-->

Kronik Toggle

Minim Dana, Pemberantasan Buta Aksara Terganggu

Bojonegoro– Minimnya dana yang dipunyai oleh Dinas Pendidikan Daerah (Disdikda) Kabupaten Bojonegoro membuat pemberantasan buta aksara sedikit terganggu.

Walaupun begitu, pihak Bidang Pendidikan Nonformal Informal (PNFI) Disdikda, tetap berusaha semaksimal mungkin untuk menuntaskan buta aksara di Bojonegoro secepatnya.

Data yang dihimpun beritajatim.com di lapangan, Rabu (21/4/2010) menyebutkan, jika sebanyak 250 tutor dari 27 kecamatan di Bojonegoro dilatih untuk ikut mengentaskan buta aksara.

Hal itu dijadikan salah satu trobosan Disdikda untuk melakukan percepatan pemberantasan buta aksara. Dengan begitu, ke 250 tutor yang berasal dari 214 tutor usulan kecamatan dan 36 tutor berasal dari penyelenggara program, bisa dengan tetap menyentuh sasaran yang diinginkan.

Kasi Keaksaraan dan Fungsional, Bidang PNFI Disdikda Bojonegoro, Nandar menjelaskan, idealnya 850 tutor yang wajib mendapatkan pelatihan untuk program tersebut. “Namun, karena terbatasnya anggaran, pihaknya kami meringkas menjadi 250 tutor saja,” katanya.

Untuk sisanya, akan mendapat pelatihan dari tutor yang sudah dibina sebelumnya. Dengan begitu, efisiensi dana untuk pelatihan bisa diminimalisir. “Kegiatan seperti ini untuk menyiasati minimnya anggaran, dan menyesuaikan dengan target yang harus diselesaikan,” tegasnya.

Ditanya mengenai tujuan pelatihan? Nandar menjelaskan, pembekalan bagi tutor ini dimaksudkan sebagai langkah percepatan pemberantasan buta aksara, pengentasan kemiskinan dan keterbelakangan. “Pemberdayaan warga belajar KF dalam bentuk kegiatan positif, akan sangat bermanfaat untuk memberikan pengetahuan kepada penyandang buta aksara,” lanjutnya.

Tidak hanya itu saja, KF juga sebagai motivasi warga belajar untuk terus maju. “Namun, tujuan utama kegiatan ini adalah mengajarkan sasaran untuk menguasai ketrampilan dasar, baca, tulis dan berhitung,” lanjut Nandar.

Sementara itu, dari hasil pendataan tahun 2009 lalu, terdapat 37.687 peserta yang akan mengikuti program KF yang direncanakan bisa tuntas tahun ini. Dengan melihat keberadaan tutor yang ada, maka dalam satu kelompok belajar nantinya teridiri dari 40 orang, dengan pendamping 1 sampai 2 tutor.

Program KF akan dimulai pada bulan Mei hingga 6 bulan kedepan, atau sampai bulan Oktober. Dengan anggaran tiap kelompok bervariasi, tergantung sumber dana. Jika bersumber dari APBN, maka akan mendapat alokasi dana senilai Rp 3,6 juta/kelompok, dari APBD propinsi sebesar Rp 2,5 juta/kelompok dan APBD kabupaten Rp 2,370 juta/kelompok. [dul/kun]

*) Dikronik dari beritajatim, 21 April 2010

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan