-->

Lainnya Toggle

Katalog Kartini Kartono

Oleh: Ahmad Subhan

subhan21 April 2010 ini saya kepingin menulis satu saja karangan tentang Kartini. Tapi saya pikir saya harus menulis Kartini yang lain. Dan melintaslah nama “Kartini Kartono”.

Saya mengenal nama Kartini Kartono sejak mulai belajar ilmu perpustakaan. Nama ini sering menjadi contoh penulisan katalog. Awal mengenal nama ini saya merasa geli, karena mengingatkan pada nama-nama tokoh cerita yang biasanya adalah dua sahabat atau sepasang kembaran dengan nama yang mirip dan disesuaikan dengan jenis kelamin masing-masing.

“Kartini Kartono”, bila ditulis dalam katalog menjadi “Kartono, Kartini.” Tampillah Kartini menjadi nama laki-laki. Saya pikir hal ini hanyalah persoalan teknis, sehingga tak mungkin ada masalah bias gender dalam katalogisasi. Namun dugaan saya tidak sepenuhnya benar. Ternyata perempuan juga dianggap mengalami diskriminasi terkait hak memilih nama. Perbedaan hak memilih nama itu contohnya seperti yang diceritakan oleh Mary-Ann tentang perempuan di Inggris yang berdasarkan tradisi mengubah nama gadis mereka mengikuti nama keluarga para suami. Di Indonesia juga banyak contoh seperti itu. Tidaklah ganjil bila kita membaca nama perempuan digandeng nama laki-laki, seperti Ibu Tien Soeharto atau Dian Sastrowardoyo. Sebaliknya, tidak pernah kita menemukan nama Abidin Halimah atau Joni Astuti.

Menyoal nama perempuan membuat saya ingat pada media bernama “Jurnal Perempuan”. Perempuan dan laki-laki bisa punya media cetak masing-masing, baik itu koran, tabloid, dan majalah. Namun untuk media cetak yang punya bobot ilmiah, hanya perempuan yang punya. Jenis media yang merepresentasikan bahwa perempuan memiliki teori dan kajian-kajian ilmiah.

* * *

Ibu Kita Kartini terkenal dengan surat-suratnya. Ibu Kartini Kartono dikenal karena buku-bukunya. Berdasarkan hasil penelusuran lewat katalog online Perpustakaan UGM, terpapar data bahwa Kartini Kartono sedikitnya sudah menulis 15 judul buku. Buku-bukunya diterbitkan oleh nama-nama yang punya reputasi sebagai penerbit buku teks perguruan tinggi, seperti Mandar Maju, Penerbit Alumni, dan Rajawali Press.

Bila diklasifikasi, buku-buku Kartini Kartono masuk dalam dua kelompok, yaitu Pendidikan dan Psikologi. Dua bidang yang dekat dengan profesinya sebagai dosen tetap di IKIP Bandung merangkap jadi pengajar mata kuliah Psikologi Umum dan Psikologi Sosial di FISIP UNPAR. Lantaran itu, ada kemiripan antara Kartini yang Raden Ajeng dengan Kartini Kartono, kedua-duanya menulis tentang dunia batin perempuan. Kartini Kartono menulis dua buku psikologi perempuan yang berjudul: 1) Psikologi Wanita. Wanita Sebagai Ibu dan Nenek; 2) Psikologi Wanita. Gadis Remaja dan Wanita Dewasa. Referensi untuk memahami perempuan-perempuan dalam kehidupan yang bisa jadi adalah anak, pacar, istri, ibu, maupun nenek. Sepertinya buku-buku tersebut lebih membumi dari pada buku psikologi yang berjudul “Men are from Mars, Woman are from Venus”.

Dalam bidang Psikologi Sosial, Kartini Kartono menulis tiga jilid buku teks tentang Patologi Sosial, yang istilah populernya sekarang adalah “Penyakit Masyarakat” atau “Pekat”. Hasil penelusuran saya di internet untuk dokumen-dokumen tentang Patologi Sosial (silabus mata kuliah, makalah, artikel di blog, dll) menunjukkan buku ini tak pernah absen tercantum dalam daftar pustaka. Temuan saya juga menunjukkan bahwa memang belum banyak buku yang mengaji soal ini. Sehingga buku terbitan Rajagrafindo ini tetap merajai daftar pustaka kajian-kajian tentang “Pekat”.

* * *

Menilik fakta-fakta tentang dua Kartini yang adalah penulis dan pendidik, saya jadi berpikir jangan-jangan Kartini Kartono adalah titisan Kartini (saja).

* Penulis bekerja sebagai Pustakawan

1 Comment

GREEN CHIEMPOEL - 24. Apr, 2010 -

MANTAP, A NOVELTY, AT LEAST TO ME

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan