-->

Kronik Toggle

Membaca Buku di Lereng Merapi

http://korantempo.com/korantempo/koran/2010/04/24/Berita_Utama-Jateng/krn.20100424.198091.id.html
Membaca Buku di Lereng Merapi
Bangunan semipermanen berupa satu kamar dan teras itu tak cukup besar untuk menampung ratusan anak. Masing-masing berukuran sama: 9 meter persegi. Meski disesaki anak-anak, di ruangan itu tak terdengar keriuhan khas bocah. Mereka tak saling berbicara, apalagi bercanda dengan teman sebayanya. Yang ada hanyalah suasana sunyi. Ternyata mereka semua tengah membaca.
Kegiatan ini merupakan bagian dari peringatan Hari Buku Sedunia yang digelar di Rumah Baca Komunitas Merapi, Magelang, kemarin siang. Sesuai dengan namanya, rumah baca ini terletak di lereng Gunung Merapi, di Dusun Gemer, Desa Ngargomulyo, Kecamatan Dukun, Magelang.
Ada sekitar 200 anak dari 12 dusun di desa itu yang terlibat dalam perayaan tersebut. Selain itu, kegiatan ini dimeriahkan dengan aksi teatrikal tunggal oleh seniman pantomim Yuliono dari Teater Gandrik, Yogyakarta. Dengan tema “Aksi Bisu 1 Jam”, anak-anak diajak untuk membaca bersama. “Intinya, biar suka membaca,” kata Loyola Kukuh, penggagas kegiatan itu.
Menurut dia, aksi bisu ini terinspirasi oleh tapa bisu yang dikenal dalam masyarakat Jawa. Konteks membisu harus dimaknai secara positif. Jadi, bisu tak sekadar membisu. “Hening untuk membaca,” kata dia.
Yuliono menggambarkan seseorang yang sedang mandi dengan menggunakan keranjang dari anyaman bambu dan ember kecil. Dengan menggunakan ember, katanya, akan didapat lebih banyak air daripada menggunakan keranjang bambu. Menurut dia, membaca adalah kebiasaan. Tak perlu terlalu lama, asalkan rutin dilakukan, pasti akan lebih bermanfaat. “Cukup sejam atau dua jam tiap hari,” kata dia.
Desa Ngargomulyo merupakan desa terakhir dan paling tinggi di lereng Gunung Merapi. Sejak didirikan pada 2009, rumah baca ini telah memiliki koleksi sekitar 3.000 buku dengan berbagai judul dan bahasa. Kebanyakan buku itu didapat dari sumbangan. Keberadaan rumah baca di lereng bukit terpencil itu dimaksudkan untuk membuka cakrawala dunia dengan menggunakan buku. “Dengan (membaca) buku, orang bisa menjelajah seisi dunia,” kata Kukuh. ANANG ZAKARIA

MAGELANG — Bangunan semipermanen berupa satu kamar dan teras itu tak cukup besar untuk menampung ratusan anak. Masing-masing berukuran sama: 9 meter persegi. Meski disesaki anak-anak, di ruangan itu tak terdengar keriuhan khas bocah. Mereka tak saling berbicara, apalagi bercanda dengan teman sebayanya. Yang ada hanyalah suasana sunyi. Ternyata mereka semua tengah membaca.

Kegiatan ini merupakan bagian dari peringatan Hari Buku Sedunia yang digelar di Rumah Baca Komunitas Merapi, Magelang, kemarin siang. Sesuai dengan namanya, rumah baca ini terletak di lereng Gunung Merapi, di Dusun Gemer, Desa Ngargomulyo, Kecamatan Dukun, Magelang.

Ada sekitar 200 anak dari 12 dusun di desa itu yang terlibat dalam perayaan tersebut. Selain itu, kegiatan ini dimeriahkan dengan aksi teatrikal tunggal oleh seniman pantomim Yuliono dari Teater Gandrik, Yogyakarta. Dengan tema “Aksi Bisu 1 Jam”, anak-anak diajak untuk membaca bersama. “Intinya, biar suka membaca,” kata Loyola Kukuh, penggagas kegiatan itu.

Menurut dia, aksi bisu ini terinspirasi oleh tapa bisu yang dikenal dalam masyarakat Jawa. Konteks membisu harus dimaknai secara positif. Jadi, bisu tak sekadar membisu. “Hening untuk membaca,” kata dia.

Yuliono menggambarkan seseorang yang sedang mandi dengan menggunakan keranjang dari anyaman bambu dan ember kecil. Dengan menggunakan ember, katanya, akan didapat lebih banyak air daripada menggunakan keranjang bambu. Menurut dia, membaca adalah kebiasaan. Tak perlu terlalu lama, asalkan rutin dilakukan, pasti akan lebih bermanfaat. “Cukup sejam atau dua jam tiap hari,” kata dia.

Desa Ngargomulyo merupakan desa terakhir dan paling tinggi di lereng Gunung Merapi. Sejak didirikan pada 2009, rumah baca ini telah memiliki koleksi sekitar 3.000 buku dengan berbagai judul dan bahasa. Kebanyakan buku itu didapat dari sumbangan. Keberadaan rumah baca di lereng bukit terpencil itu dimaksudkan untuk membuka cakrawala dunia dengan menggunakan buku. “Dengan (membaca) buku, orang bisa menjelajah seisi dunia,” kata Kukuh.

Sumber: Koran Tempo, 24 April 2010

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan