-->

Lainnya Toggle

Imajinasi: Ruang Interpretasi yang Multidimensi

Oleh : Sidik Nugroho


“Imajinasi lebih penting daripada pengetahuan.”

— Albert Einstein (1879-1955)

Imajinasi. Sebagian orang menganggapnya penting, sebagian mungkin mengabaikannya. Namun, siapa pun yang menyukai kreativitas, tentu akan menempatkan imajinasi sebagai hal penting. Ibarat jendela, imajinasi mengantar kita untuk membuka rumah pikiran kita, dan kemudian menggerapai dalam-dalam dan jauh-jauh sebuah ide, fakta, realitas, hingga fenomena.

Tulisan ini berawal dari sebuah perbincangan segitiga tentang sebuah film. Waktu itu saya baru saja menonton sebuah film yang menurut saya kurang apik bila dibandingkan dengan novelnya. Ya, film itu diadaptasi dari sebuah novel. Mendiskusikan pendapat saya dengan seorang teman, ia berkomentar-berkelakar, “Jadi, sampeyan merasa imajinasi sampeyan lebih bagus daripada imajinasi sang sutradara film itu ya?” tanyanya. Saya tertempelak.

Pembicaraan kedua terjadi dengan teman lain. Kali ini, berseberangan jauh dengan saya, ia menganggap bahwa film yang dibuat berdasarkan novel itu justru jauh lebih baik daripada novelnya sendiri. “Membaca novelnya aku tidak betah karena tidak runut,” katanya.

Demikianlah, saya mendapat suatu kesimpulan penting: imajinasi yang dihasilkan atas suatu karya cipta dapat tercipta berbeda-beda dalam benak tiap pengamat dan penikmat suatu karya. Kita dapat tidak menyukai suatu karya, sementara orang lain sangat menyukai apa yang tidak kita sukai. Kali ini mari kita berdiskusi lebih jauh tentang — paling tidak — dua hal. Pertama, tentang mengelola imajinasi dalam pembuatan dan kegiatan menikmati buku. Kedua, tentang kegiatan apresiasi terhadap buku yang semakin hari semakin marak saja diproduksi di tanah air kita ini.

Mengelola Imajinasi

Imajinasi seorang penulis kadang tak terkendali. Kata-kata dapat datang dalam pikirannya bertubi-tubi. Pikirannya dipenuhi berbagai hal yang bahkan sanggup melesat jauh dari realitas hidupnya, menggiringnya mencipta sebuah dunia sendiri. Percaya atau tidak, beberapa buku membuat pembacanya bertingkah aneh karena begitu jauh dan liarnya imajinasi sang penulis berkelana. Beberapa buku membuat orang jadi pembunuh. Il Principe karangan Niccolo Machiavelli dibaca beberapa pemimpin negara yang kemudian menjadi diktator-pembunuh. Bahkan, sebuah buku dengan genre serupa teenlit (cerita untuk remaja) ternyata juga mampu menginspirasi beberapa pembunuhan.

Buku itu adalah Catcher in the Rye karya J.D. Sallinger yang mengisahkan kehidupan remaja bernama Holden Caufield. Pembunuhan yang terkenal dilakukan Mark David Chapman pada John Lennon, vokalis The Beatles. Mark meminta John menandatangani buku itu suatu pagi. Tak lama kemudian, ia menembaknya. John Lennon tewas.

Holden dalam kisah ini adalah seorang remaja pemarah yang tak pernah menyukai apa pun dalam hidupnya. Segalanya sampah baginya. Ia dikeluarkan dari sekolah karena tak serius belajar, dan mudah berang pada siapa pun yang ditemuinya.

Di buku ini sebenarnya sudah ada sebuah nasihat penting dari seorang guru Holden menjelang akhir kisah. Dinyatakan di sana, bahwa orang yang belum dewasa mau mati demi suatu tujuan, tapi orang yang sudah dewasa mau hidup dengan rendah hati untuk mencapai tujuan itu. Nasihat itu menempelak Holden.

Namun, cukup disayangkan, nasihat ini tampaknya tak direnungkan mendalam oleh para pembunuh-pembaca novel ini. Mereka tampaknya hanya menyimak amarah demi amarah yang tertuang dalam hampir keseluruhan kisahnya. Sallinger memang hebat dalam mengurai gejolak jiwa pemuda Holden yang liar dan amat reaksioner dalam keseluruhan kisah.

Kehadiran Para Pengulas Buku

Melihat fenomena berkembangnya imajinasi liar dari buku karya Sallinger ini, kita jadi diingatkan akan pentingnya kehadiran para pengulas buku. Pengalaman mereka menghadapi berbagai buku bisa dijadikan acuan untuk mengetahui muatan terpenting sebuah buku. Mereka juga penting karena menjadi perantara antara penulis dan (calon) pembaca sebuah buku baru. Dari situlah beberapa tuntutan atas seorang pengulas buku lahir:

Mereka menyuarakan pendapatnya yang seyogyanya jernih, yang berangkat dari pemahamannya atas dimensi-dimensi sebuah buku yang luas. Mereka menjadi penikmat yang sekaligus menjadi pengamat jeli akan kekayaan batin si penulis dan karya yang dibuatnya. Serta, ini yang tak kalah penting, mereka bebas dari semacam tuntutan penerbit untuk memuja-muji buku yang sebenarnya penuh cacat. Kualifikasi-kualifikasi tersebut membuat mereka mampu menginterpretasi secara independen sebuah buku. Para pengulas buku ini hendaknya dipandang — tentu juga memposisikan diri — bukan sebagai kepanjangan tangan penerbit dalam berpromosi, tapi sebagai mediator yang menakar gizi sebuah buku.

Di Indonesia kita melihat ada Hernadi Tanzil, Nur Mursidi, Anwar Holid, atau J. Sumardianta yang sering mengulas buku di media-media cetak. Kehadiran mereka semestinya diperhatikan oleh para pecinta buku. Seringkali, akibat ulasan-ulasan yang mereka buat, kegiatan membaca sebuah buku jadi memiliki nilai lebih. J. Sumardianta telah merilis bukunya berjudul Simply Amazing, Inspirasi Menyentuh Bergelimang Makna. Buku ini merupakan kumpulan tulisannya yang pernah tersebar di berbagai media cetak ini tampak sangat inspiratif. Walau di bukunya itu J. Sumardianta tidak menyebutkan riwayat penerbitan tulisan-tulisannya, tampaknya sebagian tulisan-tulisannya yang berjumlah 34 buah ini dulunya merupakan esai-esai dan ulasan-ulasannya atas berbagai jenis buku.

Kondisi Perbukuan Kita

Tiap jenis buku bisa sampai ke tangan pembaca dengan proses yang berbeda-beda. Ada yang digarap dengan sangat cepat, ada yang sangat lama. Di dunia perbukuan kita tengah berkembang produksi fast-book, buku-buku yang digarap dengan cepat. Buku-buku kesusu ini sah-sah saja menjadi sebuah tren — masyarakat kita sedang bergerak cepat menuju suatu era pencarian informasi yang berlimpah-ruah untuk menunjang kepraktisan hidup.

Namun, tren ini semestinya tak serta-merta dijadikan kesempatan bagi penulis-penulis matre untuk cari uang dengan cara cepat. Tren ini bisa membuat kesan bahwa sebuah buku dapat dibuat tanpa penyaringan yang ketat, tanpa memikirkan manfaatnya, tanpa mempedulikan akibat isinya, atau yang paling parah: tanpa penggarapan yang serius. Buku perlu ditakar dengan berbagai pertimbangan sebelum diterbitkan, bukan hanya masalah laku-tidaknya. Efek sebuah buku sangat luas, seringkali bahkan tak terduga.

Jauh sebelum Indonesia mengalami kemajuan ini, di Amerika ada tren atau slogan yang berbunyi “publish or perish”. Saya mendapat slogan ini dalam buku Wishnubroto Widiarso berjudul Pengalaman Menulis Buku Nonfiksi. “Publish or perish” adalah slogan di kalangan ilmuwan di Amerika. Ilmuwan bisa menerbitkan buku karena menekuni benar apa yang dia geluti. Ini menjadi cermin bagi para penulis: sudahkah ia menekuni benar apa yang ia tulis?

Inspirasi yang bergelimang makna, meminjam judul buku J. Sumardianta, bisa didapat dari buku ke buku. Buku — dengan caranya tersendiri dalam mengusung imajinasi penulis yang di dalamnya memuat beraneka ruang bagi interpretasi yang multidimensi — dapat melahirkan pencerahan dalam ruang batin pembaca, serta membangkitkan imajinasi pembacanya pula, sehingga para pencipta dan penyaji buku perlu menakar ulang sejauh mana bukunya mendatangkan manfaat positif sebelum beredar di masyarakat luas. Karenanya, mari kita lebih jeli dan berhati-hati dalam membuat buku — tentunya juga dalam memilih buku untuk dibaca. ***

*) Penulis adalah Guru SD Pembangunan Jaya 2 dan pembaca sastra Indonesia.

**) Dikronik dari Harian Umum Berita Pagi Sumatera Selatan pada hari Minggu, 12 April 2010.

2 Comments

orang - 07. Okt, 2010 -

anda akan berkata lain di postingan ini setelah anda melihat pak sumar yang asli. ngomong-ngomong pak sumar akan membuat buku baru lagi lho…….

IBOEKOE - 07. Okt, 2010 -

Boleh tahu kenapa dengan Pak Sumar yang asli????

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan