-->

Lainnya Toggle

TIONGHOA, SEPAK BOLA (RNBA): Tanggapan Dewan

Anggota Sidang Dewan #5: Bambang Haryanto (Wonogiri)  | Eri Irawan (Bojonegoro) | Koskow (Jogja) | Sholahudin Aly (Solo) | Zen RS (Jakarta)

Panitera: Muhidin M Dahlan

(ctt: hingga akhir waktu, JPB-Koskow tak menyertakan keputusannya)

Tionghoa SurabayaSholahudin Aly dipersilakan membuka ruang tanggapan. Secara umum, menurut dia, buku ini cukup istimewa karena mengupas dua narasi pinggiran (baca: bukan mainstream) sekaligus.

Pertama, buku ini menceritakan perkembangan sepak bola pada masa-masa awal di Hindia Belanda yang melibatkan orang-orang Belanda, Vreemde Oosterlingen (Timur Asing), dan Bumiputera. Beberapa topik yang dibahas misalnya kemunculan bond, perkembangan aturan main, hingga kompetisi-kompetisi yang pernah digelar pada masa itu.

Kedua, buku ini mengupas eksistensi etnis Tionghoa di Indonesia, khususnya di Surabaya dalam mewarnai perkembangan sepak bola pada masa-masa awal.

Tidak hanya itu, buku ini juga menceritakan awal mula kedatangan etnis Tionghoa, pembagian karakteristik mereka (antara totok dan peranakan), hingga pergulatan nasionalisme mereka sebagaimana yang terekam dalam pers yang mereka terbitkan.

Tentang nasionalisme bola dan seterusnya, dipersilakan pidato satu paragraf pendukung fanatik Persibo dari luar lapangan, Eri Irawan: “Sudah jamak diketahui bahwa sepak bola selalu berkelindan dengan banyak matra: ekonomi, politik, dan kebudayaan. Kadang hal-hal tersebut (ekonomi, politik, dan kebudayaan) menjadi bumbu yang membuat sepak bola jadi terasa lebih hidup dan mampu membuncahkan sisi-sisi emosional serta primordial manusia yang terlibat di dalamnya. Namun, kadang karena itu pula sepak bola menjadi teramat menjemukan dan bikin kesal, seperti yang saya lihat dalam pertandingan Persebaya Surabaya akhir-akhir ini yang melulu diisi pidato calon walikota dari pinggir lapangan.”

Nah, mulai ketemu. Berpacak pada semangat melacak keterkaitan sepak bola dengan aspek-aspek sosial-politik itulah RNBA menyusun buku Tionghoa Surabaya dalam Sepak Bola ini.

Menurut Bambang Haryanto, yang menonjol dalam bahasan buku ini adalah upaya untuk naik kelas, upward mobility, bagi etnis Tionghoa sebagai bangsa kelas dua (bersama Arab) melalui jalur sepak bola. Bahkan terungkap ujaran betapa kaum Tionghoa saat itu dinilai “lebih Belanda dibandingkan bangsa Belanda itu sendiri.”

Sementara interaksi mereka dengan bangsa kelas tiga, kaum bumi putera, hanya muncul sekilas-sekilas dan itu pun teramat kabur dalam buku ini. Walau juga muncul jargon nasionalisme dalam sepak bola kaum Tionghoa saat itu, dengan manifestasi aksi penggalangan dana melalui pertandingan sepakbola, tetapi dana itu ternyata digunakan untuk “meringankan beban kesengsaraan” warga leluhurnya di Tiongkok Utara. (hlm. 111-112)

Etnis Tionghoa yang di masa kolonial dipatok sebagai bemper pemerintahan Belanda, juga di masa Soeharto, akhirnya stereotip yang melekat adalah kuatnya orientasi mereka untuk lebih dekat kepada penguasa daripada kepada rakyat. Mereka baru ngeh terhadap rakyat bila terjadi kerusuhan dan huru-hara berbau SARA, yang memakan korban dari mereka.

Minim Cerita d Lapangan Hijau

Lantaran terlalu asyik “menyeminar-wacanakan” sepak bola, RNBA lupa mendedahkan apa yang sesungguhnya terjadi di lapangan. Dan ini bukan hanya penyakit buku RNBA ini, tapi penyakit buku tentang sejarah sepakbola di Indonesia.

Memang, tak ada salahnya mengait-ngaitkan sepak bola dengan hal-hal yang di luar dirinya, seperti politik, sosial, ekonomi, bahkan terkadang menyentuh aspek-aspek primordial seperti agama dan etnisitas. Tapi kalau porsi itu berlebihan, itu tak baik.

Zen RS melihat bagaimana alpanya buku sejarah menjelaskan fakta-fakta di lapangan hijau soal evolusi skema, formasi dan taktik dalam sepakbola di Indonesia. Fakta yang lain, buku sejarah sepak bola juga kurang memberi informasi yang layak mengenai pola pembinaan pemain-pemain, bagaimana para pelatih memimpin sesi latihan, bagaimana anak-anak kecil diberi pelatihan mengenai teknik-teknik dasar bermain bola, bagaimana pula jenjang pembinaan pemain muda, dan lain-lain.

Belum lagi gambaran mengenai sisi—katakanlah—bisnis dan manajemennya, yang terkait dengan pola rekrutmen pemain, mekanisme perpindahan dan transfer pemain, dll. Dengan menitikberatkan sepakbola sebagai dirinya sendiri pulalah maka seorang peneliti akan tertantang justru untuk mencari informasi siapa sih pemain dengan teknik dribling paling bagus, siapa bek paling cerdas dalam membaca permainan lawan, kiper mana yang paling tangguh menjaga gawang atau penyerang mana yang naluri mencetak golnya paling mematikan.

Buku yang ditulis RNBA ini sedikit memberikan porsi pada hal-hal di atas itu, untuk tidak mengatakan tidak sama sekali perhatian pada aspek-aspek paling mendasar dari sepakbola itu sendiri. Visi penelitian RNBA dibimbing oleh kecenderungan laten dalam riset tentang sejarah sepakbola Indonesia yang melulu menitikberatkan (untuk tidak mengatakan terlalu membesar-besarkan) aspek sosial-politis dari sepakbola.

Ada memang satu dua informasi mengenai pembinaan pemuda (misalnya hal. 90), tapi informasinya terlampau sedikit–untuk tidak mengatakannya sama-sama tidak informatif.

“Kenapa saya bilang terlampau sedikit atau bahkan sama sekali tidak informatif, karena Saudara Rodjil mengungkapkan hal itu (sepakbola Tionghoa di Surabaya yang katanya peduli pembinaan muda) hanya berdasarkan kesaksian Lie Tek Ho, bukan berdasar penelusuran –misalnya—rata-rata usia para pemain di bond sepakbola Tionghoa Surabaya. Itu hanya statement kualitatif yang cenderung spekulatif, karena tidak ditopang oleh data,” jelas Zen RS.

“Itu sebabnya saya ingin bilang: Jika Anda ingin menemukan informasi mengenai ciri khas permainan bond sepakbola Tionghoa di Surabaya, apa skema dan formasinya, siapa play-makernya, bagaimana mereka melakukan rekrutmen pemain atau membina pemain, saya pastikan Anda tidak akan mendapatkannya,” lanjutnya.

RNBA memang lebih terangsang menelusuri pentingnya sepakbola bagi orang (identitas) Tionghoa (seperti untuk kesehatan, dll., hal ihwal yang pasti bukan khas orang Tionghoa saja, tapi siapa pun juga yang senang olahraga), aspek sosial-politis dari sepakbola seperti pertandingan amal, dan/atau sumbangan sepakbola bagi perkembangan nasionalisme.

Sedihnya lagi, ujar Zen tanpa airmata tanpa keringat, bahkan dalam upayanya menjelaskan aspek sosial dan politis sepakbola yang menjadi titik berat penelitiannya pun RNBA tidak terlalu berhasil.

Misalnya, saat memaparkan pertandingan amal (hal. 116-117), RNBA tidak jernih menjelaskan hasil pertandingan amal itu buat apa. Di hal 116 (paragraf kedua), ada dua keterangan yang membingungkan: (1) hasil pertandingan amal akan digunakan untuk “sumbangan dana perang Belanda”; dan (2) hasil pertandingan amal akan digunakan  “korban perang dan kepentingan perang”.

Dua hal itu sepintas sama, tapi tentu berbeda efeknya. Zen RS memperingatkan bahwa RNBA sebagai mahasiswa sejarah pasti tahu sengitnya polemik tentang Indie Werbaar. Bukankah sampai sekarang masih ada polemik mengenai sumbangan dan kontribusi terhadap gagasan Indie Werbaar sebagai mengorbankan warga bumiputera untuk melanggengkan sistem kolonialisme Hindia Belanda?

Lanjut terus. Pada halaman 114-116, diterangkan mengenai peristiwa pemboikotan yang dilakukan oleh–dengan istilah RNBA sendiri—“surat kabar milik orang kulit berwarna”, terutama surat kabar Sin Tit Po. Sin Tit Po menganjurkan pemboikotan karena surat kabar dan wartawan kulit berwarna (itu artinya warga bumiputera, Tionghoa atau Arab alias warga yang masuk kategori Vreemde Oosterlingen) dilarang datang dan meliput pertandingan. Pemboikotan itu juga diserukan kepada bond sepakbola Tionghoa, tapi seruan itu diabaikan dan bond sepakbola Tionghoa tetap ikut bertanding.

Anehnya, RNBA malah menggunakan peristiwa itu sebagai momen di mana sepakbola ikut andil dalam membangkitkan nasionalisme. Sebenarnya yang ikut andil membangkitkan nasionalisme itu koran Sin Tit Po atau bond sepak bola Tionghoa? Penulis bingung. Dan memang RNBA tampak kelelahan berlari.

Nyaris sama yang dilihat Zen RS, Eri Irawan pun menilai kesimpulan RNBA atas nasionalisme Tionghoa masih guyah. Dan tampaknya makin rumit saat dua pemain Tionghoa Surabaya, Tan Mo Heng dan Tan Hong Djien, justru berangkat ke Piala Dunia 1938 di Perancis untuk membela Hindia Belanda.

Blunder Tendangan Freek

Freek Colombijn, antropolog lulusan Leiden dan mantan pemain bek kanan Harlemsche Football Club di Belanda, membubuhkan komentar di buku ini—berangkat dari bahasan RNBA tentang sepakbola Tionghoa—bagaimana masyarakat Cina justru sebenarnya terintegrasi dengan masyaraat lainnya dalam kehidupan perkotaan Surabaya.

Justru Freek melakukan blunder dengan komentarnya itu. Eri Irawan dan Bambang Haryanto tak melihat adanya integrasi itu. “Kecewa berat. Masih jauh panggang dari api,” seru Bambang. Interaksi antara etnis Tionghoa dan bumi putera di lapangan sepak bola di era itu sama sekali tak tergali.

“Saya kira juga begitu. RNBA sama sekali tak berpretensi untuk menjelaskan tentang proses pengintegrasian tersebut,” kata Eri menambahkan. Menurutnya, mungkin yang dimaksud Colombijn sebagai proses pengintegrasian adalah segala macam dinamika yang mengiringi perkembangan sepak bola Tionghoa, mulai dari gesekan antaretnis dalam sepak bola hingga kompetisi antarbond.

Atau, lanjut Bambang, bisa jadi dengan teknik reading between the line, mengungkap makna yang tersembunyi, wilayah yang tidak atau belum disentuh penulis itu boleh jadi merupakan cerminan betapa problematika antara etnis Tionghoa dan pribumi sebagai masalah laten yang belum selesai.

Manajemen Sepak Bola Tionghoa

Setelah soal identitas, nasionalisme yang mengambang, dan tendangan Freek yang meleset, sekarang beralih ke soal lain. Soal manajemen.

RNBA cukup royal mengobral kata bahwa klub Tionghoa Surabaya sangat diperhitungkan (misalnya, hal 83-85, 90, 104-105); bahkan mampu mengalahkan Lo Hua dari dataran Tiongkok (hal 107). Namun RNBA, kata Eri Irawan, tak menjelaskan secara rinci tentang bagaimana tata kelola klub sepak bola Tionghoa Surabaya yang baik, meski ia menulis bahwa raihan prestasi Tionghoa Surabaya kala itu karena pengelolaan alias manajemen yang baik. (hal 83, 100, 125)

Bagi Eri Irawan, ini sungguh disayangkan, karena bagaimana gambaran manajemen (termasuk di dalamnya pola latihan dan pembinaan pemain muda) Tionghoa Surabaya dijalankan sangat penting untuk memetakan perkembangan sepak bola Tionghoa di Surabaya dan posisi sepak bola Tionghoa di tengah persepakbolaan Hindia Belanda yang menjadi tujuan penulisan buku ini. (hal 11)

Sekadar Papan Nama

“Bagi saya yang berkomentar dari kacamata seorang suporter,” tulis Bambang Haryanto, “buku ini ibarat deretan catatan sejarah jajaran papan-papan nama organisasi sepak bola. Juga nama beberapa stadion. Beberapa nama pemain sepakbola. Tetapi secara keseluruhan papan-papan itu tersalut warna pucat. Sepi. Tak ada darah, karena nyaris tidak ada cerita-cerita tentang manusia-manusia sepakbola, dialektika dan dinamikanya. Apalagi tidak ada cerita tentang suporternya, walau seorang Jock Stein bilang bahwa tanpa suporter sepak bola hanyalah omong kosong belaka.”

Bambang yang juga pemegang rekor MURI sebagai pencetus Hari Suporter Nasional pada 12 Juli (2000) ini pantas heran dengan buku RNBA ini. Bagaimana mungkin menjelaskan sepak bola tanpa kehadiran suporter dengan segala gemuruhnya.

Kalau dikatakan bahwa buku ini menambah rak khasanah literatur sepak bola Indonesia, YA. Pastilah itu. Apalagi kajian semacam ini masih cukup langka.

Tapi bahwa Bambang Haryanto sebagai suporter bisa mengail ajaran, hikmah atau pesan yang dapat didaulat sebagai inspirasi bagi sesama pencinta sepak bola di negeri ini, TUNGGU DULU.

“Tidak terdengar gema suara-suara manusia dari sana,” demikian alasan Bambang, “lalu bagaimana bisa menyuntik kita guna berusaha mengentaskan jiwa dan raga sepak bola kita yang terlalu lama terendam di kolam kotor, akibat meruyaknya budaya korupsi di negeri ini pula.” (GM/IBOEKOE)

4 Comments

IBOEKOE - 25. Apr, 2010 -

R.n. Bayu Aji (dari facebook Zen RS): Terima kasih sebelumnya udah “menguliti” buku Tionghoa Surabaya dalam Sepak Bola.

Menulis sepak bola bagi saya memang lebih menarik apabila tidak mengungkap yang inheren. Boleh jadi ini mengenai sudut pandang saja dari mana kita melihat sepak bola (from insede or out side). Justru dengan ada yang tidak inheren yang terungkap justru memperkaya.

Jujur saja saat menulisnya (masih proses skripsi), pembimbing dan juga dosen penguji lebih menitikberatkan sisi outside agar terlihat perubahan sisi sosial dan politis dalam masyarakat. Aku dulu sebenarnya hendak mengungkap masalah bagaimana latihannya, managemen klub, dan latihane bagaimana, skemanya kaya apa, bagaimana pemain mudanya dilatih. Namun itu tak ubahnya seperti buku panduan sepak bola paraktis bermain ataupun panduan bagi anak yang kuliah jurusan sepak bola secara sisi teknis bermain bola saja. Hal ini tidak membesarkan sisi politisnya saja, namun itu semua dari data yang diperoleh dilapangan saja.

Masalah nasionalisme kuwi kita harus membedakannya. Memang pada dasarnya pemboikotan tak terlepas dari pers melayu tionghoa, namun pemicuya adalah sepak bola yang memang kebetulan saja Liem pandangan tionghoanya ke Indonesia sehingga memboikotnya. Jadi Bond Tionghoa Surabaya yang ikutan kompetisi SVB pandangan ke-Tionghoa-annya beda dengan Liem. Nah, jka dikaitkan dengan pertanyaan sekaligus pernyataan “sebenarnya yang ikut andil membangkitkan nasionalisme itu koran Sin Tit Po atau bond sepakbola Tionghoa” keduanya berkaitan dan tidak bisa dipisahkan ini andill si fulan yang lebih jelas dan lainyya ga ada andilnya.

Tionghoa Surabaya aku rasa eklektis (kalo kasarnya oportunis). Di sisi lain menjalin hubungan baik dengan Belanda namun juga dekat dengan Bumiputera. Mana yang memugkinkan menguntungkan ya didekati kalo merugikan mencoba menjaga jarak. Artinya, bond Tionghoa sudah terlanjur berkompetisi di SVB demi keberlangsungan dapat berkompetisi secara reguler dan periodik gak hanya bentuk tim kalo ada kejuaraan. Berkat Tionghoa Surabaya (yang aliran ketiongkokannya kuat) bond2 di Indonesia bisa melakukan pertandingan dengan klub luar negeri terutama dari Tiongkok karena yang mampu mendatangkan ya kelompok Tionghoa terutama bond Tionghoa Surabaya.

Sekadar tambahan, bicara Piala Dunia dan Italia bisa juara PD 1934 pasti tidak hanya membahas seara inheren sepak bolaitu sendiri. Bisa jadi timnas Italia takut ancaman ditembak Mussolini karena Italia juga harus superior dalam sepak bola. Kalau ga juara nasib pemain akan diujung senapan. Kalo kita melihat sepak bola saat ini yang lebih jauh dari politik, namun anggapan saat ini tak bisa dipaksakan harus masuk ke masa lalu. Kalalu di PD 1978 pasti yang dibincangkan adalah pengaturan skor dan ancaman penembakan dan pembunuhan militer Argentina apabila Johan Cruyff dan beckenbauer ikut PD he,,he,,he,,,

btw, Aku duwe buku 40 Jaar Voetbal in Nederlandsch-Indie, 1894-1934, tapi untuk bagian Sepak Bola Surabaya dan Tionghoa. Aku juga punya buku Maulwi Saelan tentang sejarah sepak bola. Mengko tak fotokopikan bos 🙂

IBOEKOE - 25. Apr, 2010 -

Hedi Novianto (dari facebook Zen RS): Bond Tionghoa ini salah satu cikal bakal bond-bond sepakbola tanar air. Dulu didirikan untuk alat perjuangan….keren, dab

Makanya aku rindu orang2 Tionghoa masuk lagi ke sepakbola tanah air, kegigihan mereka dalam berjuang patut dihargai, terlepas demi uang atau bukan spt yg ada di bulutangkis. IMHO.

IBOEKOE - 25. Apr, 2010 -

Antyo Rentjoko (dari facebook Zen RS): Menarik ini. Hedi juga pernah nyentil soal ini karena saya penasaran kenapa pada Orba keturunan Cina cenderung kurang berkurang di bal-balan padahal mereka suka. Apa betul karena isu rasisme? Kalo di futsal kayaknya mulai baur lagi

IBOEKOE - 25. Apr, 2010 -

Bambang Haryanto (dari facebook Sidang Dewan Buku): Mengikuti blog-blog di LN, para pemberi komentar selalu disiplin dengan topik yang dibahas. Semoga hal serupa juga terjadi di sidang Dewan Pembaca Buku ini. Capek saya harus membuang email-email “tidak disiplin” setiap kali.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan