-->

Kronik Toggle

Australia-Indonesia Luncurkan Buku Bersama

SURABAYA–Universitas Melbourne (Australia) bekerja sama dengan Yayasan Kelola (Indonesia) meluncurkan tiga buku tentang sumber daya manusia (SDM) seni kolaboratif.

“Kerja sama seni dan pertukaran budaya merupakan bagian penting bagi Indonesia dan Australia,” kata Duta Besar Australia untuk Indonesia, Bill Farmer, dalam surat elektronik yang diterima ANTARA di Surabaya, Rabu.

Ia menyambut baik kerja sama kedua lembaga tersebut, terutama dalam upaya memajukan pengembangan profesi manajer kesenian di Indonesia.

Tiga buku yang diluncurkan di Jakarta Art District, Grand Indonesia itu, masing-masing berjudul Pameran Keliling, Manajemen Festival dan Acara; dan Pengembangan Budaya Masyarakat.

Buku tersebut dimaksudkan untuk mengisi kekosongan informasi dalam mengembangkan keahlian di bidang seni.

Dalam mewujudkan program itu Universitas Melbourne membentuk sebuah lembaga bernama Asialink.

Lembaga itu kemudian bekerja sama dengan mitranya di Indonesia, Yayasan Kelola dan sejumlah lembaga kesenian dengan agenda utama adalah menerbitkan buku manajemen seni yang dan budaya dalam bahasa Indonesia.

“Buku lintas-budaya, yang diproduksi dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan dukungan Ford Foundation Jakarta kami distribusikan ke sejumlah lembaga kesenian dan pendidikan tinggi di Indonesia,” kata Direktur Yayasan Kelola, Amna S. Kusumo.

Menurut dia, yayasan yang dipimpinnya mendukung masyarakat kesenian Indonesia dengan memberikan kesempatan pembelajaran, pendanaan, dan informasi sejak 1999.

Yayasan Kelola telah beberapa kali menerima kehadiran seniman dan seniwati asal Australia untuk tinggal di Indonesia.

Sedangkan program Asialink lainnya, adalah memajukan pemahaman timbal balik di kawasan Asia. Hingga saat ini sekitar 40 seniman Australia tinggal dan bekerja di Asia melalui Program Residensi Seni Asialink.

Program Residensi Seni 2010 Asialink yang berbasis di Indonesia akan menghadirkan artis Australia untuk tinggal di Bali, Makassar, dan Yogyakarta.

Progam tersebut mencakup pertukaran penulisan dan puisi dalam Festival Penulis dan Pembaca Ubud, penelitian tentang pemotretan Indonesia kontemporer, lokakarya pembuatan peralatan kesenian, kerja sama perwayangan, dan penelitian tentang seni jalanan Yogyakarta.

*) Dikronik dari Kompas online 2 April 2010

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan