-->

Kronik Toggle

Hari Kartini & Manipol

Hari Kartini & Manipol
Djakarta, 23-4 (BT-Press)
Pada pekan jang lalu, tepatnja pada 30 April Rakjat Indonesia, terutama wanita Indonesia, merajakan hari ini. Hari telah mendjadi tradisionil jang dihormati. Pidato2, pertemuan2, dan slesia dilakukan disekolah2, diruangan2 perhimpunan, bahkan hampir dimana-mana terdapat organisasi wanita dan sekolah.
Raden Adjeng Kartini telah mendjadi perjuangan wanita utk pembenahan bagi Indonesia.
Sedjak diterbitkannja kumpulan surat2 R.A. Kartini oleh seorang Belanda (walaupun itu tidak semuanja suratnja) dan di Indonesia diterbitkan Balai Pustaka dengan djudul “Sesudah Gelap terbitlah terang”, Kartini telah dikwalifikasi sebagai pelopor kebebasan wanita dari kungkungan zamanpertengahan. Seorang pedjuang emansipasi wanita. Tetapi bukan itu sadja, Kartini djuga adalah seorang penulis … [tak terbaca], seorang ahli batik, bahkan seorang penggemar lukis …[tak terbaca]
[tiga paragraf berikutnya juga tak terbaca]… Dan dihari2 jad, tulisan2 Pramudya ini masih akan muntjul djuga diruang Bintang Minggu ini.
Satu hal jang terutama mendjadi pokok waktu ini, adalah hubungan Kartini dan hari Kartini dengan djalannja revolusi Indonesia. Pertautannja dengan suasana Manipol pada waktu ini.
Tidaklah terlampau banjak, kalau ada harapan supaja Hari2 Kartini ini tidak habis hanja dalam siesta2 dan pidato2 sadja.
Tetapi ia hendaknja mendjadi suatu hari penindjauan diri sendiri.
Terutama penindjauan  kegiatan wanita diseluruh dunia. Ia bukan terlampau banjak kalau diharapkan dipergunakan sebagai tjambuk bagi pembentukan watak peladjar, terutama peladjar putri, untuk dan untuk mendorong beladjar.
Ungkapan2 baru tentang Kartini jang dilakukan Bouman, dan dari tulisan2 Pramudya Ananta Toer akir2 ini, dapat kita mengetahui, bahwa Kartini adalah djuga seorang pemikir jang dalam seorang jang mempunjai perasaan dan fikiran2 kerakjatan. Bahkan dapat dibuktikan penulis2 Sosialis seperti Bebel banjak mempengaruhi Kartini dapat dikatakan bukan hanja pelopor emansipasi wanita Indonesia, tetapi djuga adalah seorang pedjuang dalam gerakan nasional Indonesia. Seorang pedjuang menurut tjara dan kemampuan jang dapat dilakukannja pada zamannja dan lingkungannja berada diwaktu itu untuk perbaikan hidup Rakjat dan meningkatkan hidup Rakjat. Ia mempunjai kesan2 tentang kelasa III, karena pendjadjahan.
Sesungguhnja Kartini bukanlah sekedar seorang feminis. Jah, sebagai sering dikatakan Presiden Soekarno dalam pidato2nja dan djuga pada waktu menghadapi Kongres Wanita Indonesia baru2 ini, gerakan2 wanita masih banjak jang bersifat feminis, jang bersifat gerakan raden2 aju. Dan bahkan hanja berkisar pada “mode-show2”.
Dalam bukunja “Sarinah” (Sarinah, kewadjiban wanita dalam perdjuangan Republik Indonesia oleh Ir Sukarno, diterbitkan oleh Usaha Penerbitan Guntur, Djokjakarta, 1947), Presiden Soekarno memperingatkan  bahwa Wanita hanja bisa bebas dalam Sosialisme. Dan wanita adalah bagian jang tiada terpisah2kan dari perdjuangan …. [tak terbaca sampai akhir artikel]
Sumber: Bintang Timur, 23 April 1961, hlm 1

REDAKSI. Berita ini adalah kronik klasik yang diturunkan oleh redaksi untuk melihat bagaimana sebuah peristiwa ditafsir menurut semangat zaman di mana peristiwa berlaku. Redaksi menurunkan dua kronik tentang Kartini pada tahun 1961 dan 1962.

DJAKARTA, 23-4 (BT-Press) – Pada pekan jang lalu, tepatnja pada 30 April Rakjat Indonesia, terutama wanita Indonesia, merajakan hari ini. Hari telah mendjadi tradisionil jang dihormati. Pidato2, pertemuan2, dan siesta dilakukan disekolah2, diruangan2 perhimpunan, bahkan hampir dimana-mana terdapat organisasi wanita dan sekolah.

Raden Adjeng Kartini telah mendjadi perjuangan wanita utk pembenahan bagi Indonesia.

Sedjak diterbitkannja kumpulan surat2 R.A. Kartini oleh seorang Belanda (walaupun itu tidak semuanja suratnja) dan di Indonesia diterbitkan Balai Pustaka dengan djudul “Sesudah Gelap terbitlah terang”, Kartini telah dikwalifikasi sebagai pelopor kebebasan wanita dari kungkungan zamanpertengahan. Seorang pedjuang emansipasi wanita. Tetapi bukan itu sadja, Kartini djuga adalah seorang penulis … [tak terbaca], seorang ahli batik, bahkan seorang penggemar lukis …[tak terbaca]

[tiga paragraf berikutnya juga tak terbaca]… Dan dihari2 jad, tulisan2 Pramudya ini masih akan muntjul djuga diruang Bintang Minggu ini.

Satu hal jang terutama mendjadi pokok waktu ini, adalah hubungan Kartini dan hari Kartini dengan djalannja revolusi Indonesia. Pertautannja dengan suasana Manipol pada waktu ini.

Tidaklah terlampau banjak, kalau ada harapan supaja Hari2 Kartini ini tidak habis hanja dalam siesta2 dan pidato2 sadja.

Tetapi ia hendaknja mendjadi suatu hari penindjauan diri sendiri.

Terutama penindjauan  kegiatan wanita diseluruh dunia. Ia bukan terlampau banjak kalau diharapkan dipergunakan sebagai tjambuk bagi pembentukan watak peladjar, terutama peladjar putri, untuk dan untuk mendorong beladjar.

Ungkapan2 baru tentang Kartini jang dilakukan Bouman, dan dari tulisan2 Pramudya Ananta Toer akir2 ini, dapat kita mengetahui, bahwa Kartini adalah djuga seorang pemikir jang dalam seorang jang mempunjai perasaan dan fikiran2 kerakjatan. Bahkan dapat dibuktikan penulis2 Sosialis seperti Bebel banjak mempengaruhi Kartini dapat dikatakan bukan hanja pelopor emansipasi wanita Indonesia, tetapi djuga adalah seorang pedjuang dalam gerakan nasional Indonesia. Seorang pedjuang menurut tjara dan kemampuan jang dapat dilakukannja pada zamannja dan lingkungannja berada diwaktu itu untuk perbaikan hidup Rakjat dan meningkatkan hidup Rakjat. Ia mempunjai kesan2 tentang kelasa III, karena pendjadjahan.

Sesungguhnja Kartini bukanlah sekedar seorang feminis. Jah, sebagai sering dikatakan Presiden Soekarno dalam pidato2nja dan djuga pada waktu menghadapi Kongres Wanita Indonesia baru2 ini, gerakan2 wanita masih banjak jang bersifat feminis, jang bersifat gerakan raden2 aju. Dan bahkan hanja berkisar pada “mode-show2”.

Dalam bukunja “Sarinah” (Sarinah, kewadjiban wanita dalam perdjuangan Republik Indonesia oleh Ir Sukarno, diterbitkan oleh Usaha Penerbitan Guntur, Djokjakarta, 1947), Presiden Soekarno memperingatkan  bahwa Wanita hanja bisa bebas dalam Sosialisme. Dan wanita adalah bagian jang tiada terpisah2kan dari perdjuangan …. [tak terbaca sampai akhir artikel]

Sumber: Bintang Timur, 23 April 1961, hlm 1

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan