-->

Resensi Toggle

The Reader: Aib Buta Aksara

Sejauh mana seseorang akan bertahan memegang sebuah rahasia? Hanna Schmitz mengenggam kuat-kuat rahasianya hingga ajal tiba. Ia memilih menjalani sisa hidupnya dalam penjara dari pada membuka rahasia. Ini adalah rahasia yang tak ingin ia kuak meski hidupnya menjadi pertaruhan. Ia malu bila rahasia itu diketahui orang lain. Hanna tak mau seorangpun tahu bahwa ia buta huruf.

Hanna seorang petugas kontrol tiket kereta trem di Jerman. Pekerjaannya saban hari adalah meminta tiket pada penumpang, kemudian melubanginya. Ia tak butuh ketrampilan baca tulis untuk melakukan itu. Dan tak seorang pun tahu rahasia itu. Hingga pertemuan dengan seorang bocah umur 15 tahun di sebuah sore yang hujan membawanya pada perkenalan dengan tradisi membaca.

Bocah itu Michael Berg. Hanna menolong Mike ketika muntah di depan apartemennya, sepulang sekolah pada suatu sore. Pertemuan pertama itu membawa Hanna dan Michael pada pertemuan kedua lalu ketiga. Di pertemuan ketiga inilah, dua manusia beda umur 21 tahun itu malakukan persetubuhan. Pengalaman pertama bagi Michael. Dan sepanjang musim panas Michael membagi kesenangan baru bagi Hanna: membaca buku diantara persetubuhan.

Hanna tak ingin Micahel tahu bahwa ia tak bisa membaca. Ia malu.“Aku lebih suka mendengarmu”, kilahnya. Maka Michael pun mulai membacakan buku demi buku. Dari The Odyssey, The Lady with the Little Dog, Adventures of Huckleberry Finn, hingga komik Tintin. Saban satu buku satu percintaan, begitu aturannya. “Bacakan, lalu kita bercinta”,kata Hanna. Membaca buku berhadiah persetubuhan itu pun menebar di ranjang, di meja makan, hingga di kamar mandi.

Dan musim panas berlalu. Hanna mendapat promosi untuk bekerja di kantor, tidak lagi di atas trem. Itu berarti ia harus meninggalkan kota sekaligus meninggalkan kekasih yang tekun membacakan buku untuknya. Tepat dihari ulang tahun Michael, usai sebuah percintaan, Hanna pergi tanpa pamit.

Perjumpaan mereka terjadi bertahun kemudian ketika Michael telah menjadi seorang mahasiswa fakultas hukum Universitas Heidelberg. Professor Rohl meminta mahasiswanya untuk mengamati sebuah persidangan. Itu adalah sidang yang sedang memproses kejahatan perang (Nazi) atas 6 orang terdakwa perempuan penjaga SS.  Sebuah kebakaran menyebabkan 300 orang Yahudi meninggal dalam kamp konsentrasi karena pintu gereja tidak dibuka oleh penjaga SS. Salah satu diantara terdakwa itu adalah Hanna.

Sidang menyudutkan Hanna. Lima orang kawannya yang lain mengatakan bahwa Hanna lah yang bertanggung jawab atas semua keputusan. Ia yang bertandatangan atas laporan daftar urutan pembinasaan orang-orang dalam kamp. Hanna menolak tuduhan itu. Setiap keputusan selalu disepakati bersama. Pengacara meminta Hanna membuktikan bahwa bahwa tulisan tangan dalam laporan bukanlah tulisannya. Sebuah kertas dan pulpen disodorkan padanya. Hanna terdiam. Tak bereaksi. Saat itulah Michael tahu bahwa Hanna sesungguhnya tak dapat membaca menulis. Ia mendapat alasan mengapa Hanna lebih suka dibacakan buku. Juga mengapa Hanna nampak bingung ketika membaca menu restoran.

Dan mengakui bahwa ia tak dapat membaca menulis adalah aib bagi Hanna. Maka ia memilih mengakui bahwa dirinyalah yang menulis laporan itu. Kertas dan pulpen itu tak sedikitpun disentuhnya. Bagi Hanna, lebih baik ia dituduh membantai 300 orang dari pada harus mengakui bahwa ia buta huruf. Ia genggam rahasia itu baik-baik.

Michael gusar. Ia tahu kebenarannya. Hanna tak menulis laporan itu, apalagi menandatanganinya. Menulis namanya sendiri pun Hanna tak mampu. Michael mengalami dilema. Satu sisi ia memiliki tanggung jawab moral untuk mengatakan apa yang diketahuinya. Disisi lain ia harus menghormati Hanna yang sangat kukuh memegang rahasianya. Michael menghormati itu. Dan, Hanna mendapat vonis seumur hidup. Rahasia itu tetap terjaga.

Selama Hanna dalam penjara, Michael telah menikah dan memiliki seorang anak perempuan. Namun pernikaha itu tak berjalan lama. Michael memilih berpisah. Ada perasaan dari masa lalunya yang terus merundungnya dengan rasa bersalah.

Pencerahan datang ketika Michael membuka beberapa buku lawasnya dan teringat percintaan dengan Hanna semasa ia bocah. Michael kemudian tergerak untuk membaca, merekamnya, dan mengirimkan kaset pada Hanna di penjara. Mendapati kiriman kaset-kaset buku itu, Hanna seperti menemukan semangat baru dalam penjara. Ia mendengarkan semua buku. Menanti kiriman baru saban minggu. Michael pun menghabiskan waktu dengan membaca berkardus-kardus bukunya. Semua dibaca, direkam, dikirimnya. Buku cerita lucu, novel, hingga komik.

Hanna terbiasa mendengarkan. Selain kaset, ia juga dikirimi buku oleh Michael. Dari sana, ia belajar menulis. Ia mendengar kata ‘the’ dan ia dapati huruf-huruf yang membentuk kata ‘the’ dalam buku. Hanna menemukan sendiri metode belajar menulisnya. Ia mencari bunyi dan rangkaian hurufnya dalam buku. Perlahan, ia dapat menulis surat pendek. Ia kirimkan surat-surat untuk Michael, namun tak pernah berbalas. Meski kaset-kaset tepat dikirimkan Michael.

Hingga masa pembebasan untuk Hanna tiba. Sebagai satu-satunya kenalan Hanna, Michael diminta Kepala Penjara utuk menjemput dan mencarikan tempat tinggal untuk Hanna. Setelah 30 tahun, pertemuan dua manusia yang memendam hasrat itu terjadi. Semua sudah berubah. Meski dinanti, namun pertemuan itu menguak luka masa lalu.

Usai pertemuan, Hanna menggantung diri di kamarnya dengan menjadikan buku-buku sebagai pijakan. Ia selesaikan kebutaannya pada aksara dengan kematian. Sebuah kaleng teh berisi uang dan tabungan di bank ia tinggalkan untuk diberikan pada Ilana, salah seorang korban selamat. Uang itu kemudian disumbangkan untuk organisasi yang bergerak menangani buta huruf pada orang dewasa, terutama Yahudi. Rahasia itu terbayar sudah. Bagi Hanna, lebih memalukan mengakui dirinya buta huruf daripada mengakui ia telah membantai 300 nyawa. Dibawanya rasa malu itu ke kubur gelap tepat di ujung pencerahan yang ia dapati setelah mampu membaca-menulis.(Diana AV Sasa)

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan