-->

Kronik Toggle

Panggil Aku Kartini Sadja

REDAKSI. Berita ini adalah kronik klasik yang diturunkan oleh redaksi untuk melihat bagaimana sebuah peristiwa ditafsir menurut semangat zaman di mana peristiwa berlaku. Redaksi menurunkan dua kronik tentang Kartini pada tahun 1961 dan 1963.

DJAKARTA –┬áKartini dilahirkan di Djepara, 21 April 1879, wafat 17 September 1904, jang menurut penjelidikan Pramudya A.T. dibunuh oleh Belanda.

Kartini sudah banjak dikenal sebagai pentjipta mosi [tak terbaca] dinegeri Belanda, djuga adalah seorang penulis tjerpen, artikel, sandjak, pelukis dan pembatik.

“Panggil aku Kartini sadja — itulah namaku” salah satu jang pernah diutjapkan oleh Kartini sendiri, jang ternjata perkataan ini telah djadi nama buku PANGGIL AKU KARTINI SADJA, karangan Pramudya A.T., NV Nusantara, ’62, jg dlm kata sambutannja Ibu Rustiati Subandrio mengatakan bahwa dari utjapannja itu menundjukkan betapa demokratisnja. Kemudian tentang tekad perdjuangannja, Kartini berkata: “Bagaimana Pribumi djadi begitu miskin? Dan dikemlanglah penjakit rumput berpenghasilan 10 a 12 sen sehari itu dengan padjak perusahaan.” Dan selandjutnja dikatakan: “Walaupun saja akan djatuh sampainja ditengah2 djalan sadja akan mati bahagia, karena djalannja sudah akan dibuka dan saja telah menolong untuk membuka djalan pada pembebasan dan Kemerdekaan wanita Bumiputra.”
Sumber: Bintang Timur, 21 April 1963, hlm 1

“Panggil aku Kartini sadja — itulah namaku” salah satu jang pernah diutjapkan oleh Kartini sendiri, jang ternjata perkataan ini telah djadi nama buku PANGGIL AKU KARTINI SADJA, karangan Pramudya A.T., NV Nusantara, ’62, jg dlm kata sambutannja Ibu Rustiati Subandrio mengatakan bahwa dari utjapannja itu menundjukkan betapa demokratisnja.

Kemudian tentang tekad perdjuangannja, Kartini berkata: “Bagaimana Pribumi djadi begitu miskin? Dan dikemlanglah penjakit rumput berpenghasilan 10 a 12 sen sehari itu dengan padjak perusahaan.”

Dan selandjutnja dikatakan: “Walaupun saja akan djatuh sampainja ditengah2 djalan sadja akan mati bahagia, karena djalannja sudah akan dibuka dan saja telah menolong untuk membuka djalan pada pembebasan dan Kemerdekaan wanita Bumiputra.”

Sumber: Bintang Timur, 21 April 1963, hlm 1

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan