-->

Tokoh Toggle

Taufik Rahzen: Kota, Buku, dan Perjumpaan

Oleh Muhidin M Dahlan

Ada orang melihat jiwa kota dari bebarisan bangunannya. Ada orang yang melihat kota dari lidahnya dengan mencicip makanannya. Ada orang yang melihat kota dari pertumbuhan ekonominya. Ada orang yang melihat kota dari sandang dan penciptaan mode. Tapi ada orang yang melihat kota dengan buku dan segenap-genap pencapaian intelegensinya.

Taufik Rahzen, lelaki peziarah paruh baya kelahiran Sumba 1963, mengitari, menghidupi, dan memberi tafsir-tafsir segar atas kota-kota dengan dan dari buku-buku yang dibesarkan kota itu.

Dengan mengantongi sekuplet semboyan, “Sebutkan nama kota, akan saya tunjukkan di mana pusat magma buku”, ia menyusuri lorong-lorong kota lewat peta pikiran yang diberi buku-buku.

Tapi “magma buku” yang dimaksudkannya bukanlah toko-toko buku yang menjual kebaruan dan bersifat “hari ini”, melainkan lapak-lapak, toko buku bekas, dan bahkan tempat pembuangan kertas.
Selalu ada kejutan di sana.

Dan bagi seorang peziarah akal budi, kejutan berarti kesegaran. Dan kesegaran adalah inovasi gagasan.

Kepada wartawan Koran Tempo—yang kemudian mempublikasikan ceritanya pada 26 Juni 2005—Taufik mengelak aktivitasnya mengumpulkan buku-buku sebagai langka sebagai sebuah hobi.

Sebab baginya, buku bukan benda-benda mati yang dikumpulkan, tapi serupa seorang ibu bagi pengetahuan. Mirip cara penghormatan orang Bali yang saban bulan Saraswati tiba mengupacarai buku-buku.

Seperti lelaki patriark yang mencari jodoh, Taufik menyusuri lapak-lapak, kios-kios di mana buku digelar, dan bahkan ke pengepulan kertas-kertas bekas.

Baginya, di sinilah kerap perjodohan itu berlangsung dengan sangat ajaib.

Maka bertemulah ia dengan ribuan buku tua, ratusan buku langka, dan belasan ribu buku-buku biasa. Ada naskah asli komik Si Buta dari Gua Hantu karya Ganes TH.

Terdapat pula peta arsitektur bangunan di Eropa, peta Eropa abad ke-16 yang kertasnya merupakan produksi sendiri, dan peta militer penyerangan Napoleon ke Rusia abad ke-18.

Buku tentang lukisan Soekarno edisi I dengan paraf Soekarno, foto-foto Che Guevara dan Fidel Castro juga ada. Lembaran surat dari Raffles ketika berada di Jawa kepada temannya di Yunani ataupun pamflet komunis Rusia di Kamboja.

Semua-mua usaha perburuan buku langka, tua, buku-buku second hand, terbaikan atau termarjinalkan, yang dilakukan Taufik itu tiada lain serangkaian panjang pengejaran kesegaran gagasan, inovasi makna, dan ikhtiar merefleksikan tindakan-tindakan baru untuk masa depan.

Dengan pijakan itu ia mengelanai satu demi satu kota. Satu demi satu negara. Asia. Amerika. Eropa. Datang beberapa saat lalu pergi lagi dengan ketukan jejak kaki yang nyaris sama dan dikenali. Mendeteksi watak dan jiwa kota dari bukunya masing-masing.

Dari buku, Taufik ingin empat kota dan empat kesaksian. Bali. Yogyakarta. Bandung. Jakarta. Dibandingkan dengan negara lain, Indonesia, menurutnya, surga bagi perjodohan dengan buku-buku dan naskah-naskah antikuariat.

BALI
Buku Dr. C. Hooykaas, Agama Tirtha, Five Studies in Hindu-Balinese Religion (1964) yang menjadi kompas pertama bagi saya untuk memetakan kehidupan Bali mula-mula.

Buku yang mengacu pada tiga jenis naskah, yaitu: Stuti, Tutur dan Kakavin yang jumlahnya tidak terlalu banyak itu berkisah tentang Tirtayatra. Tirta itu air.

Sementara Yatra menunjuk pada jejak-jejak perjalanan. Orang-orang Bali mendefinisikan mereka dalam tindakan-tindakan aktif dan kudus dalam perjalanan mencari air (suci).

Bersandar pada jangkar air itulah kita kemudian memahami mengapa upacara-upacara Bali berpusat di Pura Batur yang terletak di kawasan Danau Kintamani, Bangli.

Sistem religiusitas itu yang berkembang menjadi subak-subak yang meliputi seluruh Bali. Di sini, Tirta bisa kita baca sebagai jangkar dan pondasi utama agrarisme masyarakat Bali.

Sementara Yatra adalah pembalikannya. Yatra adalah sebuah turisme. Pusat peribadatannya bukan di gunung, melainkan di Pura Segara yang terletak di pantai.

Monumen dari simpul Yatra terkini yang bisa kita lihat adalah Bandara Ngurah Rai.

Dari buku kunci itu kemudian saya menyusuri Bali dan watak-wataknya. Saya membagi manusia Bali dalam dua genre berdasarkan bukunya: “guide books” dan “babad-babad”.

“Guide Books” menunjuk masyarakat masa depan; buku-buku yang dibawa oleh bukan orang Bali.

Dari Society of Balinese Studies saya kemudian tahu bahwa Bali adalah satu-satunya kota Indonesia yang menyediakan dirinya terbuka total untuk dijadikan objek bagi penulisan buku-buku untuk kebutuhan studi.

Nyaris tak ada kota yang ditulis sedemikian rupa dari pelbagai ranah dan oleh peneliti-peneliti kelas dunia.

Menurut saya, studi tentang Bali lebih besar dari studi tentang Indonesia di seluruh dunia. Dan doktor yang dilahirkan oleh studi tentang Bali sangat banyak: Cliford Geertz, Gregory Bateson (Antropologi Visual), Adrian Vickers (Panji), Margared Mead (Pengasuhan Anak), Jane Belo.

Dalam studi antropologi dunia, Bali adalah salah satu rujukan utama. Sekaligus menjadi laboratotium kultural, sosial, sastra, dunia.

Dalam soal literer, Bali juga adalah yang paling kuat. Hampir semua hal di kawasan “kecil” ini memiliki “buku penghuni”nya: arsitektur, kemasyarakatan, turisme dan kuliner, alam (bunga, buah-buahan, botani), senirupa, seni pertunjukan, tari, dan seterusnya.

Tentang soal Bali pula, Tony Wheeler membuka ranah penerbitannya untuk pertama kali, Lonely Planet.

Dan kita tahu kemudian, Lonely Planet adalah salah satu penerbit “guide books” terbesar dan meliputi seluruh di dunia.

Jika “guide books” menunjuk masa depan, maka “babad-babad” menunjuk pada masa yang sangat jauh di belakang. Hanya kalangan terbatas dan para brahmana saja yang memiliki akses membicarakan babad yang sangat terbatas itu.

Karena itu untuk orang-orang kontemporer Bali sulit sekali memberikan keterangan pada asal usul mereka yang sangat lampau dalam babad-babad.

Di dua jenis masyarakat itulah saya hidup; masyarakat “guide books” dan “babad”. Dari koleksi yang jumlahnya 3 ribuan, saya masih menyimpan Babad Pasek, Babad Bedahulu, dan Babad Bali. Dari babad itu lalu saya merujuk ke tempat, ke orang-orang, lalu ke peristiwa dengan dibantu “guide books”.

YOGYAKARTA
Di Yogyakarta, saya temukan ensiklopedia Denis Diderot bertarikh 1772. Koleksi edisi terbatas itu dibandrol harga Rp 10 juta.

Inilah salah satu buku koleksi yang saya dapatkan dengan harga mahal.

Tapi saya ingin menceritakan kota ini dari buku-bukunya. Kota ini pada dasarnya adalah konsumen buku sebelum revolusi penerbitan itu meledak di awal warsa 90-an.

Saat itu sentral penerbitan belum terbentuk. Cuma dua penerbit utama: Gadjah Mada University dan Kanisius.

Artinya, pada mulanya kota ini menjadi konsumen buku. Tak dididik sebagai kota bisnis yang memproduksi buku. Baru kemudian tahun-tahun 90-an terjadi revolusi penerbitan.

Tiba-tiba hampir semua energi dikerahkan berkonsentrasi memproduksi dan sekaligus mengonsumsi buku. Prinsip produsen dan konsumen (prosumen) buku itu berlangsung secara bersamaan.

Karena itulah kita paham kemudian muncul pemotongan atau rabat buku yang begitu tinggi di kota ini yang menjadi ciri Yogyakarta. Dan itu hanya bisa dipahami dalam konteks Yogya; awalnya konsumen tapi tiba-tiba sekaligus menjadi produsen.

Sementara ada hasrat yang kuat menyesuaikan pemasaran umum yang secara ajaib kemudian melahirkan sistem pemasarannya sendiri.

Dan revolusi perbukuan itu juga yang mengubah pusat-pusat buku. Dulu, buku-buku second hand di pasar buku Yogya tidak lebih kaya dari perpustakaannya. Justru isi perpustakaannya yang kaya.

Di Yogyakarta ada beberapa perpustakaan dengan koleksi yang baik: perpustakaan Islam Mangkubumi (dekat Tugu), Kataketik (Kota Baru), Kentungan, IAIN, Gadjah Mada, Perpustakaan Hatta, Sanata Dharma, dan Perpustakaan Wilayah Malioboro.

Tapi sekarang justru sebaliknya. Pengetahuan tak lagi terkonsentrasi di perguruan tinggi, melainkan berada di publik, seperti toko buku umum yang berdiskon, penerbit, internet, maupun individu-individu.

Perubahan agensi pengetahuan itu merupakan konsekuensi langsung dari revolusi penerbit rumahan yang presedennya tak pernah ditemukan sebelum-belumnya.

Inilah yang disebut jenis bisnis yang muncul pada lahan yang tepat. Sebab sudah jadi memori kolektif bahwa Yogyakarta gudangnya kaum intelektual dan penulis. Dan bisnis penerbitan lahir secara massif di lahan itu.

Penerbit independen itulah yang menjadi ciri khas kota ini. Yang berbeda dengan Jakarta dengan film independennya. Atau Bandung dengan musik dan mode independen. Juga di Bali yang lebih terkenal usahawan independennya di pelbagai bidang seperti kraft, kaos, seni, dan sebagainya.

BANDUNG
Jika Yogyakarta terkenal dengan buku-buku yang bersifat internal, nasional, kekinian, dan rumah penerbitannya yang massif, maka Bandung terkenal dengan koleksi-koleksi buku tua berbahasa Belanda dan Jepang.

Bandung adalah surga bagi peredaran komik, pop art, dan majalah-majalah bekas. Dan bukan di Palasari tempatnya menikmati surga-surga itu. Perdagangan buku di Palasari sudah tersistematis sedemikian rupa.

Personalitas saya dengan buku nyaris tak berjejak di sana. Saya hanya mengandalkan satu tempat: depan PLN Cikapundung.

Di sana, majalah-majalah “aneh” dan buku-buku tua kerap kali datang dengan cara mengejutkan.

JAKARTA
Pada 2001, Francois Valentyn (4 jilid) cetakan abad ke-18 akhirnya saya dapatkan dari seorang kolektor seharga Rp 2 juta.

Perjumpaan itu terjadi saat saya dalam upaya melakukan pencarian pusat peradaban dunia. Dan buku itu tiba-tiba ditawarkan seseorang.

Buku ini berkisah rantai sejarah abad 17 saat Eropa dengan semangat gold, gospel, dan glory mencari pusat peradaban dunia. Heyden Park.

Di mulai saat VOC menemukan Run Island (Pulau Harta) di Maluku yang kaya akan rempah-rempah. Kemudian, mereka menganggap Run Island sebagai pusat peradaban dunia. Nah, belakangan, Inggris dan Belanda berselisih.

Berdasarkan perjanjian Breda pada 1667, Belanda diharuskan menyerahkan jajahannya di Amerika (Manhattan) kepada Inggris. Sebagai kompensasi, Inggris menyerahkan Suriname ke Belanda. Manhattan inilah yang kemudian menjelma menjadi pusat peradaban dunia.

Hanya Kwitang, Jakarta, yang memungkinkan munculnya perjumpaan-perjumpaan yang tak terduga seperti kisah itu.

Saya memiliki intimasi yang kuat dengan kawasan ini, khususnya berkait dengan buku-buku. Sekaligus Kwitang, bagi saya, menjadi semacam kertas litmus yang menentukan asam basah dari keadaan/sesuatu.

Kerap saya melihat psike masyarakat Jakarta dari pergulatan buku-buku di dalamnya. Di Kwitang, tak seperti di kota-kota lain, sebuah buku cepat sekali menjadi buku second hand.

Bukan karena langka, tapi karena perputaran buku di sini begitu cepat. Maka bagi para pemburu buku-buku second hand yang jatuh harga, Kwitang tempatnya.

Di sini pula, tradisi buku borongan dari koleksi-koleksi satu pribadi kita temukan. Dan saya berkali-kali terlibat dalam perjumpaan ini.

Buku koleksi lengkap Soekarno dan juga foto-foto orisinalnya dengan Che dan Castro justru saya temukan dengan melewati beberapa rantai mulut yang berujung pada lapak kertas di Jatinegara.

”Pusat penghancuran arsip” ini awalnya tak mau melepaskannya. Alasannya kelamaan memilih, sementara mereka butuh uang tunai secepatnya. Akhirnya saya beli seluruhnya dengan hitungan kilo dengan dua kali lipat harga.

Yang saya sangat berkesan justru ketika berjumpa secara borongan dengan koleksi mantan Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo. Sayangnya nama Ali Sastro dihapus dengan tipeks.

Ikut dalam rombongan itu adalah buku-buku keleksi yang penting yang menunjukkan kepada kita isi gagasan Ali Sastro selama ini.

Misalnya dalam rombongan koleksi itu ada nama seorang tokoh CIA John Foster Dulles, yang memberi buku kepada Ali Sastro lengkap dengan tandatangan. Dan koleksi Ali Satro itu dijual dengan harga murah di depan gedung bioskop Trivoli Kwitang.

2 Comments

NikolasTM - 20. Sep, 2009 -

Excuse, that I interrupt you, would like to offer other decision.

warih w subekti - 10. Agu, 2010 -

fik aku dulu sama herdi sering bertandang di kontrakan mu di kampung melayu kecil tapi kemudian aku menghilang dan saat ini kau sudah menjadi orang terpandang. aku masih menggelandang

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan