-->

Lainnya Toggle

TIONGHOA, SEPAKBOLA: Pleidoi Penulis

http://www.facebook.com/home.php?#!/?sk=messages&tid=1403668779807
TIONGHOA, SEPAKBOLA: Pleidoi Penulis
Oleh: R.N. Bayu Aji (RNBA)
Menulis sepak bola bagi saya memang lebih menarik apabila tidak mengungkap yang inheren saja dengan sepak bola iu sendiri. Sudut pandang dari mana kita melihat sepak bola (from inside or out side) memiliki keterkaitan erat dalam menyelesaiakan buku ini. Justru dengan ada sesuatu hal yang tidak inheren justru lebih memperkaya. Buku Tionghoa Surabaya dalam Sepak Bola memang pada awalnya adalah sebuah skripsi yang kemudian saya selesaikan untuk meraih gelar sarjana di Ilmu Sejarah Unair.
Pada proses penelitian dan penyelesaian buku (saat itu masih skripsi) sebenarnya hendak mengungkap juga masalah bagaimana latihan, managemen klub, latihan, skema dan strateginya seperti apa, bagaimana pemain mudanya dilatih. Namun apabila terjebak pada hal itu tidak ubahnya seperti buku panduan sepak bola paraktis bermain ataupun panduan bagi anak yang kuliah jurusan sepak bola secara sisi teknis bermain bola saja. Apabila ada nilai politis dan sosial yang lain maka akan menjadikan lebih hidup dan lebih memiliki dampak perubahan pada masyarakat (tanpa mengkerdilkan sepak bola itu sendiri). Maka dari itu ada ungkapan menarik bahwa “sport untuk negeri” bukan sekadar “sport untuk sport”.
Sebagai catatan dari saya sebagai penulis adalah terkait pencarian data. Data tentang sepak bola Tionghoa dan juga catatan tentang sepak bola tionghoa masih sedikit sehingga secara detail dan komprehensif bagaimana sepak bola Tionghoa masih belum dapat terungkap semuanya. Namun mengawali untuk menuliskanya merupakan sebuah hal yang lebih penting sebagai pemantik bagi tulisan yang lebih komprehensif di masa mendatang.
Data yang lebih banyak ditemukan dalam proses penulisan adalah torehan prestasi dan juga muatan politis. Prestasi yang diraih oleh bond Tionghoa di era Hindia Belanda di antaranya adalah piala Hoo Bie 1921-1922, piala Tjoa Toan Hoen 1925, Juara CKTH 1027-1929, juara HNVB 1030-1932 serta masa keemasan Tionghoa Surabaya terjadi pada tahun 1939 dengan meraih juara kompetisi SVB (Soerabajasche Voetbal Bond), HNVB serta juara pada kejuaran Java Club Champion. Bukan bermaksud melebihkan-lebihkan saja, prestasi positif yang diraih tentu berbanding lurus dengan proses menajerial dan pengelolaan yang baik pula. Namun, seperti apa secara detail sistem manajerialnya belum ditemukan dari data yang didapat.
Begitu juga dinamika suporter yang saat ini begitu riuh. Data mengenai suporter sepak bola era Kolonial belum saya temukan saat menyelesaikan tulisan. Apabila saya memaksakan untuk menulisnya (manajerial, skema, metode melatih, dinamika suporter) tanpa data, sama halnya dengan ungkapan Jock Stein yakni hanya sekadar “omong kosong belaka”.
Untuk masalah nasionalisme, kita harus membedakannya. Memang pada dasarnya pemboikotan tak terlepas dari pers Melayu Tionghoa di tahun 1932. Namun pemicunya adalah sepak bola yang memang kebetulan saat itu ramai. Sedangkan Liem memiliki pandangan ke-Tionghoa-an yang berpijak pada Indonesia sehingga memboikotnya karena orang Belanda bersifat rasis kepada pers Melayu Tionghoa.
Sementara itu Bond Tionghoa Surabaya yang telah masuk kompetisi SVB memiliki pandangan ke-Tionghoa-annya beda dengan Liem. Nah, jika dikaitkan dengan pertanyaan sekaligus pernyataan “sebenarnya yang ikut andil membangkitkan nasionalisme itu koran Sin Tit Po atau bond sepak bola Tionghoa” keduanya berkaitan dan tidak bisa dipisahkan ini andil si fulan yang lebih jelas dan lainnya tidak memiliki andil sama sekali.
Tionghoa Surabaya sebagai salah satu kekuatan sepak bola lebih eklektis (kalau bahasa kasarnya oportunis). Di sisi lain menjalin hubungan baik dengan Belanda, namun juga dekat dengan Bumiputera. Siapa yang memungkinkan menguntungkan, maka akan didekati dan apabila merugikan akan mencoba menjaga jarak. Artinya, bond Tionghoa sudah terlanjur berkompetisi di SVB demi keberlangsungan dapat berkompetisi secara reguler dan periodik tidak hanya membentuk tim dan latihan kalau ada kejuaraan.
Selanjutnya, saat terjadi perselisihan antara PSSI dan NIVU pada pemberangkatan kontingen timnas Piala Dunia 1938, bukan berarti ketika orang Tionghoa yang ikut dalam tim Hindia Belanda maka nasionalismenya dipertanyakan. Nasionalisme terutama ketionghoaan para pemain sepak bola Tionghoa tetap melekat sebagai politik identitas dan eksistensi kelompok (pemain) Tionghoa dalam Piala Dunia karena saat itu negara Tiongkok belum menjadi peserta Piala Dunia.
Selain itu, berkat Tionghoa Surabaya (yang aliran ketiongkokannya kuat) bond-bond di Indonesia bisa melakukan pertandingan dengan klub luar negeri terutama dari Tiongkok karena yang mampu mendatangkan adalah kelompok Tionghoa terutama bond Tionghoa Surabaya.
Sepak bola di Hindia Belanda berhasil memainkan peran tidak hanya dalam pendekatan olahraga dan permainan. Sisi-sisi politik, sosial, ekonomi dan budaya dapat ditransformasikan ke dalam sepak bola, sehingga ada yang memanfaatkannya sebagai salah satu alat perjuangan bangsa dan membangkitkan semangat nasionalisme masyarakat (meski sifatnya sesaat) di Hindia Belanda berdasar paham dan kebangsaan masing-masing, termasuk kalangan masyarakat Belanda, Tionghoa (Vreemde Oosterlingen) yang memiliki tiga pandangan, dan Bumiputera (Inlander).

Oleh: R.N. Bayu Aji (RNBA)

Tionghoa SurabayaMenulis sepak bola bagi saya memang lebih menarik apabila tidak mengungkap yang inheren saja dengan sepak bola itu sendiri. Sudut pandang dari mana kita melihat sepak bola (from inside or out side) memiliki keterkaitan erat dalam menyelesaiakan buku ini. Justru dengan ada sesuatu hal yang tidak inheren justru lebih memperkaya. Buku Tionghoa Surabaya dalam Sepak Bola memang pada awalnya adalah sebuah skripsi yang kemudian saya selesaikan untuk meraih gelar sarjana di Ilmu Sejarah Unair.

Pada proses penelitian dan penyelesaian buku (saat itu masih skripsi) sebenarnya hendak mengungkap juga masalah bagaimana latihan, managemen klub, latihan, skema dan strateginya seperti apa, bagaimana pemain mudanya dilatih.

Namun, apabila terjebak pada hal itu tidak ubahnya seperti buku panduan sepak bola paraktis bermain ataupun panduan bagi anak yang kuliah jurusan sepak bola secara sisi teknis bermain bola saja. Apabila ada nilai politis dan sosial yang lain maka akan menjadikan lebih hidup dan lebih memiliki dampak perubahan pada masyarakat (tanpa mengkerdilkan sepak bola itu sendiri). Maka dari itu ada ungkapan menarik bahwa “sport untuk negeri” bukan sekadar “sport untuk sport”.

Sebagai catatan dari saya sebagai penulis adalah terkait pencarian data. Data tentang sepak bola Tionghoa dan juga catatan tentang sepak bola tionghoa masih sedikit sehingga secara detail dan komprehensif bagaimana sepak bola Tionghoa masih belum dapat terungkap semuanya. Namun mengawali untuk menuliskanya merupakan sebuah hal yang lebih penting sebagai pemantik bagi tulisan yang lebih komprehensif di masa mendatang.

Data yang lebih banyak ditemukan dalam proses penulisan adalah torehan prestasi dan juga muatan politis. Prestasi yang diraih oleh bond Tionghoa di era Hindia Belanda di antaranya adalah piala Hoo Bie 1921-1922, piala Tjoa Toan Hoen 1925, Juara CKTH 1027-1929, juara HNVB 1030-1932 serta masa keemasan Tionghoa Surabaya terjadi pada tahun 1939 dengan meraih juara kompetisi SVB (Soerabajasche Voetbal Bond), HNVB serta juara pada kejuaran Java Club Champion. Bukan bermaksud melebihkan-lebihkan saja, prestasi positif yang diraih tentu berbanding lurus dengan proses menajerial dan pengelolaan yang baik pula. Namun, seperti apa secara detail sistem manajerialnya belum ditemukan dari data yang didapat.

Begitu juga dinamika suporter yang saat ini begitu riuh. Data mengenai suporter sepak bola era Kolonial belum saya temukan saat menyelesaikan tulisan. Apabila saya memaksakan untuk menulisnya (manajerial, skema, metode melatih, dinamika suporter) tanpa data, sama halnya dengan ungkapan Jock Stein yakni hanya sekadar “omong kosong belaka”.

Untuk masalah nasionalisme, kita harus membedakannya. Memang pada dasarnya pemboikotan tak terlepas dari pers Melayu Tionghoa di tahun 1932. Namun pemicunya adalah sepak bola yang memang kebetulan saat itu ramai. Sedangkan Liem memiliki pandangan ke-Tionghoa-an yang berpijak pada Indonesia sehingga memboikotnya karena orang Belanda bersifat rasis kepada pers Melayu Tionghoa.

Sementara itu Bond Tionghoa Surabaya yang telah masuk kompetisi SVB memiliki pandangan ke-Tionghoa-annya beda dengan Liem. Nah, jika dikaitkan dengan pertanyaan sekaligus pernyataan “sebenarnya yang ikut andil membangkitkan nasionalisme itu koran Sin Tit Po atau bond sepak bola Tionghoa” keduanya berkaitan dan tidak bisa dipisahkan ini andil si fulan yang lebih jelas dan lainnya tidak memiliki andil sama sekali.

Tionghoa Surabaya sebagai salah satu kekuatan sepak bola lebih eklektis (kalau bahasa kasarnya oportunis). Di sisi lain menjalin hubungan baik dengan Belanda, namun juga dekat dengan Bumiputera. Siapa yang memungkinkan menguntungkan, maka akan didekati dan apabila merugikan akan mencoba menjaga jarak.

Artinya, bond Tionghoa sudah terlanjur berkompetisi di SVB demi keberlangsungan dapat berkompetisi secara reguler dan periodik tidak hanya membentuk tim dan latihan kalau ada kejuaraan.

Selanjutnya, saat terjadi perselisihan antara PSSI dan NIVU pada pemberangkatan kontingen timnas Piala Dunia 1938, bukan berarti ketika orang Tionghoa yang ikut dalam tim Hindia Belanda maka nasionalismenya dipertanyakan.

Nasionalisme terutama ketionghoaan para pemain sepak bola Tionghoa tetap melekat sebagai politik identitas dan eksistensi kelompok (pemain) Tionghoa dalam Piala Dunia karena saat itu negara Tiongkok belum menjadi peserta Piala Dunia.

Selain itu, berkat Tionghoa Surabaya (yang aliran ketiongkokannya kuat) bond-bond di Indonesia bisa melakukan pertandingan dengan klub luar negeri terutama dari Tiongkok karena yang mampu mendatangkan adalah kelompok Tionghoa terutama bond Tionghoa Surabaya.

Sepak bola di Hindia Belanda berhasil memainkan peran tidak hanya dalam pendekatan olahraga dan permainan.

Sisi-sisi politik, sosial, ekonomi dan budaya dapat ditransformasikan ke dalam sepak bola, sehingga ada yang memanfaatkannya sebagai salah satu alat perjuangan bangsa dan membangkitkan semangat nasionalisme masyarakat (meski sifatnya sesaat) di Hindia Belanda berdasar paham dan kebangsaan masing-masing, termasuk kalangan masyarakat Belanda, Tionghoa (Vreemde Oosterlingen) yang memiliki tiga pandangan, dan Bumiputera (Inlander).

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan