-->

Tokoh Toggle

Roni Tabroni, Penggagas Kampung Belajar

http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/04/13/04522068/roni.tabroni.penggagas.kampung.belajar
Roni Tabroni, Penggagas Kampung Belajar
Selasa, 13 April 2010 | 04:52 WIB
Yulvianus Harjono
Persoalan angka putus sekolah tinggi di daerah pelosok tidak bisa diatasi semata dengan mendekatkan sekolah atau membebaskan biaya pendidikan. Perlu penyadaran kultur lewat strategi pendekatan pendidikan nonformal yang persuasif-atraktif.
Atas alasan inilah kemudian Roni Tabroni (31) bersama rekan-rekannya para relawan mendirikan Kampung Belajar di wilayah-wilayah pelosok di Jawa Barat. Sekilas, Kampung Belajar ini tidak ubahnya taman bacaan yang ada di desa.
Tetapi, sebetulnya tidaklah sesederhana itu. Taman bacaan hanyalah pintu masuknya supaya anak-anak dan ibu-ibu serta warga setempat tertarik untuk mau belajar dan mengembangkan dirinya, ungkap Roni yang sehari-hari berprofesi sebagai dosen di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati (UIN SGD), Bandung.
Kampung Belajar tepatnya adalah pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM). Di dalamnya terdapat sekaligus kegiatan kepustakaan, pendampingan belajar, pemberantasan buta huruf latin dan Al Quran, hingga pembekalan keterampilan bagi ibu-ibu rumah tangga.
Sejak pertama berdiri awal 2008 di Desa Mandalasari, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, Kampung Belajar dalam waktu singkat direplikasi dan berdiri di tiga daerah lainnya, yaitu Sukahening dan Sukaraja di Tasikmalaya serta Cibingbin di Kuningan.
Dalam waktu singkat pula, keberadaan Kampung Belajar mampu menyedot animo masyarakat sekitar, anggotanya kini mencapai ribuan orang. Setiap muncul buku-buku baru, mesti itu laris dipinjam. Buku-buku koleksinya pun terus bertambah, kini mencapai lebih dari 4.000 buah.
Gratis
Untuk mendaftar jadi anggota ataupun menyewa, pengunjung tidak dimintai pungutan sepeser pun. “Mereka mau datang saja sudah bagus. Tidak perlu kami membebani lebih,” tuturnya.
Adalah sebuah kebahagiaan baginya melihat anak-anak di desa terpencil ini kembali bersemangat belajar. Di wilayah terpencil, mayoritas anak-anak usia 6-15 tahun telah putus sekolah. Kondisi orang-orang tua tidak kalah menyedihkan, banyak yang buta huruf.
Kondisi ini menciptakan lingkaran setan kebodohan dan kemiskinan. “Di sini, anak perempuan, keluar dari SD, harus siap putus sekolah, lalu jadi TKW. Sementara, anak laki-laki lebih banyak diminta membantu di ladang. Ini tidak bisa mudah begitu saja diintervensi”, ungkapnya.
Yang membuatnya sedih, tidak jarang anak-anak usia SMP ini ditolak saat mendaftar sekolah karena ternyata belum mahir calistung (baca, tulis, dan menghitung). Banyak dari mereka yang tidak pede kembali ke sekolah sehingga akhirnya pilih jadi buruh dan TKW, tuturnya menunjuk kondisi di Cipatat.
Membuat supaya anak-anak ini mau berkunjung ke Kampung Belajar, awalnya juga tidak mudah. Untuk menarik mereka datang, dibantu para relawan, Roni punya pendekatan yang unik. Misalnya, ketika liburan sekolah tiba, mereka mengadakan permainan grup, outbound , botram (makan bareng), hingga pemutaran film-film mendidik dan menyenangkan.
Lain lagi strategi untuk mengundang ibu-ibu buta huruf agar dengan senang hati belajar calistung. “Biasanya, kami kemas dengan acara keterampilan, misalnya, bikin kue. Dari sini, kan, muncul resep, misal, butuh terigu satu kilo. Nah, dari sini, mereka pelan-pelan tanpa sadar belajar membaca dan mengenal angka”, ungkap Roni.
Para relawan yang dibebani mengajar bukan sembarang tutor. Mereka sebelumnya telah dibekali dengan pendidikan dan pelatihan dengan metode ACM (aku cepat membaca) yang telah dikembangkan sejumlah pakar pendidikan. Sementara, untuk memberantas buta huruf Arab, digunakan metode Al-Barqi dengan proyeksi dalam delapan jam sudah bisa membaca.
Relawan-relawan
Kampung Belajar mengandalkan relawan-relawan di dalam operasional kegiatannya. Tutor, pengajar, hingga penjaga taman bacaan berasal dari berbagai unsur, baik mahasiswa dari UIN Sunan Gunung Djati maupun guru dan pelajar di desa setempat. Namun, jumlahnya saat ini hanya 10 relawan.
Dengan dikelola oleh unsur warga setempat, akseptansi masyarakat diharapkan lebih tinggi. Di Kuningan, misalnya, relawan penjaga taman bacaan adalah seorang pelajar kelas dua SMP. “Soalnya, di sana, anak SMP ini yang paling tinggi sekolahnya, dibandingkan lainnya””, katanya.
Roni bercerita, Kampung Belajar merupakan bagian dari program TEPAS Institute, sebuah organisasi pemberdayaan masyarakat yang diikutinya. “Kebetulan, oleh TEPAS, saya ini kebagian tugas di wilayah Bandung Barat. Ketika melihat kondisi di sana, saya berpikir, warga membutuhkan hal yang nyata”, paparnya.
Namun, kemudian, banyak pihak yang bertanya-tanya, dari mana Roni dan Kampung Belajar bisa mendapatkan banyak koleksi buku dalam waktu singkat, padahal tanpa memungut bayaran dari warga. “Ini didapat dari donatur dan kerja keras”, jawab Roni.
Ia mengembangkan jaringan dengan organisasi-organisasi sosial, badan perpustakaan daerah, termasuk penerbit buku, untuk bisa mendapatkan sumbangan buku. Para relawan, khususnya mahasiswa, juga digerakkan untuk mengumpulkan buku-buku di kampus.
Namun, ujar Roni, tidak jarang pula pihaknya melakukan jemput bola, meminta sumbangan buku. Bahkan, pernah ia menyelamatkan buku yang nyaris dibuat bubur kertas
Internet
Kini, pencarian donatur buku bahkan sudah dikembangkan jauh, yaitu melalui media internet. Situs jejaring sosial Facebook digunakan, termasuk laman ( website ) www.kampungbelajar.com.
Dalam dua tahun terakhir, minat membaca warga di lokasi Kampung Belajar terus meningkat. Sayangnya, pihaknya tidak bisa setiap saat menambah dan memperbarui koleksi. “Padahal, meskipun sudah lecek, cetakannya lama, asalkan masih terbilang keluaran baru seperti novel Laskar Pelangi , mesti habis dipinjam”, ungkapnya.
Namun, repotnya, karena tidak memberlakukan pola pendaftaran anggota secara ketat, terkadang, buku ini lama dipinjam, tidak dikembalikan.
“Anggap saja sedang keliling-keliling, suatu hari nanti kembali sendiri kok. Mereka, kan, sadar, warga lainnya juga sama-sama butuh”, ucapnya tersenyum.
Dia mengharapkan, warga perkotaan yang jauh lebih beruntung mau peduli terhadap pendidikan di daerah pelosok. Paling tidak, dengan turut berpartisipasi menyumbang buku bacaan bekas. Sedikit, tapi amat berarti buat mereka.
***
RONI TABRONI
Lahir : Tasikmalaya, 27 September 1978
Pendidikan :
– SMA, Singaparna, Tasikmalaya (1998)
– Sarjana, Ilmu Komunikasi Universitas Islam Sunan Gunung Djati Bandung (2003)
– Magister, Jurusan Ilmu Komunikasi Politik Universitas Islam Bandung
Istri : Dewi Mulyani (27)
Anak : Damai A Syuhda (2)
Pekerjaan : Dosen di Universitas Islam Sunan Gunung Djati
Organisasi :
– TEPAS Institute
– ICMI Jabar – Peace Generation Indonesia, wilayah Bandung

Sumber: Kompas

Sumber: Kompas

Oleh: Yulvianus Harjono

Persoalan angka putus sekolah tinggi di daerah pelosok tidak bisa diatasi semata dengan mendekatkan sekolah atau membebaskan biaya pendidikan. Perlu penyadaran kultur lewat strategi pendekatan pendidikan nonformal yang persuasif-atraktif.

Atas alasan inilah kemudian Roni Tabroni (31) bersama rekan-rekannya para relawan mendirikan Kampung Belajar di wilayah-wilayah pelosok di Jawa Barat. Sekilas, Kampung Belajar ini tidak ubahnya taman bacaan yang ada di desa.

Tetapi, sebetulnya tidaklah sesederhana itu. Taman bacaan hanyalah pintu masuknya supaya anak-anak dan ibu-ibu serta warga setempat tertarik untuk mau belajar dan mengembangkan dirinya, ungkap Roni yang sehari-hari berprofesi sebagai dosen di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati (UIN SGD), Bandung.

Kampung Belajar tepatnya adalah pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM). Di dalamnya terdapat sekaligus kegiatan kepustakaan, pendampingan belajar, pemberantasan buta huruf latin dan Al Quran, hingga pembekalan keterampilan bagi ibu-ibu rumah tangga.

Sejak pertama berdiri awal 2008 di Desa Mandalasari, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, Kampung Belajar dalam waktu singkat direplikasi dan berdiri di tiga daerah lainnya, yaitu Sukahening dan Sukaraja di Tasikmalaya serta Cibingbin di Kuningan.

Dalam waktu singkat pula, keberadaan Kampung Belajar mampu menyedot animo masyarakat sekitar, anggotanya kini mencapai ribuan orang. Setiap muncul buku-buku baru, mesti itu laris dipinjam. Buku-buku koleksinya pun terus bertambah, kini mencapai lebih dari 4.000 buah.

Gratis

Untuk mendaftar jadi anggota ataupun menyewa, pengunjung tidak dimintai pungutan sepeser pun. “Mereka mau datang saja sudah bagus. Tidak perlu kami membebani lebih,” tuturnya.

Adalah sebuah kebahagiaan baginya melihat anak-anak di desa terpencil ini kembali bersemangat belajar. Di wilayah terpencil, mayoritas anak-anak usia 6-15 tahun telah putus sekolah. Kondisi orang-orang tua tidak kalah menyedihkan, banyak yang buta huruf.

Kondisi ini menciptakan lingkaran setan kebodohan dan kemiskinan. “Di sini, anak perempuan, keluar dari SD, harus siap putus sekolah, lalu jadi TKW. Sementara, anak laki-laki lebih banyak diminta membantu di ladang. Ini tidak bisa mudah begitu saja diintervensi”, ungkapnya.

Yang membuatnya sedih, tidak jarang anak-anak usia SMP ini ditolak saat mendaftar sekolah karena ternyata belum mahir calistung (baca, tulis, dan menghitung). Banyak dari mereka yang tidak pede kembali ke sekolah sehingga akhirnya pilih jadi buruh dan TKW, tuturnya menunjuk kondisi di Cipatat.

Membuat supaya anak-anak ini mau berkunjung ke Kampung Belajar, awalnya juga tidak mudah. Untuk menarik mereka datang, dibantu para relawan, Roni punya pendekatan yang unik. Misalnya, ketika liburan sekolah tiba, mereka mengadakan permainan grup, outbound , botram (makan bareng), hingga pemutaran film-film mendidik dan menyenangkan.

Lain lagi strategi untuk mengundang ibu-ibu buta huruf agar dengan senang hati belajar calistung. “Biasanya, kami kemas dengan acara keterampilan, misalnya, bikin kue. Dari sini, kan, muncul resep, misal, butuh terigu satu kilo. Nah, dari sini, mereka pelan-pelan tanpa sadar belajar membaca dan mengenal angka”, ungkap Roni.

Para relawan yang dibebani mengajar bukan sembarang tutor. Mereka sebelumnya telah dibekali dengan pendidikan dan pelatihan dengan metode ACM (aku cepat membaca) yang telah dikembangkan sejumlah pakar pendidikan. Sementara, untuk memberantas buta huruf Arab, digunakan metode Al-Barqi dengan proyeksi dalam delapan jam sudah bisa membaca.

Relawan-relawan

Kampung Belajar mengandalkan relawan-relawan di dalam operasional kegiatannya. Tutor, pengajar, hingga penjaga taman bacaan berasal dari berbagai unsur, baik mahasiswa dari UIN Sunan Gunung Djati maupun guru dan pelajar di desa setempat. Namun, jumlahnya saat ini hanya 10 relawan.

Dengan dikelola oleh unsur warga setempat, akseptansi masyarakat diharapkan lebih tinggi. Di Kuningan, misalnya, relawan penjaga taman bacaan adalah seorang pelajar kelas dua SMP. “Soalnya, di sana, anak SMP ini yang paling tinggi sekolahnya, dibandingkan lainnya””, katanya.

Roni bercerita, Kampung Belajar merupakan bagian dari program TEPAS Institute, sebuah organisasi pemberdayaan masyarakat yang diikutinya. “Kebetulan, oleh TEPAS, saya ini kebagian tugas di wilayah Bandung Barat. Ketika melihat kondisi di sana, saya berpikir, warga membutuhkan hal yang nyata”, paparnya.

Namun, kemudian, banyak pihak yang bertanya-tanya, dari mana Roni dan Kampung Belajar bisa mendapatkan banyak koleksi buku dalam waktu singkat, padahal tanpa memungut bayaran dari warga. “Ini didapat dari donatur dan kerja keras”, jawab Roni.

Ia mengembangkan jaringan dengan organisasi-organisasi sosial, badan perpustakaan daerah, termasuk penerbit buku, untuk bisa mendapatkan sumbangan buku. Para relawan, khususnya mahasiswa, juga digerakkan untuk mengumpulkan buku-buku di kampus.

Namun, ujar Roni, tidak jarang pula pihaknya melakukan jemput bola, meminta sumbangan buku. Bahkan, pernah ia menyelamatkan buku yang nyaris dibuat bubur kertas

Internet

Kini, pencarian donatur buku bahkan sudah dikembangkan jauh, yaitu melalui media internet. Situs jejaring sosial Facebook digunakan, termasuk laman (website) www.kampungbelajar.com.

Dalam dua tahun terakhir, minat membaca warga di lokasi Kampung Belajar terus meningkat. Sayangnya, pihaknya tidak bisa setiap saat menambah dan memperbarui koleksi. “Padahal, meskipun sudah lecek, cetakannya lama, asalkan masih terbilang keluaran baru seperti novel Laskar Pelangi , mesti habis dipinjam”, ungkapnya.

Namun, repotnya, karena tidak memberlakukan pola pendaftaran anggota secara ketat, terkadang, buku ini lama dipinjam, tidak dikembalikan.

“Anggap saja sedang keliling-keliling, suatu hari nanti kembali sendiri kok. Mereka, kan, sadar, warga lainnya juga sama-sama butuh”, ucapnya tersenyum.

Dia mengharapkan, warga perkotaan yang jauh lebih beruntung mau peduli terhadap pendidikan di daerah pelosok. Paling tidak, dengan turut berpartisipasi menyumbang buku bacaan bekas. Sedikit, tapi amat berarti buat mereka.

Lahir : Tasikmalaya, 27 September 1978

Pendidikan :

– SMA, Singaparna, Tasikmalaya (1998)

– Sarjana, Ilmu Komunikasi Universitas Islam Sunan Gunung Djati Bandung (2003)

– Magister, Jurusan Ilmu Komunikasi Politik Universitas Islam Bandung

Istri : Dewi Mulyani (27)

Anak : Damai A Syuhda (2)

Pekerjaan : Dosen di Universitas Islam Sunan Gunung Djati

Organisasi :

– TEPAS Institute

– ICMI Jabar – Peace Generation Indonesia, wilayah Bandung

Sumber: Kompas, 13 April 2010

4 Comments

rimba - 17. Apr, 2010 -

sekolah formal selama ini tidak sanggup menjawab terhadap kenyataan yang ada…justru dengan non formal pendidikan bisa tersalurkan dan bisa memberikan jwaban yang ada.selamat mas. mohon saya dikirimin contak personnya mas roni…terimakasih..ni no saya 081931765647. terimakasih sekali.

A Iwan Kapit - 23. Apr, 2010 -

Keren….Mudah2an Gelaran buku Jambu bisa seperti ini

IBOEKOE - 23. Apr, 2010 -

@Iwan Kapitan: lha, kamu tundukkan dulu PNFI Kediri itu… Kamu tahu di mana Kecamatan Pajarakan yg dusunnya bernama Lemah Tulis???

rahani dwiyana - 03. Nov, 2010 -

saya siap bantu apa aja kak termasuk sumbangan buku2 atau jadi relawannya mohon kontak yah 085295257612

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan