-->

Kronik Toggle

Plagiarisme Ilmiah Biasanya Terjadi Di Program Master Dan Doktor

Jakarta – Ketua Senat akademik IPB, Prof. Dr. Ir Dudung Darusman mengatakan plagiarisme karya ilmiah biasanya terjadi pada program Master dan Doktor. “Sampai saat ini belum ada sanksi tegas terhadap orang yang melakukan plagiat. Paling mahasiswa tersebut disuruh membuat judul tesis atau disertasi baru,” kata dia kepada Tempo di Bogor, Kamis (04/03)

Dudung mengatakan mengatakan kasus plagiat terjadi di semua perguruan tinggi negeri maupun swasta. Di IPB pun, kata dia, juga pernah terjadi. “Namun ada yang terungkap dan ada yang tidak.”

Dudung Darusman mengungkapkan hal tersebut disela-sela acara diskusi mengenai Plagiarisme karya Ilmiah di kampus Institut Pertanian Bogor Darmaga, Kamis (4/3) siang. Dalam acara ini sekaligus diluncurkan buku berjudul “Etika Penulisan Karya Ilmiah” karya Dr Gunawan Wiradi yang diterbitkan Akatiga–sebuah LSM di Bandung. Pembicara dalam diskusi ini, antara lain, Dr. Gunawan Wiradi , Prof. Dr. Aunu Rauf, dan Prof. Dr. Yonni Kusmaryono.

Menurutnya Dudung, ada tiga faktor yang mendorong terjadinya plagiat karya ilmiah. Pertama orang yang melakukan plagiat adalah pejabat negara (umumnya mereka yang menduduki jabatan penting). Kedua, karena masalah waktu, banyak mahasiswa S2- dan S3 yang tidak memilik banyak waktu untuk menyelesaikan karya ilmiahnya kemudian melakukan plagiat. Ketiga, karena faktor ekonomi. Pelaku merasa memiliki uang yang cukup untuk meminta seseorang melakukan plagiat untuk karya ilmiahnya.

Dari diskusi tersebut diusulkan agar semua karya ilmiah yang pernah dibuat mahasiswa sebaiknya diulpoad ke sebuah website, sehingga jika ada orang yang membuat karya ilmiah yang sama akan ketahuan. “Memang banyak yang keberatan karena karya ilmiahnya takut dicontek orang, tapi justru itu yang bisa mengungkap apakah orang tersebut benar-benar plagiat atau tidak, pasti akan ketahuan,” ujar Dudung.

Kebanyakan karya ilmiah yang dijiplak adalah karya mahasiswa perguruan tinggi lainnya kebetulan memiliki jurusan sama. Pelaku plagiat hanya mengganti lokasi penelitian sedangkan isi materi hampir sama. Untuk mengantisipasi hal ini Profesor Aunu Rauf menyarankan agar semua perguruan tinggi saling berkomunikasi.

Penulis buku karya Ilmiah, Dr. Gunawan Wiradi mengatakan ketidakmampuan seseorang dalam menulis atau melakukan penelitian mendorong orang untuk melakukan plagiat. “banyak orang dengan jalan pintas melakukan plagiat, padahal itu bukan tidakan terpuji,” jelasnya.

Dalam diskusi juga diungkapkan peran media massa dalam mengungkap kasus plagiat di perguruan tinggi sangat penting, sehingga mengetahui karya ilmiah apa saja yang pernah ditulis.

Akhir-akhir ini banyak perguruan tinggi jarang memberi tahu media massa saat ada sidang disertasi doktor atau temuan hasil karya ilmiah mahasiswanya. Sehingga peluang untuk melakukan plagiat masih sulit ditekan.

DEFFAN PURNAMA

*) Dikronik dari Tempointeraktif, 4 Maret 2010

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan