Day: April 10, 2010

Mengurai Kenangan dengan Scrapbook

Bandung – Era digital mungkin membuat pendokumentasian dalam bentuk cetak foto agak diabaikan. Kenangan-kenangan itu tersimpan di laptop, PC, telepon genggam, hingga situs jejaring sosial seperti facebook.

Selengkapnya >>

H.E. Huntington: Ambisi Jawara Buku

Budaya Aristrokrasi mengusung kemegahan dan kemewahan sebagai simbol status sosial. Setiap orang berusaha menunjukan kelasnya dengan pelbagai cara. Kian besar nama mereka, kian mereka akan diperbincangkan dari mulut ke mulut dan tetap dikenang setelah kematiannya.

Selengkapnya >>

Balibo Five Melawan Lupa

Ia muda, menyimpan semangat perlawanan, dan percaya bahwa media masa adalah bagian penting dari pilar kekuasaan. Media memiliki kekuatan untuk merubah pandangan dunia. Ramos Horta, tokoh pemimpin kemerdekaan Fretelin Timor Leste, membujuk Roger East, seorang wartawan senior di Australia untuk mau menjadi kepala kantor berita pertama di Timor Leste. Ramos membutuhkan kantor berita agar ia dapat mengabarkan kepada dunia mengenai apa yang terjadi di negerinya. Dan dia percaya, East mampu melakukan tugas itu. East menulis dengan hasrat, dengan api, dan Timor Leste butuh wartawan yang menulis dengan dua kekuatan itu.

Selengkapnya >>

Semua Orang Bisa Jadi Jurnalis

SERANG–Menjadi seorang jurnalis itu tidak mesti dari orang yang mempunyai latar belakang jurnalis, “Masyarakat biasa pun pada dasarnya bisa menjadi seorang jurnalis asalkan ia mempunyai kemauan dalam hal tulis menulis,” ungkap Jodhi Yodono pada saat mengisi Workshop Citizen Jurnalisme yang diadakan oleh Rumah Dunia (10/04).

Selengkapnya >>

Surat Siswa SD untuk Gayus Tambunan

Surakarta – Tulisan di atas adalah sekelumit paragraf surat yang ditulis Dewi Cikita Wulandari, 12 tahun. Siswi kelas 6 Sekolah Dasar Yosodipuro Surakarta ini sedang menulis surat yang ditujukan kepada Gayus Tambunan, tersangka kasus mafia pajak yang memiliki kekayaan hingga Rp 28 miliar. Selain dia, 30 teman sekelasnya juga menulis surat serupa.

Selengkapnya >>

Pelarangan Buku: "Keusangan" yang Diduplikasi

… hal yang paling konyol, adalah masih diterapkannya peraturan usang untuk melarang jenis media yang paling awal, buku. Ironis sebenarnya, Indonesia yang mengaku sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia, setelah Amerika Serikat dan India, ternyata masih menerapkan sebuah peraturan usang dengan dasar hukum yang juga usang. Peraturan tersebut adalah pelarangan buku yang menggunakan aturan usang, kalau tak dibilang primitif, yaitu UU No. 4/PNPS/1963 tentang pengaturan barang cetakan. Peraturan itu masih “ditegakkan” sampai tahun 2009 kemarin, di mana lima buku dilarang peredarannya oleh negara.

Selengkapnya >>