-->

Kronik Toggle

Draf Hilang, 'Api Sejarah' Jilid II Tetap Terbit

Bandung – Ahmad Mansyur Suryanegara akhirnya meluncurkan buku kontroversinya yang berjudul ‘Api Sejarah’ Jilid II. Meski draf buku tersebut hilang saat diskusi buku ‘Api Sejarah Jilid I’ di Sukabumi tahun 2009 lalu.

Akibat draf tersebut dicuri, Mansyur harus merombak isi bukunya. Namun Mansyur menjanjikan buku setebal 578 halaman ini tak kalah menariknya dengan buku pertamanya.

Buku bercover merah dengan font putih itu telah dilaunching pada 25 Maret 2010 lalu. “Sekitar 25 persen buku ini dirombak dari draf sebelumnya,” ujar Mansyur saat ditemui usai Bedah Buku ‘Api Sejarah’ jilid II di Masjid Salman ITB, Jalan Ganeca, Rabu (7/4/2010).

Dalam buku ini, Mansyur memaparkan sejarah bangsa Indonesia yang selama ini tak terungkap. Seperti asal usul bendera merah putih dan nama Indonesia yang berasal dari Islam. Serta pembentukkan Pancasila dan TNI yang juga dipelopori oleh Islam.

Ditambahkannya, sejak pertama buku ini diluncurkan banyak tanggapan yang bermunculan. Banyak yang menyukainya, namun tak sedikit yang membenci isi buku karya Mansyur.

“Banyak yang menyukai dan ingin tahu tentang buku ini. Tapi ada juga yang benci. Biarkan saja,” tuturnya.

Rencananya, Mansyur ingin membuat buku Api Sejarah Jilid III yang memuat fragmen-fragmen sejarah lainnya yang belum dimuat dalam 2 buku sebelumnya.

Buku Api Sejarah Jilid II ini berisi tentang sejarah Indonesia dari sisi islam mulai dari zaman penjajahan Jepang hingga pemerintahan SBY. Untuk cetakan pertama telah dicetak 5.000 buku. Sementara buku Api Sejarah Jilid II kini telah mencapai penjualan 12.000 buah dan masuk jajaran buku best seller.

Draf buku ‘Api Sejarah’ jilid II hilang pada diskusi buku ‘Api Sejarah’ jilid I di Sukabumi, Rabu (9/12/2009). Saat Mansyur asyik melayani permintaan tanda tangan dari puluhan peserta diskusi, draf buku itu hilang.

Karena kejadian itu, Mansyur sempat bingung untuk menuntaskan buku ‘Api Sejarah’ jilid II. Pasalnya, Manysur tidak menyimpan soft copynya dan membuat draf dengan tulisan tangan.

*) Dikronik dari Detik Bandung, 7 April 2010

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan