-->

Kronik Toggle

Siapa Pun Walikotanya, Buku Patut Diperhatikan

SURABAYA–“Siapa pun yang menjadi walikota Surabaya, masalah buku dan membaca harus menjadi prioritas karena di negara kita. Sikap pemerintah terhadap buku masih sangat kurang bila dibanding negara lain. Penyediaan buku, subsidi untuk cetak buku murah, keterbukaan akses buku, masih tidak menjadi prioritas” demikian disampaikan Pinki Saptandari dari Forum Dewan Kota Surabaya dalam talk show rangkaian acara Surabaya World Book Day yang diselenggarakan di Taman Bungkul, Surabaya (25/4).

Salah satu pembicara dalam talk show ini, Ibu Ima Riyani yang membina Taman Bacaan Masyarakat (TBM) di belakang Pasar Genteng, mengungkapkan pengalamannya mendirikan perpustakaan alternatif selagi pemerintah tak banyak memberikan perhatian dalam hal membaca buku.

“Mengajak membaca kalangan masyarakat kelas bawah bukan hal yang mudah, karena urusan perut mereka saja belum selesai, maka buku menjadi kebutuhan kesekian yang tidak menjadi prioritas,” katanya.

Untuk memancing minat itu, Bu Ima menyediakan snack, permen, sembako, dan alat alat tulis sebagai umpan. Strategi itu ternyata cukup berhasil diterapkan di TBM-nya.

Dalam diskusi ini terungkap juga pentingnya peran komunitas literasi sebagai jembatan antara pemerintah, buku, dan masyarakat pembaca. Ibu Titik, dari PLAN internasional yang juga turut menjadi pembicara, menyampaikan bahwa dalam pendampingan yang dilakukan LSM dapat menjadikan buku sebagai media untuk lebih meningkatkan motivasi pada isu-isu yang disampaikan.

“Seperti yang dilakukan oleh PLAN, kami menyampaikan isu-isu terkait perlindungan anak dengan menggunakan buku-buku bergambar yang mudah dipahami, enak dibaca, dan informatif,” ujarnya.

PLAN menyediakan buku-buku bacaan terkait perlindungan hak-hak anak di kantong-kantong binaannya.

Tjahyani Retno Wilis ikut memberikan pandangannya dalam diskusi ini. Menurut Wilis, gerakan membaca memang memerlukan sinergi antara pemerintah, komunitas, dan stake holder produksi buku.

“Ini pekerjaan yang tak bisa dikerjakan sendiri-sendiri. Masing-masing memiliki peran dan tugas berbeda. Maka, pemerintah selaku pengampu kepemimpinan tertinggi di kota ini, memang selayaknya memberikan prioritas dan perhatian lebih terhadap persoalan membaca,” kata istri wakil walikota Surabaya.

Dimoderatori  Kuswato dari Save The Children, diskusi yang berlangsung hampir dua jam ini menguak pelbagai persoalan seputar buku di Surabaya. Seperti, adanya ratusan sudut baca di Surabaya yang diinisiasi oleh Gerakan PKK, TBM, dan pelbagai komunitas independen. (DS/IBOEKOE)

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan