-->

Tokoh Toggle

H.E. Huntington: Ambisi Jawara Buku

henry.phpBudaya Aristrokrasi mengusung kemegahan dan kemewahan sebagai simbol status sosial. Setiap orang berusaha menunjukan kelasnya dengan pelbagai cara. Kian besar nama mereka, kian mereka akan diperbincangkan dari mulut ke mulut dan tetap dikenang setelah kematiannya.

Penanda akan kehadirannya pun dibuat dalam ragam bentuk. Budaya itu berkembang turun-temurun sampai pada zaman modern. Adalah Henry Edwards Huntington, salah seorang yang mewarisi budaya itu. Kebesaran namanya dikenang dengan beberapa monumen atas namanya. Pantai Huntington, Taman Huntington, Perpustakaan Huntington, Hotel Huntington (Sekarang The Langham, Huntington Hotel and Spa), Rumah sakit Huntington, Sekolah Henry E Huntington, dan Huntington Drive (sebuah bulevard dengan bagian tengah disajikan seperti Jalan Kereta Api Elektrik Pasifik).

Henry adalah seorang taipan rel keretaapi dan pebisnis handal. Bersama pamannya, Collis P. huntington, ia membangun konstruksi rel keretaapi di wilayah selatan Amerika dan di California. Kerajaan bisnisnya menjadi salah satu perusahaan paling diperhitungkan pada masanya. Kekayaannya melimpah. Tapi entah apa yang menggelitiki pikiran dan siapa yang membisiki telinganya tiba-tiba saja ia memutuskan menjadi kolektor buku. Cita-citanya adalah membangun sebuah perpustakaan raksasa dan menyenangkan, yang karenanya ia akan terus dikenang.

“Manusia boleh datang dan pergi, tetapi buku abadi. Memiliki perpustakaan bagus merupakan cara terpasti dan tercepat menuju keabadian!” begitu kata A. S. W. Rosenbach, salah satu agen buku Huntington.

George D Smith, agen buku Huntington yang lain, mengatakan, “Ketika para penguasa kerajaan telah mati, maka nama mereka akan dilupakan. Namun ingatan tentang para kolektor besar akan bertahan dari mulut ke mulut ribuan orang. Inilah jalan sejati menuju ketenaran.” Jika yang dikatakan Smith itu benar, maka obsesi Huntington sungguh sangat masuk akal. Maka tak heran jika Huntington pun menempuh pelbagai cara gila untuk mewujudkan “keabadian”nya itu.

Gebrakan awalnya dimulai ketika usianya telah hampir uzur, 62 tahun. Ia menghabiskan $1,9 juta di lelang buku Robert Hoe. Juga ia borong perpustakaan Church seharga $1,3 juta. Meski ia tak pernah mengatakan “beli serentak semuanya”, tapi di kalangan kolektor buku di balai-balai lelang, membeli koleksi kolektor lain dengan jurus sapu bersih sudah menjadi trademark-nya. Suratkabar mengulas profilnya dan fenomena pembeliannya. Daya belinya membuat kolektor-kolektor lain cemburu dan merasa dizalimi. Kerap juga mereka kecele sudah datang jauh-jauh ke sebuah lelang tapi ternyata koleksi-koleksi berharganya telah diborong Huntington sekaligus. Dan mereka hanya mendapat remah-remahnya.

Huntington juga memborong 7500 drama kuno Inggris dan 111 volume drama yang dikumpulkan aktor Inggris John Philip Kemble. Pada 1915, ia membeli 25 ribu volume koleksi sastra Inggris dan Amerika milik pengacara New York, Frederick R Halsey, kebanyakan karya Dickens, Stevenson, Milton, Shelley, dan Poe. Dua tahun kemudian dia mendapat 4400 koleksi buku di Bridgewater House milik Baron Ellesmere; juga material tulis tangan Chapman dan Marston, dan 1200 manuskrip. Ditambah lagi dengan 1600 buku Inggris yang langka dari Beverly Chew yang dibelinya seharga $500 ribu.

Untuk mendapatkan koleksi-koleksi itu Huntington berhutang jasa pada agen penjual buku kawakan George D Smith dan Abraham Simon Wolf Rosenbach. Mereka berdualah yang kerap mewakili Huntington pada lelang-lelang besar. Mereka pula yang memburu pelbagai koleksi ke kolektor lain, membelinya dan kemudian menjualnya pada Huntington.

Koleksi Huntington juga tak luput dari jasa baik Clarence S Brigham, seorang ahli buku internasional yang termashyur dan menjadi pustakawan American Antiquarian Society di Worcester, Massachusetts. Brighman menjadi semacam konsultan dan yang memberi masukan buku-buku apa yang pantas dikoleksi. Melalui sebuah perjanjian rahasia dengannyalah Huntington, misalnya, mendapatkan koleksi pra-restorasi yang cukup banyak dari penjual buku di Inggris. American Antiquarian Society hanya membeli buku dari Amerika. Jadi tindakan Brigham adalah sebuah penyelewengan. Brigham berbelanja buku di Inggris dengan rakus karena ia membeli atas namanya sehingga mendapat harga murah. Karena harga akan sangat berbeda jika penjual buku tahu bahwa yang membeli adalah Huntington, sang jawara lelang.

Brigham menghabiskan waktu lebih dari tiga tahun untuk menempuh tiga perjalanan panjang, kerja siang malam membaca berak-rak buku, meneliti ratusan ribu judul dalam katalog hanya untuk ikut mewujudkan impian Huntington memiliki perpustakaan besar. Di balik itu ia berharap Huntington akan memberi sumbangan pada American Antiquarian Society. Sayang keinginan itu tak tercapai bersebab dua hal. Kemarahan Huntington karena Brigham meminjamkan terbitan miliknya pada Universitas Yale agar halaman judulnya bisa dikopi.

Huntington memutus kerjasama dengan Brigham. Hal itu sangat menyakitkan bagi Brigham karena ia telah memberikan hampir seluruh waktu dan tenaganya untuk mewujudkan impian Huntington tanpa imbalan berarti. Semua dilakukan atas dasar kecintaan pada buku semata.

Huntington memang seorang yang ambisius. Keinginannya untuk memiliki perpustakan yang besar dan bagus adalah obsesi yang terus dikejar. Ia menerima tawaran siapa pun asal bisa mempercepat dan menambah koleksinya menjadi lebih besar. Huntington sadar betul bahwa keinginannya tak akan terwujud dalam sisa umurnya yang tinggal sedikit jika ia tak memiliki tak-tik tersendiri. Tak peduli jika ia mesti bersikap oportunis sekalipun. Pilihannya untuk membeli secara serentak juga atas pertimbangan waktu. Ia tak perlu menghabiskan waktu seumur hidup untuk melengkapi koleksinya. Dalam tempo singkat ia bisa sejajar bahkan mengungguli kolektor-kolektor lain yang sudah menghabiskan umur berburu di balai-balai lelang.

Setelah hampir sepuluh tahun lebih, koleksi Huntington telah meliputi buku-buku langka, peta, foto, manuskrip, dan incunabula (buku yang dicetak sebelum tahun 1501). Temanya seputar sejarah dan sastra Amerika-Inggris. Sebagian besar koleksi itu berasal dari Abad Pertengahan (sekira 1500-1641). Di antara koleksinya itu ada surat-surat dan dokumen koleksi Grenville Kane yang ditulis George Washington.

Ada pula ribuan materi-materi yang dikumpulkan Ward Hill Lamon, partner hukum Abraham Lincoln. Dari 6.5 juta manuskrip dan lebih dari sejuta buku langka itu terdapat kopi dari Gutenberg Bible yang ditulis di atas vellum, the Ellesmere manuscript of Chaucer, kuarto pertama hamlet (satu-satunya perpustakaan yang memilikinya), autobiografi Benjamin Franklin, Bird of Amerika-nya John James Audubon, karya pertama Charles Bukowski, dan edisi awal karya Shakespeare yang tak lengkap.

Semua koleksi itu kemudian dibuatkan rumah yang besar dan nyaman di California. Sebuah perpustakaan yang bersanding dengan Huntington Botanical Garden dan menjadi perpustakaan, museum seni, sekaligus kebun bunga yang terbuka untuk umum. Ambisi dan impian itu terwujud sudah. Perpustakaan Huntington telah menjadi rumah bagi perpustakaan lain. Apa yang dikatakan Smith ternyata benar. Perpustakaan itu menjadikan Huntington tetap diingat meski ia telah tiada.

Dikenang oleh zaman memang menjadi kebanggan terbesar para Aristokrat. Buku telah menunaikan tugas itu untuk sepotong nama Huntington. (Diana A.V. Sasa)

*) Gambar diambil dari www.californiabusinesshistory.co…e32.html

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan