-->

Kronik Toggle

Kejari Tunggu Putusan MK

Larangan Peredaran Lima Buku
Surabaya, Bhirawa
Berdasarkan Surat Keputusan (SK) Jaksa Agung RI Nomor KEP-139-143/A/JA/12/2009 tentang larangan beredarnya barang cetakan, Kejaksaan Negeri (Kejari) Surabaya melarang beredarnya lima buku karena alasan meresahkan publik dan penistaan terhadap ajaran agama.
Lima buku yang dilarang beredar itu meliputi; Dalih Pembunuhan Massal Gerakan 30 September dan Kudeta Soekarno karya John Rossa, Suara Gereja Bagi Umat Tertindas Penderitaan Tetesan Darah dan Cucuran Air Mata Umat Tuhan di Papua Barat Harus Diakhiri karya Socrates Sofyan Yoman, Lekra Tak Membakar Buku Suara senyap Lembar Kebudayaan Harian Rakyat 1950-1965 karya Rhoma Dwi Aria Yuliandri dan  Muhidin M Dahlan, Enam Jalan Menuju Tuhan karya Darmawan MM, dan Mengungkap Misteri Keberadaan Agama karya Drs H Syahrudin Ahmad.
Kepala Kejari Surabaya, Fadil Zumhana, dalam menangani dan menindaklanjuti pelarangan kelima buku tersebut mengakui, masih menunggu instruksi dari pusat. “Kami masih menunggu kabar dari Mahmakah Konstitusi (MK) seputar pelarangan iitu. Karena MK masih menggodok UU terkait pelarangan buku di Indonesia,” kata Fadil Zumhana.
Sejak pelarangan terhadap kelima buku atas dasar SK Jaksa Agung, semua peredaran kelima buku itu dihentikan peredarannya di seluruh Indonesia, tak terkecuali di Surabaya. Jika didapati seseorang ataupun kelompok mengedarkan, bisa dikenakan hukuman pidana 1 tahun penjara sebagaimana diatur dalam Pasal 2 ayat 3 Perpres Nomer 4 Tahun 1963.
Ditemui terpisah, peminat, pemerhati, dan aktivis buku yang tinggal di Surabaya, Diana AV Sasa, menuturkan bahwa semenjak pelarangan terjadi, semua peredaran kelima buku itu peredarannya ditarik dari toko-toko buku.
Buku Lekra Tak Membakar Buku misalnya, kata Diana AV Sasa, pada awalnya sempat dijual di toko buku Gramedia dan sempat nangkring di rak buku hanya sehari lamanya. Pasalnya, pihak Gramedia Pusat (Jakarta) tidak sreg dengan isi buku yang sebagian besar isinya berafiliasi dengan aliran ‘kiri’ atau PKI. Terlebih lagi, pada sampul buku Lekra Tak Membakar Buku terdapat gambar palu-arit yang nantinya ditakutkan akan menimbukan kericuhan massal.
“Saat itu, sekitar November 2008, Gramedia menyuruh mengganti gambar sampul palu-arit pada buku Lekra Tak Membakar Buku agar bisa dipasarkan, namun setelah gambar sampul diganti, peredaran pun tetap diberhentikan oleh Gramedia,” kata Diana AV Sasa.
Penghentian peredaran buku oleh pihak Gramedia ini, kata Diana AV Sasa, dilakukan karena pihak Gramedia mendapat telepon dari pihak Kejaksaan Agung supaya menghentikan peredaran buku tersebut dan mengembalikannya ke penerbit. Penerbit Merakesumba selaku penerbit buku Lekra Tak Membakar Buku akhirnya pun kebanjiran stok karena semua buku yang sudah dipasarkan tiba-tiba dikembalikan.
Ketika pelarangan buku terjadi, tandas Diana AV Sasa, orang pertama yang terteror tentu saja si penulisnya. Apalagi jika menilik perjalanan panjang bangsa Indonesia terkait pelarangan buku yang selalu berakhir pada jeruji besi. “Tak jarang para penulis yang pernah hidup di zaman orla dan orba yang bukunya dianggap terlarang dan dicekal selalu diganjar dengan hukuman penjara,” katanya.
Selanjutnya, Diana AV Sasa ketika bertemu dengan Muhidin M Dahlan, salah seorang penulis buku Lekra Tak membakar Buku yang dikatagorikan sebagai ‘buku hitam’, mengatakan bahwa si penulis (Muhidin M Dahlan) akan tetap terus menulis dan tidak akan jera dengan pelarangan yang dilayangkan kepada buku yang ia tulis.
“Saya akan terus menulis walaupun pada akhirnya buku saya dilarang beredar. Saya akan terus menulis sampai yang melarangnya bosan melarang,” kata Muhidin M Dahlan seperti yang dituturkan oleh Diana AV Sasa.
Senada dengan Muhidin M Dahlan, mantan presiden Indonesia yang kini sudah wafat dengan segudang teladan, KH Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur, juga pernah melayangkan gagasan mengenai pelarangan buku. “Jika buku saya dilarang, maka saya akan mengeluarkan buku pembelaan terhadap buku saya yang dilarang,” katanya menirukan kalimat yang pernah diucapkan oleh Gus Dur di sebuah media massa, sewaktu  masih hidup. [eko]

*) Dikronik dari harian Bhirawa, 25 april 2010

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan