-->

Resensi Toggle

Panggil Aku Kartini Saja

Judul Buku: Panggil Aku Kartini Saja
Penulis: Pramoedya Ananata Toer
Penerbit: Lentera Dipantara, Jakarta
Cetakan: I, Juli 2003
Halaman: 301 halaman
JANGAN PANGGIL DIA RADEN AJENG!
P
ada 1899, seorang perempuan pribumi menampik dipanggil Raden Ajeng. Sebagai putri seorang bupati, sebenarnya ia berhak menerima penghormatan itu. Tapi setegasnya ia tolak. Di sebuah suratnya, perempuan itu menulis: “Panggil Aku Kartini saja—itulah namaku!”
Apa yang menarik dari kutipan di atas? Singkat saja: Kartini (diam-diam) sudah melakukan pemberontakan atas nilai-nilai kebudayaan Jawa yang feodalistik. Tentu saja ini simpulan yang mengagetkan. Bukan apa-apa, masalahnya pemahaman kita terhadap Kartini memang amat terbatas, jika tidak disebut dangkal, atau bahkan reduksionistik: Kartini adalah pelopor emansipasi perempuan. Simak pula ritus yang diadakan tiap 21 April sebagai selebrasi kelahirannya: lomba masak-memasak atau rias-merias, sedang Ibu-ibu Dharma Wanita atau PKK mendadak pakai kebaya.
Sedemikian lama pemahaman sempit tentang Kartini itu bertahan. Pemahaman model demikian membayangi juga beberapa karya-karya penting tentang sejarah Indonesia. Kronik Sejarah Nasional Indonesia V yang disusun Marwati Djoened dan Nugroho Notosusanto. Di buku yang dianggap sebagai versi “resmi” sejarah Indonesia itu, Kartini cuma disebut dalam tiga helai halaman saja (237-239). Sebagai bandingan, lihatlah pula A History of Modern Indonesia karya M.C. Ricklefs. Karya yang dianggap salah satu kronik terbaik sejarah Indonesia modern yang ditulis orang asing itu bahkan hanya menyebutnya dalam dua paragraf saja. Di situ bukan cuma perkara kuantitas berapa kali ia disebut, melainkan kedua kronik itu juga menyederhanakan peran Kartini melulu sebagai pelopor emansipasi perempuan, khususnya di bidang pendidikan.
Cuma segelintir yang mencoba mencari tahu, kalau Kartini bukan sekadar pelopor emansipasi perempuan, melainkan –seperti yang coba ditunjukkan oleh Pram dengan penuh semangat di buku ini– juga “pengkritik yang tangguh dari feodalisme Jawa dengan segala tetek bengek kerumitannya”, sekaligus juga sebagai “pemula dari sejarah modern Indonesia”.
Panggil Aku Kartini Saja adalah biografi yang mencoba menelusuri riwayat Kartini selengkap-lengkapnya, termasuk peran-peran yang selama ini terlampau disederhanakan, berikut segala kelebihan dan kekurangannya sebagai manusia.
Dalam kata pengantar untuk bukunya ini, Pramoedya Ananta Toer menulis: “… Kartini disebut-sebut… bukan sebagai manusia biasa, …serta menempatkannya ke dalam dunia dewa-dewa. Gambaran orang tentangnya dengan sendirinya menjadi palsu, karena kebesaran tidak dibutuhkan, orang hanya menikmati candu mitos. Padahal Kartini sebenarnya jauh lebih agung daripada total jenderal mitos-mitos tentangnya.”
****
Pramoedya langsung mengajak pembacanya berpolemik dengan mengatakan “Kartini sebagai pemikir modern Indonesia pertama-tama, yang tanpanya, penyusunan sejarah modern Indonesia tidaklah mungkin.” (hal. 14) Ini jelas menantang. Pram bukannya tidak mengerti betapa posisi Kartini di kalangan Indonesia sendiri masih diperdebatkan. Alih-alih menyebutnya “pahlawan bangsa”, sementara orang malah lebih menganggap Kartini sebagai “orang Belanda” yang dididik dengan cara dan dalam kultur Belanda, yang dikemudian hari juga hanya menulis dalam Belanda, bukan Melayu atau Jawa.
Masalahnya, demikian Pram, Kartini memang tidak pernah mendapat pelajaran bahasa Melayu atau Jawa (hal. 204). Pelajaran yang diterimanya di Sekolah Rendah memang hanya bahasa Belanda. Tetapi bukan berarti Kartini tak mencoba belajar menulis bahasa Melayu dan Jawa. Dalam surat bertarikh 11 Oktober 1902 untuk karibnya, Stella Zeehandelaar, Kartini sudah berangan-angan: “Kelak aku akan menempuh ujian bahasa-bahasa pribumi, Jawa dan Melayu.”
Tapi faktanya, Kartini cuma dikenal sebagai pengarang berbahasa Belanda. Hal ini bisa jadi berkait erat dengan pilihan Kartini yang lebih memilih audiens yang berbahasa Belanda. Jadi ini soal pilihan. Lantas, kenapa Kartini lebih memilih pembaca berbahasa Belanda? Pram menjawab: “Kartini memang dengan sadar hendak memberikan arah baru pada kaum intelektual yang pada masa itu berbahasa Belanda. Lagi pula, jika ia menulis bahasa Jawa, toh masih amat sedikit publik Jawa yang bisa baca-tulis.” Ia khawatir yang ia tulis akan sia-sia.
Lantas, bagaimana menjelaskan Kartini sebagai “pemikir Indonesia modern pertama yang menjadi pemula sejarah Indonesia modern sekaligus”? Pram memberi ancang-ancang: Jangan lupakan kenyataan historis betapa Kartini saat itu hidup dalam taraf kesadaran nasional yang paling awal, yang masih berbentuk embrio serta masih jauh dari kebulatan. Dengan ancang-ancang itu, kita tak keget sewaktu membaca Door duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang) kita tak temui kata “kesadaran nasional”, “nasionalisme”, “demokrasi”, “negara”, “bangsa” hingga “kemerdekaan”. Tanpa pemahaman akan latar historis Kartini hidup, kita berarti tak mau tahu akan posisi Kartini.
Dalam gumpalan otak dan hati Kartini, kesadaran nasional itu muncul dalam bentuknya yang “halus dan diam-diam”, tapi bukannya tak disadari. Simak kata-katanya: “Rasa setiakawan memang tiada terdapat pada masyarakat Inlander, dan sebaliknya yang demikianlah justru yang harus disemaikan, karena tanpa dia kemajuan Rakyat seluruhnya tidak mungkin.” (hal. 106). Kita tahu, frase “setiakawan” yang disebutnya itu dikemudian hari kembali muncul dalam bentuk yang berbeda, tapi dengan arti yang kurang lebih hampir sama, yaitu “persatuan dan kesatuan”.
Rasa setiakawan yang diserukannya itu ia tujukan kepada dua arah sekaligus: bangsawan pribumi yang doyan dijilat dan para penjajah Eropa. Kartini dengan cerdas berhasil memetakan watak kebanyakan bangsawan pribumi yang doyan “jilat ke atas, injak ke bawah”. Sukar membayangkan bahwa pada masa di mana feodalisme masih kuat berurat, Kartini yang juga adalah seorang bangsawan, lantang menulis: “Tiada yang lebih gila dan bodoh daripada melihat orang, yang membanggakan asal keturunannya itu.”
Dan itu tak cuma diucapkan. Ia mempraktekkannya langsung. Ia menolak dipanggil Raden Ajeng. Ia juga melarang adik-adiknya untuk menyembah dan membungkuk jika hendak berlalu di depannya, suatu aturan yang sebenarnya menjadi norma yang pantang dilanggar di rumah Kartini. Tapi toh ia lakukan juga. Kartini juga tegas mengatakan bahwa adat yang dihayatinya hanya kewajiban menghormat pada orang tua. Selain dari itu ia kritik habis.
Dalam bentuk yang mungkin tak disadarinya, ia juga menjadi pelopor kesetiakawanan yang melintasi batas teritori dan budaya. Ketika Kartini terpaksa menampik beasiswa balajar ke Belanda, ia memohon (merekomendasi) agar beasiswa itu dialihkan saja kepada seorang pemuda Sumatera yang menurutnya amatlah pandai dan berbakat yang sayangnya tidak memiliki kecukupan biaya. Siapa pemuda yang dimaksudkan Kartini? Tak lain adalah Haji Agus Salim. Kartini tidak merekomendasikan salah satu adik perempuannya maupun pemuda Jawa lain yang ia kenal. Dengan demikian, pinjam bahasa Pram, ia sudah terbebas dari jebakan “provinsialisme”.
Dalam surat-suratnya, kita akan ketahui juga betapa Kartini telah dengan jeli membaca maksud dan kehendak di balik kebaikan pemerintah kollonial lewat program Politik Etis. Ia sadar, bahwa pribumi boleh melakukan apapun, kecuali mencoba untuk menyamai apalagi melampaui orang-orang Belanda. “Orang Belanda menertawakan dan mencemoohkan kebodohan kami, tetapi bila kami coba memajukan diri kami, sikapnya pun terhadap kami mengancam,” tulisnya kepada Ny. Ovink Soer. Samar-samar, ia mengerti bahwa kebaikan yang dilakukan Belanda pada pribumi dan dirinya dalam bentuk politik etis, tak lebih dalam kerangka kepentingan kolonial.
Kartini memang banyak mengemukakan kekaguman pada kebudayaan Eropa. “Pergi ke Eropa! Sampai napasku yang penghabisan akan tetap jadi cita-citaku, katanya kepada Ny. Ovink Soer. Di lain waktu, Kartini juga berkeyakinan bahwa Eropa sebenarnya bisa berbuat dan membuka kemungkinan baru yang lebih baik bagi pribumi. Hanya saja penting diingat, bahwa Kartini tidak buta dan terpesona habis oleh prestasi bangsa Eropa. Kartini sudah sadar bahwa Eropa bukan satu-satunya pola yang harus diikuti. Ia juga sadar bahwa Eropa bukanlah surga.
Yang ia lakukan dan katakan karenanya bukanlah pembenaran terhadap penjajahan. Sama sekali tidak. Pram yakin, Kartini “…dengan ketajaman daya observasinya melihat kekuatan-kekuatan yang ada pada penjajah, mengambilnya, dibawanya pulang, untuk memperlengkapi bangsanya dengan kekuatan baru.” (hal. 124) Mungkin lebih tepat dikatakan, Kartini melakukan penguasaan atas realitas dan lantas menggunakannya.
Adalah luar biasa membayangkan seorang perempuan bumiputera berusia duapuluh (saat Kartini mulai menulis surat-suratnya), yang cuma tamatan Sekolah Rendah, tanpa kesempatan meneruskan sekolah, dan hanya susah payah belajar sendiri, bisa sedemikian maju pikiran, pengetahuan dan kepeloporannya. Karenanya janggal jika pribadi dengan kemampuan dan jasa yang demikian besar hanya dirayakan dan dihormati dengan ritus lomba masak-memasak dan rias-merias.
Lewat karyanya ini, Pramoedya menerangkan kalau silap paham dan penyederhanaan peran serta pemikiran Kartini adalah strategi pemerintahan kolonial Belanda. Mereka memang memunculkan Kartini sebagai pribadi maju demi kepentingan kampanye politik etis mereka, untuk membuktikan bahwa pemerintah kolonial tidak kalah dengan Inggris di India dalam hal memajukan pribumi. Tetapi mereka mencoba menutupi peran dan pikiran Kartini, terutama yang berkaitan dengan kritiknya terhadap ketimpangan relasi antara “yang terjajah” dengan “yang dijajah”.
Argumen yang sama pernah diajukan pula oleh Pram dalam bukunya yang lain, Sang Pemula, untuk menjelaskan musabab kenapa pribadi R.M. Tirtoadhiseoerjo dengan peran dan sumbangannya yang demikian besar bagi pergerakan nasional bisa nyaris tak dikenal oleh kebanyakan masyarakat Indonesia. Bedanya, peran dan kontribusi Tirto menurut Pram diamblaskan oleh pemerintah kolonial melalui tangan DR. Rinkes, sedang Kartini peranannya disederhanakan pemerintah kolonial via tangan keluarga Abendanon, yang dalam terbitan Door duisternis tot Licht, terlampau banyak menyortir surat-surat Kartini yang isinya jauh lebih “galak”.
***
Panggil Aku Kartini Saja bukanlah karya tanpa nila. Dalam beberapa bagian, Pramoedya tampak agak berlebihan dalam melakukan interpretasi. Hanya karena pernah membaca karya penting kaum feminis macam Berthold Maryan-nya Huygens dan Hilda van Suylenberg, Pram berani mendedahkan interpretasi betapa “…Kartini telah sampai pada teori tentang Revolusi Sosialis, yang bertujuan merobohkan nilai-nilai secara total, dan menggantinya dengan nilai-nilai baru.” (hal. 169)
Ketika Kartini mengaku telah membaca De Varlandsche Geschiedenis (Sedjarah TanahAir Belanda), Pram juga dengan berani memberi interpretasi bahwa buku itulah “…yang meresapkan pengertian dalam kalbu Kartini, bahwa kekuatan sesuatu negeri sama sekali tidak terletak pada besar kecilnya jumlah penduduk, …pastilah Kartini mengagumi perjuangan patriotik Willem van Oranje, …dan juga mengagumi perlawanan kesatuan rakyat jelata yang dinamai Watergauzen.” (hal. 145) Interpretasi itu mungkin agak berlebihan, mengingat dalam suratnya, Kartini hanya menyebut betapa menyenangkannya membaca buku itu. Lain tidak.
Dalam historiografi, interpretasi tentu saja bukan barang haram. Tak ada historiografi tanpa interpretasi. Tetapi, interpretasi hanya dimungkinkan selama sumber-sumber sejarah (baik primer atau sekunder) itu tersedia secara memadai. Di sinilah barangkali pangkal soal terletak. Seperti diakui Pram di pengantarnya, bahan-bahan untuk penelitian ini memang amat terbatas. Alasan klasik ketiadaan dana menjadi pangkalnya. Ujungnya, Pram tak mungkin mencari sumber penting lain yang hanya bisa diperoleh di Belanda sana.
Demikianlah, sekalipun di sana-sini kental dengan corak analisis realisme sosialis yang memang teguh dianut Pram, buku ini menjadi salah satu interpretasi paling luas dan terbaik tentang Kartini yang pernah ditulis orang Indonesia. Lewat buku ini, pembaca akan mengenal kehidupan Kartini dengan lebih seksama. Pembaca akan mengerti pula, betapa minat Kartini tak cuma di bidang pengajaran perempuan, melainkan juga pada lapangan seni. Dengan sumber-sumber yang jauh lebih lengkap ketimbang Door duisternis tot Licht, Pram secara luas membahas Kartini sebagai pribadi yang memiliki bakat di bidang membatik, melukis, musik dan tentu saja, karang-mengarang.
Pram juga berani melakukan telaah tentang aspek kejiwaan/mentalitet Kartini (bab VI: Sedikit tentang Kondisi kejiwaan Kartini). Telaah kejiwaan yang dilakukannya memang tidak sebanding dengan In Search of Nixon: A Pscychohistorical Inquiry-nya Bruce Mazlich atau telaah kejiwaan seorang Musa oleh Freud lewat esai Moses and Monotheism. Tetapi, mengingat Pram tidak pernah mengecap pendidikan sejarah secara formal, apa yang dilakukannya agak mengejutkan. Dalam bentuknya yang sederhana dan longgar di sana-sini, ia telah menerapkan apa yang di hari ini lazim disebut sebagai psikohistori atau sejarah kejiwaan.
Karya ini memang tidak memenuhi target seperti yang dipancangkan penulisnya sendiri yang bermaksud menghadirkan Kartini “bukan sebagai dewa-dewa”. Pasalnya, buku ini lebih banyak berisi senarai puja-puji dan minim kritik terhadap Kartini. Barangkali, penerbitan dua jilid terakhir naskah Panggil Aku Kartini Saja bisa memenuhi hasrat itu. Sayangnya, kuku bengis nan bar-bar Orde Baru telah menghancurkan dua jilid terakhir buku ini, sehingga cuma dua jilid awal ini saja yang bisa kita nikmati.
Lewat buku ini, Pram ingin mengingatkan betapa kita pernah memiliki Kartini: perempuan yang dikepung berlapis-lapis kerterbatasan dan hambatan, tetapi justru memiliki cita-cita dan potensi yang jauh lebih besar dari yang pernah kita kira sebelumnya.
Membaca buku ini mengingatkan saya pada bait keempat sajak Dari Raden Ajeng Kartini untuk Maria Magdalena Pariyem. Di sajaknya itu, Joko Pinurbo menulis: “Seperti kukatakan pada Ny. Abendanon dan Stella: ingin rasanya aku menembus gerbang cakrawala.”
Barangkali, Kartini sebenarnya telah berhasil menembus gerbang itu.

Oleh: Zen RS

kartini pramPanggil Aku Kartini Saja | Pramoedya Ananata Toer | Lentera Dipantara, Jakarta | Juli 2003 | 301 halaman

Pada 1899, seorang perempuan pribumi menampik dipanggil Raden Ajeng. Sebagai putri seorang bupati, sebenarnya ia berhak menerima penghormatan itu. Tapi setegasnya ia tolak. Di sebuah suratnya, perempuan itu menulis: “Panggil Aku Kartini saja—itulah namaku!”

Apa yang menarik dari kutipan di atas? Singkat saja: Kartini (diam-diam) sudah melakukan pemberontakan atas nilai-nilai kebudayaan Jawa yang feodalistik. Tentu saja ini simpulan yang mengagetkan. Bukan apa-apa, masalahnya pemahaman kita terhadap Kartini memang amat terbatas, jika tidak disebut dangkal, atau bahkan reduksionistik: Kartini adalah pelopor emansipasi perempuan. Simak pula ritus yang diadakan tiap 21 April sebagai selebrasi kelahirannya: lomba masak-memasak atau rias-merias, sedang Ibu-ibu Dharma Wanita atau PKK mendadak pakai kebaya.

Sedemikian lama pemahaman sempit tentang Kartini itu bertahan. Pemahaman model demikian membayangi juga beberapa karya-karya penting tentang sejarah Indonesia. Kronik Sejarah Nasional Indonesia V yang disusun Marwati Djoened dan Nugroho Notosusanto. Di buku yang dianggap sebagai versi “resmi” sejarah Indonesia itu, Kartini cuma disebut dalam tiga helai halaman saja (237-239). Sebagai bandingan, lihatlah pula A History of Modern Indonesia karya M.C. Ricklefs. Karya yang dianggap salah satu kronik terbaik sejarah Indonesia modern yang ditulis orang asing itu bahkan hanya menyebutnya dalam dua paragraf saja. Di situ bukan cuma perkara kuantitas berapa kali ia disebut, melainkan kedua kronik itu juga menyederhanakan peran Kartini melulu sebagai pelopor emansipasi perempuan, khususnya di bidang pendidikan.

Cuma segelintir yang mencoba mencari tahu, kalau Kartini bukan sekadar pelopor emansipasi perempuan, melainkan–seperti yang coba ditunjukkan oleh Pram dengan penuh semangat di buku ini– juga “pengkritik yang tangguh dari feodalisme Jawa dengan segala tetek bengek kerumitannya”, sekaligus juga sebagai “pemula dari sejarah modern Indonesia”.

Panggil Aku Kartini Saja adalah biografi yang mencoba menelusuri riwayat Kartini selengkap-lengkapnya, termasuk peran-peran yang selama ini terlampau disederhanakan, berikut segala kelebihan dan kekurangannya sebagai manusia.

Dalam kata pengantar untuk bukunya ini, Pramoedya Ananta Toer menulis: “… Kartini disebut-sebut… bukan sebagai manusia biasa, …serta menempatkannya ke dalam dunia dewa-dewa. Gambaran orang tentangnya dengan sendirinya menjadi palsu, karena kebesaran tidak dibutuhkan, orang hanya menikmati candu mitos. Padahal Kartini sebenarnya jauh lebih agung daripada total jenderal mitos-mitos tentangnya.”

****

Pramoedya langsung mengajak pembacanya berpolemik dengan mengatakan “Kartini sebagai pemikir modern Indonesia pertama-tama, yang tanpanya, penyusunan sejarah modern Indonesia tidaklah mungkin.” (hal. 14)

Ini jelas menantang. Pram bukannya tidak mengerti betapa posisi Kartini di kalangan Indonesia sendiri masih diperdebatkan. Alih-alih menyebutnya “pahlawan bangsa”, sementara orang malah lebih menganggap Kartini sebagai “orang Belanda” yang dididik dengan cara dan dalam kultur Belanda, yang dikemudian hari juga hanya menulis dalam Belanda, bukan Melayu atau Jawa.

Masalahnya, demikian Pram, Kartini memang tidak pernah mendapat pelajaran bahasa Melayu atau Jawa (hal. 204). Pelajaran yang diterimanya di Sekolah Rendah memang hanya bahasa Belanda. Tetapi bukan berarti Kartini tak mencoba belajar menulis bahasa Melayu dan Jawa. Dalam surat bertarikh 11 Oktober 1902 untuk karibnya, Stella Zeehandelaar, Kartini sudah berangan-angan: “Kelak aku akan menempuh ujian bahasa-bahasa pribumi, Jawa dan Melayu.”

Tapi faktanya, Kartini cuma dikenal sebagai pengarang berbahasa Belanda. Hal ini bisa jadi berkait erat dengan pilihan Kartini yang lebih memilih audiens yang berbahasa Belanda. Jadi ini soal pilihan. Lantas, kenapa Kartini lebih memilih pembaca berbahasa Belanda? Pram menjawab: “Kartini memang dengan sadar hendak memberikan arah baru pada kaum intelektual yang pada masa itu berbahasa Belanda. Lagi pula, jika ia menulis bahasa Jawa, toh masih amat sedikit publik Jawa yang bisa baca-tulis.” Ia khawatir yang ia tulis akan sia-sia.

Lantas, bagaimana menjelaskan Kartini sebagai “pemikir Indonesia modern pertama yang menjadi pemula sejarah Indonesia modern sekaligus”? Pram memberi ancang-ancang: Jangan lupakan kenyataan historis betapa Kartini saat itu hidup dalam taraf kesadaran nasional yang paling awal, yang masih berbentuk embrio serta masih jauh dari kebulatan. Dengan ancang-ancang itu, kita tak keget sewaktu membaca Door duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang) kita tak temui kata “kesadaran nasional”, “nasionalisme”, “demokrasi”, “negara”, “bangsa” hingga “kemerdekaan”. Tanpa pemahaman akan latar historis Kartini hidup, kita berarti tak mau tahu akan posisi Kartini.

Dalam gumpalan otak dan hati Kartini, kesadaran nasional itu muncul dalam bentuknya yang “halus dan diam-diam”, tapi bukannya tak disadari. Simak kata-katanya: “Rasa setiakawan memang tiada terdapat pada masyarakat Inlander, dan sebaliknya yang demikianlah justru yang harus disemaikan, karena tanpa dia kemajuan Rakyat seluruhnya tidak mungkin.” (hal. 106).

Kita tahu, frase “setiakawan” yang disebutnya itu dikemudian hari kembali muncul dalam bentuk yang berbeda, tapi dengan arti yang kurang lebih hampir sama, yaitu “persatuan dan kesatuan”.

Rasa setiakawan yang diserukannya itu ia tujukan kepada dua arah sekaligus: bangsawan pribumi yang doyan dijilat dan para penjajah Eropa. Kartini dengan cerdas berhasil memetakan watak kebanyakan bangsawan pribumi yang doyan “jilat ke atas, injak ke bawah”. Sukar membayangkan bahwa pada masa di mana feodalisme masih kuat berurat, Kartini yang juga adalah seorang bangsawan, lantang menulis: “Tiada yang lebih gila dan bodoh daripada melihat orang, yang membanggakan asal keturunannya itu.”

Dan itu tak cuma diucapkan. Ia mempraktekkannya langsung. Ia menolak dipanggil Raden Ajeng. Ia juga melarang adik-adiknya untuk menyembah dan membungkuk jika hendak berlalu di depannya, suatu aturan yang sebenarnya menjadi norma yang pantang dilanggar di rumah Kartini. Tapi toh ia lakukan juga. Kartini juga tegas mengatakan bahwa adat yang dihayatinya hanya kewajiban menghormat pada orang tua. Selain dari itu ia kritik habis.

Dalam bentuk yang mungkin tak disadarinya, ia juga menjadi pelopor kesetiakawanan yang melintasi batas teritori dan budaya. Ketika Kartini terpaksa menampik beasiswa balajar ke Belanda, ia memohon (merekomendasi) agar beasiswa itu dialihkan saja kepada seorang pemuda Sumatera yang menurutnya amatlah pandai dan berbakat yang sayangnya tidak memiliki kecukupan biaya.

Siapa pemuda yang dimaksudkan Kartini?

Tak lain adalah Haji Agus Salim. Kartini tidak merekomendasikan salah satu adik perempuannya maupun pemuda Jawa lain yang ia kenal. Dengan demikian, pinjam bahasa Pram, ia sudah terbebas dari jebakan “provinsialisme”.

Dalam surat-suratnya, kita akan ketahui juga betapa Kartini telah dengan jeli membaca maksud dan kehendak di balik kebaikan pemerintah kolonial lewat program Politik Etis. Ia sadar, bahwa pribumi boleh melakukan apa pun, kecuali mencoba untuk menyamai apalagi melampaui orang-orang Belanda. “Orang Belanda menertawakan dan mencemoohkan kebodohan kami, tetapi bila kami coba memajukan diri kami, sikapnya pun terhadap kami mengancam,” tulisnya kepada Ny. Ovink Soer.

Samar-samar, ia mengerti bahwa kebaikan yang dilakukan Belanda pada pribumi dan dirinya dalam bentuk politik etis, tak lebih dalam kerangka kepentingan kolonial.

Kartini memang banyak mengemukakan kekaguman pada kebudayaan Eropa. “Pergi ke Eropa! Sampai napasku yang penghabisan akan tetap jadi cita-citaku,” katanya kepada Ny. Ovink Soer.

Di lain waktu, Kartini juga berkeyakinan bahwa Eropa sebenarnya bisa berbuat dan membuka kemungkinan baru yang lebih baik bagi pribumi. Hanya saja penting diingat, bahwa Kartini tidak buta dan terpesona habis oleh prestasi bangsa Eropa. Kartini sudah sadar bahwa Eropa bukan satu-satunya pola yang harus diikuti. Ia juga sadar bahwa Eropa bukanlah surga.

Yang ia lakukan dan katakan karenanya bukanlah pembenaran terhadap penjajahan. Sama sekali tidak. Pram yakin, Kartini “…dengan ketajaman daya observasinya melihat kekuatan-kekuatan yang ada pada penjajah, mengambilnya, dibawanya pulang, untuk memperlengkapi bangsanya dengan kekuatan baru.” (hal. 124) Mungkin lebih tepat dikatakan, Kartini melakukan penguasaan atas realitas dan lantas menggunakannya.

Adalah luar biasa membayangkan seorang perempuan bumiputera berusia duapuluh (saat Kartini mulai menulis surat-suratnya), yang cuma tamatan Sekolah Rendah, tanpa kesempatan meneruskan sekolah, dan hanya susah payah belajar sendiri, bisa sedemikian maju pikiran, pengetahuan dan kepeloporannya. Karenanya janggal jika pribadi dengan kemampuan dan jasa yang demikian besar hanya dirayakan dan dihormati dengan ritus lomba masak-memasak dan rias-merias.

Lewat karyanya ini, Pramoedya menerangkan kalau silap paham dan penyederhanaan peran serta pemikiran Kartini adalah strategi pemerintahan kolonial Belanda. Mereka memang memunculkan Kartini sebagai pribadi maju demi kepentingan kampanye politik etis mereka, untuk membuktikan bahwa pemerintah kolonial tidak kalah dengan Inggris di India dalam hal memajukan pribumi.

Tetapi mereka mencoba menutupi peran dan pikiran Kartini, terutama yang berkaitan dengan kritiknya terhadap ketimpangan relasi antara “yang terjajah” dengan “yang dijajah”.

Argumen yang sama pernah diajukan pula oleh Pram dalam bukunya yang lain, Sang Pemula, untuk menjelaskan musabab kenapa pribadi R.M. Tirtoadhiseoerjo dengan peran dan sumbangannya yang demikian besar bagi pergerakan nasional bisa nyaris tak dikenal oleh kebanyakan masyarakat Indonesia.

Bedanya, peran dan kontribusi Tirto menurut Pram diamblaskan oleh pemerintah kolonial melalui tangan DR. Rinkes, sedang Kartini peranannya disederhanakan pemerintah kolonial via tangan keluarga Abendanon, yang dalam terbitan Door duisternis tot Licht, terlampau banyak menyortir surat-surat Kartini yang isinya jauh lebih “galak”.

*****

Panggil Aku Kartini Saja bukanlah karya tanpa nila. Dalam beberapa bagian, Pramoedya tampak agak berlebihan dalam melakukan interpretasi. Hanya karena pernah membaca karya penting kaum feminis macam Berthold Maryan-nya Huygens dan Hilda van Suylenberg, Pram berani mendedahkan interpretasi betapa “…Kartini telah sampai pada teori tentang Revolusi Sosialis, yang bertujuan merobohkan nilai-nilai secara total, dan menggantinya dengan nilai-nilai baru.” (hal. 169)

Ketika Kartini mengaku telah membaca De Varlandsche Geschiedenis (Sedjarah TanahAir Belanda), Pram juga dengan berani memberi interpretasi bahwa buku itulah “…yang meresapkan pengertian dalam kalbu Kartini, bahwa kekuatan sesuatu negeri sama sekali tidak terletak pada besar kecilnya jumlah penduduk, …pastilah Kartini mengagumi perjuangan patriotik Willem van Oranje, …dan juga mengagumi perlawanan kesatuan rakyat jelata yang dinamai Watergauzen.” (hal. 145)

Interpretasi itu mungkin agak berlebihan, mengingat dalam suratnya, Kartini hanya menyebut betapa menyenangkannya membaca buku itu. Lain tidak.

Dalam historiografi, interpretasi tentu saja bukan barang haram. Tak ada historiografi tanpa interpretasi. Tetapi, interpretasi hanya dimungkinkan selama sumber-sumber sejarah (baik primer atau sekunder) itu tersedia secara memadai. Di sinilah barangkali pangkal soal terletak.

Seperti diakui Pram di pengantarnya, bahan-bahan untuk penelitian ini memang amat terbatas. Alasan klasik ketiadaan dana menjadi pangkalnya. Ujungnya, Pram tak mungkin mencari sumber penting lain yang hanya bisa diperoleh di Belanda sana.

Demikianlah, sekalipun di sana-sini kental dengan corak analisis realisme sosialis yang memang teguh dianut Pram, buku ini menjadi salah satu interpretasi paling luas dan terbaik tentang Kartini yang pernah ditulis orang Indonesia. Lewat buku ini, pembaca akan mengenal kehidupan Kartini dengan lebih seksama. Pembaca akan mengerti pula, betapa minat Kartini tak cuma di bidang pengajaran perempuan, melainkan juga pada lapangan seni.

Dengan sumber-sumber yang jauh lebih lengkap ketimbang Door duisternis tot Licht, Pram secara luas membahas Kartini sebagai pribadi yang memiliki bakat di bidang membatik, melukis, musik dan tentu saja, karang-mengarang.

Pram juga berani melakukan telaah tentang aspek kejiwaan/mentalitet Kartini (bab VI: Sedikit tentang Kondisi kejiwaan Kartini). Telaah kejiwaan yang dilakukannya memang tidak sebanding dengan In Search of Nixon: A Pscychohistorical Inquiry-nya Bruce Mazlich atau telaah kejiwaan seorang Musa oleh Freud lewat esai Moses and Monotheism. Tetapi, mengingat Pram tidak pernah mengecap pendidikan sejarah secara formal, apa yang dilakukannya agak mengejutkan. Dalam bentuknya yang sederhana dan longgar di sana-sini, ia telah menerapkan apa yang di hari ini lazim disebut sebagai psikohistori atau sejarah kejiwaan.

Karya ini memang tidak memenuhi target seperti yang dipancangkan penulisnya sendiri yang bermaksud menghadirkan Kartini “bukan sebagai dewa-dewa”. Pasalnya, buku ini lebih banyak berisi senarai puja-puji dan minim kritik terhadap Kartini. Barangkali, penerbitan dua jilid terakhir naskah Panggil Aku Kartini Saja bisa memenuhi hasrat itu. Sayangnya, kuku bengis nan bar-bar Orde Baru telah menghancurkan dua jilid terakhir buku ini, sehingga cuma dua jilid awal ini saja yang bisa kita nikmati.

Lewat buku ini, Pram ingin mengingatkan betapa kita pernah memiliki Kartini: perempuan yang dikepung berlapis-lapis kerterbatasan dan hambatan, tetapi justru memiliki cita-cita dan potensi yang jauh lebih besar dari yang pernah kita kira sebelumnya.

Membaca buku ini mengingatkan saya pada bait keempat sajak Dari Raden Ajeng Kartini untuk Maria Magdalena Pariyem. Di sajaknya itu, Joko Pinurbo menulis: “Seperti kukatakan pada Ny. Abendanon dan Stella: ingin rasanya aku menembus gerbang cakrawala.”

Barangkali, Kartini sebenarnya telah berhasil menembus gerbang itu.

* Zen RS, kontributor utama situs Indonesia Buku

1 Comment

Arini - 23. Apr, 2010 -

Bagi saya, terlepas dari seorang kartini perannya dibesarkan atau malah duikecilkan tak jadi masalah, yang jelas dia tetap menjadi pelopor utama yang berjasa.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan