-->

Kronik Toggle

Klab Buku Perempuan Surabaya Kampanyekan Membaca

Oleh : ANGGRAENNY PRAJAYANTI

Dengan semangat, tiga perempuan yang duduk di kafe salah satu toko buku di Surabaya ini memperbincangkan buku berjudul Perempuan Keumala karya Endang Moerdopo.

Diskusi buku mengenai pahlawan dari Aceh ini mengalir gayeng. Susilia Damayanti yang terlebih dulu membaca buku ini menceritakan bagaimana isi buku ini dengan ekspresi penuh semangat.

”Penulisnya sangat pandai menggambarkan bagaimana satu pasukan yang isinya semuanya perempuan itu ketakutan. Tulisannya mengalir, runtut dan enak dibaca,” kata Director Surabaya Women’s Book Club, Susilia Damayanti.

Dua anggotanya yang lain, Alfawzia Nurrahmi dan Yuyun Yuniawati pun menanggapinya dengan antusias sehingga diskusi diantara ketiganya berlangsung “hidup”.

Mendiskusikan isi sebuah buku hanya menjadi satu dari banyak kegiatan yang digagas Surabaya Women’s Book Club (SWBC). Nantinya, mereka berencana mengampanyekan budaya baca buku, terutama di kalangan anak muda.

Menurut mereka, informasi yang didapat dari sebuah buku lebih utuh dibandingkan jika membaca majalah atau koran. Membaca pun tidak sekadar membaca saja, satu hal mereka tekankan adalah deep reading atau membaca secara mendalam. Sehingga mereka benar-benar bisa memahami isi buku tersebut dan mengerti apa yang mereka dapatkan dari buku tersebut. Pendeknya bisa  memahami pesan yang disampaikan oleh penulis.

Lia, panggilan akrab Susilia Damayanti menceritakan, awal mula klub ini bermula dari hasil diskusinya bersama Jenny M. Djundjung, staf di UK Petra Surabaya sekitar 1 tahun lalu. Dari yang semula hanya obrolan, keduanya sepakat untuk membuat satu kelompok baca. Kemunculan ini didasari atas keprihatinan mereka terhadap rendahnya minat baca masyarakat, terutama generasi mudanya. Akhirnya dari beberapa kali diskusi dan bedah buku yang diadakan toko buku, mereka berhasil mengumpulkan beberapa anggota.

Berdasarkan hasil diskusi, untuk meningkatkan melek literasi harus ada lembaga dan lembaga itu harus pandai membuat agenda rutin. Karena itu, setelah diluncurkan 1 Mei mendatang, secara rutin, SWBC akan mengadakan kampanye buku, bedah buku, temu penulis, talk show, book review, seminar, workshop hingga mendirikan Yayasan Buku Surabaya.

Untuk bisa dikatakan sebagai book club memang ada beberapa aturannya. Misalnya saja beranggotakan minimal 3 orang, ada satu orang pimpinan yang nantinya bertugas menjadi moderator dari diskusi dari buku yang sudah mereka baca. Sebelum diskusi, semua anggota harus sudah membaca buku yang akan didiskusikan

Meskipun bertujuan meningkatkan minat baca, tidak semuanya berasal dari dunia pendidikan. Lia misalnya, perempuan berambut pendek ini mengaku sehari-hari menjadi ibu rumah tangga. Begitu juga Alfa, panggilan Alfawzia Nurrahmi yang banyak disibukkan dengan pembuatan komik-komik. Namun demi mewujudkan impian itu mereka rela bekerja keras mewujudkan book club mereka.

Nantinya, dengan book club ini mereka ingin mengubah gaya hidup masyarakat saat ini. ”Saat ini kalau kita melihat orang-orang berkumpul di kafe, pasti lebih banyak ngerumpi. Kami ingin mengubah kebiasaan itu,” kata Alfa lagi.

Mereka mengimpikan, di kafe-kafe nantinya akan ada banyak orang yang membaca kemudian bersama kelompok-kelompok kecilnya menggali lebih dalam soal isi buku itu dan mendiskusikannya dari berbagai aspek.

Dalam waktu dekat setelah kelompok ini diluncurkan ke masyarakat SWBC akan mengadakan kompetisi book club yang diadakan untuk siswa SMP hingga mahasiswa. Masing-masing sekolah diminta mengirimkan satu kelompok book club-nya dan akan dinilai pada teknik diskusi mereka mengenai satu buah buku.

Selain itu, nantinya SWBC juga akan membangun satu perpustakaan sehingga lebih banyak orang yang bisa mengakses dan membaca buku.

”Kami juga mendukung semua anggota kami untuk menulis. Setidaknya bikin resensi,” kata Lia yang koleksi bukunya sudah mencapai ribuan ini.

Selain mendukung kegiatan menulis, di antara anggota biasanya saling ‘memamerkan’ buku apa saja yang sudah mereka baca. ”Serasa ada kebanggaan tersendiri kalau kita bisa bercerita kita sudah baca satu buku yang memang bagus dan teman-teman yang lain belum,” kata Yuyun, dosen salah satu universitas swasta di Surabaya Timur ini sambil tersenyum.

*) Dikronik dari Surabaya Post, 23 April 2010 dengan judul asli “Bentuk Book Club, Kampanyekan Budaya Gemar Baca pada Kaum Muda”

2 Comments

rama - 26. Sep, 2010 -

trz men book club di sby ada g.??? tlong dblz

Monica - 13. Des, 2010 -

Gmana cara gabungnya tuh ?

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan