-->

Lainnya Toggle

HATTA (DAR): Tanggapan Dewan Pembaca

Panitera: Diana AV Sasa

Sidang Dewan Pembaca #4: Endah Sulwesi, Gita Pratama, H. Tanzil, Rama Prabu, Slamet Wahedi

Dalam 4 kali putaran Sidang Dewan Pembaca Indonesia Buku, buku “Novel Biografi” Hatta inilah yang paling membuat gusar anggota dewan, termasuk panitera.

Buku ini memang berhasil merayu pembeli buku dengan judulnya yang memancing rasa ingin tahu. Sub judul “Hikayat Cinta dan Kemerdekaan” memantik sebentuk imajinasi tentang kisah cinta Hatta.

Saat panitera membelinya di toko buku Togamas, pesaingnya adalah Years of Living Dangerously-nya Christopher J. Koch dan Samudra Pasai-nya Putra Gara.

Setelah sedikit berdebat kecil dengan salah satu anggota dewan, akhirnya buku Hatta ini yang terpilih. Alasannya: ingin tahu seperti apa kisah hidup Hatta di novelkan. Mungkin akan seseru Minke yang banyak diyakini sebagai sosok Tirto Adhi Soerjo dalam Tetralogi Buru-nya Pramoedya.  Atau akan seperti roman Patjar Merah-nya Matu Mona yang mengisahkan alterego Tan Malaka.

Baru tiga hari buku tiba dipangkuan anggota sidang, pesan pendek mengenai buku itu sudah memberondong telepon seluler panitera. Pesannya seragam: enggan melanjutkan, beberapa malah berniat menjadikannya buku mogok (istilah untuk buku yang baru dibaca sedikit sudah enggan dilanjutkan).

Namun karena menyadari bahwa buku ini ditulis dengan keringat dan sudah terlanjur dibeli, maka meski berat hati, ngrundel, ngedumel, dan tertunda-tunda, maka pembacaan dan diskusi pun dilanjutkan.

Harus diakui, Dedi Ahimsa Riyadi, penulis buku ini bersama penerbit Edelweiss memilih judul yang tergolong berhasil memikat pasar, setidaknya panitera yang kebetulan menjadi pembeli.  Sebuah Novel Biografi “Hatta, Hikayat Cinta dan Kemerdekaan” demikian tertulis di sampul depannya . Ditambah ilustrasi sampul Hatta bersama istrinya yang sedang melambaikan tangan, memang buku ini mampu membangun rasa penasaran.

Hernadi Tanzil mengakui bahwa ia juga terkecoh oleh sampul buku ini. Katanya: “Begitu melihat judul ‘Hikayat Cinta dan Kemerdekaan’ dan kaver buku ini yang menampilkan Hatta bersama  dengan Rahmi Hatta, saya langsung menduga bahwa akan ada kisah menarik tentang kisah cinta antara Hatta dengan Rahmi. Ternyata tidak, hanya sedikit sekali kisah mengenai Hatta dan Rahmi di novel ini.”

Sebaliknya, Endah Sulwesi mengatakan sampul depan buku ini kurang menarik. Tanzil bahkan lebih suka sampul belakangnya.  Tanzil juga menuntut agar label ‘novel biografi’ di sampul depan buku ini dicabut, dan judulnya diganti.

Ada kecurigaan berjamaah dari anggota Dewan kepada para pemberi endorsement buku ini bahwa mereka tidak membaca isi buku. Menurut Endah, meski endorsement memang tugasnya melariskan buku, namun mestinya dapat dipertanggungjawabkan.

Kalau tidak baca bukunya, mestinya endorsement-nya jangan tentang bukunya, tetapi pengarangnya saja. Ini untuk menghindari pembohongan pada pembaca.

Namun bagi Rama Prabu, sampul hanya semacam gincu dan bedak, jadi tak perlu berpanjang-panjang membahas sampul, lebih baik mendedah isi.

Label “Novel Biografi” yang dilekatkan di buku ini dan mengecoh pembaca mendapat gugatan paling keras dari seluruh anggota  sidang.  Rama Prabu separoh murka. Baca sederet komentarnya: “Isi ibuku ini terlampau datar dan tidak layak dikatakan ‘novel biografi’. Katakan saja biografi, tak apa. Dan yang paling penting adalah kelemahan penulis dalam menemukan fakta-fakta terbaru. Fakta lama saja yang terserak di beberapa buku mereka tak temukan, lantas masih layakkah buku itu diedarkan? Saran saya, kembalikan pada penulisnya untuk diperbaiki agar tak terjadi penyesatan fakta. Banyak periode yang terpotong, k alau mau buat biografi ya jangan setengah hati.”

Endah juga rada tak enak hati dengan penggunaan istilah “novel biografi” karena jelas-jelas ini kisah tentang Hatta;  jadi memang bukan fiksi. “Memang, ini biografi setengah hati, bukan fiksi. Namun saya tampaknya terlalu berekspektasi terlalu jauh terhadap novel biografi ini. Karena dicover buku ini tertera predikat sebagai ‘Novel Biografi’, saya beranggapan buku ini ya seperti novel-novel pada umumnya di mana ada kisah-kisah kehidupan yang menarik atas tokoh Hatta yang terungkap. Namun sayangnya novel ini terlalu setia pada alur sejarah. Tak ada kisah-kisah kehidupan Hatta yang ditafsirkan oleh penulisnya. Padahal dalam ranah fiksi, walau tokoh-tokoh yang diangkatnya merupakan tokoh sejarah penulis toh punya kebebasan untuk mengembangkan kisahnya sendiri sesuai dengan imajinasinya,” tambah Tanzil.

Lebih lanjut Tanzil mengatakan eksplorasi kehidupan Hatta yang lebih detail tidak dilakukan penulis. Jadinya apa yang dikisahkan sama saja dengan buku Memoir Hatta ataupun buku-buku lain tentang Hatta. Tak ada yang baru tentang Hatta di novel ini, penulis hanya membeberkan fakta dan menambahkan suasana, deskripsi tempat, dan sedikit sekali dialog antar tokoh-tokohnya.

Minim Dialog

Rama Prabu menganggap “Novel Biografi” ini minim dialog. Penulisnya tak mampu keluar dari standar biografi yang telah ditulis pendahulunya atau bahan-bahan yang diberikan oleh penerbitnya.

“Membaca Bagian I, saya tidak menemukan sosok Hatta pada masa anak-anak hingga beranjak dewasa, yang ada hanya cerita usang tentang ajaran agama Islam, dan lebih cocok dikatakan bahwa Bab ini (hal 3 sampai 81) adalah Bab Pelajaran Agama,” sabda Rama Prabu.

Hal senada diungkapkan Gita Pratama, koordinator komunitas ESOK. Menurutnya novel ini kurang real karena porsi terbesar adalah lebih membidik masa-masa pergerakan.

“Ide jahil saya menjadi liar memikirkan, apakah Hatta kecil menjalani masa-masa kenakalan lumrah seperti anak-anak lainnya sebayanya? Apa saja kenakalan-kenakalan itu. Bagi saya mustahil jika ada manusia yang tidak pernah berbuat kecerobohan-kecerobohan kecil. Itu juga saya pertanyakan. Akh… benarkah Tokoh Besar sesempurna itu,” seru Gita.

Misalnya saja, apa tidak pernah ia meletakkan kacamata sembarangan setelah membaca. Hal-hal kecil yang menggelitik itu bukankah akan lebih menarik dan lebih mengenalkan pribadi seorang Bung Hatta. Oleh karena itu novel ini menjadi kurang cair terhadap pembacanya.

Dingin terhadap Perempuan

Apa yang dikeluhkan Gita itu, juga mendapat perhatian Rama Prabu. Menurut dia, penulis tak punya amunisi yang cukup untuk menggambarkan sosok Hatta, semisal satu kejadian yang diungkapkan Soekarno (seperti dikutip Cindy Adams di buku Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat).

Kisah Soekarno di suatu sore tatkala bersama Hatta dalam perjalanan ke sebuah tempat dan satu-satunya penumpang lain dalam kendaraan adalah seorang gadis cantik. Di suatu wilayah yang sepi, ban pecah. Si sopir terpaksa pergi mencari bantuan. Ketika dua jam kemudian sopir kembali dengan bantuan, ia mendapati gadis itu terbaring di sudut yang sangat jauh dalam kendaraan dan Hatta mendengkur di sudut yang lain.

Gambaran itu menunjukkan betapa dinginnya Hatta pada perempuan dan dapat disimpulkan kenapa Hatta hingga usia senjanya belum juga mendapatkan pasangan hidup.

Berbeda cara pandang Tanzil mengenai fakta-fakta sejarah ini. Menurut dia, fakta-fakta sejarah yang terungkap dirasa cukup lengkap karena pembaca benar-benar diajak mengetahui bagaimana sejarah Perang Paderi, perjuangan Hatta di Belanda bersama perkumpulan Perhimpunan Indonesia, bagaimana Hatta membesarkan partainya, perbedaan pendapatnya dengan Soekarno, kecintaannya terhadap buku, dan lain-lain. Semuanya itu terpaparkan dengan jelas.

Mengenai penokohan, penyair muda Surabaya Salamet Wahedi, menilai bahwa dalam penulisan sejarah ketokohan Hatta, penulis terlampau berhati-hati untuk tetap menjaga ‘ritme’ atau suasana penulisan yang dibangun sejak awal. Penulis, dalam beberapa peristiwa atau pengolahan data-fakta, cenderung melahirkan sebuah memoar ‘opini’ atau semacam ‘artikel’. Sehingga narasi, atau pola cerita, yang mengedepankan keterpaduan dan kehadiran suasana, pun hambar.

Dengan kata lain, telah terjadi ‘campur aduk’ antara narasi yang coba ingin menghadirkan suasana dari seorang pencerita, dengan argumentasi yang mengedepankan kevalidan.

Rama prabu juga mencatat adanya kutipan di beberapa bagian yang juga terlalu menggiring pembaca pada kesimpulan-kesimpulan penulis. Apakah ini salah?

Dengan bijak Salamet berujar, “Sebuah karya, sejatinya selalu berpijak pada definisi yang dibangun dan dimilikinya, meski sebuah karya juga bergantung niat penulisnya.  Dapat dipahami, bahwa seorang penulis memang memiliki kebebasan berekspresi, tapi seorang penulis akan selalu dihadapkan pada sidang pembaca. Dua hal yang kadang kontradiksi ini, memaksa penulis untuk lebih arif dalam menyelaraskan dan mengutuhkan esensi tulisannya dengan konsistensi dalam bentuk dan definisi genre tulisan yang dpilihnya sehingga, gagasan yang hendak disampaikannya dapat tersampaikan dengan jernih.”

Bertaburnya metafora di buku ini juga mendapat sorotan tajam dari anggota sidang.

Kata Rama Prabu, “Metafora dan bunga kata-kata memang pada sebagian pembaca tentu akan menghanyutkan, tapi sebagai novel biografi alunan bunga kata yang bersulur-sulur itu semestinya dapat diminimalkan.”

Satu contoh hal 23 yang menggambarkan momentum kelahiran Hatta ‘…matahari baru saja terbit di ufuk timur. Cahayanya yang lembut menyentuh menyapa semesta. Cakrawala terbelah di antara hitam dan keemasan. Malam masih belum menyibakan seluruh tirainya. Semesta masih terlelap. Sunyi dan hening masih bertakhta. Beberapa ekor burung mengepakkan sayap di atas dahan. Gemericik air yang mengalir di sungai terdengar jelas. Aliran yang bening, bak gumpalan-gumpalan beling meliuk menghindari bebatuan; menyisir membawa butir-butir pasir; di sebuah rumah kayu berlantai dua; …….’ Dan masih banyak lagi.

Rama Prabu menduga pemborosan metafora itu hanya muslihat untuk mempertebal halaman tanpa maksud menyelami keadaan sesungguhnya yang terjadi. Penulis cuma menerka-nerka yang sejatinya terjadi. Kalau ini dapat disederhanakan dengan metafora yang tak berlebihan seperti itu, pasti menjadi novel/bab nan cantik.

Pas untuk Bacaan Anak-Anak

Karena itu, Rama Prabu menganggap buku ini bagus dibaca untuk pemula atau anak-anak SD-SMP. Mengenalkan Hatta pada pembaca  yang belum pernah membaca cerita Hatta dari media lainnya.

Endah setuju, metaforanya dirasa cocok untuk membangkitkan imajinasi anak kecil. “Bagi kita yang tua-tua yang begituan enakan dibuat puisi.”

Dan semua anggota Dewan mengamini, buku ini cocok untuk pembaca pemula yang enggan membaca narasi sejarah yang umumnya ditulis dengan gaya berat.

Hal lain yang cukup mendapat  kritikan adalah soal penempatan beberapa foto di halaman baca yang cukup mengganggu karena penggambaran tulisan dan gambar tidak sesuai dan cenderung memaksakan gambar.

Tanzil mencontohkan, foto Hatta di Jenewa, 1952 disisipkan di bagian kelahiran Hatta, foto ulang tahun ke 70 ditempatkan di bagian yang mengisahkan Proklamasi Kemerdekaan, dan lain-lain.

Prabu  dan Tanzil menyarankan lebih baik jika foto-foto itu ditempatkan di bagian khusus saja, pada awal, tengah, atau akhir halaman. “Ini mungkin kesalahan penerbit, tapi sesungguhnya saya berarap bahwa masih banyak foto-foto Hatta yang punya kekuatan cerita selain yang ditampilkan di buku ini, kesempatan berhubungan dengan keluarga mendiang ini tidak dimanfaatkan untuk menggali cerita maupun data semisal foto tersebut,” kata Tanzil.

Keunggulan

Selain kelemahan-kelamahan tersebut, anggota Dewan juga mencatat beberapa keunggulan buku ini.

Rama Prabu misalnya. Ia menganggap ada hal-hal yang bisa menjadi pelajaran dalam konteks kekinian. Kata-kata Natzir Pamontjak  yang dikutip, “bagi kita orang Indonesia, tidak ada lagi namanya Inlander atau Inboorling, tidak ada lagi Nederlandsch-Indie, melainkan hanya Indonesia” mampu menghadirkan semangat nasionalisme.

Tumbuhnya rasa cinta tanah air juga telah dikobarkan dalam kesepakatan organisasi Indonesische Vereeniging tahun 1924 yang mengatakan bahwa hanya Indonesia yang bersatu dengan menyingkirkan perbedaan-perbedaan golongan, dapat mematahkan kekuasaan penjajahan; tujuan bersama memerdekakan Indonesia menghendaki adanya suatu aksi massa nasional yang insaf dan berdasar kepada tenaga sendiri; melihat dia macam penjajahan, politik dan ekonomi, aksi itu adalah suatu persediaan bagi kemerdekaan politik dan satu sikap menentang capital asing yang menyedot kekayaan Indonesia.

Pelajaran lainnya yang ditemukan Rama adalah guru ilmu bumi Hatta pernah berkata “Molukken is het verleden, Java is het heden en Sumatra is de toekomst” ini berarti Maluku adalah masa lalu, Jawa adalah masa sekarang, dan Sumatra adalah masa depan.

Hatta punya kesadaran akan hal tersebut bahwa itu adalah semboyan kolonial yang berarti sumber daya Maluku telah habis, pemerasan dialihkan ke Jawa, dan kemudian merambah ke Sumatra. Cara-cara seperti itu pula yang dilakukan Orde Baru untuk dalam mengeruk potensi daerah dengan pola sentralisasi pembangunannya.

Terakhir, Rama mencatatkan, kecintaan Hatta pada buku yang selalu dibawa ke mana pun dia dibuang dan pergi tentu harus jadi teladan baik bagi generasi sekarang. Pun demikian cara unik nan eksentrik yang dilakukan Hatta dengan memberikan buku [Alam Pikiran Yunani] karyanya sendiri selama di pembuangan tentu dapat pula ditiru dan dijadikan kebiasaan; buku sebagai hadiah dan kado pada momentum apa pun.

Menariknya lagi, kata Salamet, buku yang dikemas sebagai “novel biografi” ini, relatif memberikan perspektif baru bagi ruang pembacaan sejarah Indonesia yang suram di bawah setiap rezim Orde Kekuasaan.

Kalau selama ini Mohammad Hatta, dalam kilasan sejarah yang rancu, hanya ditampilkan sebagai pelengkap Soekarno, buku yang ditulis Dedi Ahimsa Riyadi ini mengatakan lebih. Sehingga, pandangan ‘terbatas’ masyarakat Indonesia akan sepak terjang tokoh yang memiliki jiwa besar kenegarawanan (hal ini mengacu pada kesediaannya mengundurkan diri dari kursi wakil presiden ketika dinilai gagal bekerjasama dengan Soekarno dalam memajukan bangsa), dapat di’luascakrawala’kan.

Tanzil juga memberikan pujian bahwa sebagai sebuah buku yang mengungkap kehidupan Hatta dan sepak terjangnya, buku ini sangatlah baik. (DS)`

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan