-->

Kronik Toggle

Belum Masuk Daftar Pemilih, Menangi Lomba Artikel Bertema Pemilukada

Terinspirasi Kegagalan Ayah dalam Pemilu Legislatif

Karena usianya, Karina Sofiananda Armaza Faraba belum bisa ikut memilih saat pemilukada (pemilihan umum kepala daerah) Gresik pada 26 Mei mendatang. Namun, dia patut bangga karena karyanya memenangkan lomba penulisan artikel yang diadakan Komisi Pemilihan Umum (KPU), Dinas Pendidikan (Dispendik), dan Komunitas Wartawan Gresik.

CHUSNUL CAHYADI, Gresik

Namanya belum masuk dalam daftar pemilih tetap (DPT) Pemilukada 2010 Gresik. Saat hari H pemilukada, usianya kurang lima bulan untuk genap 17 tahun.

Meski begitu, ABG yang akrab disapa Karina itu memiliki pandangan yang bisa jadi bahan perenungan para kandidat yang akan berebut kursi nomor satu dan dua di Gresik. Pandangannya tersebut tertuang dalam artikel yang berjudul Jujur pada Diri Sendiri.

Lewat artikel tersebut, dia berharap para kandidat jujur dalam memaparkan visi dan misi. Dia tidak ingin saat kampanye, tim sukses para kandidat lebih menekankan pada pemberian materi. “Tim sukses calon bupati sekarang saat promosi calon hanya memberi uang, kopi, dan rokok gratis,” ujarnya.

Cara tersebut, menurut dia, bukan pendidikan politik yang baik bagi pemilih pemula. Mereka yang baru pertama memilih tidak mengetahui track record para calon.

Sosialisasi calon dengan model pemberian uang saku, ngopi, dan rokok gratis itu tidak membuat pemilih pemula merasa bertanggung jawab pada hasil pilihannya. “Karena teman-teman pemilih pemula hanya ikut-ikutan,” katanya lirih.

Pemaparannya tidak lepas dari pengalaman sang ayah, Abdullah Abbas, yang gagal terpilih pada pemilihan legislatif. “Karena Papa tidak punya uang, Papa tidak dapat suara,” ujarnya, lantas tertawa.

Berlandasan pengalaman sang ayah itulah, Karina lantas menuliskannya dalam artikel sepanjang tiga halaman. Dia memerlukan waktu tiga hari untuk menyelesaikan karya tulis tersebut.

Dalam proses penulisan itu, dia mengatakan pernah putus asa dan nyaris membatalkan niat untuk mengikuti lomba tersebut. “Saya kehabisan kata-kata,” imbuhnya.

Dorongan sang ayah yang membuatnya berusaha keras menyelesaikan artikel tersebut. Kendala itu juga yang membuatnya baru menyerahkan karya saat batas akhir penyerahan hampir habis. ”Saya baru memasukkan karya saya ke website KWG dua jam sebelum penutupan,” kenangnya.

Karena itu, dia nyaris tidak percaya ketika karyanya disebut sebagai pemenang pertama. Hadiah uang Rp 1 juta yang diterimanya akan digunakan untuk keperluan belajar. “Saya kan mau kelas XII. Kebutuhan pasti banyak. Uang itu yang akan saya gunakan,” kata ABG yang bercita-cita menjadi dokter tersebut. (c6/ruk)

*) Dikronik dari Jawa Pos, 21 April 2010

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan