-->

Lainnya Toggle

HATTA (DAR): 'Novel Biografi' 1/2 Hati

hatta.phpJudul: Hatta:Hikayat Cinta dan Kemerdekaan

Penulis: Dedi Ahimsa Riyadi

Penerbit: Penerbit Edelweiss, 2010

Tebal: vii+279

Ini kisah tentang 4 ‘istri’ yang begitu dicintai: Indonesia, rakyat Indonesia, buku, dan Rahmi. Dengan menyajikan sosok Mohammad Hatta, sebagai figur bapak bangsa yang demikian mencintai bangsanya, rakyatnya, dan buku-bukunya hingga rela bersumpah tak akan menikah sebelum kemerdekaan Indonesia tercapai, Dedi Ahimsa Riyadi menasbihkan buku ini sebagai sebuah “novel biografi”.

Dedi memfigurkan Hatta sebagai sosok yang bak oase di tengah gurun. Ketika situasi negeri tengah diguncang krisis kepemimpinan akibat beberapa tokoh pergerakan ditangkap dan diasingkan pemerintah kolonial, Hatta tampil sebagai orang yang paling lantang berteriak bahwa pergerakan menuju Indonesia  Merdeka tak boleh bergantung pada figur individu. Dengan sepenuh keyakinan dan semangat ia terus menyuarakan dan menjaga semangat kemerdekaan. Melalui tulisan dan pengkaderan di daerah-daerah, Hatta meyakini dapat memunculkan pemimpin-pemimpin baru.

Dituturkan dengan bahasa sastra yang bertabur metafora, Dedi berhasil mengaitkan antara akibat pembajakan kapal perang Belanda HNMLS De Zeven Provinciёn oleh awak kapal pribumi dan Eropa sebagai bentuk protes atas pemangkasan upah dan penangkapan beberapa awak kapal hingga menjadi sorotan internasional dan membuat pemerintah kolonial gusar, dengan terjadinya krisis kepemimpinan di negeri ini setelah Soekarno-tokoh yang menjadi panutan rakyat saat itu- ditangkap dan diasingkan. Sampai dititik ini, Dedi sukses menampilkan latar kemunculan Hatta sebagai tokoh bangsa.

Hatta kemudian ditilik latar belakang masa kecil hingga mudanya. Dengan gaya penuturan dari kacamata orang ketiga, diceritakanlah bagaimana Hatta lahir di lingkup keluarga berbudaya minang yang umumnya matriakal namun keluarga Hatta menganut patriakal.

Digambarkan pula pondasi keagamaan Hatta yang tersemai sejak belia hingga kemudian hari prinsip keagamaan itu menjadi pegangan dan sandarannya dalam memilih jalur pergerakan.

Tuturan hingga 4 bab ini cenderung deskriptif dan naratif, sangat miskin dialog. Hingga tokoh Hatta terbangun melalui perspektif penulis. Pembaca tak mendapat kesempatan untuk membuat penilaiannya sendiri.

Meski ada novel yang bergaya seperti ini, namun sangat jelas bahwa apa yang dikisahkan Dedi adalah biografi sesungguhnya dari seorang Hatta. Tak ada imajinasi apalagi fiksi tergambar. Maka pada separuh buku ini sudah dapat ditarik kesimpulan bahwa buku ini adalah sebuah biografi yang diceritakan dengan gaya bahasa sastra, bukan novel.

Separuh bab yang tersisa mengisahkan perjalanan Hatta dalam menempuh pendidikan di Belanda, sampai  kembali ke Indonesia dan memimpin organisasi pergerakan, ditangkap, diasingkan,bergelut dengan tulisan dan buku,  hingga takdir membawanya ke gerbang kemerdekaan Indonesia sebagai proklamator-penandatangan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Jika sempat membaca biografi Hatta di Wikipedia, maka isi bab ini tak terlampau jauh dari itu. Nyaris tak ada yang menyimpang dan tak ada yang baru.

Sekali lagi, Dedi gagal membangun novel dengan alur dan penokohan yang memikat. Ia tuliskan biografi Hatta dengan apa adanya. Sungguh ini sebuah biografi bergaya sastra, bukan novel. Alurnya melompat-lompat dan cenderung banyak melakukan replikasi deskripsi latar, baik tempat maupun tokoh. Ia mengulang-ulang alasan Hatta ke Belanda, latar budaya Minang, Perang Paderi, ziarahnya ke makan ayah, latarbelakang orangtua, dan lain-lain.

Keberhasilan Dedi hanya pada gaya metafora penggambaran deskripsi tempat dan suasana saja. Bagi pembaca muda (baca: kecil) gaya ini dapat menumbuhkan imajinasi. Tapi bagi pembaca dewasa, metafora ini cenderung berbuih-buih menjemukan.

Buku ini cocok bagi pembaca pemula yang belum pernah membaca referensi lain mengenai Hatta. Sebuah pengantar ringan untuk mengenal sosok Hatta, bapak bangsa. Lebih tepat lagi buku ini dibaca keras dan didengarkan, karena nada ceritanya sangat tepat untuk tujuan itu.

Niat Dedi sepertinya adalah ingin menunjukkan bagaimana seorang Hatta demikian mencintai negaranya, rakyatnya, dan buku-bukunya hingga barani bersumpah palapa tak akan menikah sebelum kemerdekaan tercapai. Terpapar jelas bagaimana Hatta menjadikan pergerakan kemerdekaan sebagai sebuah tujuan hidup, juga kecintaannya pada buku-buku yang diusungnya ke pembuangan hingga berpeti-peti.

Namun sayang, tak tercermin seberapa dingin Hatta terhadap wanita. Padahal bila Dedi membaca buku Biografi Soekarno yang ditulis Cindy Adams, ia akan menemukan gambaran yang bisa dikembangkan lagi.

Janji itu memang dipenuhi Hatta. Ia menikahi Rahmi 3 bulan setelah proklamasi kemerdekaan. Kisah percintaannya dengan Rahmi dituturkan dengan datar tanpa romansa. Dan hanya secuplik. Maka bila pembaca berharap banyak tentang bagian ini, bersiaplah kecewa.

Kata ‘Cinta’ yang dipilih Dedi dalam judulnya mungkin memiliki makna yang luas. Namun harus diakui sebagai sebuah “novel biografi”, Dedi gagal menyajikan potongan peristiwa yang membentuk alur dan penokohan bernada fiksi. Dedi menulis biografi dengan gaya sastra, penuh metafora dan bahasa tutur yang indah. Maka selayaknya label novel biografi yang ia sandangkan dibuku ini ditilik ulang kelayakannya bila tak ingin dikata mengecoh pembaca. (DS)

1 Comment

Dedia Ahimsa@inbox panitera - 12. Apr, 2010 -

Salam,

Terimakasih. Benar-benar dialog sidang yang mencerdaskan bagi penulis pemula seperti saya. Ketika memulai penulisan buku ini, saya terdorong untuk memunculkan dua hal seperti yang tertulis pada judul: cinta dan kemerdekaan. Kalau boleh disebut kesalahan, ada kesalahan penerbit ketika mereka ngirim draft kasar buku ini kepada Meutia Hatta. Akibatnya, bagian penting tentang kisah cinta Hatta harus dibuang, tidak boleh tidak. Bagian itu cukup penting karena menceritakan kisah percintaan antara Hatta dan Anni, yang merupakan ibunda Rahmi. Meutia Hatta menentang keras bahwa tidak ada hubungan apa pun antara mereka di masa muda.
Imajinasi saya agak tersumbat karena takut salah “menggambarkan” Hatta, sosok yang dikenal orang Indonesia. Dan, sejak awal saya meniatkan buku ini sebagai buku biografi dengan gaya tutur naratif, tetapi kemudian saya menyetujui ide penerbit untuk melabelinya sebagai novel.
Selain itu, kesalahan penting saya sebagai penulis adalah karena saya hanya bertumpu pada rujukan yang saya milki berupa buku, majalah, dan beberapa sumber di internet. pekerjaan sehari-hari sebagai Penghulu di sebuah Kantor Urusan Agama tidak memungkinkan saya untuk menjelajahi setidaknya tempat kelahiran Hatta dan ngobrol dengan keluarganya–selain kendala biaya tentu saja.
Sekali lagi terimakasih. Saya cukup bahagia jika buku ini menjadi bacaan para pemula.

Maturnuwun
Salam,
DAR

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan