-->

Kronik Toggle

Taufiq Ismail Kecam JR UU Pelarangan Buku PB HMI

JAKARTA — Terkait dengan judicial review (JR) yang dilakukan oleh PB HMI terhadap UU mengenai pelarangan buku, sastrawan kondang yang juga alumnus HMI tahun 1960-an, Taufiq Ismail, menentang secara keras. Taufiq Ismail mengkhawatirkan apa yang dilakukan oleh PB HMI bisa mendorong bangkitnya kembali ajaran-ajaran komunisme di Indonesia.

Dalam SMS yang dikirim ke Ketua Umum PB HMI (MPO), M. Chozin Amirullah, dan juga diforward ke beberapa alumni yang lain, beliau menuliskan:

“Dari Taufiq Ismail, alumnus HMI 1963. HMI tertipu dgn ikut JR (judicial review) ke MK itu. Ada 7 tahun sejarah getir masa Demokrasi Terpimpin yg patut dihayati dan didalami utk memahami taktik cerdik KGB (Komunis Gaya Baru), melanjutkan ide mereka 51 tahun silam. Kami alumni HMI sangat silap karena lalai mengestafetkan penghayatan sejarah ini kepada adik-adiknya. Di belakang ini, mereka yg dg fasih menyebut2 wacana dan UU itu, justru melarang buku (1964-1965) bahkan membakarnya. Kini mereka merubah taktik dg licik prodemokrasi. HMI tertipu ikut2an mereka. Seharusnya kita kukuh bertahan dg UU no 27/1999, yg sangat solid. Saya menyerukan cabut dukungan thd JR review itu. Panggil saya dan kawan2 alumni utk menjelaskan ini (TI). Catatan saya (LH–Lukman Hakim, alumni HMI yg saat ini di PPP, red): Utk memahami situasi masa keangkuhan komunis,  cobalah baca buku yg disunting TI: PRAHARA BUDAYA.”

Taufiq Ismail tidak sendirian mengecam PB HMI, beberapa alumni  lain seperti Asri Harahap (mantan presdium KAHMI) dan Lukman Hakim (pengurus PPP). Asri bahkan menyerukan kepada PB HMI (Dipo) untuk melakukan somasi kepada PB HMI (MPO).

Menanggapi kecaman ini, M. Chozin menyampaikan bahwa JR yang diajukan tidak ada kaitannya dengan ideologi. “Ini adalah murni persoalan intelektual, kami tidak ada urusan dengan idiologi-ideologi, bahwa apa yang kami bela adalah kebebasan intelektual, bukan saatnya lagi pemerintah mengatur-ngatur soal bacaan warga,” demikian kata Chozin.

Lebih lanjut, salah satu kuasa hukum PB HMI, Gatot Goei, menyampaikan bahwa HMI adalah milik generasinya. PB HMI tidak ada urusan dengan trauma dan dendam masa lalu. HMI akan kerdil jika masih mewarisi dendam masa lalu.

Namun demikian, beberapa alumni juga malah mendukung pengajuan JR oleh PB HMI tersebut. Mantan Ketum PB HMI, Syafinuddin Almandary, menyatakan: “…saya tetap tidak setuju melarang buku. itu sama artinya menghambat daya jawab kita karena tidak ada proses yang membentuk suasana untuk berpikir keras dalam rangka menjawab tantangan itu. Pikiran harus dijawab dengan pikiran, bukan bukan dengan api !!!

Sumber: PBHI. NET, 23 Maret 2010

6 Comments

Saut Situmorang - 27. Mar, 2010 -

Dengan membawa-bawa nama HMI untuk membela-bela Dendam Pribadinya sendiri, Taufiq Ismail cumak memalukan HMI belaka. Berani gak Taufiq Ismail debat-publik tentang PKI dan sumbangan besar PKI atas lahirnya Republik Indonesia! Masak sejarah Indonesia dia klaim harus kita pelajari dari buku jeleknya yang berjudul sensasional itu, ‘Prahara Budaya’! Gawat! Hahaha…

ssa - 27. Mar, 2010 -

Coba tanyakan alumni lain,apa kata mereka tentang hal ini. TI menggunakan “KAMI” itu mewakili berapa besar gelombang alumni HMI..???

saut situmorang - 27. Mar, 2010 -

Daripada baca tulisan Taufiq Ismail ato celotehnya tentang PKI dan Sejarah Indonesia, lebih baik baca hasil penelitian akademis Barat kayak buku “The Rise of Indonesian Communism” karya klasik Ruth McVey yang udah diterbitkan-ulang ama penerbit Equinox Jakarta pada tahun 2006 lalu. ato buku John Roosa “Dalih Pembunuhan Massal” yang dilarang Kejaksaan Tak-Agung itu. PKI punya hubungan historis yang erat dengan Sarekat Islam di zaman kolonial Hindia Belanda dan salah seorang tokoh penting dari kedua organisasi ini adalah Haji Misbach. saya yakin Haji Misbach jauh lebih penting bagi Sejarah Indonesia dibanding seorang Taufiq Ismail, yang namanya baru naik daun setelah rejim diktator militer Orde Baru (yang didukungnya penuh itu) merebut Kekuasaan dari Pemerintahan Sipil Sukarno yang sah!

saut situmorang - 27. Mar, 2010 -

Dan mana ada Prahara Budaya! yang ada cumak Polemik Budaya antara dua kelompok yang berbeda ideologi berkesenian. Setelah 1965 barulah ada Prahara Budaya yang sampek hari ini masih terus merusak Budaya Indonesia terutama Sastra Indonesia, dan Taufiq Ismail sangat bertanggung-jawab atas terjadi dan langgengnya Prahara Budaya Liberal tersebut !!!

Uba Ingan Sigalingging - 28. Mar, 2010 -

Taufiq Ismail adalah salah satu orang yg bertanggung atas kebangkrutan Republik Indonesia saat ini. Taufik Ismail dan sekian banyak seniman lainnya merupakan kaki tangan Orde Baru dan secara sadar memberi Legitimasi kultural atas kediktatoran Soeharto. Taufik Ismail selalu mengatakan : “Cara makan yang baik adalah, jangan masukkan sendok ke mata teman di sebelahmu”.

GM - 29. Mar, 2010 -

“Catatan saya (LH–Lukman Hakim, alumni HMI yg saat ini di PPP, red): Utk memahami situasi masa keangkuhan komunis, cobalah baca buku yg disunting TI: PRAHARA BUDAYA.”

Untuk mengetahui bagaimana wajah sejati buku “Prahara Budaya”, cobalah LH mengklik ini tautan: http://indonesiabuku.com/?p=863

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan