-->

Literasi dari Sewon Toggle

Pembeli Buku

book shopDari Jakarta ke Bandung hanya satu niat: membeli buku-buku sastrawan Lekra yang diterbitkan Ultimus. Buku-buku itu diluncurkan di Gedung Indonesia Menggugat pada sabtu malam seusai Bandung dihajar hujan entah ke sekian kalinya.

Awalnya nunut nginap di Gedung Indonesia Menggugat menunggu kereta Lodaya meluncur ke Jogja keesokan paginya. Tapi ada Gusti Prabu. Hah. Jadilah dari awalnya di GIM numpang nginap di kos Gusti Prabu. Satu gang panjang dengan Daarut Tauhid milik AA Gym (GIM???). Di kost itu banyak buku. Berserakan. Kecuali tiga benda ini: tivi, radio, dan jam. Saya tak sempat tanya bagaimana caranya ia menyingkirkan benda-benda berbunyi-sendiri di luar kontrol kita.

Lalu pagi datang pagi-pagi sekali bersama segelas kopi pahit. Tak mandi karena Bandung bukan tempat mandi pagi yang baik. Dan pagi itu juga meninggalkan Bandung. Diantar Gusti Prabu hingga di muka pintu kereta. Dan adegan terakhir ini yang menjadi alasan kenapa judul tulisan ini “Pembeli Buku” dan kenapa saya menuliskan ini di sini.

Sambil menunggu peluit panjang dibunyikan orang seberang rel yang mengatur jalan berhentinya kereta, tangan kanan Gusti Prabu memasukkan barang ke kantung kiri jaket. Cepat sekali dan sekaligus terukur. Ternyata itu cicilan buku “Limited Edition” Indonesia Buku. Dari sini bertambah lagi ciri pembeli buku. Yang lain-lainnya sudah saya kantungi sebelumnya. Dan ini dia:

1. Pembeli Ikhlas. Pembeli dari jenis ini nrimo. Berapa pun harga buku diterima apa adanya. Tak ada tawar-menawar yang intens. Biasanya yang masuk dalam kelompok ini adalah mereka yang punya dana belanja buku yang berlebih-lebih. Pendeknya, jika buku digelar, ia akan ambil seasalnya, sesukanya dan langsung ke kasir membayar berapa pun yang tertera di nota tagihan.

2. Pembeli Rabat. Buku adalah barang dagangan. Seperti baju-baju yang dijajakan di mall-mall. Menurut hukum dagang “matahari”, setiap barang yang dipajang harus mengikuti hukum ini. Jogja boleh dibilang pertama kali memulai tradisi ini. Ada pembeli buku yang mengatur sedemikian rupa jadwalnya untuk menunggu badai rabat datang. Biasanya Book Fair yang diadakan di beberapa kota besar. Tapi jika tak sabar menanti setahun sekali, biasanya akan mengunjungi toko-toko buku yang menyediakan rabat besar. Watak pembeli ini, rabat harus ada. Tak ada rabat akan digugat. Paling tidak akan selalu mendapatkan pertanyaan susulan: berapa diskon buku segagah ini. nah.

3. Pembeli Kelontongan. Jenis pembeli buku ini mirip ibu-ibu di gang-gang sempit yang didatangi gerobak-gerobak atau sepeda-sepeda yang sarat beban alat dapur untuk diperlihatkan kepada ibu-ibu dengan sistem bayar cicilan ringan bunga. Di Indonesia Buku, ada jenis pembeli seperti ini. Jenis pembelian dengan sistem ini akhirnya terjad lantaran tawaran diskon besar tak tercapai, harga buku yang diincar sungguh mati mahalnya. Bukannya tak ada uang, tapi sudah diposkan untuk belanja ini dan itu. Nah, jalan cicilan buku setiap bulan pun diakadkan.

4. Pembeli ala Mafia. Sebetulnya istilah ini kurang tepat. Tapi saya pakai saja untuk menamai cara pembelian mirip seorang pengedar yang menemui pemesannya. Menukar barang dan uang dengan kecepatan yang memukau. Tak ada hitung-hitungan uang di kesempatan yang sempit itu karena yang berlaku adalah kepercayaan. Demikian itu yang terjadi sebelum kereta melarikan saya ke Jogja.

5. Pembeli Barter. Barter yuk. Maka terjadilah barter antara buku dengan buku. Ternyata bukan cuma itu, buku dengan dvd boleh juga. Pendeknya, barang apa saja bisa dibarter asalkan para pihak menyepakatinya. Saya punya ini, kau punya apa. Indonesia Buku punya buku puisi tebal lan mahal, tapi tak punya buku cerita anak Tin Tin dan sejenisnya. Padahal dua-duanya mau sama mau. Terjadilah barter di sini.

5. Pembeli Gratis. Jenis pembeli jenis ini banyak. Dulu saya suka. Tapi sekarang tidak. Lebih baik saya memilih barter daripada gratis. Ataupun kalau diberi gratis, maka akan saya kembalikan buku gratis itu dalam bentuk lain: catatan atau review atau resensi atau berita tentang buku yang “digratiskan” itu. Jenis yang terakhir ini disebut juga “Penunggu Buntelan”. Menunggu buku dengan sangat tekun dari penerbit untuk dibuatkan reviewnya.

Demikian sekian kecil ciri pembeli buku. Nanti ditambahkan lagi. (GM)

 Sumber Foto: di sini

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan