-->

Resensi Toggle

Satu Abad Kartini (1879-1979)

TEMPO
BUNGA RAMPAI UNTUK KARTINI
Nomor T11091844
Edisi 11/09
Halaman 16
Rubrik Buku
Subyek RESENSI BUKU
12  May  1979
Deskripsi
PENGARANG: ARISTIDES KATOPPO JAKARTA: SINAR HARAPAN, 1979
RESENSI OLEH: GOENAWAN MOHAMAD. (BK)
SATU ABAD KARTINI (1879-1979)
Disusun oleh Aristides Katoppo dll.
Penerbit: Sinar Harapan, 1979
DI antara karnaval Kartini tahun ini banyak hal mungkin terbuang percuma. Tapi buku ini pasti tidak. Dicetak mewah tapi
cukup artistik (yang menyebabkan harganya jadi Rp 2500) kumpulan karangan ini merupakan salah satu buku terbaik yang pernah
terbit di Indonesia tentang emansipator dari Jepara itu.
Memang, pilihan karangan terasa kurang diikat oleh satu konsep yang jelas. Dalam pada itu bisa juga dicatat bahwa kumpulan
karangan ini sama sekali tak merekam golongan wanita yang belum “dibebaskan”: kaum babu, yang biasanya menyebabkan para wanita
lain punya waktu untuk tak cuma jadi ibu rumahtangga; para pelacur, yang biasanya hampir tak pernah diingat pada 21 April.
Dengan kata lain, buku ini, seperti juga 99% acara seabad Kartini, cuma mondar-mandir di puncak piramid kenyataan sosial.
Apakah itu sebabnya Toeti Aditama, dalam tulisannya di buku ini, nampak belum puas dengan kebebasan wanita kita?
Tapi baiklah. Di luar ketimpangannya, buku ini sangat menarik, sepanjang para penulisnya bercerita tentang sejarah Kartini,
reportase latar hidupnya dan masalah di zamannya. Sayang hampir semuanya kekurangan fokus yang jelas, dan cuma bagian-bagian
tertentu saja dari tulisan yang meletupkan sesuatu yang penting.
Dalam hubungan itu patut dibaca tulisan Dr. Haryati Soebadio, terutama bagian yang mengkaitkan zaman Kartini dengan bangkitnya
feminisme di Eropa. Juga tulisan Ny. Aisyah Dahlan, yang mengemukakan banyak data tentang inspirasi Kartini di kalangan
wanita Islam Indonesia — satu hal yang masih sedikit diketahui.
Dari tulisan-tulisan itu mungkin kita bisa mengambil kesimpulan, bahwa apa yang disebut emansipasi wanita di Indonesia mungkin
bukanlah sekedar suatu kelanjutan dari gerakan yang sama di Eropa. Kartini memang menggemakan itu. Tapi kesezamanannya
dengan feminisme Eropa di akhir abad ke-19, dan cepatnya pengaruh Kartini sendiri secara meluas di Indonesia, melintasi
pelbagai suku dan agama, menunjukkan adanya dinamika tersendiri dalam masyarakat kita waktu itu sudah. Suatu studi sejarah
sosial di Indonesia tentang wanita barangkali akan mengemukakan hal-hal yang jarang diduga.
Misalnya bagaimana sebenarnya seluk-beluk lebih lengkap Sultanah Safiatuddin di Aceh di abad ke-17? Bagaimana pula dengan Siti
Aisya We Tenriolle, kepala negara di Sulawesi Selatan di pertengahan abad ke-19? Harsya W. Bachtiar, yang menulis tentang
perlunya penelitian sejarah lebih lanjut di seantero Nusantara, agar kita tak cuma menerima bahan lama dari orang asing, berjasa
menyebut kedua tokoh itu. Tapi kita tentu ingin tahu adakah hadirnya seorang sultan wanita dengan sendirinya merupakan
indikator kedudukan tinggi wanita pada umumnya di suatu masyarakat.
Mengharukan
Tapi tentu saja fenomena Kartini bukanlah terbatas kepada masalah hubungan pria-wanita, betapapun berapi-apinya para
“feminis” Indonesia melontarkan klise-klise tentang itu tanpa henti. Dalam buku ini Menteri P&K Daoed Joesoef, untuk kata
pengantar, juga berbicara tentang Kartini, pendidikan dan kebebasan manusia. Sejarawan Abdurrachman Surjomihardjo melihat
posisi Kartini dalam sejarah pemikiran Indonesia di zamannya. S. Takdir Alisjahbana, dengan menarik sekali, berbicara tentang
Kartini sebagai tokoh yang terlibat, dan terbelah, oleh hipokrisi Belanda dengan politik etis dan konsep Timur-Barat-nya.
Namun yang paling mengharukan dari buku ini ialah bahwa ia ditulis oleh sejumlah orang Indonesia dari pelbagai suku,
meskipun Kartini dulu hanya berbicara tentang “perempuan Jawa”. Juga bahwa ia diprakarsai oleh seorang Kristen (Prof. Ihromi),
yang mengundang penulis Islam untuk berbicara. Kenyataan itu saja membuktikan bagaimana kita memang layak berbangga tentang
Kartini — dan tentang tanahair kita yang cuma satu ini.
Goenawan Mohamad

Oleh Goenawan Mohamad

Satu Abad KartiniSatu Abad Kartini (1879-1979)  | Disusun oleh Aristides Katoppo dll. | Penerbit: Sinar Harapan, 1979

Di antara karnaval Kartini tahun ini banyak hal mungkin terbuang percuma. Tapi buku ini pasti tidak. Dicetak mewah tapi cukup artistik (yang menyebabkan harganya jadi Rp 2500) kumpulan karangan ini merupakan salah satu buku terbaik yang pernah terbit di Indonesia tentang emansipator dari Jepara itu.

Memang, pilihan karangan terasa kurang diikat oleh satu konsep yang jelas. Dalam pada itu bisa juga dicatat bahwa kumpulan karangan ini sama sekali tak merekam golongan wanita yang belum “dibebaskan”: kaum babu, yang biasanya menyebabkan para wanita lain punya waktu untuk tak cuma jadi ibu rumahtangga; para pelacur, yang biasanya hampir tak pernah diingat pada 21 April.

Dengan kata lain, buku ini, seperti juga 99% acara seabad Kartini, cuma mondar-mandir di puncak piramid kenyataan sosial. Apakah itu sebabnya Toeti Aditama, dalam tulisannya di buku ini, nampak belum puas dengan kebebasan wanita kita?

Tapi baiklah. Di luar ketimpangannya, buku ini sangat menarik, sepanjang para penulisnya bercerita tentang sejarah Kartini, reportase latar hidupnya dan masalah di zamannya. Sayang hampir semuanya kekurangan fokus yang jelas, dan cuma bagian-bagian tertentu saja dari tulisan yang meletupkan sesuatu yang penting.

Dalam hubungan itu patut dibaca tulisan Dr. Haryati Soebadio, terutama bagian yang mengkaitkan zaman Kartini dengan bangkitnya feminisme di Eropa. Juga tulisan Ny. Aisyah Dahlan, yang mengemukakan banyak data tentang inspirasi Kartini di kalangan wanita Islam Indonesia — satu hal yang masih sedikit diketahui.

Dari tulisan-tulisan itu mungkin kita bisa mengambil kesimpulan, bahwa apa yang disebut emansipasi wanita di Indonesia mungkin bukanlah sekedar suatu kelanjutan dari gerakan yang sama di Eropa. Kartini memang menggemakan itu. Tapi kesezamanannya dengan feminisme Eropa di akhir abad ke-19, dan cepatnya pengaruh Kartini sendiri secara meluas di Indonesia, melintasi  pelbagai suku dan agama, menunjukkan adanya dinamika tersendiri dalam masyarakat kita waktu itu sudah. Suatu studi sejarah sosial di Indonesia tentang wanita barangkali akan mengemukakan hal-hal yang jarang diduga.

Misalnya bagaimana sebenarnya seluk-beluk lebih lengkap Sultanah Safiatuddin di Aceh di abad ke-17? Bagaimana pula dengan Siti Aisya We Tenriolle, kepala negara di Sulawesi Selatan di pertengahan abad ke-19? Harsya W. Bachtiar, yang menulis tentang perlunya penelitian sejarah lebih lanjut di seantero Nusantara, agar kita tak cuma menerima bahan lama dari orang asing, berjasa  menyebut kedua tokoh itu. Tapi kita tentu ingin tahu adakah hadirnya seorang sultan wanita dengan sendirinya merupakan indikator kedudukan tinggi wanita pada umumnya di suatu masyarakat.

Mengharukan

Tapi tentu saja fenomena Kartini bukanlah terbatas kepada masalah hubungan pria-wanita, betapapun berapi-apinya para  “feminis” Indonesia melontarkan klise-klise tentang itu tanpa henti. Dalam buku ini Menteri P&K Daoed Joesoef, untuk kata pengantar, juga berbicara tentang Kartini, pendidikan dan kebebasan manusia.

Sejarawan Abdurrachman Surjomihardjo melihat posisi Kartini dalam sejarah pemikiran Indonesia di zamannya. S. Takdir Alisjahbana, dengan menarik sekali, berbicara tentang Kartini sebagai tokoh yang terlibat, dan terbelah, oleh hipokrisi Belanda dengan politik etis dan konsep Timur-Barat-nya.

Namun yang paling mengharukan dari buku ini ialah bahwa ia ditulis oleh sejumlah orang Indonesia dari pelbagai suku, meskipun Kartini dulu hanya berbicara tentang “perempuan Jawa”. Juga bahwa ia diprakarsai oleh seorang Kristen (Prof. Ihromi), yang mengundang penulis Islam untuk berbicara. Kenyataan itu saja membuktikan bagaimana kita memang layak berbangga tentang Kartini — dan tentang tanahair kita yang cuma satu ini.

Sumber: TEMPO, T11091844, Edisi 11/09, 12 Mei 1978, hlm 16 dengan judul resensi “BUNGA RAMPAI UNTUK KARTINI”

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan