-->

Kronik Toggle

Pluz Cetak 3000 Komik Wayang Ardisoma

Jakarta – Untuk melestarikan kebudayaan Indonesia, Sari Rasa Group bekerja sama dengan Penerbit Pluz mencetak komik epik kolosal Wayang Purwa karya Saleh Ardisoma sebanyak 3.000 eksemplar. Komik itu diluncurkan di mall City Walk Sudirman, Jakarta Pusat, tadi malam. Peluncuran itu disertai diskusi dengan pembicara Iwan Gunawan, kolektor dan pemerhati komik, dan sutradara film Heru S Sujarwo serta dipandu oleh novelis Lisa Febriyanti.

Komik itu semula terdiri dari beberapa jilid dan pertama kali terbit pada 1956. Kini komik itu dihimpun dalam dua jilid lengkap yang dijual seharga Rp 520 ribu. Menurut Andy Wijaya, perwakilan Penerbit Pluz, 1.000 eksemplar komik itu dicetak Pluz dan 2.000 eksemplar lagi dicetak Sari Rasa Grup.

Pluz, kata dia, juga mempertimbangkan untuk mencetak kembali komik-komik lain yang pernah populer di tengah masyarakat, khususnya di kalangan penikmat komik. “Wayang Purwa ini pernah populer di tengah masyarakat dan penikmat komik sekitar tahun 1956-an,” kata Andy.

Sari Rasa Grup dan Penerbit Pluz sengaja menerbitkan kembali komik wayang kuno ini karena melihat kandungan filsafat dan unsur-unsur budaya Pasundan dan Jawa di dalamnya yang perlu dilestarikan. Sebelumnya mereka juga telah bekerja sama dalam menerbitkan ulang komik Mahabharata karya Teguh Santoso.

Menurut Andy, dari segi artistik penggambaran halaman demi halaman isi komik Ardisoma ini nyaris sempurna. “Komik yang dicetak kali ini terasa lebih hidup dan tidak membosankan jika dibaca,” katanya.

Liza Syauta, Manajer Operasi Sate Khas Senayan, bagian dari Sari Rasa Grup, mengaku terkejut karena ternyata masih banyak orang Indonesia yang cinta wayang. Hal tersebut terlihat dari masih tingginya minat masyarakat untuk menikmati komik wayang purwa ini. “Walaupun kebanyakan dari mereka ini kalangan orang tua yang dulunya penikmat komik,” kata Liza.

Iwan Gunawan menilai wayang purwa merupakan kebudayaan Indonesia yang harus dilestarikan. Dia juga mengapresiasi pencetakan kembali komik-komik yang dahulu pernah populer seperti komik Wayang Purwa. “Dengan ini setidaknya kita ikut melestarikan kebudayaan bangsa,” katanya.

Adapun Heru S Sujarwo melihat peran komikus muda. “Kita butuh komikus muda untuk memajukan komik Indonesia dan melestarikanya,” katanya.

*) DIkronik dari Tempointeraktif, 13 Maret 2010

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan