-->

Kronik Toggle

Surabaya Peringati Hari Buku Sedunia

SURABAYA–World Book Day (Hari Buku Sedunia) yang jatuh tanggal 23 April lalu dirayakan oleh komunitas buku dan masyarakat Surabaya (25/4) di area Taman Bungkul.

World Book Day yang dirancang oleh UNESCO sebagai sebuah perayaan buku dan literasi mondial, perayaannya telah dimulai pelaksanaannya di Indonesia tahun 2006 oleh Forum Indonesia Membaca.

Pada awalnya sebagai bagian dari perayaan Hari Saint George di wilayah Katalonia sejak abad pertengahan, para pria memberikan mawar kepada kekasihnya. Namun sejak tahun 1923 para pedagang buku mempengaruhi tradisi ini untuk menghormati Miguel de Cervantes, seorang pengarang yang meninggal dunia pada tanggal 23 April sehingga sejak 1925 para perempuan memberikan sebuah buku sebagai pengganti mawar yang diterimanya. Pada masa itu lebih dari 400.000 buku terjual dan ditukarkan dengan 4 juta mawar.

Yayasan Pengembangan Perpustakaan Indonesia (YPPI) yang menjadi koordinator acara Surabaya World Book Day ini merangkul
beberapa komunitas seputar buku dalam sebuah konsorsium untuk menghelat acara ini.

Konsorsium terdiri dari Citra Media (Event Organizer), Komunitas Mata Hati (pendampinan musik), Taman Bacaan Masyarakat “Mawar”, Pusat Studi Teknik Perpustakaan Universitas Airlangga, Insan Baca (Komunitas literasi), dan Forum Lingkar Pena (Komunitas Penulis).

Acara yang tetap dihelat meski hujan rintik-rintik ini dibuka oleh Istri Walikota Surabaya, Dyah Katarina. “Membaca adalah budaya baik yang perlu kita tularkan pada siapa saja. Membaca tak melulu harus buku atau yang berat. Dapat dimulai dari hal-hal sederhana seperti membaca kandungan isi sebuah produk, membaca cara merawat peralatan elektronik, dan sebagainya. Intinya adalah menyerap informasi dengan cara membaca. Manfaatnya akan terasa sekali ketika informsi itu terpakai dalam keseharian,” tutur Dyah dalam sambutannya.

Panitia sejatinya akan melakukan kegiatan membaca koran massal dan Book On The Street. Namun karena hujan mengguyur cukup deras, maka acara itu ditiadakan. Sementara itu, kegiatan lain seperti lomba membaca cerita, mendongeng, dan pameran foto ‘kepergok membaca’ tetap dilaksanakan seperti yang sudah direncanakan meski jumlah pesertanya tak terlampau banyak.

Beberapa Bunda PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) dan anak-anak binaan komunitas panitia banyak berpartisipasi dalam  lomba-lomba yang tersebut. (DS/IBOEKOE)

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan