-->

Lainnya Toggle

Pleidoi Dwi Susanto: HSM

REDAKSI: Pleidoi Dwi Susanto, penulis buku Hikayat Siti Mariah: “Estetika Perselingkuhan” Pramoedya Ananta Toer, ini berjumlah 14 halaman atau 5.134 character ms word. Redaksi menurunkannya dalam dua artikel. Pleidoi contoh kalimat-kalimat HSM BT yang dihilangkan Pramoedya Ananta Toer ada di sini. Salam

Daftar Singkatan:

HSM BT-Hikayat Siti Mariah (versi Bintang Timur)

HSM PAT-Hikayat Siti Mariah (versi Pramoedya Ananta Toer)

HSM MP-Hikayat Siti Mariah (versi Medan Prijaji)

PAT-Pramoedya Ananta Toer

WEB-Mariah-depan

Tanggapan Terhadap Ulasan dalam Indonesia Buku

Salam Sastra dan Budaya,

Saya memberikan apresiasi yang tinggi kepada Anda semua yang telah membaca buku saya dengan kritis, teliti, dan keseriusan yang tinggi dengan bukti Saudara mendiskusikan buku saya. Hal ini menunjukkan bahwa Saudara semua adalah orang yang memiliki komitmen yang tinggi dalam memajukan dunia intelektual di Indonesia. Setelah saya membaca ulasan yang kritis tersebut, saya memiliki kewajiban untuk memberikan tanggapan dan beberapa hal yang perlu saya klarifikasi.

Saya sekarang memiliki tugas yang berat jika saya menulis buku lagi agar Bang Saut tidak muak membaca buku karangan saya yang lain. Apalagi, kelak mendengar nama saya saja sudah muak. Kalau itu yang terjadi, sungguh hidup saya merasa tidak tenang dan tidak nyaman sebab saya telah membuat orang lain tidak senang dan nyaman. Atas alasan itu, saya minta maaf pada Bang Saut karena telah membuat Anda tidak nyaman. Saya harap tidak akan terjadi hal itu dikemudian hari serta saya harus belajar banyak lagi untuk membuat kalimat yang bagus dan bersifat akademis.

“Anti Cina”

Dalam buku tersebut maksud pertanyaan saya adalah bahwa perjuangan Pramoedya Ananta Toer terhadap minoritas Cina yang tertindas itu justru menyebabkan nada kebencian terhadap Cina. Artinya, perjuangan Pramoedya itu dipolitisasi oleh pemerintah rezim Orde Baru dengan label komunis pada orang Cina di Indonesia. Jadi, Pramoedya bukanlah anti Cina, tetapi menjadi korban perjuangannya terhadap minoritas Cina.

“Anti Marxisme”

Saya menolak untuk dikatakan bersifat anti-Marxisme ataupun pro-Marxisme. Realitas dalam dunia sehari-hari yang saya hadapi itu bermacam-macam atau berbeda begitu juga bagi tiap orang. Marxisme juga dianggap satu realitas yang tidak bisa dihindari karena dia ada dan hidup di dunia yang kita tempati. Namun, realitas yang bermacam-macam itu juga tidak dapat dipahami dengan satu prespektif atau paham saja. Dalam buku saya, saya berangkat dari materi teks yang mana saya menemukan satu fakta kesastraan yang berbeda ketika saya membaca HSM BT dengan HSM PAT.

Pramoedya Ananta Toer dan HSM

Pramoedya Ananta Toer adalah manusia yang tidak terlepas proses waktu. Pramoedya Ananta Toer  ditahun 1950-an adalah sastrawan yang netral dan dia benar-benar menjadi seorang intelektual yang memperjuangkan idealisme dan cita-cita yang dia yakini. Tahun 1960-an hingga 1967-an, Pramoedya adalah sastrawan (intelektual) yang memilih berpihak pada paham tertentu dan dalam persoalan politik, Pramoedya juga melakukan penyerangan ataupun penindasan terhadap kelompok yang berbeda ideologi atau paham dengan dirinya. Tahun 1970-an hingga akhir hayatnya, Pramoedya adalah sosok intelektual yang dengan media sastra dia memperjuangkan kelompok yang tertindas dari rezim kekuasaan ketika itu. Dia juga menjadi sosok yang tertindas. Pada periode ini, Pramoedya sebagai seorang pejuang dan menjadi pahlawan bagi kelompok yang dianggap tertindas. Melihat proses waktu itu, Pramoedya juga pernah menjadi penindas, tetapi dia juga menjadi pejuang ataupun pahlawan bagi kelompok yang tertindas. Persoalan yang selama ini jarang diungkap adalah “sejauh manakah atau seperti apakah” paham atau ideologi dan pandangan dunia dari Pramoedya.

HSM juga menjadi bagian dari proses waktu. HSM pada masa Medan Prijaji tentu saja berbeda makna dan semangatnya dengan HSM yang “dihadirkan dalam BT” ataupun HSM yang “dihadirkan” oleh Pramoedya. Atas dasar hal ini dan materi teks HSM itu, saya menulis buku itu.

Tanggapan ulasan

Saya dikatakan membuat kesimpulan yang sangat spekulatif dan tidak bisa dibuktikan kebenarannya karena saya tidak mampu untuk menghadirkan naskah HSM MP. Memang, kesimpulan saya secara historis itu terbantahkan karena tidak ada bukti dari HSM MP, bahkan menimbulkan ketidaksetujuan, hal itu dapat saya pahami. Namun demikian, saya juga memiliki argumen-argumen yang dapat dijadikan pertimbangan untuk didiskusikan.

Seperti yang saya katakan, saya berangkat dari HSM dan PAT sebagai bagian dari proses waktu dan materi teks. Dalam ilmu sastra yang selama ini saya pelajari ada pandangan yang mengatakan bahwa sastra sebagai satu bentuk karya seni yang bermediumkkan “bahasa” merupakan satu kesatuan dalam rangka fungsi. Apa yang tersaji dan hadir dalam karya sastra itu dianggap memiliki makna dan arti atau lebih tepatnya fungsi yang berbeda-beda dalam mendukung atau membentuk satu makna. Perubahan pada dirinya akan merubah makna dalam karya itu. Perubahan unit terkecil dari karya itu juga mengakibatkan pada perubahan makna. Jadi, tiap kata dalam karya itu mewakili fungsi tersendiri dan memiliki makna tersendiri karena sebagai bagian dari satu sistem.

Pandangan seperti ini adalah pandangan yang selama ini saya ketahui dan saya jadikan pegangan. Saya belum menemukan pandangan yang menentang pandangan tersebut. Bila ada, mohon saya diberi tahu. Namun, secara paradigmatik memang ada berbagai perspektif dalam memandang karya sastra, misal sastra sebagai bentuk sejarah intelektual, sastra sebagai mimemis, sastra hanya ekspresi dan fiksi, dan lain-lain sesuai dengan paradigma dari aliran yang dibawanya. Ataupun berbagai fungsi yang lain, misal sastra sebagai media, politik, berpolitik, dan alat politik ataupun sastra mampu membentuk satu budaya yang baru ataupun menjadi wacana bagi budaya yang lain. Saya kira teman-teman dari Indonesia Buku atau Sidang Dewan lebih paham dari pada saya tentang hal itu sehingga rasanya pantas saya menjelaskannya atau “memberi garam pada lautan”.

HSM MP tidak dapat dihadirkan. HSM MP adalah satu-satunya karya Hadji Moekti yang asli dalam kasus ini. HSM BT adalah karya dari Bintang Timur yang masih memakai nama Hadji Moekti. HSM BT diedit oleh redaktur Lentera dari koran Bintang Timur. HSM PAT adalah karya Pramoedya Ananta Toer yang masih memakai nama Hadji Moekti, baik edisi yang awal dan yang kedua. Saya  tidak tahu wujud HSM MP Hadji Moekti yang asli, jadi saya tidak berani berandai-andai dan mempercayai redaktur Lentera yang mengedit HSM BT (Piet Santoso Istanto) dan mengatakan bahwa yang hadir dalam BT itu hanya diedit bahasanya saja.

Jika memang editan itu hanya berupa bahasanya saja, saya dapat menganggap HSM BT adalah karya Hadji Moekti. Sekali lagi, saya tidak berani berspekulasi kalau HSM BT itu karya Hadji Moekti sebelum saya membandingkan dengan HSM MP. Begitu juga sebaliknya, HSM PAT juga bukan karya Hadji Moekti karena pernyataan Pramoedya Ananta Toer sendiri yang mengatakan bahwa HSM yang dihadirkannya itu didasarkan pada BT. Jika saya menganggap HSM PAT itu adalah hasil editan bahasa dari HSM MP, saya juga tidak berani berspekulatif sebab HSM MP tidak bisa dihadirkan dan Pramoedya juga mengakui HSM yang dia hadirkan didasarkan pada HSM BT dengan memberikan data di bagian pengantar meski ada tanggal pemuataan yang tidak sesuai setelah saya cek. Entah karena salah ketik dari penerbit atau kesalahan yang lain saya belum melakukan penelitian terhadapnya.

Setelah saya membandingkan materi teks yang ada antara HSM BT dan HSM PAT saya menemukan berbagai penghilangan, baik paragraf, sekuen/peristiwa, ungkapan-ungkapan yang bersifat religius, syair, kalimat-kalimat, dan kata-kata dalam jumlah yang banyak dalam HSM PAT yang masih memakai nama Hadji Moekti tersebut. Bukan hanya penghilangan, tetapi pengubahan materi teks yakni bahasa dalam hal pilihan kata, kalimat, dan peringkasan kalimat ataupun paragraf.

Dengan mendasarkan pada materi teks dan melihat bahwa PAT memakai nama Hadji Moekti, saya tidak bisa memahami pemikiran dan pendapat Anda semua bahwa “pengeditan” yang dilakukan oleh Pramoedya Antanta Toer itu tidak dianggap menjebak dirinya ke dalam satu perbuataan yang kasar dan “cela” terhadap karya HSM BT. Dalam konteks ini, Pramoedya Ananta Toer telah mengacak-acak dan mengubah materi naskah dan teks dari HSM BT dengan tetap mencantumkan nama Hadji Moekti. Lain persolaannya, jika HSM PAT itu mengatakan bahwa HSM yang dia hadirkan adalah karya Pramoedya Ananta Toer sendiri dengan mendasarkan pada karya HSM BT, saya akan sangat setuju dengan pendapat yang mengatakan bahwa Pramoedya Ananta Toer telah melakukan kerja yang teliti dan menghadirkan HSM yang baik. Itu saya anggap sebagai bentuk kreativitas yang positif, tetapi lain persoalannya jika dia memakai nama Hadji Moekti.

Persoalaan yang muncul dari fakta kesastraan ini adalah di manakah hak pengarang yang bernama Hadji Moekti. Dengan mengesampingkan “andai-andai” dan asumsi bahwa HSM BT adalah karya Hadji Moekti dan HSM PAT adalah karya Hadji Moekti yang dihadirkan ulang hanya karena masalah bahasa, dalam konteks ini hak-hak kepengarangan dan karya dari Hadji Moekti telah dilanggar oleh Pramoedya Ananta Toer atau saya katakan dengan bahasa yang kasar tetapi dengan tanda petik “diperkosa”.

Atas dasar itulah saya berkesimpulan Pramoedya telah melanggar hak-hak Hadji Moekti selaku pengarang. Namun, saya juga membuat satu kesalahan, jika dilihat dari segi historis, karena saya mengatakan hal itu tanpa melihat HSM MP. Atau lebih tepatnya, Pramoedya Ananta Toer telah melanggar hak-hak kepengarangan HSM BT atau saya dapat mengatakan bahwa Pramoedya Ananta Toer telah “memperkosa HSM BT”. Persoalaan yang utama tetap sama dalam konteks ini yakni mengapa Pramoedya Ananta Toer tetap memakai nama Hadji Moekti, mengapa Pramoedya Ananta Toer menghilangkan bagian-bagian tertentu dari materi teks HSM BT, dan bagaimana hak, nasib, atau perasaan Hadji Moekti sebagai pengarang Hikayat Siti Mariah yang sesungguhnya.

Saya dapat memberikan contoh pada kasus En attendant Godot karya Samuel Barclay Beccett yang harus diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh orang lain, tetapi sang pengarang ingin “menterjemahkan” sendiri karya itu yang kini menjadi Waiting for Godot. Kasus itu berhubungan dengan “pengahlihan bahasa” bukan pengeditan. Akan tetapi, dengan bercermin pada kasus itu dapat saya simpulkan bahwa hak pengarang terhadap karyanya tidak bisa ditiadakan begitu saja.

Begitu juga dengan Saudara semua dan saya, jika karya puisi atau novel Anda yang telah diterbitkan atau akan Anda terbitkan diedit oleh orang lain tanpa sepengetahuan Anda dan editan itu tidak hanya mengubah masalah ejaan dan bahasa, tetapi menghilangkan bagian-bagian tertentu (seperti sekuen peristiwa, ungkapan-ungkapan tertentu, syair, kalimat-kalimat) dan mengubah kalimat-kalimat dalam karya Anda, apakah Anda setuju dan dimanakah hak Anda sebagai pengarang. Itu adalah karya sastra atau karya seni. Ibarat lukisan, lukisan Anda yang telah jadi itu ditambahi warna dan dihilangkan bagian tertentu, misal dua atau tiga helai bulu matanya tanpa sepengetahuan dan persetujuan Anda.

Selanjutnya, sang pengedit itu mengatakan itu karya Anda kepada orang lain dan orang lain itu mengakui pengeditnya yang berjasa karena telah membuat karya itu hadir kembali. Bukankah perbuataan sang pengedit itu satu perbuataan yang kasar dan “cela” terhadap karya Anda dan diri Anda. Kalau saya tidak bisa memahami dan menerima perbuataan itu terhadap hasil kerja intelektual saya. Kalau Anda dapat memahami dan menerimanya karena sebab-sebab yang lain, saya tidak masalah dan itu hak Anda.

Begitu juga dengan Bintang Timur. Jika Bintang Timur mengatakan bahwa kami/saya rela karya kami/saya diperlakukan seperti itu. Saya pun tidak akan berani mengatakan bahwa sang pengedit sebagai “pemerkosa” yang melakukan perbuatan kasar dan “cela” terhadap karyanya. Namun, mengapa nama Hadji Moekti tetap digunakan. Hadji Moekti pun akan berkata “mengapa nama saya engkau gunakan dan saya tidak terima dengan itu” ataupun berkata “tidak masalah nama saya engaku gunakan untuk karya itu, toh itu juga dari saya ide atau sumbernya”. Jika yang terjadi seperti yang kedua itu, saya tidak akan berani menyimpulkan bahwa sang pengedit telah terjebak pada perbuatan kasar dan “cela”.

Kembali kepada persoalan ketidaksetujuan pada perkataan bahwa Pramoedya Ananta Toer telah “memperkosa” teks HSM MP. Sekali lagi, saya dapat memahami ketidaksetujuan terhadap hal itu terutama dari persoalan bukti historis sebab saya tidak mampu menghadirkan HSM MP. Hal ini pada akhirnya mendorong saya dan menjadi tugas berat pada diri saya untuk menulis buku kajian lagi tentang topik ini dengan menghadirkan naskah HSM MP dan saya yakini sebagai karya asli Hadji Moekti. Sebaliknya, saya tidak bisa mengerti pendapat yang menolak bahwa Pramoedya Ananta Toer telah terjebak pada perbuataan kasar dan “cela” terhadap teks HSM BT yang saya sebut dengan istilah yang kurang pantas sebagai “pemerkosa”.

Selama saya melakukan pelacakaan keberbagai perpustakaan, terutama Perpustakaan Nasional di Jakarta, saya belum berhasil menemukan HSM MP. Sangat berkemungkinan juga, naskah atau teks HSM yang dihadirkan Medan Prijaji itu bukan naskah asli dari Hadji Moekti sebab sangat berkemungkinan juga  naskah asli itu ditulis dalam lembar-lembar kertas dengan tinta atau dalam bentuk lain, misal manuskrip.

Jika saya boleh berandai bahwa saya menemukan naskah HSM MP yang asli karya Hadji Moekti, tentu saya juga dapat melihat apakah Piet Santosa Istanto yang disebutkan sebagai pengedit HSM MP yang dihadirkan di Bintang Timur juga melakukan hal yang sama dengan pengedit HSM PAT ataukah Piet Santoso Istanto hanya mengedit bahasanya saja sehingga dia tetap mencantumkan nama Hadji Moekti.

Tentang persoalan penguasaan teori, baik Marxis, naratologi, pascakolonial, dan intertekstual, saya hanya menggunakan sebagai kecil dari konsep-konsep tersebut untuk melihat fakta mimesis dalam teks HSM. Hal ini menimbulkan kesan bahwa saya hanya sekedar “comot sana comot sini” sehingga kurang sempurna.

Tentang apakah saya berkewajiban untuk menggunakan referensi dari Terry Eagleton dan Raymond Williams, saya katakan bahwa saya hanya menggunakan sebagian dari konsep pemikiran Marxisme dan lain-lain untuk analisis kasus pada teks dengan model teks sebagai refleksi atau mimesis. Sebaliknya, teori utama yang saya gunakan adalah teori pembacaan atau estetika resepsi. Kritik sastra Marxis sendiri dalam dunia sastra dibagi dalam beberapa kelompok, yakni kelompok sastra sebagai mimesis atau refleksi (Georg Lucas), sastra sebagai model produksi, (Pierre Macherey, Loius Althusser), Strukturalisme Genetik (Lucien Goldman), pengetahuan negatif sebagai model (Theodor W Ardorno atau Mahzab Frankfrut Marxisme), bahasa sebagai model, (kelompok Bakhtin, Volosinov, Medvedev, dan lain-lain), dan masih banyak lagi perkembangan mutakhir ataupun perkembangan yang melanjutkan para pemikir dari lima kelompok kritik sastra Marxisme, misal sema-analisis ataupun intertekstualitas dari Jullia Kristeva ataupun perkembangan mutakhir dari pegetahuan negatif sebagai model.

Saya tidak perlu mengutarakan lebih lanjut perkembangan tersebut sebab saya merasa takut dan minder untuk “memberi garam pada lautan” sebab Saudara lebih menguasai dan tahu banyak dari pada saya sebab saya yakin Saudara semua sudah lama dan giat belajar dalam persoalan ini sehingga saya berkewajiban menggali ilmu dari Anda semua. Saya hanya melihat teks HSM sebagai cermin atau mimesis dari konsep Marxisme sehingga terkesan tidak sempurna dan menyebabkan anti-Marxisme.

Atas alasan itu, saya juga kurang bisa memahami penalaran Anda yang mengatakan bahwa setidak-tidaknya saya harus menggunakan referensi dari penulis kritik sastra Marxisme yakni Tery Eagleton (misal dalam buku Marxisme and Literary Criticism, Criticism and Ideology,dll) dan Raymond Williams (Marxisme and Literature, dan lain-lain). Saya bisa menerima jika Anda justru menyarankan seharusnya saya mengacu pada sastra sebagai model mimemis dan harus mengacu pada pelopornya, yakni Georg Lucas dalam bukunya Studies in European Realism, The Historical Novel bukan mengacu pada penulis teori kritik sastra Marxisme, melainkan pelopor aliran dari berbagai cabang kritik sastra Marxisme dalam dunia sastra. Kalau pun saya mengikuti saran Anda atau saya harus mengacu pada penulis kritik sastra Marxisme seperti yang Anda ungkapan, saya bisa mengacu pada siapapun juga, yang menurut Saudara, saya mengacu pada Faruk dan Magnis Suseno tentang konsep Marxisme, tidak memiliki otoritas yang tinggi. Saya juga berhak mengambil kutipan ataupun acuan dari siapa pun tentang konsep pemikiran Marxisme karena saya sudah menegaskan kalau saya melihat teks HSM sebagai konsep mimemis sebagai pedoman saya. Menurut saya, persoalan ini menjadi lain dalam diskusi kita ini.

Berhubungan dengan persoalan intrepretasi dan argumen-argumen saya yang menurut Saudara melompat-lompat dan tidak karuan hingga Saudara mengambil kesimpulan buku saya tidak layak, saya mengatakan bahwa persoalaan hasil pemaknaan dan intrepretasi dari tiap-tiap orang itu berbeda dan tidak mungkin sama. Hal ini tergantung dari cara saya dengan Anda dalam mengintrepretasikan. Selain itu, perbedaan gudang pengalaman dan pengetahuan serta kondisi-kondisi atau variabel yang lain juga sangat mempengaruhi hasil interpretasi saya dengan Anda semua. Tentang siapa yang benar dan siapa yang salah, saya tidak dapat memberikan keterangan dan kesimpulan tentang hal itu.

Yang jelas, saya sudah merasa telah sesuai dan benar menempatkan diri saya sebagai seorang peneliti atau penulis buku tersebut dengan mengurangi dan menekan segala variabel yang dapat menciptakan sifat subjektif ataupun berpihak. Kita juga paham betul objektivitas dalam bentuk apapun sulit tercapai. Jika menurut Anda semua saya telah melakukan kesalahan dari proses tersebut, hal itu menjadi catatan dan pembelajaran bagi saya untuk lebih lanjut agar lebih berhati-hati.

Dalam kasus yang kita diskusikan ini, saya tetap berpegang pada materi naskah dan teks yang berbeda antara HSM BT dan HSM PAT, bukan pada persoalan interpretasi siapa yang benar atau yang salah karena hal itu amat sulit diukur dan siapa yang berhak menentukan benar dan salah juga tidak ada. Saya kira Anda semua juga sangat paham dengan persoalan ini.

Satu lagi yang hampir saya lupakan, saya sangat berterima kasih pada Saudari Katrin yang dengan teliti menemukan apa yang dia sebut sebagai kecerobohan saya. Tentang kutipan yang saya tidak mencatumkan siapa pengarangnya, tahun, dan halamannya, terutama dari buku pengantar HSM PAT, saya berpikir pada awalnya bahwa saya telah mencantumkan pada bagian awal atau sesudahnya. Namun, bila itu tidak sesuai dengan tata cara penulisan, hal itu akan menjadi koreksi bagi saya sebab saya juga diingatkan oleh Saudari Katrin bahwa kecerobohan saya itu bisa menyebabkan saya dituduh sebagai plagiator. Begitu juga dengan hal yang lainnya yang berhubungan dengan masalah kecerobohan tersebut.

Sekali lagi, saya tidak dapat memahami pemikiran dan pendapat Anda semua yang mengatakan bahwa Pramoedya Ananta Toer adalah pengedit. Menurut analisis saya dengan mendasarkan pada materi naskah dan teks HSM BT dengan HSM PAT, pengeditan yang dilakukan Pramoedya Ananta Toer itu telah menjebak dirinya pada perbuatan yang kasar dan “cela” terhadap naskah dan teks HSM BT, dan hal itu membawa implikasi pada nama Hadji Moekti yang hak dia sebagai pengarang diabaikan atau dilanggar yang saya sebut dengan bahasa kasar sebagai “pemerkosa”.

Anda semua tentu sangat paham betul, penghilangan-penghilangan bagian-bagian tertentu materi naskah dan teks HSM BT, seperti sekuen peristiwa, alinea-alinea, kalimat-kalimat, syair, ungkapan-ungkapan, dan pengubahan kalimat yang begitu banyak jumlahnya, tentu melibatkan pemikiran dan pemilihan atau terseleksinya fakta dalam kasus penulisan sejarah. Jadi yang dihilangkan dan dihadirkan itu sudah terpilih dan tentu saja itu memiliki tujuan dan motif-motif tertentu sesuai kehendak dari yang menghadirkan. Penghilangan itu tentu saja akan mengubah karya itu sebagai satu sistem sehingga makna akan bergeser atau berubah.

Jika penghilangan atau perubahan itu tidak menyebabkan makna ataupun sistem kesastraannya tidak berubah, saya belum pernah menemukan alasan dan pemahaman seperti itu selama saya belajar sastra. Jika ada dan Anda menemukan atau mengetahui tentang hal itu, mohon saya diberi tahu. Dalam kasus yang kita diskusikan ini, persoalan ini menjadi rumit sebab yang menghadirkan dengan menghilangkan dan mengubah beberapa bagian dari naskah dan teks HSM BT itu masih mempergunakan nama Hadji Moekti. Hal ini mungkin menjadi satu kasus yang menarik yang ada dalam dunia kesastraan kita, sastra Indonesia, sastra (Timur) yang tentu mengandung adab dan tata karma ketimuran.

Atau kita membuat satu spekulasi bahwa pencantuman nama Hadji Moekti pada HSM BT dan HSM PAT itu dikarenakan beberapa sebab. Pertama, BT dan PAT tidak mau dianggap plagiat. Kedua, BT dan PAT menghargai karya intelektual dari Hadji Moekti. Namun, yang menjadi persoalan utama adalah “mengapa Pramoedya Ananta Toer mengubah (menghilangkan bagian-bagian tertentu) materi naskah dan teks HSM BT. Kedua spekulasi itu juga patut dibuktikan melalui usaha penelitian.

Meskipun hasil kesimpulan saya seperti itu, saya sebagai seorang akademis dan peneliti atau penulis memandang fenomena yang terjadi pada sang pengedit atau Pramoedya Ananta Toer itu dengan sudut pandang realisme positif atau realisme organis. Hal ini menjadi menarik dan menantang saya, mungkin juga Anda semua, untuk melihat sosok Pramoedya Ananta Toer dari segala aspek, baik yang baku dan tidak baku, atau dari fenomena yang besar hingga gejala yang kecil yang tidak boleh didisingkirkan begitu saja atau fenomena yang kecil yang “dianggap keliru” karena tidak sesuai dengan “yang ada” atau gejala yang besar.

Jadi, pemahaman terhadap sosok Pramoedya Ananta Toer akan lebih luas dan berimbang. Saya juga memiliki pandangan dan spekulasi yang lain bahwa perbuatan Pramoedya Ananta Toer yang menjebak dirinya pada perbuatan kasar dan “cela” pada teks HSM BT dan melanggar atau mengabaikan hak Hadji Moekti itu dapat dianggap sebagai satu usaha untuk memperjuangkan idealisme dan cita-citanya dalam memperjuangkan kelompok masyarakat yang dianggap tertindas melalui media sastra, meski resiko itu tidak terpikirkan olehnya. Saya dalam kasus ini selalu berpikir dengan menggunakan sudut pandang realisme organis. Jadi, hadirnya penelitian saya ini justru dapat menambah wawasan dan pengetahuan kita tentang femonena dari sosok yang kita kagumi bersama karena karya-karyanya itu.

Demikian tanggapan saya terhadap Sidang Dewan yang dengan teliti dan serius membaca buku saya. Semoga tanggapan saya ini dapat menimbulkan pemahaman dan menyelesaikan cara kita yang berbeda dalam memandang materi naskah dan teks yang berbeda antara HSM BT dan HSM PAT. Maturnuwun atas kesediaan Anda semua membaca tanggapan saya. Mohon maaf bila ada hal-hal yang kurang berkenan di hati Anda semua. Saya sangat senang untuk mendiskusikan persoalan yang kita bicarakan ini atau persoalan yang lain yang berhubungan dengan sastra (Indonesia).

Salam sastra dan budaya

Dwi Susanto

10 Comments

saut situmorang - 19. Mar, 2010 -

Dwi Susanto,

1. Kalau Anda menolak kenyataan bahwa Pramoedya Ananta Toer itu melakukan fungsinya sebagai “editor” maka apa sebenarnya fungsi seorang “editor” itu menurut Anda?

2. Setiap penerbitan yang bertanggung-jawab selalu punya Editor baik editor bahasa maupun editor teknis lainnya. Apakah menurut Anda, misalnya, penerbit Gramedia tidak memakai Editor mereka untuk “memperkosa” naskah asli yang mereka terima agar naskah itu LAYAK TERBIT SESUAI KEBIJAKAN GRAMEDIA?

3. Pernah dengar nama penyair Amerika-Inggris TS Eliot dan karya besarnya puisi berjudul “The Waste Land”? Pernah tahu kalau puisi perombak estetika puisi dalam bahasa Inggris ini – versi yang sampai saat ini dikenal sebagai “The Waste Land” karya TS Eliot – merupakan hasil “pemerkosaan tekstual” oleh kawannya sesama penyair Amerika-Inggris bernama Ezra Pound? DUNIA TIDAK MEMPERSOALKAN “PEMERKOSAAN TEKSTUAL” OLEH EZRA POUND TSB, BEGITU JUGA TS ELIOT, BAHKAN TS ELIOT JUSTRU MEMUJI EZRA POND DENGAN HASIL “PEMERKOSAAN TEKSTUAL”-NYA TSB. HAL INI DIA LAKUKAN DENGAN MENULIS DEDIKASI SAJAKNYA TSB KEPADA (SAYA KUTIP):

“For Ezra Pound
il miglior fabbro.”

Silahkan Anda cari sendiri apa artinya “il miglior fabbro” yang merupakan kutipan dari penyair Itali pujaan TS Eliot yaitu Dante, dari karyanya “Inferno”.

Persoalannya: Kenapa TS Eliot malah sampai mendedikasikan sajak mautnya itu justru kepada seseorang yang dalam istilah akademis Anda adalah seorang “pemerkosa teks” naskah sajak aslinya sendiri?!

4. Silahkan jelaskan apa itu “Estetika Perselingkuhan” dalam konteks kerja seorang Editor seperti yang saya tuliskan di atas. Kenapa Anda sebut peristiwa editing teks itu sebuah “Estetika”? Dan kok “Perselingkuhan”? Dengan siapa “Estetika” itu “berselingkuh”?

Hal-hal lain yang berhubungan dengan bela-diri Anda di atas, terutama tentang apa yang menurut Anda adalah “Kritik Marxis” itu (HAHAHA…), tidak menarik sama sekali kerna cuma karang-karangan Anda doang. Tapi isu utama yang juga Anda jadikan sub-judul sensasional dari tesis Anda yang memang sangat buruk mutunya itu, itulah yang perlu jadi Fokus pembicaraan Anda dengan saya. Silahkan menjawab dengan bertanggung-jawab, yaitu secara akademis dan tidak mengada-ada, kerna yang kita bicarakan adalah Tesis Anda yang Anda publikasikan. Itu kalau Anda, dan Almamater Anda, memang menganggap Tesis itu adalah sebuah Karya Intelektual Akademis, bukan sebuah corat-coret Catatan Harian seorang ABG!!!

Terimakasih.

elfira - 20. Mar, 2010 -

ETIKA KEPENGARANGAN DAN KASUS HSM

Saya orang awam ingin memberi komentar pada perdebatan ini.
1. Orang menulis kembali karya orang lain itu, merubah kembali karya orang lain, diceritakan kembali itu boleh saja. Tapi, harus menggunakan nama pengarang yang baru, yakni Pramoedya Ananta Toer, bukan Hadji Moekti
2. Biasa saja, orang mengubah cerita untuk mengajarkan satu paham yang lain, tetapi harus menghormati pengarang yang asli dengan etika kepengarangan.
3. Di dunia ini, banyak cerita dari paham tertentu, ada aliran/paham lain menggunakan cerita itu untuk diganti guna menyebarkan paham-paham baru.
4. Bagi orang awam yang tidak mengerti sejarah teks menjadi binggung. Hal seperti itu dilakukan oleh pendukung aliran yang tidak punya kreativitas seni untuk merebut pengikut aliran lain sehingga menggunakan karya lain.
5. Pengarang hidup pada zaman tertentu dan dipengaruhi oleh aliran yang berpengaruh di zamannya kemudian ada aliran baru yang muncul memanfaatkan karya-karya lama yang populer di masyarakat diubah, diedit, dan dimasuki paham-paham baru dan diterbitkan ulang.
6. Sebagai seorang intelektual dan terpelajar, melihat fenomena itu harus dengan kepala dingin, tetapi memegang kejujuran, etika, sopan santun, supaya masyarakat yang mau belajar dan generasi yang akan datang bisa memahami kenyataan yang ada.
7. Kasus tesis HSM ini, kalau tidak dibuka dan dijelaskan secara jujur, proposional dari berbagai sudut pandang, tidak dikuasai nafsu menjatuhkan orang, netral, dan objektif ilmiah akan merugikan nama baik pengarang itu sendiri, dalam hal ini adalah Pramoedya Ananta Toer dikemudian hari.
8. Pramoedya Ananta Toer sudah mendapat pujian dan sanjungan dari berbagai pihak. Sayang sekali, hal semacam kasus tesis HSM ini, justru diekspos menjadi polemik. Justru dengan penelitian ilmiah dari Dwi Susanto yang berjudul Hikayat Siti Mariah Estetika Perselingkuhan Pramoedya Ananta Toer itu, nama baik Pramoedya Ananta Toer terselamatkan karena orang sudah tahu duduk permasalahannya. Orang akan tahu kalau Pramoedya Ananta Toer tersebut seperti itu dan orang akan memilih karya-karya dari Pramoedya yang mereka sukai.
9. Kasus Hikayat Siti Mariah yang diterbitkan oleh Lentera Dipantara itu seharusnya menggunakan nama Pramoedya Ananta Toer dan Pramoedya harus mengakui kalau itu hasil dari pengubahan dari Hikayat Siti Mariah Bintang Timur dan nama Hadji Moekti tidak digunakan, bukan mengakui sebagai editor, tetapi sebagai pengubah karena isi teks banyak yang dihilangkan, diganti, dan diringkas.
10. Polemik tentang tesis Dwi Susanto ini kalau diperdebatkan tidak ada arah yang jelas dan justru memperburuk nama baik Pramoedya Ananta Toer. Penelitian ilmiah dari Dwi Susanto itu justru amat berguna untuk menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya dan supaya tidak menjadi polemik dan duri dikemudian hari.
11. Penelitian tesis Dwi Susanto itu justru menjadi peringatan bagi calon penulis dan sastrawan ataupun para sastrawan dan penulis untuk berhati-hati dalam menulis karya sastra karena semua kejadian di dunia ini dicatat oleh sejarah. Sebagai contoh kasus teks HSM dari Pramoedya Ananta Toer.
12. Seandainya Dwi Susanto tidak meneliti kasus ini, pasti suatu saat ada orang lain yang menelitinya.

Elfira
Pengagum karya-karya Pramoedya Ananta Toer
Surabaya,

saut situmorang - 23. Mar, 2010 -

KALOK ANDA MEMANG ORANG AWAM DALAM DUNIA SASTRA, SAYA MALAS MENJAWAB ANDA. SAYA CUMAK MAU DISKUSI DENGAN YANG BUKAN ORANG AWAM, JADI BISA NYAMBUNG PEMBICARAAN, BUKAN DEBAT KUSIR.

saut situmorang - 23. Mar, 2010 -

KENAPA DWI SUSANTO TIDAK MENJAWAB PERTANYAAN-PERTANYAAN SAYA DI ATAS? APA SAYA HARUS MENUNGGU SAMPAI ANDA MENJADI PROFESOR SASTRA INDONESIA DULU! HAHAHA…

zen - 23. Mar, 2010 -

Dwi Susanto, Anda bicara soal Pram yang “memperkosa” Hikayat Siti Mariah, tapi Anda sendiri tak pernah membaca Hikayat Siti Mariah yang asali yg ada di Medan Prijaji. Taroh pun Anda benar dengan klaim “perkosaan” yang dilakukan oleh Pram, maka Anda hanya bisa bicara bahwa Pram telah memperkosa Hikayat Siti Mariah versi Bintang Timur, bukan Hikayat Siti Mariah yang asali.

Persoalannya adalah: selama Anda tidak pernah membaca Hikayat Siti Mariah yang asali, Anda tidak berhak mengklaim Pram telah merusak atau memperkosa Hikayat Siti Mariah. Dari mana Anda tahu Pram telah merusak Hikayat Siti Mariah jika yang Anda baca hanya Hikayat Siti Mariah versi Bintang Timur? Selama Anda tidak pernah membaca Hikayat Siti Mariah yang asali, Anda tidak bisa memberikan jaminan bahwa yang dilakukan oleh Pram adalah pemerkosaan Hikayat Siti Mariah. Mana tahu hasil editing Pram jauh lebih dekat dengan yang asali? Siapa yang tahu editing Pram jauh lebih mendekati kehendak yang ingin disampaikan oleh Haji Mukti? Bisa jadi naskah asalinya –jika sudah dikaji dg pendekatan Marxian– ternyata lebih Marxis daripada versi Pram? Siapa yang tahu jangan2 versi Bintang Timur itu sudah ditambah2i sangat banyak, dan yang dipangkas oleh Pram adalah bagian2 yg ditambah2i dari versi Bintang Timur? Misalnya, Dwi Susanto berkali-kali bicara penyuntingan Pram menghilangkan rasa kesejarahan teks Hikajat Siti Mariah. Dari mana Anda tahu editing Pram menghilangkan rasa kesejarahan jika teks Hikajat Siti Mariah yang asali sendiri tidak pernah Anda baca utuh?

Kita tidak tahu, karena kita tidak pernah membaca Hikayat Siti Mariah yang asali yang terbit di Medan Prijaji. Kita hanya bisa menduga, tak lebih dari itu. Bahkan jika kita sudah membandingkanya dengan Hikayat Siti Mariah versi Bintang Timur sekali pun.

Karena, sekali lagi, siapa yang tahu kalau versi Bintang Timur sebenarnya lebih ancur dibandingkan versi Medan Prijaji. Siapa yang tahu? Tidak ada yang tahu, karena Hikajat Siti Mariah Medan Prijaji sudah raib.

Di situlah pangkal soalnya. Anda menganggap edisi Pram sebagai pemerkosaan, seraya pada saat yang sama menganggap versi Bintang Timur seakan-akan “suci dan kasip dari penyuntingan dan perkosaan”. Anda tidak pernah mempertanyakan dan mempersoalkan versi Bintang Timur, seakan-akan versi Pram sudah betul-betul dirasuki ideologi pertentangan kelas, sedangkan versi Bintang Timur sama sekali bersih dari itu, padahal Anda tahu –mungkin malah Anda tidak tahu– kalau koran Bintang Timur masih dalam satu rumpun dengan PKI.

Selama Anda tidak pernah membaca utuh Hikajat Siti Mariah versi Medan Prijaji, Anda tidak berhak bicara kalau Pram sudah menginjeksi Hikajat Siti Mariah dengan ideologi pertentangan kelas. Maksimal, Anda hanya bisa bilang: versi Pram lebih banyak memuat ideologi pertentangan kelas dibandingkan dengan “Hikajat Siti Mariah versi Bintang Timur”, karena memang Anda hanya membandingkan dua naskah itu saja.

Itu sebabnya, dalam tanggapan saya sebagai salah satu anggota dewan, saya bilang: Kalau saya pembimbing Anda, saya akan menyarankan Anda mengganti topik selama Anda tidak bisa membaca utuh Hikajat Siti Mariah yang asali. Sebab dari situlah segala kekacauan ini berasal-mula.

zen - 23. Mar, 2010 -

Untuk Elfira:

Anda bilang: “Justru dengan penelitian ilmiah dari Dwi Susanto yang berjudul Hikayat Siti Mariah Estetika Perselingkuhan Pramoedya Ananta Toer itu, nama baik Pramoedya Ananta Toer terselamatkan karena orang sudah tahu duduk permasalahannya.”

Apa Anda berpikir seorang Pram butuh diselamatkan nama baiknya? Ada-ada saja….

justicebao sastar - 24. Mar, 2010 -

1. dwi susanto manusia biasa
2. pramoedya ananta toer manusia biasa
3. Hadjie Moekti manusia biasa
4. Apa yang sebenarnya sudah dilakukan oleh sastra??? ia merupakan wadah kritisi dengan bahasa yang katanya indah sesuai alirannya (baca dibuat-buat), sastra seolah seekor superman (karena superman itu fiktif belum tentu manusia boleh jadi kecoa) yang selalu bisa mengatasi masalah.
5. Orang lapar itu butuh makan..bukan sastra…orang pingin banyak duit itu kerja..bukan sastra…
6. kalau saya pencipta alfabet..biar situ ga pada berdebat..saya bikin paten itu alfabet..jadi setiap orang nulis apapun pasti bisa saya tuntut karena tulisan apapun pasti pakai alfabet milik saya…

dhimas - 24. Mar, 2010 -

Ku pingin nanggapi tesis DS yang menimbulkan kekacauan n kebingungan Dewan Sidang iki. Saya sich sependapat dengan Zen yang mengatakan DS telah membuat satu simpulan yang spekulatif atau berani/salah, yakni menganggap Pramoedya telah memperkosa HSM MP. Tapi, dalam pleidoi DS juga telah sependapat dengan Zen bahwa hal itu jadi tugas DS selanjutnya untuk nulis buku lagi jika HSM MP telah ada. Aku sich tidak suka dengan Saut, Saut tidak mau melihat pendapat orang dan tidak mau baca buku itu. Terkesan… maaf arogan.. beda dengan Katrin yang sedikit sopan.
Dalam tradisi penyalinan naskah dan kritik teks, yang dilakukan oleh Pramoedya terhadap naskah HSM BT itu dianggap corrupt atau korup, yang oleh DS dianggap “cela” dan kasar terhadap HSM BT. Kalu aku sich, tanpa dianalisis seperti yang DS lakukan dengan rumit dan jelimet, aku simpulkan bahwa Pramoedya telah melakukan korup atau cela dan kasar terhadap teks HSM BT yang diedit oleh Piet Isanto Susanto,. Setelah aku baca nich, DS itu ternyata telah betul dan benar secara teoritik dan ilmiah dalam penelitiannya. DS berpandangan dengan acuan teks HSM BT, bukan HSM MP. Dan dalam kesimpulan di buku itu DS mengatakan kalo Pramoedya telah “memperkosa” HSM BT. Persoalannya, mengapa Pramoedya tetap memakai nama Hadji Moekti. DS lalu mengatakan Pramoedya melanggar hak kepengarangan Hadji Moekti karenanya namanya tetap di pakai, yang akhirnya DS juga mengatakan bahwa Pramoedya juga “memperkosa” hak pengarang Hadji Moekti, sang pemilik naskah dan teks HSM MP yang asli yang dituntut oleh Zen.
Kekurangannya penelitian DS itu adalah tidak menambahkan satu sub bab tentang korup atau cela/kasar (pemerkosaan) sebagai bentuk kreativitas dan menghadirkan naskah itu lbh baik bahasa dan gaya berceritanya, yakni gaya Pramoedya untuk masa kini, sang pengedit. Mungkin DS lupa terhadap sub bab itu sebab terpanjing atau tergiring pada isu atau masalah hak pengarang. Namun, DS sendiri juga mengatakan kalau itu pada hakikatnya satu kreativitas dengan mengatakan versi dan menganalisis isinya, yakni materi teks dngn jelimut, membandingkan kalimat-perkalimat dan kata-perkata.
Aku lihat nich.,,, perdebatan ini ngak akan ada habisnya. Pihak Dewan Sidang melihat korup pada naskah HSM PAT sebagai bentuk kreativitas karena tidak melihat materi teksnya, tetapi sang pengeditnya atau Pramoedya Ananta Toer. Sementara, tesis DS melihat turunan naskah dan teks HSM BT ke HSM PAT sebagai korup, karena dia berpedomam pada materi teks, bukan sang pengeditnya atau Pramoedya Ananta Toer. Dan dalam ilmu pernaskahan ataupun perteksan itu betul dan sah tak perlu diperdebatkan. Materi teks aja beda kok, ya jelas teks itu korup dan cela. Gitu jelasnya. Apa kata dunia…. Jan2xne aggota dewan iki kudu paham, DS berkata dalam pleidoinya bahwa: cara pandang yang berbeda dalam melihat materi naskah dan teks yang berbeda antara HSM PAT dan HSM BT. Wis cetho, jelas, kok tetap ribut ae thoo…. Masih ada persoalan yang besar yang perlu diributkan, yakni ini KORUPSI.
Jika pengeditnya Subagio Sastrowardoyo, Goenawan Muhamad, Rendra, dll DS tidak memandang siapa orangnya, tetapi materi teks dan nama Hadji Moekti. Ku sarankan, DS menambahkan satu sub bab tentang korup (cela dan kasar) atau memperkosa materi teks sebagai bentuk kreativitas dengan mengesampingkan atau tidak menganggap nama Hadji Moekti yang telah dipakai itu oleh HSM PAT. Artinya, anggap aja Hadji Moekti itu ngak ada di buku HSM PAT ataupun pihak penerbit itu ngak usah mencatumkan nama Hadji Moekti. Dengan demikian tidak menimbulkan perbedatan. Hal itu menimbulkan kesan bahwa seolah-olah Pramoedya lah yang memiliki naskah HSM hadji Moekti itu, bukan Hadji Moektinya. Lha, lha itu harus diekspos juga oleh tesis DS biar lebih menarik dan komplit.
Aku sich juga merekomendasikan pada Dewan Sidang, masih banyak buku ulasan dan penelitian ilmiah sastra baik tesis dan disertasi yang telah diterbitkan itu lebih buruk dari tesis DS ini dan salah kaprah. Mohon itu juga disimak dan diteliti. Kalau memang anggota Dewan Sidang itu berkomitmen untuk itu sich…Aku ngak setuju dengan pendapat dewan yang berkata: penelitian DS ini tidak ada manfaatnya atau sampah, aku pikir ini membawa manfaat yang besar seperti kata Elfira bahwa tesis DS ini membantu kita memahami seluk-beluk Pramoedya dari sudut pandang yang lain.
Ada lagi: tampaknya Pramoedya suka mengubah-ubah cerita, misalnya dalam Drama Mangir, yang namanya tombak Baru Klinting itu tombak bukan manusia, begitu juga Ken Arok Dedes, Calon Arang, dan dalam tetraloginya itu Pramoedya juga mengambil cerita-cerita Melayu Rendah, misalnya cerita tentang perempuan yang memeluk penderita cacar karena ingin melawan orang Belanda akibat ayahnya yang feodal itu “menjualnya”, dan banyak cerita yang lain. Itu sah. Tapi kasus Hadji Moekti ini, Pramoedya masih menggunakan nama Hadji Moekti, itulah yang digugut DS.
Wis paham ngak?,,, karepmu ngak paham.

saut situmorang - 27. Mar, 2010 -

dhimas,

kalok saya arogan, kenapa rupanya?! anda kelihatannya pinter tapi sayang cumak kelihatannya aja! HAHAHA…

nih buktinya:

1. “Dalam tradisi penyalinan naskah dan kritik teks, yang dilakukan oleh Pramoedya terhadap naskah HSM BT itu dianggap corrupt atau korup, yang oleh DS dianggap “cela” dan kasar terhadap HSM BT.”

KENAPA ANDA GAK BUKTIKAN KLAIM ANDA INI DENGAN CONTOH REFERENSI? SIAPA YANG BILANG BAHWA APA YANG DILAKUKAN PRAM ITU ITU MEMANG BENAR SESUATU YANG “CORRUPT ATAU KORUP”? DAN KENAPA “CORRUPT ATAU KORUP? ANDA SAMA AJA DENGAN SI DWI ITU: BIKIN STATEMENT TAPI GAK BISA DIBUKTIKAN!

2. “Persoalannya, mengapa Pramoedya tetap memakai nama Hadji Moekti. DS lalu mengatakan Pramoedya melanggar hak kepengarangan Hadji Moekti karenanya namanya tetap di pakai, yang akhirnya DS juga mengatakan bahwa Pramoedya juga “memperkosa” hak pengarang Hadji Moekti, sang pemilik naskah dan teks HSM MP yang asli yang dituntut oleh Zen.”

FAKTA BAHWA PRAM MASIH MEMAKAI NAMA PENGARANG ASLINYA, DAN GAK MEMAKAI NAMANYA SENDIRI MISALNYA, MEMBUKTIKAN BAHWA PRAM CUMAK MELAKSANAKAN FUNGSINYA SEBAGAI EDITOR NASKAH, SESUATU YANG BIASA DILAKUKAN DI MANA PUN DI DUNIA INI! KALOK PRAM TIDAK MEMAKAI NAMA PENGARANG ASLINYA MAKA PRAM BISA DITUDUH TELAH MEMPERKOSA HAK CIPTA, HAK KEPENGARANGAN SI PENGARANG ASLI. TAPI HAL TSB TIDAK TERJADI KAN! JADI APA ISU KALIAN? APA SEBENARNYA FUNGSI SEORANG EDITOR NASKAH ITU KALOK BUKAN SEPERTI YANG DILAKUKAN OLEH PRAM? COBAK KAU JELASKAN. MUNGKIN KAU PUNYA INFO LAIN TENANG FUNGSI SEORANG EDITOR TEKS!

3. “Dan dalam ilmu pernaskahan ataupun perteksan itu betul dan sah tak perlu diperdebatkan. Materi teks aja beda kok, ya jelas teks itu korup dan cela. Gitu jelasnya. Apa kata dunia…. Jan2xne aggota dewan iki kudu paham, DS berkata dalam pleidoinya bahwa: cara pandang yang berbeda dalam melihat materi naskah dan teks yang berbeda antara HSM PAT dan HSM BT. Wis cetho, jelas, kok tetap ribut ae thoo…. Masih ada persoalan yang besar yang perlu diributkan, yakni ini KORUPSI.”

DALAM ILMU PERNASKAHAN APA YANG KAU MAKSUDKAN? COBAK JELASKAN! JANGAN CUMAK BIKIN STATEMENT OMONG KOSONG YANG BERPRETENSI INTELEKTUAL!!!

4. “Ada lagi: tampaknya Pramoedya suka mengubah-ubah cerita, misalnya dalam Drama Mangir, yang namanya tombak Baru Klinting itu tombak bukan manusia, begitu juga Ken Arok Dedes, Calon Arang, dan dalam tetraloginya itu Pramoedya juga mengambil cerita-cerita Melayu Rendah, misalnya cerita tentang perempuan yang memeluk penderita cacar karena ingin melawan orang Belanda akibat ayahnya yang feodal itu “menjualnya”, dan banyak cerita yang lain. Itu sah.”

KENAPA “SAH”? MANA ARGUMENTASI ANDA UNTUK MENGATAKAN BAHWA APA YANG DILAKUKAN PRAM DI ATAS ITU “SAH”?

5. “Tapi kasus Hadji Moekti ini, Pramoedya masih menggunakan nama Hadji Moekti, itulah yang digugut DS.”

KENAPA PULAK PRAM DI SINI HARUS DIGUGAT? KENAPA PULAK TAK PERNAH ADA ARGUMENTASI DARI ANDA?

SAYA MENUNGGU JAWABAN ANDA DAN JAWABAN SI DWI YANG KELIHATANNYA UDAH NGACIR GAK JELAS ITU. TAPI INGAT, BERILAH JAWABAN INTELEKTUAL YANG AROGAN BIAR MASUK KE DALAM KEPALA SAYA! KALOK CUMAK PARAFRASE REPETITIF, YAH GAK USAH AJA YA. MALES DAN MUAL BACANYA AJA, PERSIS KAYAK BACA SAMPAH S-2 YANG PURAK-PURAK JADI TESIS MASTER ITU!!!

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan