-->

Lainnya Toggle

Selamat Ulang Tahun, Buku!

Oleh St. Fatimah

How many a man has dated a new era in his life from the reading of a book!

(Henry David Thoreau)

Sejarah mencatat, pada 23 April Miguel de Cervantes, penulis kelahiran Spanyol yang masyhur dengan karyanya, Don Quixote, meninggal dunia. Untuk mengenangnya, pada 1923 sejumlah toko buku di Spanyol menyelenggarakan “readathon“, pesta baca Don Quixote selama dua hari. Sekaligus penganugerahan Miguel de Cervantes Prize di Alcalá de Henares. Pada 1925 pesta itu menjadi bagian dari perayaan Saint George’s Day, juga pada 23 April, di mana para lelaki tidak lagi memberikan setangkai bunga mawar untuk sang kekasih. Tetapi menghadiahkan buku sebagai ungkapan kasih sayang, sepanjang festival Katalonia. Hingga pada 1995 UNESCO menetapkan 23 April sebagai World Book Day (WBD).

Tak hanya itu, penetapan Hari Buku Sedunia juga merupakan penghormatan untuk pengarang William Shakespeare yang lahir dan meninggal pada 23 April. Tak hanya Shakespeare, Inca Garcilaso de la Vega dan Josep Pla juga meninggal dunia pada tanggal ini. Beberapa pengarang lain, di antaranya Maurice Druon, Vladimir Nabokov, Manuel Mejía Vallejo and Halldór Laxness, dilahirkan pada tanggal yang sama.

Di Indonesia, tahun ini adalah tahun perayaan WBD kelima, dengan mengusung tema “Kepergok Membaca”. Sejak kali pertama digelar oleh Forum Indonesia Membaca pada 2006, WBD telah berkomitmen melibatkan partisipasi masyarakat dalam menumbuhsuburkan kesadaran membaca dan mengapresiasi dunia perbukuan Indonesia secara kondusif. Sepanjang April-Mei 2010 berbagai kegiatan menyambut World Book Day Indonesia dihelat. Mulai kampanye 1.000 foto “Kepergok Membaca”, WBD “goes to school”, temu komunitas perbukuan dan workshop, sampai program diskon buku bekerja sama dengan toko buku dan penerbit.

Sebagai pewadah perayaan buku dan literasi tingkat dunia, WBD lebih dari sekadar bentuk penghormatan atas kiprah tokoh-tokoh dunia dalam dunia perbukuan dan literasi. Melainkan, WBD telah bersinergi menjadi gerakan kultural edukatif antarbangsa, terutama dalam memperluas ruang partisipasi masyarakat dalam peningkatan budaya baca, serta menyosialisasikan kepedulian literasi di tingkat lokal (local literacy) agar mampu mengeksplorasi manfaat buku dan membaca, yang ditengarai akan tersisih oleh invasi visual era digital. WBD adalah sebuah counter persuasif yang mewadahi faktor-faktor penopang korporasi buku dan masyarakat. Lebih tepatnya, pada unsur-unsur penguatan identitas bangsa yang melingkupi keberdayaan masyarakat dalam upaya keberlanjutan warisan literasi.

Era digitalisasi membuat berbagai hajat hidup masyarakat terpengaruh begitu dahsyat. Ingar-bingar kemutakhiran teknologi menggiring keberpihakan pada buku -dulunya- sebagai gerbang ke segala dunia, kini hanya menjadi sekadar tumpukan kertas yang harus dibakar. Imbasnya, budaya baca kian tersisih oleh keberadaan dunia cyber. Kalangan anak-anak hingga kaum dewasa tidak antusias lagi memadati perpustakaan maupun toko buku, tapi lebih memuaskan diri dengan menjelajah dunia maya. Tak bisa dimungkiri, di era ini internet menjadi solusi tepat sasaran. Namun, ketika ekses-ekses yang bermunculan justru mengeksekusi dunia literasi (baca: cetak), ini adalah defisit globalisasi yang benar-benar mengerikan.

Miskinnya suatu peradaban tidak hanya dinilai dari rendahnya kualitas hidup masyarakatnya. Akan tetapi, ketika kemampuan untuk membaca dan aktivitas pembacaan tidak lagi menjadi penyambung mata rantai sejarah dan kehidupan masyarakat, jangankan melek aksara, yang terjadi adalah buta budaya. Dan, ketika para politikus berbondong-bondong meneriakkan kemajuan teknologi dan potensi besarnya untuk mengubah dan menciptakan hidup yang lebih baik, apakah itu semua bisa menjembatani kesenjangan antara si kaya dan si miskin dalam soal keberaksaraan? Ironis, buku (baca: pengetahuan) kini menjadi tolok ukur kekayaan materi. Peluncuran Sony e-reader, Kindle-nya Amazon, dan iPad oleh Apple, seakan mempertegas bahwa pengetahuan itu mahal. Padahal, memperoleh pengetahuan adalah hak asasi semua orang, tanpa harus menonjolkan status ekonomi, tingkat pendidikan, dan jabatan.

Dalam hal ini, kesadaran mengenai manfaat dan kesenangan yang didapat dari membaca buku menipis sampai pada bentuk-bentuk materialisme yang tanpa sadar diperlihatkan sebagai kewajaran globalisasi. Misalnya e-book, di mana ada banyak tawaran “manfaat dan kesenangan” yang membuat aspek “buku” secara riil terselubungi oleh gengsi. Lebih mengedepankan predikat “gaul dan up-to-date” lantaran bisa berkarib dengan teknologi (baca: internet). Tidak mau lagi berjibaku dengan buku-buku di rak-rak sepanjang lorong perpustakaan atau taman baca. Tentu saja, hal itu makin membuktikan bahwa buku dan membaca benar-benar tertelikung di bawah arus kemutakhiran yang kompleks.

Namun, itu semua bisa jadi masih dipandang “baik-baik saja”. Sebab, bagaimanapun kegamblangan akses internet memang mendukung perkembangan pengetahuan pada era di mana manusia semakin dihadapkan dengan substansi-substansi baru yang lebih pelik, dalam rangka belajar tentang diri masing-masing dan dunia yang melibatkannya.

Meski begitu, kehadiran buku sebagai “pengetahuan tercetak” (printed knowledge) tetap terpenting untuk secara ajek melahirkan pengetahuan-pengetahuan yang setiap saat siap menguatkan warisan intelektualitas. Serta menumbuhkan kesadaran literasi akan pentingnya menggairahkan budaya membaca agar tidak lebih jauh digusur gempuran media-media elektrovisual, seperti televisi. Kegairahan budaya baca juga sangat krusial untuk meneropong seberapa jauh suatu peradaban manusia dapat bersinergi dengan baik bersama kemutakhiran teknologi yang sangat tak terbendung imbas-imbas eksesifnya.

Apa mau dikata, memang semua imbas keterkinian teknologi tak dapat diabaikan. Hanya, hal itu bisa berjalan secara halus, tidak ekstrem, melainkan lebih proporsional. Artinya, bentuk atau praktik transformasi budaya baca, dari manual ke digital, haruslah dalam koridor proporsionalitas yang tidak memenangkan suatu kepentingan tendensius. Misalnya, ketika banyak buku secara terang-terangan diberedel izin edarnya beberapa waktu lalu, hal ini (semoga) tidak berarti sebagai sebuah “transparansi” untuk menyempitkan ge(b)rakan buku seiring dengan gencarnya gerakan melek teknologi informasi di seluruh kota Indonesia yang menjadi target proyek cyber city.

Semoga buku panjang umur selalu! (*)

*) St. Fatimah, pembaca, tinggal di Surabaya

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan