-->

Lainnya Toggle

TIONGHOA, SEPAK BOLA, R.N. Bayu Aji

TIONGHOA SURABAYA DALAM SEPAK BOLA (RNBA)
Judul: Tionghoa Surabaya dalam Sepak Bola | Penulis: R.N. Bayu Aji | Tebal: xxi +141 hlm | Ukuran: 13×19 cm | Penerbit: Ombak, 2010.
“Sepak bola,” demikian kata Nelson Mandela, “merupakan aktivitas yang paling mampu mempersatukan umat manusia.”
Merujuk negerinya dengan sejarah kelam tergencet politik apartheid yang panjang, kemudian bangkit dalam rekonsiliasi, dan di bulan Juni 2010 mendatang menjadi tuan rumah Piala Dunia 2010, ucapan Bapak Afrika Selatan itu terasa membiaskan kebenaran. Sepak bola memang mempersatukan dan Indonesia pun sempat merasakannya.
Eduardo Galeano, novelis asal Uruguay dalam Football in Sun and Shadow (2003), yang menulis panorama sepak bola dunia dengan kaya konteks, berdegup dan indah, telah menyandingkan nama Indonesia dalam tiga kali Piala Dunia. Tahun 1938, 1966 dan 1998.
Dirunut dari momen yang mutakhir, bara gairah Piala Dunia 1998 yang kembali diadakan di Paris, ternyata di Indonesia tersaingi oleh kobaran api, derak puing, air mata dan kematian. Peristiwa mengerikan itu akibat politik bumi hangus yang sebagian memakan korban etnis Cina, mengiringi tumbangnya diktator Soeharto.
Surut tiga puluh dua tahun sebelumnya, ketika penyelenggaraan Piala Dunia 1966 di London, Inggris, Indonesia tergenang banjir darah. Noda-noda darah itu tersembunyi mengiringi langkah sepatu lars Soeharto naik ke puncak untuk mencengkeram Indonesia.
Hanya pada tahun yang disebut pertama, 1938, nama Indonesia benar-benar disebut Galeano terkait dalam pesta sepakbola dunia di Perancis itu. Di sinilah ucapan Nelson Mandela punya makna bagi kita. Karena tim yang dikirim ke Perancis itu, walau di bawah bendera pemerintahan Hindia Belanda, terdiri beragam etnis bangsa. R.N. Bayuaji dalam bukunya Tionghoa Surabaya Dalam Sepakbola, menyebutkan dalam tim tersebut terdapat pemain orang Belanda, Tionghoa dan Bumiputera. (h.88)
Keberadaan tiga etnis tersebut memang mencerminkan trikotomi organisasi sepakbola era kolonial saat itu. NIVU untuk etnis Belanda, HNVB bagi keturunan Tionghoa dan PSSI untuk kaum bumi putera. Yang menarik dicatat adalah, menjelang Piala Dunia 1938 tersebut telah terjadi perbenturan kepentingan antara NIVU versus PSSI.
“Pihak PSSI bersikukuh bahwa wakil di Piala Dunia adalah PSSI bukan NIVU, akan tetapi FIFA mengakui NIVU sebagai wakil Dutch East Indies. Ir. Soeratin (Ketua PSSI saat itu) menolak memakai nama NIVU karena ketika NIVU mempunyai hak, maka dalam penentuan komposisi materi pemain yang menentukan adalah orang-orang Belanda. Perjanjian tersebut lantas dibatalkan oleh PSSI.” (hlm 77-78)
Urusan sepakbola telah bercampur politik, juga nasionalisme. Bagaimana posisi etnis Tionghoa saat itu dalam urusan sepak bola ? R.N. Bayu Aji (RNBA) menyimpulkan, “Keadaan tersebut dimanfaatkan oleh kalangan sepak bola Tionghoa di Hindia Belanda…Akibat perselisihan itu, pemain Tionghoa Surabaya dapat ikut serta dalam rombongan pemain yang memperkuat Dutch East Indies (NIVU) untuk mengikuti Piala Dunia. Kesempatan yang datang mungkin saja tidak akan terjadi untuk kedua kalinya, sehingga bagi sepak bola Tionghoa hal itu harus dimanfaatkan sebaik mungkin.” (h.87).
“Itukah cerminan sikap oportunistis etnis Tionghoa? Yang senantiasa sigap mengail di kolam yang keruh? Yang juga terjadi tidak hanya dalam kancah sepak bola, baik di jaman dulu dan juga di masa sekarang?” tanya Bambang Haryanto menelisik. Silakan lihat di “Tanggapan Dewan”.
Sekadar tambahan bahwa buku ini berasal dari skripsi R.N. Bayu Aji sebagai mahasiswa di Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga Surabaya. Dan niai untuk akhir “jihad ilmu” RNBA ini adalah “A”.

Tionghoa SurabayaJudul: Tionghoa Surabaya dalam Sepak Bola | Penulis: R.N. Bayu Aji | Tebal: xxi +141 hlm | Ukuran: 13×19 cm | Penerbit: Ombak, 2010

“Sepak bola,” demikian kata Nelson Mandela, “merupakan aktivitas yang paling mampu mempersatukan umat manusia.”

Merujuk negerinya dengan sejarah kelam tergencet politik apartheid yang panjang, kemudian bangkit dalam rekonsiliasi, dan di bulan Juni 2010 mendatang menjadi tuan rumah Piala Dunia 2010, ucapan Bapak Afrika Selatan itu terasa membiaskan kebenaran. Sepak bola memang mempersatukan dan Indonesia pun sempat merasakannya.

Eduardo Galeano, novelis asal Uruguay dalam Football in Sun and Shadow (2003), yang menulis panorama sepak bola dunia dengan kaya konteks, berdegup dan indah, telah menyandingkan nama Indonesia dalam tiga kali Piala Dunia. Tahun 1938, 1966 dan 1998.

Dirunut dari momen yang mutakhir, bara gairah Piala Dunia 1998 yang kembali diadakan di Paris, ternyata di Indonesia tersaingi oleh kobaran api, derak puing, air mata dan kematian. Peristiwa mengerikan itu akibat politik bumi hangus yang sebagian memakan korban etnis Cina, mengiringi tumbangnya diktator Soeharto.

Surut tiga puluh dua tahun sebelumnya, ketika penyelenggaraan Piala Dunia 1966 di London, Inggris, Indonesia tergenang banjir darah. Noda-noda darah itu tersembunyi mengiringi langkah sepatu lars Soeharto naik ke puncak untuk mencengkeram Indonesia.

Hanya pada tahun yang disebut pertama, 1938, nama Indonesia benar-benar disebut Galeano terkait dalam pesta sepakbola dunia di Perancis itu. Di sinilah ucapan Nelson Mandela punya makna bagi kita. Karena tim yang dikirim ke Perancis itu, walau di bawah bendera pemerintahan Hindia Belanda, terdiri beragam etnis bangsa. R.N. Bayu Aji dalam bukunya Tionghoa Surabaya Dalam Sepakbola, menyebutkan dalam tim tersebut terdapat pemain orang Belanda, Tionghoa dan Bumiputera. (h.88)

Keberadaan tiga etnis tersebut memang mencerminkan trikotomi organisasi sepakbola era kolonial saat itu. NIVU untuk etnis Belanda, HNVB bagi keturunan Tionghoa dan PSSI untuk kaum bumi putera. Yang menarik dicatat adalah, menjelang Piala Dunia 1938 tersebut telah terjadi perbenturan kepentingan antara NIVU versus PSSI.

“Pihak PSSI bersikukuh bahwa wakil di Piala Dunia adalah PSSI bukan NIVU, akan tetapi FIFA mengakui NIVU sebagai wakil Dutch East Indies. Ir. Soeratin (Ketua PSSI saat itu) menolak memakai nama NIVU karena ketika NIVU mempunyai hak, maka dalam penentuan komposisi materi pemain yang menentukan adalah orang-orang Belanda. Perjanjian tersebut lantas dibatalkan oleh PSSI.” (hlm 77-78)

Urusan sepakbola telah bercampur politik, juga nasionalisme. Bagaimana posisi etnis Tionghoa saat itu dalam urusan sepak bola ? R.N. Bayu Aji (RNBA) menyimpulkan,

“Keadaan tersebut dimanfaatkan oleh kalangan sepak bola Tionghoa di Hindia Belanda…Akibat perselisihan itu, pemain Tionghoa Surabaya dapat ikut serta dalam rombongan pemain yang memperkuat Dutch East Indies (NIVU) untuk mengikuti Piala Dunia. Kesempatan yang datang mungkin saja tidak akan terjadi untuk kedua kalinya, sehingga bagi sepak bola Tionghoa hal itu harus dimanfaatkan sebaik mungkin.” (h.87)

“Itukah cerminan sikap oportunistis etnis Tionghoa? Yang senantiasa sigap mengail di kolam yang keruh? Yang juga terjadi tidak hanya dalam kancah sepak bola, baik di jaman dulu dan juga di masa sekarang?” tanya Bambang Haryanto menelisik. Silakan lihat di “Tanggapan Dewan”.

Sekadar tambahan bahwa buku ini berasal dari skripsi RNBA sebagai mahasiswa di Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga Surabaya.

Dan niai untuk akhir “jihad ilmu” RNBA ini adalah “A”.  (GM/IBOEKOE)

2 Comments

ARIFIN - 11. Mar, 2011 -

mas,,,
saya mau nulis skripsi tentang Nasionalisme dan sepak bola Indonesia tahun 1915-1942.
bisa minta bantuan untuk konsultasi????

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan