41. Dengan judul Entrok, setidaknya, novel ini akan lebih mudah diingat, lebih punya bunyi dan pada saat yang sama Okky menghidupkan kembali satu kata yang mungkin akan punah seandainya tak dijadikan judul novel”

Selengkapnya >>

Entrok(OM):Komentar Anggota Sidang

Novel ini mudah dicerna serta cepat ditangkap maksud dan tujuannya. Ini memudahkan menggiring pembaca pada antusiasme untuk melanjutkan membuka halaman demi halaman, tapi dikarenakan yang bercerita (aku) pada novel ini Marni dan Rahayu (anak Marni) maka terkesan lompatan cerita seperti loncat-loncat, tapi itu biasa dan menarik.

Selengkapnya >>

Entrok (OM): Beberapa Catatan Zen RS

Saya tidak yakin perempuan-perempuan di kampung Singget tak ada yang pernah pakai entrok, apalagi kalau disebut tidak pernah melihatnya (simboknya Marni berkata: “Oalah nduk seumur-umur tidak pernah aku punya entrok. Bentuknya kayak apa aku juga tidak tahu.”). Saya melihat beberapa kali foto lama perempuan Jawa yang sudah mengenakan semacam entrok jauh sebelum perang dunia ke-2.

Selengkapnya >>