-->

Kronik Toggle

Abuya Sebarkan Cerita Satu Keluarga Selamat Sebut Namanya

abuyaBandung – Untuk meyakinkan pengikutnya, Abuya Asaari Muhammad Tamimi sang pemimpin Klub Poligami Global Ikhwan, membuat cerita luar biasa, yang mengesankan dialah sang penguasa tsunami. Disebutkan satu keluarga selamat dari maut hanya gara-gara menyebut namanya.

Hal itu terungkap dalam bedah buku ‘Tsunami Membuktikan Abuya Putra Bani Tamimi (Satria Piningit).” Bertempat di Rumah Makan Sindang Reret, Jalan Surapati, Kota Bandung, Jumat (23/4/2010) malam.

Dalam Bab 4 di halaman 30 buku ‘Tsunami Membuktikan Abuya Putra Bani Tamim (Ksatria Piningit)’, diceritakan satu bukti besar bahwa tsunami itu dikendalikan Abuya Asaari, dapat dilihat dalam kejadian di Jalan Tanjung No 8, Lampulo, Banda Aceh. Peristiwa itu menimpa keluarga seorang pegawai Dinas Kesehatan setempat bernama Rita Mutia bersama kakak lelakinya bernama Syeikh Mujiburrizal.

Diceritakan dalam buku itu, saat air laut sudah sampai ke leher masing-masing anggota keluarga saling berpegangan tangan dan meminta ampun kepada Allah untuk sama-sama mati. Keluarga Rita yang ikut berada di tingkat dua rumah tetangganya telah menjerit dan meminta tolong. “Mak, Ayah, toloong,”. “Ya Allah toloong! Ya Allah toloong!” teriak mereka seperti diceritakan dalam buku.

Ditulis kemudian, kakak lelaki Rita yang bernama Syeikh Mujiburrizal meminta Rita jangan meminta tolong kepada Allah melainkan kepada Abuya. Syeikh pun dengan lantang berteriak “Abuya tolooong!” Rita pun menuruti perintah Syeikh lalu keduanya sama-sama berteriak “Abuya Toloong! Abuya toloong!” lantang mereka, seperti dikutip dalam buku.

Cerita berlanjut. Syeikh Mujib terkejut karena melihat sebuah kapal ikan berwarna hitam yang memuat sekitar 100 orang. Rupanya kapal itu tidak lain kapal buruk dan bocor yang selama ini terlihat sedang diperbaiki nelayan di laut. Kapal itu diceritakan meluncur cepat ke arah mereka bak kapal yang dipandu pasukan penyelamat gaib.

Diceritakan lagi, Syeikh Mujib dan 24 orang lainnya meyakini kapal tersebut dipandu seseorang. Namun setelah naik ke atas kapal, mereka mendapati tak ada seorang pun di dalamnya. Sementara tetangga seberang yang berlindung di atas genting rumah, dikisahkan menjerit-jerit. “Buaya! Buaya !” katanya mereka tertulis dalam buku.

Sore harinya ketika air mulai surut, diceritakan, rumah Syeikh Mujib dan Rita masih kokoh berdiri. Dalam buku itu ditulis meski air masuk rumah tapi buku-buku Abuya tidak ada yang basah. Penulis buku itu, Hatijah, meyakini rumah Syeikh Mujib dan Rita terlindung dari tsunami meski letaknya hanya 2 KM dari laut.

Kisah ini kemudian ditulis sebagai kejadian ajaib karena Banda Aceh yang terletak 7 KM dari laut ternyata porak poranda oleh tsunami. Buku itu juga menyebut bahwa yang menyelamatkan rumah Syeikh dan Rita adalah Allah lewat ribuan ruh yang diketuai Abuya dengan menggunakan cahaya.

“Meski mengatakan tsunami miliknya, tapi Abuya sangat sadar bahwa Allah yang membuatnya. Abuya hanya pemimpin yang dipilih Allah,” ujar Ketua Global Ikhwan Kota Bandung, Mochammad Umar.

(ern/ern)

*) Dikronik dari DETIK Bandung, 24 April 2010

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan