-->

Lainnya Toggle

HATTA (DAR): Komentar Dewan Pembaca

Hernadi Tanzil (Bloger Buku, Bandung)

Saya sepakat dengan endorsement Acep Zamzam Noer, buku ini memang berhasil menyastrakan sebuah narasi sejarah dan kehidupan Hatta, namun sebagai novel saya rasa buku ini bukan sebuah novel melainkan sebuah memoir atau buku sejarah dengan kemasan sastra.

Rama Prabu (Pendiri Kaoem Dewantara Insititute, Bandung)

Awalnya saya membayangkan buku yang berjudul Hatta: Hikayat Cinta & Kemerdekaan ini adalah cerita baru tentang cinta Hatta yang unik selain pada Indonesia dan buku. Tapi buku ini justru tidak memuaskan kalau tidak ingin dibilang gagal menghadirkan sosok Hatta sebagai manusia biasa yang membutuhkan sentuhan cinta dari seorang perempuan hingga usia 40-an. Heroisme sumpah seperti Sumpah Palapa terbaca hanya pembenaran sepihak. Tapi buku ini baik jadi bacaan anak remaja dan pemula yang hendak mengenal tokoh Hatta dan bermanfaat untuk menumbuhkan semangat cinta tanah air dan minat membaca tentunya.

Gita Pratama (Pegiat Komunitas ESOK, Surabaya)

Saya cukup menikmati jalinan cerita yang dipaparkan, baik dari segi kehalusan bahasa dan pemaparan yang digunakan laiknya bagaimana pemaparan sebuah novel. Novel ini juga memiliki beberapa bidikan unik yang akan sulit ditemui dalam sebuah buku sejarah. Meski di bagian awal novel ini dibuka dengan kesan membosankan.

Salamet Wahedi (Sastrawan, Surabaya)

Buku ini tidak hanya sekadar koleksi ruang perpustakaan. Genre narasi yang dipilih penulis, memungkinkan pembaca untuk memahami  Mohammad Hatta, lebih dekat dan utuh.

Endah Sulwesi (Bloger Buku,  Jakarta)

Sebagai buku nonfiksi, penuturannya agak bertele-tele dan terjadi pengulangan-pengulangan. Mungkin penulis memaksudkannya agar buku ini jadi lebih luwes seperti buku-buku fiksi.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan