-->

Lainnya Toggle

Menerbitkan Buku Indie

Oleh Kirana Kejora

Foto: http://yonathanrahardjo.wordpress.com

Foto: http://yonathanrahardjo.wordpress.com

Sebuah karya dilahirkan tentu memiliki tujuan. Untuk siapa dan untuk apa. Karya tulis diharap sang penulis pastinya berguna bagi dirinya sendiri maupun orang lain sebagai pembacanya. Selama ini masih sebuah hal yang menarik dan menjadi pilihan jika karya kita bisa jadi sebuah buku. Produk konvensional yang layak dipertahankan. Mengingat tidak semua orang bisa mengakses internet dan budaya membaca itu masih bagian dari sarana rekreasi, yaitu santai dan butuh waktu tertentu untuk melakukannya.

Banyak teman-teman penulis yang karya-karyanya bagus, sering bingung mau di kemanakan. Diterbitkan penerbit, beli putus atau main royalty atau diterbitkan sendiri. Semua pilihan punya risiko. Dengan penerbit jelas kita di bawah benderanya, bahkan di bawah bayang-bayangnya sebagai kapitalis. Sedang mau menerbitkan sendiri masih banyak bayangan kendala dan minimnya pengetahuan bagaimana menerbitkan sebuah karya dalam bentuk buku.

Sangat Sederhana

Terbitnya sebuah buku hanya butuh sebuah ISBN. ISBN, singkatan dari International Standard Book Number (Nomor Buku Standar Internasional), merupakan nomor identitas judul buku yang diterbitkan oleh setiap penerbit. Salah satu fungsi utama dari ISBN adalah untuk memperlancar arus distribusi buku, sehingga pemesanan buku dapat dilakukan berdasarkan ISBN dari buku yang bersangkutan, selain legalisasi buku yang telah tercatat nomornya. Keuntungan dari cara ini adalah dapat mencegah terjadinya kekeliruan dalam pemesanan buku yang dikehendaki. Misalnya dikarenakan oleh nama pengarang yang sama atau judul buku yang hampir sama tetapi isinya berbeda.

Pencantuman ISBN pada buku-buku yang diterbitkan sekaligus merupakan sarana promosi bagi para penerbit, karena informasi tentang ISBN ini dikumpulkan, diterbitkan dan disebarluaskan baik oleh Badan Nasional yang berada di Jakarta maupun Badan Internasional yang berlokasi di Berlin, Jerman.

Badan Nasional ISBN mempunyai tugas menyebarkan informasi ISBN melalui berbagai terbitan, seperti Bibliografi Nasional Indonesia (BNI), direktori, dan majalah Berita ISBN. Sedangkan Badan Internasionalnya mewakili Asosiasi Penerbit Internasional (International Publishers Association) dan Federasi Internasional Asosiasi-asosiasi Perpustakaan (International Federation of Library Association/IFLA). Nomor Buku Standar Internasional ini terdiri atas 10 digit angka yang mewakili tiga pengenal atau identitas dan satu pemeriksa, yaitu: 3 digit pertama berupa pengenal kelompok (group identity), empat digit kedua berupa pengenal penerbit (publisher identity), dua digit ketiga adalah pengenal judul buku (title identity), dan satu digit terakhir merupakan pemeriksa (check digit).

Dalam penulisannya, singkatan ISBN adalah dengan huruf besar dan terletak di depan angka-angka pengenal dan pemeriksa. Antara setiap bagian pengenal dan pemeriksa dibatasi oleh tanda penghubung, misalnya ISBN 979-8006-70-4. Angka pengenal kelompok ISBN untuk Indonesia adalah 979. Dengan demikian setiap judul buku yang mempunyai angka 979 berarti diterbitkan di Indonesia.

ISBN diberikan oleh Badan Internasional yang berada di Berlin, Jerman. Di Indonesia badan ini mendelegasikan wewenangnya kepada Perpustakaan Nasional RI sebagai Badan Nasional yang berhak memberikan ISBN kepada para penerbit yang memerlukannya.

Permintaan untuk mendapatkan ISBN dapat ditujukan kepada Perpustakaan Nasional RI, c.q. Pusat Layanan Informasi (Tim ISBN/KDT). Data-data buku yang perlu dikirimkan antara lain judul buku, nama pengarang/penyusun/penerjemah, cetakan/edisi/revisi, tahun terbit, dan kota terbit. Persyaratan lain adalah melampirkan halaman judul, daftar isi kata pengantar, serta surat permohonan dari kantor/lembaga yang akan menerbitkan buku yang dimintakan ISBN/KDT tersebut. Bagi penerbit yang belum mendaftar perlu mengisi surat pernyataan menjadi anggota ISBN dan KDT (Katalog Dalam Terbitan atau CIP/Cataloging In Publication).

Pembuatan ISBN ada dua jenis: Rp25.000 untuk ISBN dan KDT dan Rp60.000 untuk ISBN, KDT dan Barcode.
Badan Nasional ISBN
Tim ISBN/KDT
Pusat Layanan Informasi, Lt. IV-D
Jl. Salemba Raya 28A, PO Box 3624, Jakarta 10002
Telp. (021) 3154863-4, 3154870 (ext. 234, 247)
Fax. (021) 3103554
e-mail: info@pnri.go.id, pusnas@rad.net.id
atau Telp./Fax. di (021) 392 79 19

Distribusi

1. Langsung ke Major Label (misal : Gramedia )
Buku bisa langsung kita distribusikan melalui mereka. Gudang Pengadaan Gramedia. Jl. Cipinang Cimpedak 45A Jaktim. Biasanya jika penulis baru, butuh presentasi, buku dilihat dan dipelajari dulu. Baru keluar jawaban seminggu setelah sample buku masuk. Namun jika penulis sudah lumayan punya nama, bisa langsung mereka pesan.
(Look a book by cover n writer).

Kelebihan :
-Buku bisa menyebar ke seluruh TB Gramedia, mengingat seringnya muncul pertanyaan klise…”Bukumu sudah ada di Gramedia?” Prestige? Hmm…Nggak juga. Gramedia bukan segalanya, namun hal ini belum bisa kita pungkiri.
-Penagihan satu pintu, 3 bulan setelah buku beredar akan ada report penjualan
Kekurangan :
-Mengingat TB Gramedia terbatas di kota-kota tertentu, maka buku kita tak akan ada di daerah yang tak ada outlet mereka. Jadi terbatas.
-Gramedia punya banyak penerbitan dengan berbagai genre yang tentu saja salah satunya akan sama dengan genre buku kita. Biasanya mereka akan memprioritaskan buku-buku cetakan dari group mereka sendiri. Kecuali buku kita benar-benar dicari pembaca.
-Share penjualan 55% mereka : 45% kita (standar)

2.Langsung ke Distributor Tunggal (misal : BUKIT – BUKU KITA (Agro Media Group)
Buku bisa kita berikan tanggung jawab sepenuhnya kepada distributor tunggal.
Kelebihan :
-Ada  bantuan promo ala mereka. Misal buku kita diresensi di web-web mereka. Ketika kita ada even bedah buku, mereka akan datang dengan support penjualannya.
-Penyebaran buku tidak terbatas di TB Major Label. Namun bisa menyebar ke daerah, yang kadang pangsa pasarnya jauh lebih bagus.
-Penagihan satu pintu, 3 bulan setelah buku beredar akan ada report penjualan.

Kekurangan :
-Tidak semua buku bisa masuk TB Major Label
-Share penjualan 55% mereka : 45% kita (standar)

Promosi

Narsis bagian dari optimis, meski beda tipis dengan takabur di mata orang-orang yang menganggap kita kecil. Namun penulis wajib meyakini karyanya bagus. Bagaimana orang lain bisa yakin karya kita bagus jika hati kita sendiri tidak menghargainya. Buku adalah ruh jemari!

Jangan pernah malu perkenalkan karya. Ia adalah anak kita. Ia adalah titipan Sang Ruh!
Perluas jaringan nyata :
-Komunitas-komunitas seni budaya, social, pendidikan, atau apa saja yang bisa tertembus, sesui dengan genre buku kita.
-Kerjasama dengan pihak-pihak terkait yang peduli buku (sponsor?why not?)
Perluas jaringan maya (Banyak jadi nyatanya) :
-Promo by Twitter, Facebook, Friendster, Website / jejaring social budaya yang ada.

Sebuah pesan kecil

Menerbitkan sebuah buku butuh perjuangan panjang, namun tidak berat ketika kita bisa menikmatinya menjadi bagian dari sebuah proses memberi dan membhumi.
Hal paling sulit adalah memulai. Namun justru karena kemandirian penulis itulah akan mengambil simpati semua pihak. Akan banyak support tidak terduga untuk keberhasilan karya inde ini. Yakinilah. Karena kita melakukannya dengan hati dan logika tetap mengimbanginya.

Bicara penerbitan buku inde, bicara sebuah tantangan dan kepuasan tiada tanding. Dari semua sisi kita bisa atur semau kita. Kemerdekaan dalam penciptaan karya. Kemerdekaan jiwa-jiwa yang sebenarnya. Cover, lay out dan isi adalah benar-benar karya origi jiwa jujur kita. Hingga jalan bagaimana buku kita bisa terbang tinggi, terbaca di seluruh negeri, bahkan dunia.

Apresiasi tertinggi sebuah buku adalah dari pembacanya, just that! Bukan dari penghargaan ini itu. Best Seller sebuah buku bisa diciptakan dan diatur sedemikian rupa.
Gambling? Semua pekerjaan selalu ada unsur mengadu nasib. Sulit sekali memprediksi nasib sebuah buku. Biarkan ia menemui takdirnya. Namun jangan pernah takut untuk berjuang sesuai pilihan. Dan setialah padanya!

Indie never die!
Salam ELANG
Kirana Kejora

*) Dikronik dari OASE KOMPAS, 27 April 2010

7 Comments

Ihwan - 17. Jun, 2010 -

Saya juga baru aja nerbitin novel kedua saya secar indie, judulnya Partisi Hati. memang penuh tantangan dan butuh perjuangan ekstra, hidup Penulis Indie..!!

Deener - 24. Jun, 2010 -

Informasinya sangat membantu saya yg juga sedang bersiap menerbitkan sendiri buku-buku karangan sendiri (science Fiction). Semoga ‘ELANG’ dan karya-karya Anda lainnya semakin dikenal.
Salam.

Mars_Havellar - 30. Jun, 2010 -

Kya’a gw pernah baca artikel tentang POD dech, jadinya dengan teknologi itu penerbitan buku ga harus langsung 3000 eks gitu. . .Cocok kya’a buat penulis buku indie
http://indiekill.me

Ryzky_Widi - 20. Jul, 2010 -

Terima kasih atas infonya, saya sebenarnya masih bingung dengan menerbitkan sebuah buku. Saya sudah punya naskah, tapi mau dibawa kemana itulah yang buat pusing, saya juga nggak pingin naskah saya didiamkan saja, kan setiap ilmu harus ditularkan atau diberikan kepada orang lain, agar mereka juga menjadi pandai. Saya ingin menjadi penulis buku indie aja, tapi butuh modal dong. Hehe…

Terima kasih atas semuanya…

Anastasia Yuliantari - 04. Sep, 2010 -

Saya juga ingin menerbitkan ketiga karya saya secara indie karena penerbit biasanya butuh nama besar dulu sebelum bersedia menerima sebuah karya. Trims atas infonya.

hono triawan - 25. Sep, 2010 -

namanya indie gak butuh itu namanya isbn. Tapi pusing juga bro ngurusnya. masak jadi penulis, Produser, marketing, custemer srvce. Ah capek buanget.

fanny - 22. Des, 2010 -

setuju. harus pede menerbitkan buku karya sendiri. terima kasih ya utk infonya ttg ISBN

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan