-->

Resensi Toggle

Balibo Five Melawan Lupa

Ia muda, menyimpan semangat perlawanan, dan percaya bahwa media masa adalah bagian penting dari pilar kekuasaan. Media memiliki kekuatan untuk merubah pandangan dunia. Ramos Horta, tokoh pemimpin kemerdekaan Fretelin Timor Leste, membujuk Roger East, seorang wartawan senior di Australia untuk mau menjadi kepala kantor berita pertama di Timor Leste. Ramos membutuhkan kantor berita agar ia dapat mengabarkan kepada dunia mengenai apa yang terjadi di negerinya. Dan dia percaya, East mampu melakukan tugas itu. East menulis dengan hasrat, dengan api, dan Timor Leste butuh wartawan yang menulis dengan dua kekuatan itu.

Awalnya, Roger East menolak. Ia sarankan agar Horta mencari wartawan yang lebih muda. Saran East terlambat. Ramos pernah mendatangkan 5 orang wartawan muda dari Australia. Dan mereka hilang. Horta memberikan data mengenai kelima wartawan itu. Setelah mempelajari berkas yang diberikan Horta, East terhenyak. Dan ia berangkat menuju Dili, Timor Leste.

East tiba di Timor Leste dalam suasana perang dan kemiskinan. Namun disana masih ada hotel terbaik yang bisa jadi tempat beristirah. Hotel senyap yang dijaga seorang lelaki dan anak perempuannya yang masih kecil, Juliana. Gadis kecil resepsionis hotel itulah yang kelak akan bersaksi di depan Komisi Penerimaan, Kebenaran dan Rekonsiliasi (CAVR) Timor Leste mengenai tewasnya Roger East dalam invasi Indonesia di kota Dili. Disana pula, tiga minggu sebelumnya,  kelima wartawan Australia itu pernah menginap sebelum kemudian pergi ke Balibo, daerah perbatasan Indonesia dan Timor Leste.

Roger berkeras mencari tahu tentang keberadaan kelima jurnalis yang hilang. Bersama Ramos Horta, ia mengumpulkan informasi mengenai mereka. Meski agak sulit, mereka menemukan sedikit demi sedikit jejak wartawan-wartawan itu. . Dari seorang gerilyawan diperoleh informasi bahwa kelima wartawan itu pergi ke daerah Maliana, disana ada sebuah Sekolah Misionaris yang menjadi tempat mereka tinggal. Perjalanan ke Maliana hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki selama 14 jam. Tak ada pilihan lain, mereka mesti menempuh perjalanan itu.

Perjalanan panjang itu bukan hanya menguras tenaga fisik, melelahkan, tapi juga mendorong munculnya tekanan emosional. Dalam perjalanan, mereka sempat ditembaki oleh helikopter. Mereka juga menyaksikan mayat-mayat bergelimpangan di jalanan. Kampung-kampung senyap tanpa penghuni. Bahkan ketika mereka menemukan Sekolah Misionaris yang dicari telah menjadi bangunan kosong tak berpenghuni, emosi mereka memuncak karena tekanan psikologis.

Ramos dan East berdebat panjang tentang tujuan perjalanan. East memikirkan kelima watawan yang hilang dan keadilan untuk mereka. Sementara, Horta, menganggap bahwa misi mereka lebih dari sekedar itu. Ia ingin East menulis tentang negerinya, rakyatnya, agar dunia terbuka matanya. Kelima wartawan itu melakukan liputan dengan dorongan gairah itu: kemanusiaan. Bagi Horta, niatan East sungguh tidak adil dan dangkal. Merekapun berpisah ditengan perjalanan.

East melanjutkan perjalanannya seorang diri. Ketika tiba di Balibo, kota itu telah menjadi sunyah.Disebuah sekolah, mereka hanya menemukan kelas-kelas yang kosong. Darah yang membercak di tembok, dan abu yang menggunung di halaman. Dalam flashback, ditempat itu lah kelima wartawan itu tewas dengan tragis.

Lima orang wartawan itu baru saja tiba di Balibo, Oktober 1975. Tapi serangan dari tentara Indonesia sudah dimulai. Mereka berusaha sebisanya untuk mengabadikan peristiwa itu. Mereka mendapat gambar bagaimana para tentara itu setelah melepas seragam tentara kemudian menggantinya dengan pakaian biasa. Sempat juga direkamnya keberadaan enam kapal Indonesia yang terlihat dari benteng Portugis di Balibo. Peperangan tidak berimbang. Tentara Timor Leste terdesak mundur. Kelima wartawan itu ikut bergerak mundur.

Dalam situasi terjepit, mereka mencoba bertahan. Salah satu diantara mereka bahkan menderita ashma dan kambuh. Dengan setengah keyakinan bahwa jurnalis tak akan diserang dalam perang, mereka mencoba menyerahkan diri. Tapi malang, bukannya diselamatkan, ketika berkata bahwa mereka jurnalis, justru berondongan peluru yang didapat. Mereka tewas. Semua film hasil rekaman mereka dimusnahkan. Juga tubuh mereka, lebur menjadi abu. Tak ada jejak tersisa.

Menemukan kenyataan bahwa kelima wartawan muda itu tewas dan bukannya hilang, East terguncang jiwanya. Ia demikian tertekan. Namun ia melanjutkan tugas kelima anak muda itu. Mengabarkan pada dunia tentang apa yang terjadi. Kantor Berita Timor Leste ia pimpin dengan seorang juru ketik membantunya. Malang, Indonesia melakukan invasi di Dili, tepat dimana kantornya berada. Melihat tentara Indonesia mulai memasuki kota, Roger masih berusaha menulis laporan tentang peristiwa itu. Sebelum kemudian pintu kantornya didobrak, dan tubuhnya diserang peluru bertubi. Kantornya dihancurkan. Mesin ketik, kertas, berkas-berkas, semua dimusnahkan. East tewas bersamaan dengan musnahnya semua alat produksinya. Alat yang ia pakai untuk menulis. Menulis kabar untuk dunia.

Film ini mencoba menguak kebenaran mengenai tewasnya kelima wartawan Australia di Balibo. Greg Shackleton, Tony Stewart dan Gary Cunningham dari Channel 7, Brian Peters dan Malcolm Rennie dari Channel 9 sebelum berangkat ke Timor Leste juga sempat dilanda kebimbangan. Bukan hal mudah ketika seorang jurnalis ditugaskan dimedan konflik. Resikonya adalah nyawa. Dan resiko itu akhirnya mereka tempuhi. Meninggalkan semua orang terkasih, demi tugas jurnalistik.

Dalam faktanya, pemerintah Indonesia telah menyatakan bahwa kelima wartawan itu tewas tanpa sengaja di tengah baku tembak antara tentara dan kelompok Fretilin. Versi ini telah diterima Pemerintah Australia. Tapi Ramos Horta, sebagai presiden Fretelin Timor Leste berkeyakinan lain. Menurut Ramos Horta, pejabat Indonesia telah memerintahkan tentara untuk membakar mayat kelima wartawan itu untuk menyembunyikan bukti pembunuhan. Mereka menghilangkan bukti penyiksaan bahwa para wartawan itu ditangkap hidup-hidup lalu dibunuh dengan brutal.

Balibo Five menunjukkan dengan gamblang dan menyentuh, bagaimana seorang jurnalis di daerah konflik mesti bertahan antara tugas dan kekhawatiran keselamatan pribadi. Dalam film ini ditunjukkan alasan kelima wartawan itu bertahan sudah bukan lagi sekedar melaksanakan tugas kantor, tapi demi kemanusiaan. Mereka melihat ketidakadilan di Timor Leste dan ingin dunia, Negara-negara lain (khususnya Perserikatan Bangsa-Bangsa) mengetahui itu dan melakukan tindakan.

Tugas mereka adalah mengabarkan apa yang terjadi di daerah konflik. Mereka sudah melihat kenyataan yang terjadi dilapangan. Dan kabar itu mereka siarkan hingga dunia mendengarnya. Tapi kebenaran mengenai diri mereka sendiri tak terungkap. Meski tahun 2007, seorang koroner Australia yang meninjau kembali bukti-bukti kematian menemukan bahwa para wartawan itu tewas saat mereka mencoba menyerahkan diri kepada tentara Indonesia dan merekomendasikan agar para pembunuhnya dituntut atas kejahatan perang, namun seruan itu tak didengar. Keberadaan film ini dimaksudkan agar pemerintah Australia bergerak dan melakukan tindakan penuntutan atas kejahatan perang.

Tiga puluh tahun lebih peristiwa Balibo dan tawasnya Roger East itu dikuburkan tanpa kejelasan. Balibo Five mencoba melawan untuk mengingatkan kembali atas tewasnya kelima wartawan itu. Pekerja jurnalistik sebagai pejuang penyebar kabar  di daerah konflik, layak mendapat keadilan. Mereka menulis dan menyuarakan kondisi medan perang dengan pertaruhan nyawa. Dan waktu yang menggiring dunia pada lupa, mesti dilawan. Balibo Five melawan lupa itu. (Diana AV Sasa)

Foto diambil dari: www.cbc.ca/arts/film/story/2009/…mor.html

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan