-->

Kronik Toggle

Naskah Kuno Cirebon Terancam Musnah

CIREBON-Ratusan naskah kuno berusia ratusan tahun milik Keraton Kasepuhan dan Kanoman Cirebon terancam musnah. Tidak layaknya tempat penyimpanan ratusan naskah bersejarah merupakan faktor utama musnahnya naskah kuno tersebut. Selain itu, ancaman pencurian pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab terhadap naskah kuno juga menjadi persoalan yang kerap menghantui  pihak keraton.

Putra Mahkota Keraton Kasepuhan P.R.A. Arief Natadiningrat yang dikonfirmasi, Senin (8/3),  mengakui soal kurang terawatnya naskah kuno milik Keraton Kasepuhan.

Ia menjelaskan, naskah kuno tidak mendapat perlakuan yang semestinya karena keterbatasan biaya. Sehingga pihak keraton tidak memiliki biaya untuk menyediakan sarana prasarana memadai, seperti lemari dan gedung penyimpanan yang representatif. Penyimpanan dan perawatan naskah kuno pun dilakukan seadanya.

”Naskah kuno kondisinya memang tidak terawat, tetapi masih tersimpan di keraton. Persoalannya, ketika ada pengunjung dari dalam negeri ataupun luar negeri terpaksa harus lebih waspada mengamati gerak-geriknya. Takutnya naskah kuno dicuri,” kata Arief.
Menurut Arief, dari lebih dari seratus naskah kuno yang ada, di antaranya naskah peninggalan atau dibuat era Sunan Gunung Jati, panembahan, dan era sultan sepuh.

Bahasa dan bahan yang digunakan naskah kuno pun beragam. ”Ada bahasa Sansekerta, Arab pegon, bahasa Cirebon dan bahasa Arab. Bentuk lembaran-lembaran naskah kunonya pun berupa daun lontar, kertas, dan kulit,” tuturnya.

Karena orisinal dan nilai sejarah yang tinggi, menurut Arief, naskah kuno itu seharusnya mendapat perawatan dan tempat penyimpanan yang representatif. Mengingat, naskah kuno harus diperlakukan atau dirawat dengan mengatur suhu saat dalam ruang penyimpanan. Selama ini naskah-naskah kuno itu disimpan pada tempat yang seadanya.

Sementara untuk menghindari kemungkinan dari upaya pencurian, menurut dia, pihaknya bekerja sama dengan sejumlah pihak, salah satunya dengan Perpustakaan Nasional yang telah menerjemahkan sejumlah naskah kuno ke dalam bahasa Indonesia.

*) Dikronik dari Pikiran Rakyat Online, 8 Maret 2010

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan