-->

Lainnya Toggle

Perempuan dan Dinamika Literasi Surabaya

Oleh Susilia Damayanti*

Dalam salah satu karyanya yang berjudul Bumi Manusia, sastrawan besar Indonesia Pramoedya Ananta Toer menyebut keberadaan Nyai Ontosoroh yang tinggal di kawasan Wonokromo, Surabaya. Pram mengisahkan, sang Nyai adalah sosok perempuan yang sangat akrab dengan aktivitas membaca sehingga membuat dirinya menjadi perempuan berdaya dalam menghadapi kehidupan.

Kisah Nyai Ontosoroh ini menyiratkan bahwa sesungguhnya ada kedekatan kaum perempuan Surabaya dengan dinamika literasi diakhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Terlepas dari kisah Nyai Ontosoroh tersebut adalah fiksi atau fakta, yang bisa dipetik adalah sebuah semangat melek literasi ditandai dengan aktivitas membaca, yang sedang tumbuh berkembang pada kaum perempuan memasuki abad ke-20.

R.A. Kartini (1879-1904) menjadi salah satu sosok yang lekat dalam ingatan kolektif masyarakat Indonesia kini, sebagai figur yang menunjukkan bagaimana sebuah kesadaran baru kaum perempuan sedang menyingsing.

Sebagaimana Nyai Ontosoroh yang sangat mahir berbahasa Belanda serta membaca buku-buku dalam bahasa kolonial itu, Kartini bersama saudara-saudara perempuannya juga memperlihatkan kepiawaian berbahasa yang sangat luar-biasa berkat aktivitas membaca dan menulis.

Dalam pendahuluan untuk buku Realizing the Dream of R.A. Kartini (2008), sejarawan Belanda Joost Coté menyebutkan, baik Kartini, Roekmini, maupun Kardinah sudah terbiasa membaca serta mendiskusikan buku, majalah, dan jurnal berbahasa Belanda. Dari 1895 hingga 1899 Marie Ovink-Soer, seorang istri pejabat pemerintah kolonial Belanda, bahkan memperkenalkan Kartini bersaudara pada buku-buku sastra feminis kontemporer Belanda.

Kilas Literasi Surabaya

Pada masa yang sama ketika Kartini bersaudara di Jepara aktif berkorespondensi dengan rekan-rekannya di Belanda, Kota Surabaya sudah menjadi metropolitan. Sejarawan Belanda Kees Groeneboer dalam bukunya Jalan ke Barat (127: 1995) menyebut bahwa pada 1894 telah berdiri perkumpulan guru bahasa Belanda di Jakarta dan Surabaya. Sejarawan ini mencatat, perkembangan aktivitas literasi di Surabaya lebih dinamis dibanding Jakarta pada masa itu.

Berkat aktivitas perkumpulan itu, metode pengajaran bahasa Belanda pun mengalami perbaikan sehingga memungkinkan para siswa sekolah di Surabaya mempunyai kesempatan membaca literatur berbahasa Belanda. Bahkan, koran era kolonial Soerabaiasch Handelsblad secara rutin menerbitkan sisipan bertajuk Indische Kinder-Courant (koran kecil berisi kisah-kisah menarik). Prakarsa koran ini kemudian pada 1880 didukung pemerintah kolonial Belanda dengan memasok sisipan Indische Kinder-Courant itu sebagai bahan para guru bercerita di depan kelas.

Sesudah pemerintah kolonial mengeluarkan peraturan pada 1818 yang membuka kesempatan kaum pribumi bersekolah di Europese Lagere School (ELS), semakin banyak anak pribumi yang bersekolah di ELS Surabaya. Untuk ELS umum, siswa putra lebih banyak 67 persen daripada siswa putri. Sebaliknya, jumlah siswa perempuan justru lebih besar 70 persen dibanding siswa pria pada ELS khusus yang dibentuk oleh swasta.

Perbandingan itu menunjukkan adanya peran swasta yang signifikan dalam mendorong peningkatan literasi para perempuan, khususnya di Kota Surabaya. Aroma modernitas segera terasa ketika para perempuan Surabaya itu, baik yang berlatar belakang Indo-Eropa, Timur-Asing maupun pribumi asli, berinteraksi dalam sekolah ELS khusus tersebut.

Perempuan Surabaya juga berperan dalam modernitas teater ketika Yap Gwan Thay bersama rekan-rekannya menggagas kelompok teater modern pertama di Nusantara bernama Komedie Stamboel pada Januari 1891 di Kampung Doro, Surabaya. Dalam bukunya berjudul The Komedie Stamboel (2008), sejarawan teater Matthew Isaac-Cohen menyebut Komedie Stamboel merupakan opera Eropa versi Melayu.

Untuk bisa menyelami peran dan dialog yang dipentaskan Komedie Stamboel, para aktor dan aktris setidaknya harus pernah membaca rangkaian dongeng mancanegara, seperti Kisah 1001 Malam, yang telah ditulis ulang, baik dalam bahasa Belanda maupun bahasa Melayu. Karena itu, proses kreatif Komedie Stamboel yang mengikutsertakan kaum perempuan dalam pentas-pentasnya juga ikut mendorong para perempuan Surabaya meningkatkan kemampuan literasinya.

Memasuki era pergerakan Surabaya pada awal 1900-an, kehidupan teater dan sosialita metropolitan nyaris tergantikan oleh kemunculan organisasi-organisasi pergerakan. Kehidupan literasi Kota Surabaya mulai bergeser dari melek budaya modern menuju melek politik perlawanan. Tempat tinggal H.O.S. Cokroaminoto di Kampung Peneleh menjadi pusat persemaian aktivitas pergerakan.

Selanjutnya, era kemerdekaan telah ikut membebaskan kaum perempuan Surabaya untuk ikut mempertahankan proklamasi, terutama mereka aktif dalam dunia menulis. Sementara para perempuan Indo-Belanda terpelajar di Surabaya tak bisa berbuat apa-apa karena baru saja lepas dari penjara Jepang. Ekspresi literasi perempuan Surabaya terlihat dari keterlibatan jurnalis perempuan meliput sekaligus mengabarkan warta kemerdekaan.

Kehadiran perempuan asal AS bernama Ktut Tantri (Madame Sue) yang membantu Bung Tomo menyiarkan pidato-pidato perlawanan dalam bahasa Inggris sehingga bisa didengar seluruh dunia merupakan petunjuk penting lainnya atas peran perempuan dalam kemerdekaan. Berkat jasa Ktut Tantri, pidato heroik Bung Tomo bisa didengar masyarakat dunia melalui radio pergerakan. Namun, sungguh ironi, tatkala Ktut Tantri meninggal pada 2007 lalu di Australia, barangkali tak banyak warga Surabaya yang mengetahui berita duka itu. Membaca Sebagai Gaya Hidup

Saat ini semakin banyak tumbuh kelompok-kelompok peminat baca di Kota Surabaya. Kelompok ini muncul secara mandiri atau diberi dukungan beberapa pihak. Kelompok minat baca pun mulai tersegmentasi ke dalam beberapa jenis bahan bacaan. Deteksi Book Club yang secara rutin tampil di koran ini tiap Senin serta diprakarsai Jawa Pos merupakan fenomena baru. Aktivitas membaca menjadi bagian dari gaya hidup anak muda, termasuk perempuan muda. Membaca menjadi menyenangkan, menghibur, sekaligus pelan-pelan mencerahkan.

Jika dulu Kartini hanya membincang buku bersama saudari-saudarinya dan teman-teman korespondensinya dan hal itu tampak sebagai gaya hidup pada lingkungan terbatas, kini melalui pewartaan media di mana sebuah kelompok muda terlihat asyik riang membaca, maka gaya hidup itu tampak mulai meluas.

Perkembangan kelompok-kelompok muda peminat baca di Surabaya pun semakin marak. Membaca bukan lagi sekadar mengisi waktu luang, melainkan pelan-pelan akan menukik ke pemahaman mendalam (deep reading). Rasa ingin tahu yang besar di antaranya juga bisa dipicu dari ketertarikan pada tema-tema bacaan tertentu, apalagi jika media digital saat ini sudah sangat mendukungnya. Bisa disimpulkan, media dan suasana memang berperan penting dalam menciptakan budaya baca serta melek literasi, baik pada era Kartini maupun pada masa digital kini.(*/mik)

*) Ibu Rumah Tangga, penggiat Surabaya Women’s Book Club

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan